NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Perangkap Sang Danendra.

***

Langkah kaki Freya bergerak cepat meninggalkan lorong temaram toilet wanita. Di sepanjang jalan menuju mejanya, ia menarik napas sedalam mungkin. Udara sejuk dari pendingin ruangan The Park Restaurant perlahan membantu menenangkan gemuruh hebat yang sempat membakar dadanya akibat konfrontasi panas dengan Galen.

Sisa cengkeraman tangan kekar pria itu pada bahunya terasa masih membekas, begitu pula dengan aroma parfum maskulin yang seolah masih mengepung indra penciumannya.

Namun, Freya menolak untuk terlihat kalah.

Dengan jemari lentiknya, Freya merapikan rok seragam putih-abu-abu, lalu memasang topeng terbaiknya: sebuah senyuman ceria yang tampak tanpa beban.

"Hei! Maaf ya agak lama, tadi toiletnya agak ramai di dalam”. Bohong Freya begitu tiba di meja kayu bundar di sudut pojok restoran. Ia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi semula, tepat di hadapan Rendy.

"Lama banget, Frey. Gue hampir saja mau lapor sekuriti karena takut kamu tersesat di toilet". Goda Sella sembari terkekeh, menyodorkan segelas es lemon teh yang es batunya sudah sepenuhnya mencair.

Rendy ikut tersenyum hangat, namun sepasang mata elang miliknya sempat menangkap sedikit rona gelisah di wajah Freya yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Kamu oke, Frey? Nggak sedang sakit, kan? Wajahmu agak pucat."

"Aku oke kok, Ren! Cuma sedikit pusing karena seharian membaca jurnal sosiologi ini”. Sahut Freya cepat, mengibaskan tangannya di udara untuk mengusir kecurigaan cowok itu. "Yuk, lanjut! Tinggal bagian kesimpulan akhir dan bab penutup, kan? Mari kita selesaikan sekarang juga supaya besok pagi tidak terlambat mengumpulkan ke meja tim penilai"

Ketiganya pun kembali menenggelamkan diri ke dalam barisan kalimat di layar laptop milik Rendy. Lembar demi lembar draf artikel ilmiah populer tentang sosiologi perkotaan mereka diskusikan dengan seru. Sesekali Sella melontarkan lelucon renyah yang memicu tawa lepas Freya.

Di balik tawa cerianya, Freya diam-diam mengedarkan pandangan ke arah dalam restoran.

Di sana, di meja VIP yang terletak agak tinggi dari lantai utama, Galen sudah kembali duduk dengan tegap. Pria itu tampak sangat tenang, mengabaikan asisten pribadinya yang sedang merapikan beberapa berkas kontrak kerja sama dengan Vanguard Holdings.

Kemeja navy miliknya kini sudah terkancing rapi kembali, menutupi dada bidang yang beberapa menit lalu didorong paksa oleh tangan mungil Freya. Galen tidak lagi menatap ke arah sudut tempat Freya berada; ia fokus pada cangkir espresso di hadapannya.

Namun, aura dingin nan intimidatif yang menguar dari tubuh kekarnya tetap mampu membuat bulu kuduk Freya meremang dari kejauhan. Freya tahu, ketenangan pria itu saat ini hanyalah ketenangan sebelum badai besar melanda.

Satu jam pun berlalu dengan cepat. Di balik dinding kaca raksasa restoran, langit di luar telah sepenuhnya berubah menjadi kanvas hitam pekat yang dihiasi oleh kerumunan cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Jam digital di sudut layar laptop Rendy menunjukkan pukul setengah tujuh malam.

"Dan... save! Selesai!". Seru Rendy sembari menekan tombol kombinasi di papan ketik laptopnya dengan senyum puas yang mengembang sempurna. "Artikel ilmiah kelompok kita resmi rampung. Tinggal aku cetak di rumah nanti malam."

"Hore! Akhirnya beban hidup kita berkurang satu!" Sella meregangkan kedua tangan ke atas dengan lega. "Gue udah capek banget. Yuk, kita pulang sekarang. Supir Gue udah nunggu di lobi bawah dari tadi."

Mereka bertiga bergegas merapikan barang-barang. Freya memasukkan buku catatan dan beberapa lembar jurnal ke dalam tas sekolahnya, lalu menyampirkan tas tersebut di bahu. Rendy menutup laptopnya, memasukkannya ke dalam ransel miliknya, lalu berdiri dari kursi.

"Frey, kamu pulang bersamaku lagi saja ya? Tenang, jas hujan untuk motorku selalu siap di bagasi kalau nanti di jalan gerimis lagi. Sekalian aku antar sampai depan gerbang rumahmu seperti tadi pagi". Ajak Rendy dengan nada yang sangat sopan dan tulus saat mereka mulai melangkah berdampingan menyusuri koridor tengah restoran menuju lobi utama.

"Boleh, Ren. Kebetulan aku juga—"

Kalimat Freya terputus di tengah jalan. Langkah kaki mereka mendadak terkunci mati di atas lantai marmer lobi restoran ketika sesosok tubuh tegap berbalut setelan jas hitam mahal tiba-tiba muncul dari balik pilar besar dan menghadang jalur jalan mereka.

Sebelum Freya sempat bereaksi atau mundur, sebuah tangan kekar bergerak dengan cepat, langsung mencengkeram erat lengan atas Freya.

Cengkeraman itu begitu solid dan sarat akan otoritas mutlak, menghentikan seluruh pergerakan gadis itu dalam satu detik.

Freya tersentak kaget, rasa ngilu akibat tekanan jari-jari kekar itu membuat napasnya tertahan. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap pria yang berani bertindak lancang di tempat umum ini. Mata indahnya melebar sempurna saat beradu pandang dengan sepasang manik mata elang yang sedingin es milik Galen Danendra.

"Pulang dengan saya”. Ucap Galen dengan nada suara yang teramat datar—dingin dan tanpa riak emosi sedikit pun, seolah-olah ia sedang memberikan perintah mutlak yang tak terbantahkan.

Freya merasakan darahnya kembali berdesir panas. Ego keras kepalanya seketika bangkit, meruntuhkan rasa takut yang sempat bersarang di toilet tadi. Di depan teman-temannya, ia tidak mau diperlakukan sewenang-wenang tanpa punya hak suara.

"Lepas, Kak Galen! Aku nggak mau!". Sahut Freya dengan nada ketus sembari mencoba menyentakkan lengannya, namun cengkeraman pria itu justru semakin erat. "Aku sudah janji mau pulang Sama Rendy!".

Mendengar nama 'Rendy' dan ingatan tentang bagaimana Freya membonceng motor sport cowok itu tadi pagi disebut kembali, rahang tegas Galen mengeras. Sudut matanya berkilat tajam, memancarkan amarah yang teramat pekat, namun wajah tampannya tetap mempertahankan ekspresi sedingin es.

Rendy yang berdiri tepat di samping Freya terkejut melihat perlakuan kasar tersebut. Sebagai anak dari keluarga kaya yang berada di lingkaran sosial atas, Rendy tentu sudah mengenali siapa sosok pria dewasa di hadapannya ini. Alih-alih membalas dengan emosi atau memicu keributan, Rendy memilih untuk bersikap sangat sopan dan tenang. Ia melangkah maju satu tapak dengan gestur tubuh yang santun, mencoba menengahi situasi dengan kepala dingin.

"Selamat malam, Kak Galen”. Sapa Rendy dengan nada suara yang sangat lembut, sopan, dan penuh rasa hormat. Ia menundukkan kepalanya sedikit ke arah Galen. "Maaf mengganggu waktunya kak, Kebetulan tugas kelompok kami baru saja selesai. Jika diizinkan, malam ini biar saya saja yang mengantarkan Freya pulang dengan aman sampai ke rumah."

Galen tidak langsung menjawab. Pria tersebut lambat laun mengalihkan pandangannya dari Freya menuju Rendy. Ia menatap cowok remaja berjaket denim itu dari atas ke bawah dengan pandangan yang teramat dingin dan merendahkan, seolah kesopanan Rendy sama sekali tidak memiliki nilai di matanya.

Sebuah smirk sinis yang sangat tipis terukir di sudut bibir Galen. "Saya tidak butuh bantuanmu untuk mengantar Adik saya”. Sahut Galen, suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan bergaung penuh intimidasi di area lobi yang mulai sepi. "Urusan tugas kalian sudah selesai, jadi hakmu atas waktunya juga sudah habis. Pulanglah sendiri dengan motormu itu sebelum saya kehilangan kesabaran."

"Tapi, Kak Galen..." Rendy mencoba berbicara kembali dengan nada yang tetap terjaga, ramah, dan tidak membalas provokasi. "Saya hanya ingin memastikan Freya sampai di rumah dengan selamat sebagai teman kelompoknya."

"Saya katakan tidak perlu”. Potong Galen cepat dengan nada yang semakin dingin menembus tulang. “Apa perkataan saya kurang jelas?!. Singkirkan dirimu dari hadapan saya sekarang."

"Kak Galen, tolong lepas! Jangan bersikap keterlaluan seperti ini!". Potong Freya yang mulai merasa kesal melihat bagaimana Galen mengabaikan kesopanan Rendy. Freya kembali menatap Galen dengan kilat kemarahan yang membara di matanya. "Aku katakan sekali lagi, aku akan pulang bersama Rendy!".

Cengkeraman tangan Galen pada lengan Freya mendadak ditarik sedikit lebih dekat ke arah tubuh tegapnya, memaksa Freya untuk melangkah maju mendekatinya. Galen menundukkan wajahnya, menatap Freya dengan pandangan yang sarat akan ancaman yang teramat pekat.

"Jangan memancing amarah saya lebih jauh di tempat umum, Freya!”. Bisik Galen, suaranya sangat rendah namun bergetar menahan badai amarah yang mengamuk hebat di dalam rongga dadanya. "Ikut saya sekarang, atau pertemanan kalian di sekolah akan selesai detik ini juga."

Freya mengepalkan tangannya yang bebas, menatap Galen dengan keras kepala yang membabi buta [Bab 19]. "Aku tetap tidak mau pulang bersama Kakak!"

Melihat kepatuhan yang sama sekali tidak ia dapatkan dari gadis kecilnya, Galen menarik napas panjang melalui hidungnya yang mancung. Asisten pribadi Galen yang berdiri beberapa langkah di belakang segera maju selangkah, menyadari situasi yang mulai memanas di lobi restoran.

"Maaf, Tuan Galen... mobil Anda sudah siap di depan lobi utama”. Bisik Ferdi dengan nada yang sangat berhati-hati.

Galen tidak membalas ucapan asistennya. Mata elangnya kembali menghujam lurus ke arah Rendy yang masih berdiri di tempatnya dengan gestur sopan namun tampak cemas memikirkan keselamatan Freya.

"Urusan saya dengan Freya bukan konsumsi publik”. Ucap Galen dingin kepada Rendy. "Jauhkan dirimu darinya."

Tanpa memberikan kesempatan lagi bagi Rendy untuk berbicara dengan sopan, Galen langsung menyentak kuat lengan Freya, menyeret tubuh gadis itu secara paksa untuk melangkah mengikutinya menuju pintu kaca otomatis lobi utama yang langsung terbuka lebar menuju area drop-off tempat ia memarkirkan kendaraannya.

"Kak Galen! Lepas! Rendy! Sella!". Teriak Freya sembari meronta-ronta dengan sisa tenaganya, mencoba menahan langkah kakinya di atas lantai marmer.

Namun, kekuatan fisik seorang gadis remaja tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan mutlak dari tubuh kekar Galen.

Rendy hanya bisa terdiam diposisinya, tidak bisa berbuat banyak karena sadar batasan situasi keluarga Freya. Ia menatap langkah lebar Galen yang menyeret Freya keluar lobi tanpa bisa menahannya lagi.

Di luar lobi, dibawah guyuran sisa hujan malam yang dingin, mobil Mercedes Benz hitam milik Galen memancarkan kilau mewah dibawah lampu jalanan.

Galen mengeluarkan remot kunci dari saku jasnya, menekan tombol untuk membuka kunci otomatis, lalu menarik paksa pintu penumpang bagian depan.

Tanpa memperdulikan protes dari bibir Freya, ia langsung mendorong tubuh gadis itu masuk ke dalam kursi kulit mewah di kabin depan.

Brak!

Dengan cepat, Galen menutup pintu tersebut dengan dentuman keras, memutar tubuhnya ke sisi kemudi, dan langsung masuk ke kursi sopir untuk menyetir sendiri mobilnya.

Sementara di belakang sana, Rendy hanya bisa menatap kepergian Mercedes Benz hitam itu dengan pandangan khawatir di samping motor Sport Merah metalik miliknya yang terparkir anggun.

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!