NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Mereka Akhirnya Bertemu

Malam telah larut ketika video pertengkaran di area parkir Grand Aurora masih terus berputar di berbagai platform media sosial.

Jumlah penontonnya sudah menembus jutaan.

Komentar terus berdatangan.

Meme bermunculan.

Bahkan beberapa akun hiburan mulai membuat kompilasi "momen terbaik" dari adu mulut singkat antara Almira dan Reynard.

Sementara para netizen sibuk menjadikan mereka bahan hiburan, ada orang-orang lain yang menonton video itu dengan alasan yang sangat berbeda.

Di kawasan elit Mahardika Residence, sebuah rumah megah berdiri di atas lahan luas yang menghadap taman pribadi.

Di ruang keluarga utama yang didominasi warna cokelat tua dan emas, seorang pria paruh baya duduk santai sambil memegang tablet.

Namanya Arman Mahardika.

Pendiri sekaligus komisaris utama Mahardika Holdings.

Di sampingnya duduk seorang wanita elegan dengan rambut yang mulai dihiasi sedikit uban.

Vania Mahardika, istrinya.

Di layar tablet, video yang sama kembali diputar.

Video yang memperlihatkan Reynard dan Almira bertengkar soal tempat parkir.

Untuk ketiga kalinya.

Dan untuk ketiga kalinya pula, Vania tertawa.

"Astaga," katanya sambil menggeleng. "Aku tidak menyangka Rey bisa berdebat soal hal seperti ini."

Arman tersenyum tipis.

"Aku juga."

Biasanya Reynard tidak akan membuang waktu meladeni hal-hal sepele.

Jika ada orang yang marah kepadanya, ia lebih memilih pergi daripada berdebat.

Itulah sebabnya video ini terasa aneh.

Sangat aneh.

"Apa menurutmu dia sengaja?" tanya Vania.

"Tidak."

"Lalu kenapa dia meladeninya?"

Arman memperhatikan layar beberapa saat.

Video itu menampilkan momen ketika Almira menunjuk tempat parkir dengan wajah kesal, sementara Reynard menjawab dengan ekspresi datar yang khas.

Lalu keduanya terus saling membalas.

Tidak ada yang mau mengalah.

Tidak ada yang mau berhenti.

Seperti dua orang yang sama keras kepalanya.

Arman terkekeh pelan.

"Aku rasa dia menikmati pertengkaran itu."

Vania menoleh.

"Rey?"

"Ya."

"Itu tidak masuk akal."

"Aku tahu."

Namun semakin dipikirkan, semakin aneh pula semuanya.

Reynard dikenal sebagai sosok yang dingin dan efisien.

Ia tidak suka membuang waktu.

Terlebih untuk orang asing.

Tapi dalam video itu?

Putranya tampak cukup santai untuk terus menanggapi setiap sindiran yang dilontarkan Almira.

Vania memutar ulang bagian ketika Almira berkata:

"Kamu benar-benar menyebalkan."

Lalu Reynard menjawab:

"Terima kasih."

Vania tertawa lagi.

"Ini lucu."

Arman mengangguk.

"Sangat lucu."

Mereka terdiam beberapa saat.

Kemudian Vania berkata pelan,

"Dia mirip kamu waktu muda."

Arman langsung protes.

"Aku tidak pernah seperti itu."

"Oh, tentu saja."

"Aku serius."

Vania mengangkat sebelah alis.

"Siapa yang dulu bertengkar dengan seorang gadis hanya karena dia mengambil meja favoritmu di perpustakaan?"

Arman terdiam.

"Itu berbeda."

"Tidak berbeda."

"Itu berbeda."

Vania tertawa puas.

Sudah puluhan tahun menikah, tetapi ia masih menikmati saat-saat ketika suaminya kehabisan argumen.

Sementara itu, di sisi lain kota, suasana yang hampir sama juga terjadi di kediaman keluarga Pradipta.

Rumah keluarga Pradipta terkenal sebagai salah satu hunian paling mewah di kawasan tersebut.

Meski begitu, suasana di dalamnya terasa hangat dan hidup.

Terutama malam ini.

Karena seseorang sedang menjadi bahan pembicaraan utama.

"Putar lagi."

Suara itu berasal dari Gilang Pradipta, ayah Almira.

Di sebelahnya, sang istri, Raina Pradipta, sedang berusaha menahan tawa.

"Kamu sudah menontonnya lima kali."

"Masih lucu."

"Kasihan Mira."

"Justru karena itu lucu."

Raina kembali memutar video tersebut.

Mereka menyaksikan bagian ketika Almira menatap Reynard dengan kesal.

Lalu bagian ketika Reynard menjawab dengan santai.

Kemudian bagian ketika keduanya saling menyindir.

Gilang tertawa kecil.

"Sudah lama aku tidak melihat Mira semarah itu."

"Itu karena pria itu terus memancingnya."

"Mungkin."

"Tapi dia juga tidak mau kalah."

Gilang mengangguk setuju.

Itu memang sifat Almira.

Sejak kecil putrinya selalu keras kepala.

Jika merasa benar, ia akan mempertahankan pendapatnya sampai akhir.

Entah sedang berbicara dengan teman.

Guru.

Atau bahkan ayahnya sendiri.

Namun yang membuat Gilang tertarik bukanlah sikap Almira.

Melainkan pria yang menjadi lawan debatnya.

Reynard Arsenio Mahardika.

Putra Arman Mahardika.

Ia tersenyum tipis.

"Waktu benar-benar berjalan cepat."

Raina menatapnya.

"Kamu juga memikirkannya?"

"Ya."

"Terakhir kali kita melihat Rey..."

"Dia bahkan belum bisa mengikat tali sepatunya sendiri."

Raina tertawa kecil.

Kini pria kecil itu telah tumbuh menjadi salah satu pewaris bisnis paling diperhitungkan di negara ini.

Dan tanpa sengaja bertemu dengan Almira.

Atau setidaknya, itulah yang dipikirkan anak-anak mereka.

Di kamarnya, Almira sama sekali tidak mengetahui bahwa kedua orang tuanya sedang membahas dirinya.

Ia baru selesai mandi dan sedang berusaha mengabaikan puluhan pesan yang masuk ke ponselnya.

Sayangnya, itu tidak mudah.

Karena setiap kali membuka aplikasi apa pun, video tersebut muncul lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

"Aku benci internet."

Ponselnya bergetar.

Nama yang muncul membuatnya menghela napas.

Mama.

Almira langsung curiga.

"Halo?"

Suara Raina terdengar ceria.

"Mira."

"Kenapa suaramu seperti itu?"

"Seperti apa?"

"Seperti orang yang sedang menahan tawa."

Hening selama dua detik.

Lalu Raina benar-benar tertawa.

Almira menutup wajahnya dengan bantal.

"Tidak."

"Maaf, Sayang."

"Mama sudah lihat videonya?"

"Sudah."

"Tolong jangan bilang Papa juga sudah lihat."

"Papa menontonnya enam kali."

"Ya Tuhan."

Raina kembali tertawa.

"Mama cuma mau memastikan kamu baik-baik saja."

"Aku baik-baik saja."

"Dan pria itu?"

"Aku tidak mau membahas pria itu."

"Mira—"

"Aku serius."

Raina tersenyum sendiri.

Jawaban itu justru membuatnya semakin yakin.

Jika Almira benar-benar tidak peduli, ia tidak akan bereaksi sekeras ini.

Di penthouse miliknya, Reynard juga menerima panggilan serupa.

Namun dari ibunya.

"Bu."

"Halo, Rey."

"Aku sudah tahu."

"Tahu apa?"

"Ibu menelepon karena video itu."

Vania tidak menyangkal.

"Kamu mengenal gadis itu?"

"Tidak."

"Benarkah?"

"Bu."

"Oke, oke."

Reynard berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota.

"Aku baru bertemu dengannya hari ini."

"Dan langsung bertengkar."

"Dia yang memulai."

"Tentu saja."

"Ibu tidak percaya?"

"Aku percaya."

"Bagus."

"Tapi kamu juga menikmatinya."

Reynard memejamkan mata.

Terkadang ia lupa bahwa ibunya mengenalnya terlalu baik.

Menjelang tengah malam, dua rumah megah di dua ujung kota itu perlahan menjadi tenang.

Lampu-lampu mulai dipadamkan.

Para pelayan kembali ke kamar masing-masing.

Namun ada dua orang yang masih terjaga.

Arman Mahardika.

Dan Gilang Pradipta.

Sebuah panggilan telepon tersambung.

"Kau masih bangun?" tanya Gilang.

"Aku bisa menanyakan hal yang sama."

Keduanya tertawa pelan.

Mereka telah bersahabat selama puluhan tahun.

Jauh sebelum membangun kerajaan bisnis masing-masing.

Jauh sebelum memiliki anak.

Dan jauh sebelum membuat sebuah kesepakatan yang hanya diketahui oleh segelintir orang.

"Jadi," kata Gilang, "anak-anak kita akhirnya bertemu."

"Ya."

"Dan langsung bertengkar."

Arman tersenyum.

"Persis seperti yang kita perkirakan."

Gilang tertawa kecil.

"Aku mulai berpikir mereka mewarisi sifat keras kepala kita."

"Mungkin."

Atau mungkin lebih dari itu.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Kemudian Gilang bertanya,

"Menurutmu kita perlu memberi tahu mereka?"

Arman langsung menjawab.

"Belum."

"Kenapa?"

"Karena mereka akan kabur."

"Itu benar."

Keduanya kembali tertawa.

Mereka mengenal anak-anak mereka dengan sangat baik.

Jika rahasia itu diungkap sekarang, hasilnya mungkin justru berantakan.

"Kalau begitu?" tanya Gilang.

Arman menatap layar tablet yang masih menampilkan foto Almira dan Reynard dari video viral tersebut.

Lalu ia berkata pelan,

"Biarkan semuanya berjalan alami."

"Dan rencana kita?"

Arman tersenyum.

Senyum yang penuh arti.

"Kita lanjutkan."

Di ujung telepon, Gilang tersenyum puas.

"Baiklah."

Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa keputusan sederhana itu akan menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang jauh lebih besar.

Karena mulai malam ini, dua keluarga yang selama bertahun-tahun hanya menunggu akhirnya memutuskan untuk bergerak.

Dan Almira maupun Reynard belum mengetahui apa pun.

Mereka masih mengira pertemuan di tempat parkir hanyalah sebuah kebetulan.

Padahal sesungguhnya, roda takdir yang telah lama diam perlahan mulai berputar kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!