Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lubang Kematian
Pollux memasuki ruangannya dan menemukan tiga makhluk yang tidak diundang sedang duduk santai di sana. Siapa lagi kalau bukan para saudaranya. Tanpa menoleh atau menyapa ketiganya, Pollux berjalan melewati mereka, seakan ketiga pria tampan itu adalah makhluk tak kasat mata.
Duduk di kursi kebesarannya, ia membuka komputer dan memeriksa jadwal yang sudah dikirim sang sekretaris ke emailnya. Menyingkirkan laptop, Pollux beralih ke tumpukan dokumen yang menggunung dan tertata rapi. Ya, sejak istrinya meninggal ia tidak benar-benar melakukan pekerjaannya.
“Aku penasaran apakah kita sungguh tak terlihat?” sindiran Ansel tidak lantas membuat Pollux menoleh ke arah mereka.
“Dan aku juga sungguh penasaran kenapa aku harus diseret kemari dan mendapat perlakuan seakan aku ini tamu yang tidak diharapkan.” Aaron menimpali sembari melayangkan tatapan pada Pollux yang masih bergeming, tidak terpengaruh sama sekali. Ia benar-benar fokus pada dokumennya.
“Sudah, maklumi saja. Ini bukan pertama kalinya kita diperlakukan seperti ini,” Pax, saudaranya yang mempunyai wajah yang sama persis dengannya ikut menimpali.
“Astaga, aku tidak percaya ini,” Aaron mendengkus kesal. “Aku juga bukanlah seorang pengangguran.”
“Kupikir waktumu sangat senggang untuk melayani kedua pengacau itu,” Akhirnya Pollux menimpali walau tidak mengalihkan tatapannya dari berkas yang sedang ia periksa.
“Aku sedang rapat saat mereka menyeretku kemari,” Aaron tidak tahu apakah ia perlu mengadukan hal itu pada Pollux, karena ia yakin Pollux juga tidak akan peduli dengan itu.
“Jika kau pergi sekarang, mungkin kau masih bisa mengikuti rapatmu,” Pollux memberi saran yang langsung mendapat decakan kesal dari Ansel dan juga Pax.
“Ring kematian nanti malam akan dibuka,” ucapan Pax akhirnya membuat Pollux mengangkat tatapannya. “Dan Aaron yang akan turun?”
Pollux menukik alisnya, menatap ke arah Aaron yang memasang wajah pasrah tapi tak rela.
Hanya karena ingin mendengar suara Paula ia harus membayar mahal dengan tubuhnya. Ck! Rasanya tidak adil, tapi pantang bagi mereka untuk mengingkari janji yang sudah terucap.
“Semoga kau beruntung, Dude.” Pollux menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak yakin aku bisa beruntung,” Aaron menarik napas panjang. "Keberuntungan tidak datang dua kali. Aku sudah pernah selamat satu kali, dan aku masih tidak percaya, kau dan Ansel tega membohongiku dan juga Pollux, bahwa setiap anggota baru wajib memberi salam perkenalan di ring setan sialan itu,"
Ansel tergelak, "Kami hanya lupa memberi tahunya," sahutnya lempeng.
“Ya, mungkin rahangmu akan patah, grahammu akan hancur, atau hidungmu akan bergeser condong ke kiri atau ke kanan, tapi jangan khawatirkan itu semua, karena ada Ansel bersama kita. Ia akan mengobati lukamu dan membuatnya normal kembali, percayakan padanya perawatanmu,” Pax menepuk pundak Aaron memberi dukungan.
Aaron menepis tangan Pax dengan segera, “Kau terdengar seperti seorang sales, dan itu akan terjadi jika aku yang menang, bagaimana jika tidak?”
“Ya kau hanya tinggal nama,” jawab ketiganya kompak tidak merasa prihatin sama sekali. Katakan masihkah mereka pantas dikatakan saudara?
***
Malam pun tiba, Willson dan Rodriquez memutuskan untuk berangkat masing-masing. Nightmare sendiri sebenarnya ada di pusat kota, dan keberadaannya cukup menjadi misteri bagi Pax dan yang lainnya. Banyak transaksi ilegal yang terjadi di sana, tapi bagaimana bisa semua itu luput dari pantauan aparat hukum.
Di waktu yang sama, Alena berdiri di hadapan sebuah klub yang terlihat biasa saja. Ia menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya, Josh. “Kau yakin ini tempatnya?” Alena tampak ragu. Dalam banyangannya Nightmare sama seperti julukannya, mengerikan dan menakutkan. Tapi yang ia lihat sekarang adalah bangunan biasa sama seperti klub tempat ia bekerja bersama Josh.
“Pernahkah kau mendengar pribahasa, jangan menilai buku dari sampulnya saja. Mari masuk dan berikan komentarmu nanti. Peganglah, tanganku bahkan sudah dingin,” Josh mengulurkan tangannya, dan dengan polosnya Alena juga memegangnya, dan ternyata Josh tidak bergurau, tangan pria itu memang sudah berkeringat dingin.
“Aku penasaran, kenapa kau bisa menjadi anggota di sini?” tanya Alena.
“Di dalam sana bukan hanya ring kematian yang ada, tapi juga berbagai macam jenis judi, dan aku cukup mahir dalam hal itu.” Josh menyombongkan diri, pada sesuatu yang tidak pantas untuk dibanggakan. “Satu kali saja kau menang, kau bisa membeli sebuah pulau,”
“Kau pernah menang?” tanya Alena penasaran.
“Tentu saja. Aku bahkan menang berkali-kali,” kembali Josh berbangga diri.
“Berapa banyak pulau yang sudah kau beli,” Alena melangkah masuk, dan seperti klub
lainnya sejauh mata memandang, hanya hal murahan yang terlihat. Perbuatan tidak bermoral, ada di mana-mana, dan betapa mirisnya melihat hal itu.
“Tidak ada sama sekali,” jawaban Josh membuat Alena menoleh ke arahnya.
“Jika tidak salah ingat, beberapa menit yang lalu kau mengatakan bahwa kau menang beberapa kali,”
Josh mengangguk membenarkan. “Untuk ke luar dengan selamat dari sini sangatlah susah. Aku masih menyayangi nyawaku, jadi aku meninggalkan hartaku, dan menangisinya selama dua hari.”
Alena tidak berkomentar lagi, terjawab sudah kenapa Josh masih bekerja sebagai bartender.
"Pakai topengnya. Kita akan memasuki wilayah yang kau inginkan. Semoga kita beruntung, dan bisa ke luar dengan selamat,” Josh menuntunnya ke sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar. Menggunakan kartunya, pintu ruangan itu terbuka.
Mereka masuk, langsung dihadang dua algojo bertubuh besar yang sangat mengerikan. Josh menunjukkan kartu anggotanya, Alena pun melakukan hal yang sama. Mereka pun kemudian diperiksa. Setelah yakin keduanya bersih dan tidak membawa senjata, mereka dipersilakan masuk ke dalam sebuah lift.
Di dalam lift hanya ada satu tombol, Josh pun segera menekannya.
“Ada yang aneh,” gumam Alena.
“Ya, liftnya bergerak ke bawah, bukan ke atas. Nightmare ada di ruang rahasia.”
Hanya beberapa detik, lift yang mereka naiki pun berhenti. “Ingat, jangan membuka topengmu, dan jangan menyebut identitasmu.” Josh memberi peringatan.
Alena tidak menanggapi karena matanya sedang menyapu ruangan besar yang ada di hadapannya. Seperti yang dikatakan Josh, berbagai macam judi ada di sana. Ia melihat beberapa orang saling memaki dan mengumpat, dan beberapa diantaranya bahkan berkelahi dan anehnya tidak ada yang peduli sama sekali. Sepertinya hanya hukum rimba yang berlaku di sana.
Alena mendongak, terdengar sorak sorai dari lantai yang ada di atasnya. “Ring kematian,” Josh berbisik di telinganya.
Menunjukkan kembali kartu anggota mereka, Alena dan Josh diberi kartu yang bertulisakan nomor di mana mereka akan duduk. Tanpa mengalihkan tatapannya dari ring, Alena mendaratkan bokongnya di kursi yang sesuai dengan nomornya. Josh duduk di tempat yang berbeda.
Dua orang pria terlihat beradu kekuatan, dan keduanya sudah terlihat babak belur. Sepertinya permainan seimbang. Para penonton memberi dukungan pada jagoan mereka. Beberapa mengangkat spanduk kecil yang bertuliskan sejumlah uang. Seseorang yang duduk di sebelahnya juga melakukan hal yang sama. Alena terpekik kaget melihat jumlah uang yang tertulis, yang mungkin mampu membeli bukan hanya satu pulau tapi beberapa pulau.
“Maaf, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Alena penasaran. Kenapa Josh harus duduk di kursi yang berbeda sehingga ia harus bertanya kepada orang asing.
“Taruhan,” jawab pria itu singkat. “Kau baru?”
Alena mengangguk, “Jadi kau sedang bertaruh dengan pria di seberang sana?” tunjuk Alena pada pria yang tadi mengangkat harga yang ia tawarkan.
“Hm,”
“Jadi bagaimana aturan permainannya?” tanya Alena kembali.
“Tidak ada aturan tertentu. Jagoanmu menang, itu artinya kau menang.”
“Lalu bagaimana menentukan menang atau tidak? Keduanya terlihat seimbang. Dan siapa yang kau pilih sehingga kau memberikan harga yang sangat fantastis.”
“Pria burung hantu,” pria itu menunjuk pria dengan tattoo burung hantu di lengan kirinya. “Dan yang bertahanlah yang menang.”
“Keduanya terlihat seimbang,” gumam Alena.
“Pria raksasa itu pasti akan koit.”
“APA?!”
Dan benar saja, pria burung hantu menendang lawannyanya dengan gerakan memutar, tepat di dada sehingga membuat pria raksasa itu tumbang seketika karena mengalami kesulitan bernapas.
Pria itu tergelak, ”Aku tidak tahu kau nekat atau bodoh, Nona. Kau masuk kemari tanpa tahu aturannya. Ring kematian. Hanya ada satu yang boleh bertahan, dan sebagai informasi, anggota baru wajib berkenalan di dalam ring tersebut.”
Dan Alena tidak tahu itu. Josh tidak memberi tahunya sama sekali.
“Aku menantikan aksimu, dan aku akan bertaruh untukmu,” pria itu menyeringai iblis di balik topengnya.