NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Liana menatap pantulan dirinya di cermin kamar kost untuk terakhir kali.

Wajahnya yang pucat pasi kini tersembunyi di balik masker medisnya.

Demi menghalau gelombang mual yang terus-menerus mengancam, ia mengoleskan minyak kayu putih dalam jumlah banyak di bagian leher, dada, hingga ke permukaan sweater rajut longgar yang dikenakannya.

Aroma tajam itu menjadi satu-satunya tameng agar indra penciumannya tidak memicu refleks muntah yang menyiksa.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Liana memaksakan diri berkendara membelah jalanan kota.

Namun, benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah runtuh seketika saat ia melangkah masuk ke dalam kantor administrasi logistik.

Rista, yang baru saja meletakkan tasnya di meja, langsung terbelalak saat melihat sahabatnya berjalan dengan langkah limbung.

"Li! Kamu kenapa lagi? Ya ampun, mukamu pucat sekali, bahkan matamu sampai sayu begitu!" seru Rista, segera menghampiri dan menahan siku Liana agar tidak ambruk.

Aroma minyak kayu putih yang menyengat dari tubuh Liana langsung menusuk hidung Rista, mempertegas bahwa kondisi sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.

Keributan kecil di dekat kubikel itu menarik perhatian Pak Hendra, kepala manajer logistik yang terkenal tegas namun sangat perhatian pada bawahannya.

Pria paruh baya itu keluar dari ruangannya, membetulkan letak kacamata, dan seketika terkejut melihat kondisi Liana.

"Liana, hari ini kamu libur ya. Kamu pucat sekali, seperti tidak ada darah sama sekali di wajahmu," ujar Pak Hendra dengan nada mutlak, penuh kekhawatiran.

Liana yang panik karena takut kehilangan upah hariannya langsung menggeleng, mencoba menahan rasa pening yang membuat pandangannya mulai berputar.

"Tapi Pak, pekerjaan saya masih banyak. Manifes pengiriman untuk vendor minggu depan belum selesai saya rekap," ucap Liana dengan suara parau dan bergetar di balik maskernya.

Pak Hendra menggelengkan kepala tegas, tidak menerima bantahan.

"Pekerjaan bisa didelegasikan ke Rista atau yang lain. Kesehatan kamu lebih utama. Liana, kamu pergi ke rumah sakit sekarang, atau saya yang panggilkan ambulans ke kantor ini?"

Mendengar kata 'ambulans', Liana langsung menggelengkan kepalanya cepat.

Kepanikan melingkupi dadanya. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian atau membuat kegaduhan yang lebih besar.

"N-nggak usah ambulans, Pak. Saya, bisa pulang sendiri."

"Tidak ada pulang ke kost dalam kondisi begini. Kamu harus diperiksa dokter," potong Pak Hendra tegas.

Tanpa menunggu persetujuan Liana, Pak Hendra langsung menoleh ke arah staf umum.

"Tolong pesankan taksi online sekarang juga. Minta supirnya langsung mengantar Liana ke Rumah Sakit Husada."

Rista membantu memapah Liana yang sudah terlalu lemas untuk menolak.

Langkah takdir seolah bergerak dengan kejamnya. Liana, yang memeluk perutnya dengan erat di dalam taksi, sama sekali tidak pernah menduga bahwa keputusan Pak Hendra untuk mengirimnya ke Rumah Sakit Husada akan membawanya langsung ke dalam perangkap monster yang paling ia hindari.

Sesampainya di Rumah Sakit Husada, Liana melangkah masuk dengan tubuh yang terasa semakin limbung.

Bau obat-obatan yang steril langsung menusuk hidungnya yang sensitif, memaksa tangannya merapatkan masker medis yang ia kenakan.

Dengan langkah terseret, ia segera menuju ke unit gawat darurat (UGD).

Seorang perawat dengan sigap menghampirinya, menuntun Liana ke ranjang pemeriksaan awal untuk memeriksa tekanan darah dan menanyakan keluhannya.

"Tekanan darah Anda agak rendah, Nona, dan Anda juga mengalami mual muntah yang hebat di pagi hari, ya?" tanya perawat itu ramah sembari mencatat di papan klip.

Setelah mendengar penjelasan Liana yang terbata-bata mengenai siklus menstruasinya yang terlambat hampir tiga minggu, perawat itu tersenyum maklum.

"Untuk pemeriksaan lebih akurat dan penanganan gejala mual Anda, silakan Anda menuju ruang praktik Dokter Kenzo di ruang O. Beliau adalah spesialis kandungan yang sedang bertugas hari ini."

Liana hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan lemas.

Ia tidak memedulikan siapa nama dokter yang akan memeriksanya; yang ia inginkan hanyalah rasa mual ini segera mereda dan ia mendapat kejelasan tentang apa yang terjadi pada tubuhnya.

Liana berjalan perlahan menuju lantai tiga. Di depan ruang periksa koridor itu, suasananya cukup ramai.

Banyak pasien lain yang sedang mengantre untuk berobat ke dokter-dokter spesialis lainnya.

Liana memilih duduk di sudut kursi tunggu, memeluk tas kanvas lusuhnya dengan erat demi meredam rasa cemas yang kian membubung tinggi.

Hampir lima belas menit Liana menunggu dalam kecemasan yang menyiksa, sampai akhirnya pintu ruang praktik terbuka.

Seorang perawat keluar dengan membawa berkas rekam medis.

"Pasien Nona Liana, silakan masuk."

Jantung Liana berdegup kencang. Ia bangkit dari duduknya dengan kaki yang terasa lemas, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang elegan dan steril tersebut.

Begitu melewati pintu, Liana melihat seorang dokter pria yang masih sangat muda, tampan, dan berwibawa sedang duduk di balik meja kerjanya.

Dokter itu mengenakan jas putih bersih yang sangat kontras dengan pembawaannya yang dingin namun profesional.

Liana tidak menyadari bahwa pria di depannya ini adalah monster yang selama ini menghantui mimpi buruknya.

"Selamat pagi, Nona. Apa yang dikeluhkan?" tanya Kenzo dengan suara baritonnya yang tenang dan meneduhkan, sangat kontras dengan gejolak badai di dalam dadanya sendiri yang masih terobsesi dengan wanita malam itu

Masker medis yang menutupi separuh wajah Liana dan aroma kayu putih yang sangat menyengat dari sweater-nya membuat Kenzo tidak mengenali wanita itu secara instan.

Liana meremas jemarinya yang dingin. "S-sepertinya saya hamil, Dok. Sudah hampir, dua atau tiga bulan saya tidak datang bulan. Dan pagi ini saya muntah-muntah hebat."

Kenzo menghentikan gerakan penanya sejenak. Ia menatap Liana dengan saksama.

"Di mana suaminya? Apakah, anda datang sendiri?"

Mendengar pertanyaan itu, dada Liana terasa seperti dihantam godam.

Rasa perih dan trauma dari malam terkutuk itu kembali mencuat.

Air matanya nyaris tumpah. Liana hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan kosong yang menyedihkan.

Melihat reaksi pasiennya, Kenzo tidak bertanya lebih jauh. Sebagai dokter profesional, ia langsung mengalihkan fokusnya.

"Baik, mari saya periksa dulu untuk memastikannya. Silakan berbaring di ranjang pemeriksaan."

Liana melangkah dengan ragu. Ia membuka sweater rajut longgarnya, menyisakan kaus tipis di dalamnya, lalu naik ke atas brankar dengan perlahan.

Kenzo mendekat, mengenakan sarung tangan medis baru.

Ia meminta Liana menyingkap sedikit bagian bawah kausnya, lalu mengoleskan gel dingin ke atas perut Liana yang masih rata. Kenzo mengarahkan transduser USG ke atas perut wanita itu.

Seketika, layar monitor di samping ranjang menampilkan gambar hitam putih yang berkedip. Kenzo terdiam sejenak. Matanya menyipit, menatap sebuah titik kecil di dalam rahim Liana.

Deg. Deg. Deg.

Suara detak jantung yang cepat dan halus memantul di dalam ruangan sunyi itu.

"Ini adalah detak jantungnya," ujar Kenzo, suaranya mendadak melembut tanpa ia sadari.

"Ada kantung kehamilan dan gumpalan janin yang tumbuh dengan baik. Usianya diperkirakan sudah memasuki tujuh minggu."

Mendengar suara detak jantung itu, air mata Liana benar-benar luruh di balik maskernya.

Ada rasa takut, benci, namun juga kepasrahan yang luar biasa. Anak dari iblis itu kini nyata di dalam rahimnya.

"Suster, tolong bersihkan," perintah Kenzo kepada perawat yang mendampinginya.

Perawat itu dengan sigap memberikan tisu untuk menyeka sisa gel di perut Liana.

Liana segera merapikan pakaiannya dan turun dari brankar dengan gerakan lambat.

"Duduklah di sini, Liana," panggil Kenzo setelah ia kembali ke kursi kebesarannya.

Kenzo menjelaskan dengan panjang lebar mengenai kondisi kehamilan Liana yang masih sangat rentan di trimester pertama.

Ia memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga emosi, pola makan, serta meminta Liana untuk beristirahat total karena kondisi fisiknya yang tampak sangat lemah.

Sembari berbicara, Kenzo menulis resep obat penguat kandungan, pereda mual, dan vitamin di atas kertas resepnya.

"Ini resepnya, silakan ditebus di apotek dekat Cafetaria."

Kenzo mengulurkan kertas resep tersebut. Liana yang masih setengah melamun buru-buru menyambutnya.

Namun, karena gerakannya yang panik dan tergesa-gesa, siku Liana tidak sengaja menyenggol tas kanvas lusuhnya yang diletakkan di pinggir meja.

Praaakk!

Tas itu terjatuh ke lantai, membuat kancingnya terbuka dan seluruh isinya berhamburan keluar. Ponsel, dompet, gantungan kunci, dan, app selembar kain bandana hitam tebal terlempar tepat di dekat sepatu kulit hitam milik Kenzo.

Kenzo langsung terdiam. Pandangannya terkunci sepenuhnya pada selembar kain hitam dengan bordiran inisial "Kz" berwarna perak yang sangat familier di matanya.

Jantung Kenzo berdegup dengan sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Amigdala di otaknya berputar liar, mencocokkan potongan puzzle yang selama ini ia cari.

Bandana itu... Bukankah itu milikku? Dan, dia, wanita malam itu? batin Kenzo berteriak histeris di dalam kepalanya.

D-dia hamil? Mengandung anakku?!

Kenzo menatap Liana yang kini sedang terburu-buru berlutut di lantai, mengumpulkan barang-barangnya dengan tangan yang gemetar hebat.

Kepanikan yang terpancar dari gerak-gerik Liana mempertegas segalanya. Wanita itu tidak tahu siapa pemilik bandana tersebut!

"M-maaf, Dok. Saya permisi," ucap Liana dengan suara yang sangat panik.

Ia memasukkan semua barangnya dengan asal-asalan ke dalam tas, lalu segera berbalik setengah berlari keluar dari ruangan menuju apotek, bahkan sebelum Kenzo sempat mengeluarkan sepatah kata pun.

Begitu sampai di koridor yang ramai, rasa mual yang luar biasa kembali menghantam ulu hati Liana akibat kepanikan yang teramat sangat.

Ia membuka maskernya, merasakan isi perutnya sudah naik ke tenggorokan.

Merasa akan muntah di koridor, ia segera berbelok dan berlari sekencang mungkin mencari kamar mandi terdekat.

Sementara itu, di dalam ruang praktiknya, Kenzo masih terpaku bagai patung.

"Dok? Dokter Kenzo?" panggil perawatnya heran melihat sang dokter yang biasanya tenang kini tampak sangat syok.

Panggilan itu menyentak Kenzo kembali ke realitas. Kesadarannya kembali dengan ledakan obsesi dan kepanikan yang luar biasa. Wanita yang dicarinya selama ini... ada di depannya, membawa darah dagingnya!

Tanpa memedulikan etika medis atau penampilannya, Kenzo langsung berdiri dari kursinya hingga tersentak ke belakang. Ia berlari keluar dari ruangannya, mengabaikan tatapan heran dari para pasien di lorong.

Kenzo berlari menuruni tangga darurat menuju area apotek di lantai dasar. Matanya liar menyapu setiap sudut antrean obat yang padat.

"Di mana pasien atas nama Liana?!" tanya Kenzo setengah membentak pada petugas apotek dengan napas terengah-engah.

Petugas apotek yang terkejut melihat dokter primadona mereka tampak sekacau itu segera memeriksa layar komputer.

"P-pasien belum menebus resepnya, Dok. Belum ada antrean atas nama Liana di sini."

Kenzo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia berbalik, menatap kerumunan orang di lobi rumah sakit dengan sorot mata yang dipenuhi kegelapan dan obsesi yang membara.

Wanita itu telah pergi, menghilang lagi dari genggamannya.

Namun kali ini, Kenzo bersumpah, ia tahu nama wanita itu. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Bunga Andthea
triple hp dungs kak
Bunga Andthea
yok yok bisa up lagi
seru ni
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
Alex
sweet bgts
Bunga Andthea
seru
up lgi kkak
Bunga Andthea
double up dungs kak
my name is pho: ok kak
total 1 replies
Muft Smoker
jgn terpengaruh dg omongan ulat bulu tu liana ,, org yg terpojok biasa ny akan melakukan berbagai macam cara tuk menang ,, meski dg cara licik sekali pun 😒😒😒😒
Muft Smoker
aaaaaa meleleh adek bang ,,
Alex
oh sweet bgtsss
Muft Smoker
nah kan di marahin ma mak ,, makany jgn punya fikiran mcm2
Muft Smoker
jgn mcm2 kania ,, liana mungkin org biasa ,, tp anggora black cobra semua melindungi serta menghargai dirinya ,,
Muft Smoker
lanjuuut kaak ,,
Muft Smoker
lanjuut kaak ,, makiin seruuuu
Muft Smoker
ngeri juga yx ,, jd incaran ketua gangster ,, 😲😲😲😲😲
Muft Smoker
lanjuuut kak
Bunga Andthea
ayok kak up lagi
Bunga Andthea
up lgi yuk kak
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
baru Kali ini dapet cerita ketua geng motor profesi ny dokter kandungan ,,
biasa ny kn CEO perusahaan ,,

tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!