Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Suara dentuman musik yang di-remix oleh DJ malam itu memainkan trek Gasoline, menggema liar membelah udara kelab malam paling elite di jantung Los Angeles.
Bass yang menghentak-hentak terasa menggetarkan lantai kaca di bawah kaki para pengunjung, seolah beresonansi dengan detak jantung orang-orang yang tengah tenggelam dalam lautan alkohol, keringat, dan euforia malam.
Lampu strobo berkedip agresif, menyapu wajah-wajah yang berdansa tanpa beban, memantulkan cahaya neon pada gelas-gelas kristal dan botol sampanye bernilai ribuan dolar.
Di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu, di sebuah sofa VIP berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari beludru merah marun, tiga wanita duduk dengan aura yang sama sekali tidak sinkron dengan kebahagiaan palsu di sekeliling mereka.
"Kau harus bisa melupakan pria brengsek itu!"
Teriakan itu meluncur dari bibir seorang gadis bergaun hitam ketat bernama Alessia Cestaro.
Suaranya nyaris tenggelam oleh irama Gasoline yang semakin memuncak, tetapi intonasinya tajam dan penuh penekanan.
Tanpa ragu, Alessia menyodorkan sebuah gelas seloki yang terisi penuh oleh cairan amber ke hadapan Svea Nycekerh, sahabatnya yang duduk di sisi kiri, dan kemudian menuangkan hal yang sama untuk dirinya sendiri.
"Chirssss!!!"
Teriak keduanya serempak, mendentingkan gelas kaca tebal itu hingga bunyinya nyaring memecah udara di antara mereka.
Mereka menenggak cairan keras pembakar tenggorokan itu dalam satu tarikan napas, meringis sesaat sebelum meletakkan gelas kosong dengan keras ke atas meja kaca.
Di samping kedua wanita itu, duduklah Zacheriyya Tengiz. Gadis berusia 26 tahun itu memutar-mutar gelas di tangannya dengan tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi kilat kemarahan.
Gaun sutra zamrud yang membalut tubuh rampingnya tampak kontras dengan ekspresi kelam di wajah cantiknya. Tanpa aba-aba, ia membanting pelan gelasnya dan mulai mengumpat kasar, merutuki nasib, merutuki malam, dan merutuki ingatannya sendiri.
"Sialan! Kenapa alkohol sialan ini tidak membuatku melupakannya? Berapa botol yang harus kutenggak agar otakku berhenti memutar wajah bajingan itu?!" geram Zacheriyya, suaranya parau oleh campuran frustrasi dan efek vodka murni.
Mendengar keluhan yang terdengar begitu putus asa namun komikal itu, Alessia Cestaro dan Svea Nycekerh saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa lepas.
Bukan tawa mengejek, melainkan tawa ironi dari sahabat yang sudah terlalu lelah melihat temannya terperangkap dalam kubangan masa lalu yang beracun.
Svea mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Zacheriyya tepat di manik matanya.
Wajah Svea berubah serius, menanggalkan sisa tawa di bibirnya.
"Cherry, dengarkan aku," ucap Svea memanggil Zacheriyya dengan nama panggilan kesayangannya. "Kau harus bisa melupakan pria itu. Harus! Dan kau tahu kenapa? Karena berita ini valid, Cherry. Dia mungkin saja sudah menikah dengan jalang itu."
Zacheriyya mematung. Napasnya seakan tertahan di tenggorokan.
Svea melanjutkan dengan suara yang menggebu-gebu, mengabaikan dentuman musik yang masih menghajar telinga mereka.
"Aku tidak sedang mengarang cerita untuk membuatmu membencinya. Aku sering melihatnya, Cherry. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Bajingan itu sering mengantar wanita hamil itu untuk pemeriksaan rutin di rumah sakitku."
Bagai disiram air es di tengah gurun pasir, Zacheriyya merasa darahnya berhenti mengalir.
Dunia di sekelilingnya yang berputar karena alkohol tiba-tiba berhenti. Kata 'wanita hamil' berdengung di telinganya, menenggelamkan suara DJ, menenggelamkan tawa orang-orang, menenggelamkan segalanya.
Alessia Cestaro mengangguk mantap, membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Svea.
Gadis itu lalu menurunkan tangannya, mengelus perut ratanya sendiri untuk memberikan gambaran visual yang menyakitkan bagi Zacheriyya.
"Jalang itu hamil, Cherry," ucap Alessia dengan nada final yang tidak terbantahkan. Matanya memancarkan simpati sekaligus ketegasan.
"Dilihat dari ukuran perutnya, mungkin sudah lima atau enam bulan. Mereka tidak membuang-buang waktu setelah menghancurkan hidupmu."
Zacheriyya Tengiz terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada satu pun suku kata yang berhasil lolos. Matanya menatap nanar ke arah meja kaca yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat.
Lima atau enam bulan.
Angka itu berputar-putar di kepalanya.
Pria yang pernah berjanji akan memberikan dunia kepadanya, pria yang merangkai masa depan bersamanya selama delapan tahun, kini sedang menanti kelahiran seorang anak dari wanita yang pernah menjadi duri dalam hubungan mereka.
Tangan Zacheriyya mengepal erat di atas pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Kuku-kuku panjangnya menancap pada telapak tangannya sendiri, mencari rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sakit tak kasat mata yang merobek dadanya. Ia menarik napas panjang, paru-parunya terasa seolah diisi oleh pecahan kaca.
Saat ia menghembuskan napas, sebuah sumpah berdarah terucap di dalam batinnya. Ia bersumpah akan benar-benar melupakan pria pengkhianat itu.
Tidak ada lagi sisa cinta, tidak ada lagi harapan, yang tersisa hanyalah kebencian yang murni dan absolut.
"Evander Vale-Knight...." bisik Zacheriyya perlahan.
Nama itu meluncur dari bibirnya, terasa seperti racun yang lama mengendap di lidahnya. "Aku bersumpah tidak akan memaafkanmu sampai aku mati."
...oOo...
Zacheriyya—atau yang biasa dipanggil Cherry oleh orang-orang terdekatnya—bukanlah wanita sembarangan yang mudah hancur oleh patah hati remaja. Ia adalah anomali.
Di balik wajahnya yang secantik supermodel dengan garis rahang tegas, mata cokelat hazel yang tajam, dan bibir penuh yang menggoda, ia adalah seorang wanita bernyali baja.
Cherry berprofesi sebagai seorang agen EOD (Explosive Ordnance Disposal) Technician.
Pekerjaannya bukanlah duduk di balik meja menghadap layar komputer, melainkan berada di garis depan antara hidup dan mati.
Ia adalah penjinak bom.
Tangan-tangan lentiknya yang kini gemetar karena memegang gelas vodka, adalah tangan yang sama yang terlatih untuk memotong kabel merah atau biru dalam hitungan detik.
Ia berurusan dengan ranjau darat, bahan peledak militer sisa konflik, IED (Improvised Explosive Device), dan ancaman mematikan lainnya.
Ia terbiasa mengendalikan adrenalin, terbiasa mematikan ketakutan, dan terbiasa menjinakkan hal-hal yang dirancang untuk menghancurkan.
Ironisnya, dari sekian banyak bahan peledak dan bom kompleks yang berhasil ia jinakkan dengan kejeniusan dan ketenangannya, ia justru gagal total dalam satu hal. Ia tidak bisa menjinakkan hati orang yang sangat dicintainya.
Ia gagal membedah kompleksitas pikiran Evander, dan pada akhirnya, ledakan emosional dari pria itulah yang menghancurkan dirinya berkeping-keping.
Ingatannya kembali terlempar ke masa lalu. Masa di mana semuanya hancur tanpa sisa.
Dua tahun yang lalu, saat usianya masih menginjak 24 tahun.
Cherry baru saja kembali dari sebuah misi lanjutan yang sangat melelahkan dan menguras fisik serta mental di pangkalan militer Florida.
Selama berminggu-minggu ia berada di bawah tekanan tinggi, menjinakkan ancaman yang bisa merenggut nyawanya dan rekan-rekannya.
Setiap kali ia berhasil memotong kabel yang tepat dan melihat timer bom berhenti berdetak, hanya satu nama yang terlintas di kepalanya: Evander.
Harapan untuk pulang ke pelukan pria beraroma maskulin campuran parfum mahal dan oli mesin itu adalah satu-satunya bahan bakar yang membuatnya bertahan di tengah cuaca Florida yang mencekik.
Hari itu, penerbangannya tiba lebih awal.
Dengan membawa sebuah kotak hadiah berisi jam tangan Rolex Daytona pesanan khusus yang ia beli menggunakan nyaris seluruh bonus misinya, Cherry berniat memberikan kejutan besar pada sang kekasih.
Evander baru saja memenangkan kejuaraan bergengsi dalam dunia balap mobil sport underground maupun sirkuit legal, sebuah pencapaian yang sudah lama diidam-idamkan pria itu.
Cherry ingin merayakannya bersama. Ia merindukan senyum arogan Evander, kerlingan mata pria itu, dan ciuman yang selalu berhasil membuat Cherry merasa aman.
Cherry menuju ke sebuah hotel mewah di pusat San Francisco, tempat yang diberitahukan oleh manajer Evander sebagai lokasi perayaan kemenangan.
Ia melangkah menyusuri koridor berkarpet tebal dengan langkah ringan dan jantung berdebar antisipasi. Ia memegang kartu akses duplikat yang selalu ia bawa ke mana-mana. Saat ia menempelkan kartu itu ke pintu Presidential Suite, terdengar bunyi klik pelan.
Pintu terbuka.
Alih-alih menemukan pesta perayaan dengan sampanye atau kejutan manis, Cherry disuguhkan oleh pemandangan yang akan terus menghantuinya hingga detik ini.
Pakaian berserakan di sepanjang lantai kayu ek yang mengilap. Kemeja balap Evander yang sangat ikonik tergeletak asal, bercampur dengan gaun merah sutra yang jelas bukan milik Cherry.
Langkah Cherry terhenti, napasnya tercekat. Suara rintihan pelan terdengar dari arah ranjang king-size di tengah ruangan.
Dengan tangan bergetar, Cherry melangkah maju, dan saat itulah dunianya runtuh.
Di atas ranjang berseprai putih yang berantakan, pria yang ia cintai sejak ia masih remaja, pria yang menjadi pusat semestanya, tengah bergumul tanpa busana, bersama seorang wanita berambut pirang.
Wajah Evander yang tadinya tertutup bayangan menoleh saat menyadari kehadiran Cherry.
Bukannya panik atau melompat bangun dengan penuh penyesalan, rahang Evander mengeras. Ia menatap Cherry dengan tatapan yang sangat asing, tatapan yang sedingin es.
Hancur. Kecewa. Murka.
Semua emosi melebur menjadi satu ledakan di dalam dada Cherry.
Hubungan percintaan yang mereka bangun dan pertahankan mati-matian selama delapan tahun harus kandas dengan cara yang paling menjijikkan karena sang kekasih berkhianat.
Jam tangan Rolex di tangannya jatuh ke lantai berdawai, kacanya retak, seolah menjadi simbol dari hati Cherry yang tak lagi utuh.
Namun, yang membuat Cherry hampir kehilangan kewarasannya, yang membuat rasa sakit itu berkali-kali lipat lebih menyiksa, adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh Evander Vale-Knight saat ia turun dari ranjang sambil melilitkan selimut di pinggangnya.
Dengan nada datar tanpa empati, pria itu menatap mata Cherry yang mulai berkaca-kaca dan berkata, "Sekarang kita impas, Cherry."
Kalimat itu bagai peluru sniper yang menembus tepat di tengah dahi Cherry. Kita impas.
Sejarah hubungan mereka berdua memang bukanlah dongeng tentang pangeran dan putri yang sempurna.
Hubungan mereka di masa lalu sangat labil, bagai menaiki rollercoaster tanpa sabuk pengaman.
Mereka Berpacaran Sejak usia 17 tahun, darah muda yang penuh gairah namun miskin kebijaksanaan.
Selama bertahun-tahun, Cherry harus berhadapan dengan sifat Evander yang terlalu posesif, cemburuan, dan mendominasi. Evander ingin mengontrol setiap aspek kehidupan Cherry, sementara di sisi lain, pria itu sendiri nyaris tidak pernah punya waktu untuknya.
Evander terlalu sibuk dengan sirkuit balapnya, terobsesi dengan trofi, kecepatan, dan menghabiskan malam-malam panjang di bengkel bersama komponen-komponen mobil sport.
Cherry merasa diabaikan, kesepian di tengah hubungan yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar.
Tekanan pekerjaan sebagai teknisi EOD yang mempertaruhkan nyawa dan rasa sepi di rumah membuatnya mencari kenyamanan.
Ya, Cherry tidak memungkiri bahwa ia memang pernah melakukan kesalahan fatal.
Ia berselingkuh. Namun, perselingkuhan itu lebih ke arah pelarian emosional. Ia dekat dengan seorang rekan kerjanya, pria yang mau mendengarkannya, yang mau menemaninya minum kopi setelah misi yang melelahkan, yang memberikannya perhatian yang tidak lagi ia dapatkan dari Evander.
Karena dihantui rasa bersalah yang menggerogoti hati nuraninya, Cherry yang tidak tahan menyembunyikan kebohongan akhirnya mengaku sendiri.
Ia duduk di hadapan Evander, menangis tersedu-sedu, dan mengakui perselingkuhannya.
Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Ia memohon ampun, berjanji tidak akan pernah mengulanginya, dan bersedia melakukan apa saja untuk menebus kesalahannya demi menyelamatkan hubungan mereka.
Dan saat itu, Evander yang murka luar biasa pada akhirnya luluh.
Pria itu memeluknya, menerima permintaan maafnya, dan mengatakan bahwa ia memaafkan Cherry. Ia berjanji mereka akan memulai semuanya dari awal, memperbaiki komunikasi, dan membangun kembali kepercayaan.
Cherry percaya. Ia benar-benar percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk melewati badai itu.
Namun, ternyata ia salah besar. Kata maaf itu hanyalah kepalsuan belaka yang keluar dari bibir Evander.
Pria itu tidak pernah benar-benar memaafkannya.
Ego laki-lakinya yang terluka diam-diam menyusun rencana balas dendam yang lebih kejam.
Evander sengaja membuat Cherry merasa aman, membuat Cherry kembali menyerahkan seluruh hatinya, hanya untuk menghancurkannya pada saat yang paling tidak terduga.
Yang paling membuat dada Cherry sesak oleh ketidakadilan adalah kenyataan tentang batas yang mereka langgar.
Saat Cherry berselingkuh secara emosional, ia bersumpah demi nyawanya bahwa ia tidak pernah tidur dengan pria lain. Ia masih menjaga batas fisiknya, karena di lubuk hatinya yang terdalam, tubuh dan cintanya hanya milik Evander. Ia hanya mencari teman bicara, bukan teman tidur.
Namun Evander?
Pria itu telah melangkah sejauh itu. Ia menggunakan kesalahan masa lalu Cherry sebagai alibi, sebagai senjata untuk membenarkan tindakannya.
Ia sengaja tidur dengan wanita lain—wanita yang kini mungkin hamil anaknya—hanya untuk membalas dendam, untuk menghancurkan harga diri Cherry dan menunjukkan bahwa ia yang memegang kendali atas rasa sakit.
°°°°
"Impas," gumam Cherry di tengah kelab malam, dua tahun kemudian.
Air mata akhirnya lolos dari sudut matanya, menetes melewati pipinya yang ber-makeup sempurna, jatuh ke atas gaun sutranya.
Alessia dan Svea yang melihat sahabat mereka mulai menangis segera merapat, memeluk tubuh Cherry dari kedua sisi.
Mereka memberikan kehangatan yang tak bisa diberikan oleh alkohol sekeras apa pun.
"Menangislah, Cher. Keluarkan semuanya malam ini. Tapi besok, kau harus bangkit. Kau adalah teknisi EOD terbaik di negaramu, kau menjinakkan bom untuk hidupmu. Jangan biarkan pria berengsek pengkhianat itu menjadi bom waktu yang menghancurkan masa depanmu," bisik Alessia sambil mengelus rambut panjang Cherry.
Svea mengangguk menyetujui, menyandarkan kepalanya di bahu Cherry.
"Dia tidak pantas mendapatkan air matamu. Bayi yang dikandung wanita itu, pernikahan mereka, itu semua adalah karma yang akan mereka jalani. Kau harus menutup buku itu sekarang."
Cherry mengusap air matanya dengan kasar. Tatapannya yang tadi sayu kini berubah menajam, dipenuhi oleh determinasi dingin yang biasanya hanya muncul saat ia sedang mengenakan pakaian anti-ledakan dan memegang tang untuk memotong sirkuit bom.
Detik di mana Evander mengatakan 'kita impas' di kamar hotel itu, adalah detik di mana hubungan yang terjalin sejak usia 17 tahun itu mati, terbakar hangus tanpa sisa.
Delapan tahun kebersamaan, tawa, air mata, pertengkaran, dan cinta yang membara, ditukar dengan pengkhianatan di ranjang hotel dan seorang bayi di rahim wanita lain.
Cherry mengangkat kepalanya, menatap ke arah lampu strobo yang berputar di langit-langit kelab.
Dentuman musik Gasoline masih menghajar gendang telinga, tetapi kini suaranya terdengar seperti soundtrack kebangkitannya. Ia menuangkan satu gelas penuh vodka, mengabaikan protes dari lambungnya.
"Kalian benar," suara Cherry kini lebih stabil, dingin, dan mematikan. Ia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Untuk masa lalu yang mati. Untuk Evander Vale-Knight dan keluarga kecilnya yang menyedihkan."
Alessia dan Svea tersenyum bangga, kembali mengangkat gelas mereka masing-masing.
"Dan untuk Zacheriyya Tengiz," tambah Alessia.
"Wanita yang tidak akan pernah hancur hanya karena seorang pembalap sialan," sahut Svea.
Mereka mendentingkan gelas sekali lagi.
Malam itu, di bawah kerlap-kerlip lampu Los Angeles, Cherry membuat janji pada dirinya sendiri.
Tidak akan ada lagi air mata untuk Evander. Tidak akan ada lagi rasa sakit yang ia biarkan menguasainya.
Jika hidup adalah medan pertempuran penuh ranjau, maka mulai besok, ia akan memastikan langkahnya tidak lagi berpijak pada sisa-sisa masa lalunya yang meledakkan.
Ia akan menjinakkan hatinya sendiri, dan memastikan Evander Vale-Knight tahu, bahwa membuang berlian demi batu kerikil adalah penyesalan terbesar yang akan menghantui pria itu seumur hidupnya.
🌷🌷🌷🌷
Ini Cerita Evander Vale-Knight adiknya Killian-Millian Vale Knight.
Cerita Keluarga Knight ke-3.
HIDDEN LINES (Killian Vale knight)
MY FAKE KNIGHT (Millian Vale-Knight)
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua