Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.
Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.
"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tujuh
Hanya butuh waktu beberapa jam bagi Istana Phoenix untuk kembali bernyawa. Istana megah yang menjadi hak eksklusif Permaisuri itu kini telah dibersihkan total. Aroma kayu lapuk dan keputusasaan dari Istana Dingin berganti dengan keharuman dupa cendana yang menenangkan serta kehangatan dari tungku-tungku arang berkualitas tinggi.
Belasan pelayan baru berlutut rapi di aula utama saat Shen Ran melangkah masuk. Gaun putihnya yang kotor telah diganti dengan jubah sutra merah marun berlapis sulaman emas bermotif burung phoenix, lambang kekuasaan tertinggi wanita di Kekaisaran Yan.
"Kami menyambut kembali Yang Mulia Permaisuri! Semoga Yang Mulia panjang umur dan dipenuhi keberkahan!" seru para pelayan serempak, suara mereka bergetar antara rasa hormat dan takut. Berita tentang bagaimana Permaisuri menjatuhkan Selir Agung Chu hanya dalam satu pagi telah menyebar seperti api.
"Bangkitlah," titah Shen Ran datar. Ia berjalan menuju kursi utama yang dilapisi beludru empuk, lalu duduk dengan menyilangkan kaki di balik jubahnya yang panjang, pose yang sangat tidak biasa bagi wanita kuno, namun memancarkan otoritas mutlak seorang bos besar.
"Mulai hari ini, aturan di Istana Phoenix hanya ada satu, kesetiaan dibayar dengan emas, pengkhianatan dibayar dengan nyawa. Mengerti?"
"Hamba mengerti, Yang Mulia!"
"Bagus. Bersihkan ruangan dalam. Aku ingin istirahat tanpa ada gangguan dari siapa pun."
Namun, ada dua gadis yang masih berdiri dihadapan Shen Ran. Shen Ran melihat ke arah dua gadis itu dengan alis yang berkerut samar. Ia ingat, mereka berdua adalah pelayan pribadi pemilik tubuh asli yang setia mendampingi Shen Ran.
Kedua gadis itu berdiri dengan tubuh gemetar, namun sepasang mata mereka berkaca-kaca dipenuhi rasa lega dan haru yang mendalam. Pakaian mereka tampak lusuh dengan beberapa bekas tambalan, bukti nyata bahwa selama Shen Ran diasingkan, mereka berdua ikut menderita dan ditekan oleh Istana Barat di sudut istana lain.
Berdasarkan memori tubuh ini, Clara mengingat nama mereka, Lian'er dan Mei'er. Mereka adalah pelayan yang dibawa Shen Ran dari kediaman asalnya, satu-satunya orang yang tidak berkhianat ketika seluruh dunia membalikkan punggung pada sang Permaisuri.
"Kenapa kalian masih di sini?" tanya Shen Ran, suaranya melembut beberapa derajat, menghilangkan nada dingin yang tadi ia gunakan untuk mengintimidasi para pelayan baru.
Bruk.
Lian'er dan Mei'er serempak berlutut, membenturkan dahi mereka ke lantai marmer yang dingin. Suara tangis yang sejak tadi mereka tahan akhirnya pecah.
"Yang Mulia... Hamba mengira... hamba mengira tidak akan bisa melihat Anda lagi dalam keadaan hidup. Saat Istana Dingin dikunci, hamba dan Mei'er disekap di paviliun cuci pakaian. Kami tidak bisa mengirimkan makanan atau obat-obatan untuk Anda..." bisik Lian'er di sela isak tangisnya.
"Hamba pantas mati karena tidak bisa melindungi Yang Mulia!" timpal Mei'er dengan bahu yang terguncang hebat.
Shen Ran menatap kedua gadis itu lekat-lekat. Di dunia modern yang penuh dengan kepalsuan korporat, kesetiaan buta seperti ini adalah komoditas yang paling langka dan mahal. Pemilik tubuh yang asli mungkin lemah, tetapi dia setidaknya memiliki mata yang baik dalam memilih orang terdekatnya.
Shen Ran perlahan bangkit dari kursi kebesaran Phoenix. Jubah merah marunnya berdesir halus saat ia melangkah turun, mendekati kedua pelayan setianya. Ia mengulurkan tangan, lalu menyentuh pundak mereka berdua dengan lembut.
"Bangunlah," titah Shen Ran pelan, namun sarat akan ketegasan. "Menangis tidak akan mengubah masa lalu, dan di hadapanku yang sekarang, air mata adalah hal yang tidak berguna."
Lian'er dan Mei'er perlahan mendongak, menyeka air mata mereka. Saat mereka menatap mata Permaisuri mereka, keduanya tertegun. Sorot mata yang dulu penuh keputusasaan dan kepasrahan kini telah lenyap, berganti dengan kilat kecerdasan yang tajam dan ketenangan yang agung.
"Kalian tidak bersalah. Tikus-tikus di istana ini memang perlu dibasmi, dan aku sudah memulai pembersihannya," Shen Ran menarik tangannya kembali, lalu bersedekap. "Mulai hari ini, kalian berdua adalah kepala pelayan di Istana Phoenix. Tugas kalian adalah menjadi mata dan telingaku. Awasi setiap pelayan baru yang baru saja berlutut di sini. Aku tidak peduli siapa yang mengirim mereka, apakah itu mata-mata Kaisar atau sisa mata-mata selir Chu, catat setiap gerak-gerik mencurigakan mereka."
Lian'er dan Mei'er saling berpandangan sejenak. Perubahan drastis pada majikan mereka memang mengejutkan, namun alih-alih takut, hati mereka justru dipenuhi semangat baru. Permaisuri mereka tidak lagi bisa ditindas!
"Hamba menerima perintah, Yang Mulia Permaisuri! Hamba bersumpah akan menjaga Istana Phoenix dengan nyawa hamba," ucap Lian'er dengan tatapan yang kini ikut mantap.
"Bagus. Lian'er, siapkan air hangat untukku mandi. Mei'er, bawakan teh krisan hangat ke kamar dalam. Setelah itu, kunci pintu gerbang utama. Malam ini, aku ingin beristirahat... dan menyambut seorang tamu yang sudah berjanji akan datang," Shen Ran berbalik, melangkah menuju kamar pribadinya yang megah.