NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Tatapan pertama.

Sekitar jam sepuluh malam, deru halus mesin mobil mewah terdengar berhenti di lobi depan kediaman Tanubrata. Langkah kaki yang tegap dan berirama konstan mulai terdengar memasuki aula utama.

Nyonya Ratih yang kebetulan baru saja menapaki beberapa anak tangga menuju lantai dua, seketika menghentikan langkah. Wanita paruh baya itu menoleh ke bawah, dan binar jenaka langsung terbit di matanya begitu melihat sosok putra tunggalnya baru saja melangkah masuk sambil melonggarkan ikatan dasi.

"Eh, eh, Saka, tunggu dulu!" seru Ratih setengah berbisik, bergegas turun kembali menuruni anak tangga untuk menghampiri putranya.

Saka Tanubrata menghentikan gerakannya. Pria dengan tinggi badan proporsional dan garis rahang tegas itu menatap ibunya dengan tatapan lelah yang kentara. "Kenapa sih, Ma? Saka baru pulang dan butuh istirahat," sahutnya, suaranya berat dan dalam, khas pria yang menghabiskan belasan jam menguras otak di ruang rapat.

Ratih tidak memedulikan gurat lelah di wajah anaknya. Ia justru mendekat dengan senyum misterius yang merekah lebar. "Mama ada jumpa gadis cantik malam ini. Kamu pasti suka. Serius, kali ini selera kamu banget!"

Saka menarik napas pendek, lalu memijat pangkal hidungnya yang mancung. Sebuah helaan napas pasrah lolos dari bibirnya. "Astaga, Ma ... kali ini anak siapa lagi yang Mama culik dan bawa ke rumah ini?"

Ya, ini memang bukan kali pertama Ratih bertingkah ajaib seperti ini. Rumah megah Tanubrata sudah berulang kali kedatangan tamu-tamu wanita muda yang sengaja dibawa Ratih dengan kedok "mengenalkan teman lama", yang ujung-ujungnya selalu bermuara pada perjodohan paksa.

Pada akhirnya, Saka hanya merasa muak. Sebagai pria yang memegang kendali penuh atas korporasi raksasa, ia benci diatur dalam urusan pribadi. Saka ingin mencari gadisnya sendiri dengan caranya sendiri, bukan menerima pasokan wanita pilihan ibunya yang rata-rata hanya mengincar status sosial.

"Ih, kamu ini menuduh Mama yang tidak-tidak saja," Ratih mencibir pelan, lalu menepuk lengan Saka. "Yang ini beda, Saka. Cantik banget, asli. Umurnya masih dua puluh dua tahun udah S1, dan masih lanjut kuliah. Dia ... putri dari keluarga Kaelen yang baru saja bangkrut itu."

Mendengar nama belakang tersebut, kening Saka seketika berkerut dalam. Netranya menatap Ratih dengan pandangan menyelidik. Sebagai pebisnis, tentu saja Saka tahu berita yang sedang hangat di dunia korporasi mengenai tumbangnya dinasti Kaelen.

Saka menarik napas panjang, merasa bahwa ibunya kali ini benar-benar membawa pulang masalah besar ke dalam rumah mereka. "Kaelen? Ma, urusan mereka itu rumit. Utangnya di mana-mana. Kenapa Mama malah membawa orang luar yang sedang bermasalah masuk ke sini?"

Ratih melipat kedua tangannya di dada, tidak mau kalah. "Mama tidak peduli urusan bisnisnya, yang Mama peduli itu anaknya. Lagipula, Mama sudah memutuskan untuk membantunya."

Saka tahu, berdebat dengan ibunya di jam sepuluh malam hanya akan membuang waktu dan energinya yang sudah tiris. Pria itu menegakkan tubuhnya, memutuskan untuk mengalah demi bisa segera menyentuh kasur. "Terserah Mama mau membawa pulang siapa atau mau menampung siapa di rumah ini. Tapi biarkan aku istirahat sekarang. Jangan ganggu aku lagi."

Saka melangkah lebar meninggalkan Ratih, mengabaikan seruan ibunya yang mulai mengungkit-ungkit topik sensitif.

"Saka! Umur kamu itu sudah dua puluh tujuh tahun! Sudah waktunya menikah, Saka! Ingat posisi kamu sebagai pewaris tunggal, kamu butuh istri untuk mengamankan posisi di dewan direksi dari sepupu-sepupumu yang bermata duitan itu!" Suara Ratih menggema di aula yang sepi, namun Saka terus berjalan naik ke lantai atas tanpa berniat berbalik. Bagi Saka, urusan dewan direksi bisa ia bereskan dengan otaknya sendiri, bukan dengan pernikahan paksa.

Keesokan paginya, cahaya matahari yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar tamu yang ditempati Prisha. Gadis itu sudah terbangun sejak subuh. Setelah mandi dan mengenakan salah satu pakaian bersih yang ia bawa di kopernya, Prisha berdiri di depan cermin besar. Ia menepuk-nepuk pipinya yang masih sedikit pucat akibat menangis semalaman.

'Ingat Prisha, hari ini perjuanganmu dimulai. Kamu sudah sepakat untuk menjual harga dirimu demi melunasi utang satu koma dua triliun itu,' batinnya menyemangati diri sendiri.

Meskipun dadanya bergemuruh oleh rasa gugup, Prisha memaksakan diri untuk turun ke lantai bawah guna menghadiri sarapan bersama. Langkah kakinya terasa begitu ringan namun penuh kehati-hatian saat menyusuri koridor rumah mewah yang sangat luas tersebut.

Begitu sampai di ruang makan berkonsep terbuka, Prisha melihat Nyonya Ratih sudah duduk anggun di kursi utama dengan secangkir teh di tangannya. Namun, pandangan Prisha tidak tertahan lama pada wanita paruh baya itu.

Netranya seketika terpaku pada sesosok postur tubuh tegap, tinggi, dan berbidang lebar yang tengah duduk membelakanginya di salah satu kursi makan. Pria itu mengenakan kemeja putih formal yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan lengan bawah yang kokoh.

Dari belakang saja, aura yang dipancarkan pria itu terlihat sangat luar biasa, dominan, dan penuh wibawa. Prisha sempat menahan napasnya. 'Dari belakang saja sudah seperti ini, bagaimana tampak depannya?' pikir Prisha dengan jantung yang berdegup kian kencang.

Prisha melangkah maju beberapa langkah lagi, mencoba mendekati meja makan. Ketika ia bergeser ke arah samping, pria itu perlahan mendongakkan kepala dari tablet bisnis yang sedang dibacanya, lalu menoleh ke arah Prisha.

Tepat pada detik itulah, untuk pertama kalinya, Prisha melihat wajah Saka Tanubrata secara langsung.

Seketika itu pula, sebuah perasaan lega yang amat besar terpancar dalam benak Prisha. Embusan napas yang sejak tadi ia tahan kini terlepas perlahan.

Sejujurnya, sepanjang malam Prisha sudah mempersiapkan mental untuk kemungkinan terburuk. Ia berpikir, pria yang ditolak oleh banyak wanita atau pria yang harus dicari-carikan jodoh oleh ibunya sendiri pastilah seorang pria tua yang gendut, bermuka jelek, atau berperangai buruk.

Namun, yang ia lihat sekarang justru sebaliknya. Pria di hadapannya ini adalah perwujudan nyata dari sosok pangeran yang sempurna dalam buku-buku fiksi. Garis wajahnya tegas, matanya tajam bagai elang, dan ketampanannya berada di level yang mampu membuat wanita mana pun lupa cara bernapas.

Sadar dirinya sedang diperhatikan, Prisha dengan sungkan dan agak kaku mengambil tempat duduk di kursi yang berada di seberang pria itu.

Saka tidak langsung kembali menatap tabletnya. Netra tajamnya bergerak perlahan, memperhatikan penampilan Prisha dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan penilaian yang dingin namun intens. Ia harus mengakui, gadis yang dibawa ibunya semalam memang memiliki standar kecantikan yang berbeda dari wanita-wanita sosialita yang biasa mendekatinya. Ada kesan rapuh namun penuh harga diri yang terpancar dari pembawaan Prisha.

Suasana meja makan yang sempat hening itu mendadak dipecah oleh suara renyah Nyonya Ratih yang tersenyum lebar melihat interaksi visual kedua orang di depannya.

Ratih bersuara dengan nada penuh kebanggaan, "Bagaimana, Saka? Cantik banget, kan? Pilihan Mama tidak pernah salah."

Saka tetap mempertahankan ekspresi datarnya, namun matanya masih mengunci manik mata Prisha. Dengan suara beratnya yang tenang, ia menjawab pendek, "Iya."

Mendengar pengakuan jujur yang begitu singkat namun berbobot dari pria setampan Saka, pipi Prisha seketika merona merah. Ia menundukkan kepalanya sedikit, merasa gugup sekaligus tersanjung di bawah tatapan intens tersebut. "Terima kasih," ucap Prisha sedikit malu karena dipuji secara langsung di depan calon ibu mertuanya, jika rencana ini berhasil.

Nyonya Ratih tersenyum puas, merasa di atas angin karena respons Saka tidak seburuk biasanya. "Nah, Prisha, kenalkan ini anak Bibi yang semalam Bibi ceritakan. Saka Tanubrata. Saka, ini Prisha Kaelen. Dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu."

Saka meletakkan tabletnya ke atas meja, lalu melipat tangannya. "Tinggal di sini? Berapa lama, Ma?" tanyanya dengan nada menuntut penjelasan, meskipun suaranya tetap terkontrol.

"Sampai semua urusannya selesai, Saka. Dan sampai kamu mau membuka hati," jawab Ratih blak-blakan dengan kedipan mata yang sengaja diarahkan pada Prisha.

Mendengar jawaban ibunya, Saka mendengus pelan. Ia beralih menatap Prisha yang kini tampak sibuk mengaduk-aduk bubur di mangkuknya tanpa berani menatap balik. "Kaelen ... aku turut berduka atas apa yang terjadi pada ayahmu," ucap Saka mendadak, membuat Prisha menghentikan gerakan sendoknya. Nada bicara Saka tidak terdengar hangat, melainkan sangat formal, tipikal ucapan belasungkawa antar rekan bisnis.

Prisha mendongak, mencoba mengumpulkan keberanian yang sejak tadi ia tata. Mengingat misi utamanya adalah untuk menggoda pria ini, Prisha mencoba melembutkan tatapan matanya, menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Saka. "Terima kasih, Tuan Saka. Kebaikan Nyonya Ratih semalam ... adalah satu-satunya hal yang menyelamatkan hidup saya."

Saka menaikkan sebelah alisnya, menangkap perubahan intonasi suara Prisha yang mendadak terdengar lebih lembut dan ... sedikit dalam. Sebagai pria yang sudah biasa dikelilingi wanita yang mencoba menarik perhatiannya, Saka langsung menyadari ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh gadis di hadapannya ini. Sinar mata Prisha yang tadi sempat ketakutan, kini berubah menjadi tatapan yang berusaha keras untuk terlihat memikat, meskipun bagi Saka, kepolosan gadis itu justru masih sangat kentara.

'Jadi, gadis ini berniat memainkan permainan ibuku?' batin Saka, sudut bibirnya berkedut tipis, hampir membentuk senyuman sinis yang samar.

"Jangan panggil Tuan, panggil saja Kak Saka atau nama saja kalau di rumah, Prisha. Kita kan calon keluarga," sela Ratih dengan nada riang, sengaja memanaskan suasana.

Saka langsung berdiri dari kursinya, merapikan letak kemeja putihnya yang tanpa cela. Ia melirik jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Aku harus ke kantor sekarang. Ada rapat dengan investor jam sembilan," ujarnya dingin, mengabaikan perkataan ibunya tentang 'calon keluarga'.

Sebelum melangkah pergi, Saka menghentikan langkahnya tepat di samping kursi Prisha. Ia menundukkan tubuhnya sedikit, membuat jarak di antara mereka mengikis hingga Prisha bisa mencium aroma parfum maskulin berkayu yang sangat elegan dari tubuh Saka.

"Semoga betah tinggal di sini, Prisha Kaelen. Dan ... semoga beruntung dengan apa pun yang sedang kamu usahakan," bisik Saka dengan nada rendah yang penuh teka-teki, sebelum akhirnya menegakkan tubuh dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan dengan aura dominan yang tertinggal di udara.

Prisha membeku di tempat duduknya. Jantungnya berpacu dua kali lipat lebih cepat. Bisikan Saka barusan terdengar seperti sebuah peringatan halus bahwa pria itu tahu ada udang di balik batu.

Nyonya Ratih yang melihat kepergian anaknya justru terkekeh geli, lalu menepuk tangan Prisha yang mendadak dingin. "Jangan takut, Nak. Saka memang begitu, gengsinya setinggi langit. Tapi buktinya tadi dia memujimu cantik, kan? Itu kemajuan besar!"

Prisha hanya bisa tersenyum canggung, menyadari bahwa jalan untuk melunasi utang 1,2 triliun ini ternyata tidak akan semudah yang ia bayangkan.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!