Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONFRONTASI DI RUMAH SAKIT
Brussels.
Eros dan Desmon akhirnya tiba di Kota Brussel.
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Kyoto, matahari telah condong menuju siang, tetapi rasa lelah seolah tidak berarti bagi Eros.
Begitu helikopter nya mendarat, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Zenaya dirawat tanpa singgah ke mana pun.
Sejak berada di dalam perjalanan, hanya satu hal yang terus memenuhi pikirannya—ia harus segera melihat keadaan Zenaya dengan mata kepalanya sendiri.
Sesampainya di rumah sakit, langkah Eros terdengar tergesa menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi aroma obat-obatan. Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara Desmon berjalan setia beberapa langkah di belakangnya.
Beberapa perawat yang berpapasan menyapa dengan ramah.
"Selamat siang, Tuan Eros."
Namun, sapaan itu sama sekali tidak dihiraukan. Fokusnya hanya tertuju pada satu ruangan di ujung koridor.
Saat tinggal beberapa langkah lagi menuju kamar rawat Zenaya, langkah Eros mendadak terhenti.
Sorot matanya berubah dingin.
Di ruang tunggu, berdiri seorang pria yang sangat ia kenal—Lucian.
Pria itu tampak mondar-mandir dengan wajah gelisah, seolah telah menunggu cukup lama.
Tak jauh darinya, wanita itu duduk tenang di kursi ruang tunggu sambil sesekali menatap pintu kamar Zenaya.
Tanpa ragu, Eros berjalan menghampiri mereka.
"Selamat siang, Tuan Eros," sapa Kelly dengan sopan sambil berdiri.
Sayangnya, Eros tidak memberikan jawaban sedikit pun.
(Kelly adalah assisten pribadi Lucian)
Tatapannya hanya tertuju pada Lucian yang kini membalas pandangannya tanpa gentar.
Suasana mendadak terasa menyesakkan.
"Selamat siang, Tuan Forger," ucap Lucian dengan senyum tipis. Namun, senyum itu tampak dipaksakan.
"Sedang apa kau disini?" tanya Eros dingin.
Lucian mengangkat kedua alisnya.
"Sedang apa?." ulangnya santai "Tentu saja menjenguk rekan kerjaku."
"Zenaya belum sadar. Percuma kau berada di sini."
Nada suara Eros terdengar jelas seperti ingin mengusir pria itu dari rumah sakit.
Lucian tetap tenang.
"Aku datang untuk melihat keadaannya, bukan untuk melihat tatapan nya."
Rahangan Eros mengeras. Jemarinya mengepal kuat, berusaha menahan emosi yang perlahan mendidih.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan kehadiranku?" tanya Lucian balik.
Melihat ketegangan yang semakin memanas, Desmon segera melangkah maju.
"Maaf, Tuan Lucian. Sebaiknya Anda pulang. Tolong pahami keadaan Tuan Eros saat ini. Jangan mempersulit keadaan."
Lucian menoleh ke arah Desmon.
"Siapa yang sedang mempersulit keadaan?"
Sebelum perdebatan itu semakin panjang, Kelly buru-buru berdiri.
"Tuan Lucian, sebaiknya kita pulang saja. Tuan Eros sudah datang."
Lucian menatap Kelly dengan dingin hingga wanita itu refleks menundukkan wajah. Meski begitu, Kelly berusaha mengendalikan emosinya agar tidak memperkeruh suasana.
Beberapa saat kemudian, Lucian mengembuskan napas pelan dan tersenyum tipis.
"Baiklah. Aku akan pergi."
Ia menatap Eros dengan tatapan tajam, lalu berkata dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Tapi ingat satu hal."
"Eros... jika kau memang tidak bisa mencintainya, setidaknya jagalah dia dari segala bahaya."
Kalimat itu menghantam Eros tepat di hatinya.
Tanpa menunggu jawaban, Lucian berbalik dan melangkah pergi.
Kelly segera mengikuti di belakangnya, meninggalkan lorong rumah sakit yang kembali sunyi.
Eros masih berdiri mematung. Rahangnya mengeras, sementara amarah bercampur kebingungan memenuhi pikirannya.
"Apa maksud ucapan pria itu?" tanyanya kesal kepada Desmon.
Desmon terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab dengan hati-hati.
"Mungkin... Tuan Lucian mengetahui bahwa selama ini Anda tidak mencintai Nyonya Zenaya. Karena itu dia mengatakan hal seperti tadi."
Eros langsung menoleh.
"Tahu apa dia tentang perasaanku?" gumamnya lirih. "Apa aku benar-benar terlihat tidak mencintai Zenaya?"
Desmon menatap wajah tuannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata jujur,
"Maaf, Tuan... bukankah memang selama ini Anda mengatakan bahwa Anda tidak mencintai Nona Zenaya?"
Ucapan itu membuat Eros membisu.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana itu.
Karena jauh di dalam hatinya, ia sendiri sudah tidak lagi memahami seperti apa sebenarnya perasaannya terhadap Zenaya.