Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
“Qingxing, makan malam nanti masak yang ringan saja.”
“Baik! Nyonya sedang senang hari ini?”
“Lumayan.” Lin Xiao berkata, “Aku hanya merasa hidup belakangan ini semakin menarik.”
Qingxing memandangi senyum tipis di wajah majikannya. Meskipun ia tidak benar-benar mengerti apa yang menarik dari semua ini, ia tahu satu hal.
Saat Nyonya tersenyum, kehidupan di halaman timur selalu terasa lebih nyaman daripada sebelumnya.
Dengan riang, ia berlari menuju dapur kecil.
Lin Xiao duduk sendirian di dalam ruangan untuk beberapa saat, lalu mengeluarkan surat itu lagi dari lengan bajunya dan membacanya sekali lagi.
“Kakak, tolong selamatkan aku.”
Ketika mengucapkan empat kata itu, suaranya sangat pelan, mengandung nada penuh arti yang bahkan tidak ia sadari sendiri.
Setelah itu, ia menyimpan surat tersebut kembali ke dalam laci dan menguncinya.
“Selamatkan dirimu?” gumamnya pelan sambil menatap ke luar jendela. “Pertama-tama, katakan dulu kepadaku, sebenarnya kau berada di pihak siapa.”
Pohon begonia di luar jendela bermekaran tenang di tengah senja. Angin menggoyangkan ranting-rantingnya perlahan, seolah sedang menggelengkan kepala, atau mungkin mengangguk setuju.
Lin Xiao tersenyum tipis dan tidak bertanya lagi.
*
Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum Qingxing sempat memanggil Xiaohe, seseorang sudah datang ke halaman timur.
Kali ini, Zhang Momo datang sendiri. Tidak ada pelayan lain yang mengikutinya. Di tangannya ada nampan kayu berlapis pernis merah, dan di atasnya terletak semangkuk sup yang masih mengepulkan uap panas. Berdiri di tengah halaman, ekspresinya tetap tenang saat ia memberi hormat ke arah dalam ruangan.
“Nyonya, Nyonya Tua menyuruh pelayan mengantarkan semangkuk sup penambah stamina untuk Anda.”
Lin Xiao menyingkap tirai dan keluar, menatap mangkuk sup itu.
Kuahnya bening, dengan beberapa butir kurma merah dan goji berry yang mengapung di permukaannya. Aroma obat yang samar-samar melayang dari mangkuk. Sekilas, itu memang tampak seperti semangkuk sup tonik biasa.
Namun, Lin Xiao tidak langsung menerimanya.
“Mengapa tiba-tiba Nyonya Tua teringat untuk mengirimkan sup kepadaku?”
Zhang Momo tersenyum tipis.
“Nyonya Tua berkata bahwa akhir-akhir ini Nyonya terlalu lelah. Wajah Nyonya tampak kurang segar dibanding beberapa hari lalu, jadi beliau menyuruh pelayan memasakkan sup ini dan membawakannya selagi hangat.”
Lin Xiao menatap mangkuk itu, tetap tidak segera mengulurkan tangan.
Ia teringat pada kalimat dalam surat misterius itu:
“Obat Nyonya Tua bermasalah. Orang yang mengganti obat bukan berasal dari ruang obat.”
Kalau obat Nyonya Tua sendiri bermasalah, apakah sup yang dikirim atas nama Nyonya Tua masih bisa dipercaya?
Namun, ia juga paham bahwa jika hari ini ia menolak meminum sup itu, Zhang Momo pasti akan melaporkannya. Kepercayaan yang baru saja dibangun tidak akan mampu bertahan dari satu bibit kecurigaan.
“Baik.” Ia akhirnya menerima nampan itu. “Tolong sampaikan rasa terima kasihku kepada Nyonya Tua.”
Zhang Momo memandangi Lin Xiao menerima mangkuk sup tersebut. Wajahnya sama sekali tidak berubah. Setelah memberi hormat, ia pun berbalik dan pergi.
Lin Xiao membawa sup itu kembali ke dalam kamar dan meletakkannya di atas meja.
Qingxing mendekat dan menghirup aromanya.
“Nyonya, baunya enak sekali. Ini pasti masakan dapur utama milik Nyonya Tua.”
“Mm.”
“Nyonya tidak meminumnya?”
“Nanti saja.” Lin Xiao berkata, “Pergilah panggil Xiaohe lebih dulu. Suruh dia mengawasi pintu belakang halaman barat.”
Walaupun khawatir terhadap sup itu, Qingxing melihat bahwa majikannya tampak tenang. Ia pun mengangguk dan berlari keluar.
Sendirian di ruangan, Lin Xiao memandangi mangkuk sup tersebut.
Permukaannya tenang, tanpa minyak berlebih maupun kotoran. Ia mendekat dan mencium aromanya. Ada manis kurma merah, sedikit asam dari goji berry, dan aroma samar obat yang sulit ia kenali, mungkin astragalus atau dangshen.
Semuanya memang bahan yang biasa dipakai untuk menambah tenaga dan memperbaiki darah.
Namun, ia tetap tidak meminumnya.
Bukan karena menemukan sesuatu yang aneh di dalamnya, melainkan karena waktu kemunculannya terlalu kebetulan.
Kemarin ia baru saja mengatakan kepada Nyonya Tua bahwa urusan tunjangan tidak perlu terburu-buru, lalu hari ini semangkuk sup sudah dikirimkan kepadanya.
Reaksi itu terlalu cepat.
Terlalu cepat, seolah seseorang langsung mengatur semuanya begitu ia selesai mengucapkan kalimat tersebut.
Nyonya Tua memang memberikan tanggapan atas perkataannya.
Namun, orang yang bereaksi belum tentu Nyonya Tua sendiri.
Bisa jadi, orang itu adalah seseorang yang berada di sisi Nyonya Tua.
Lin Xiao mengangkat mangkuk sup itu dan menuangkannya ke dalam sebuah guci porselen kecil yang bersih. Setelah menutup rapat guci tersebut, ia menyimpannya di sudut terdalam lemari, berdampingan dengan semangkuk obat penenang yang pernah ia simpan sebelumnya.
Setelah itu, ia meletakkan mangkuk kosong kembali ke atas nampan. Ketika seorang pelayan kebetulan lewat di depan pintu, ia segera memanggilnya.
“Tolong kembalikan mangkuk ini kepada Zhang Momo. Katakan bahwa aku sudah meminumnya dan ucapkan terima kasih kepada Nyonya Tua.”
Pelayan itu mengiyakan dan membawa mangkuk tersebut pergi.
Lin Xiao kembali ke kamar, mencuci tangannya, lalu duduk di dekat jendela sambil menunggu kabar.
Xiaohe pergi mengawasi pintu belakang halaman barat.
Qingxing pergi ke ruang keuangan.
Mendadak, halaman timur menjadi sangat sepi. Hanya dirinya yang duduk tenang sambil membolak-balik buku catatan.
Namun, pikirannya terus melayang ke hal-hal lain.
Sup itu belum tentu bermasalah.
Tetapi kemunculannya terlalu tepat.
Pei Yanzhi baru saja membuat keributan di kediaman keluarga kedua, lalu Nyonya Tua langsung mengirimkan sup.
Seolah-olah seseorang ingin membuatnya merasa tenang di halaman timur dan tidak ikut campur dalam urusan di luar.
Lin Xiao menutup buku catatan dan berdiri untuk meregangkan tubuh.
Pohon begonia di luar jendela sedang bermekaran sempurna. Kelopak-kelopak merah muda pucat bergoyang lembut tertiup angin, beberapa jatuh ke tanah dan memantulkan bayangan transparan di bawah cahaya pagi.
Ia membuka jendela, dan aroma bunga segera menyerbu masuk, membawa kehangatan manis khas penghujung musim semi.
“Nyonya!”
Suara Qingxing yang berlari kembali memecahkan ketenangan sesaat itu.
Qingxing mendorong pintu halaman timur sambil terengah-engah.
“Pelayan... pelayan sudah kembali...”
“Bagaimana hasilnya di ruang keuangan?”
“Pelayan yang mengurus pembelian bilang... lima tael perak untuk memperbaiki tembok belakang itu diambil sendiri oleh Zhang Momo.” Qingxing masih tersengal. “Katanya waktu itu Zhang Momo menyebut itu perintah Nyonya Tua untuk memperbaiki tembok halaman timur, jadi dia tidak banyak bertanya.”
Zhang Momo.
Jari Lin Xiao mengetuk pelan ambang jendela.
Uang itu memang dicatat untuk memperbaiki tembok belakang.
Namun kenyataannya, tembok itu tidak pernah diperbaiki.
Ia sudah memeriksanya sendiri.
Tidak ada bata baru.
Tidak ada semen baru.
Lima tael perak itu lenyap begitu saja.
Lalu, ke mana perginya uang tersebut?
“Qingxing, apa lagi yang kau dengar?”
“Masih ada satu hal lagi...” Qingxing merendahkan suaranya. “Kemarin sore, pihak keluarga kedua mengirim seseorang ke halaman barat untuk menemui Selir Zhou. Mereka berbicara cukup lama. Pelayan sudah bertanya ke beberapa orang, tapi tak ada yang tahu isi pembicaraan mereka.”
“Siapa yang pergi menemui Selir Zhou?”
“Cuiping, pelayan pribadi Nyonya keluarga kedua.”
Cuiping.
Pelayan kepercayaan terbesar Nyonya keluarga kedua.
Fakta bahwa Cuiping sendiri pergi menemui Selir Zhou menunjukkan satu hal.
Nyonya keluarga kedua mulai panik.
Dan kepanikan itu sudah cukup besar hingga membuatnya mengirim orang kepercayaannya sendiri.
Lin Xiao mengangguk pelan.
“Apakah Xiaohe sudah kembali?”
“Belum.”
“Kalau dia sudah pulang, segera beri tahu aku.”
Qingxing mengiyakan lalu berlari keluar lagi.
Lin Xiao kembali duduk di dekat jendela, tangannya bertumpu di ambang sambil memandangi pohon begonia di halaman.
Sup tonik hari ini.
Lima tael perak yang diambil Zhang Momo.
Dan kunjungan orang keluarga kedua ke halaman barat.
Ketiga hal itu seperti tiga ujung benang yang kini berada di tangannya. Ia bisa merasakan tarikan samar di antara semuanya, tetapi belum yakin apakah semuanya akan menuju tempat yang sama.
Namun, ia memiliki firasat.
Hari ini, seseorang akan datang.
Bukan pelayan pembawa surat.
Bukan pelayan tua pembawa pesan.
Melainkan sesuatu yang lebih besar.
Ia berdiri dan berjalan ke meja tulis, lalu mengeluarkan surat misterius itu sekali lagi. Kalimat “Obat Nyonya Tua bermasalah” seakan bergoyang di depan matanya.
Ia melipat surat itu dan menyimpannya kembali.
Lalu, ia mendengar keributan dari luar.
Bukan suara langkah kaki.
Melainkan derit roda kereta.
Juga suara orang-orang yang berbicara dengan nada rendah, seolah sedang memindahkan sesuatu.
Lin Xiao berjalan ke pintu dan menyingkap tirai.
Dari kejauhan, ia melihat beberapa pelayan perempuan mengangkat sebuah peti besar menuju halaman utama.
Peti itu berwarna merah tua, dihiasi pita merah seperti peti mahar.
Namun bentuknya sangat aneh.
Lebih sempit dan lebih panjang dibanding peti mahar biasa, seolah menyimpan sesuatu yang tidak lazim.
“Qingxing!”
Qingxing segera berlari menghampiri.
“Nyonya?”
“Apa itu?”
Qingxing menjinjit dan ikut melihat, ekspresinya pun dipenuhi kebingungan.
“Sepertinya... peti itu baru dibawa masuk dari luar. Tadi pelayan tidak melihatnya di gerbang...”
Lin Xiao berdiri di ambang pintu, memandangi peti itu menghilang di tikungan koridor.
Naluri dalam dirinya mengatakan bahwa itu bukan peti mahar.
Di dalam peti itu...
Ada seorang manusia.
Ia tidak tahu mengapa bisa memiliki perasaan seperti itu, tetapi firasat tersebut membuat punggungnya sedikit menegang.
Ia menurunkan tirai dan kembali ke dalam kamar, lalu duduk lagi.
Di luar jendela, pohon begonia masih bergoyang pelan tertiup angin. Kelopak-kelopak merah muda pucat berserakan di tanah.
Namun kini, ia sudah tidak lagi punya suasana hati untuk menikmati bunga-bunga itu.