NovelToon NovelToon
Kontrak Hamil Anak Bos

Kontrak Hamil Anak Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Gala Malam di Villa Toscana

Malam itu, langit Milan berubah menjadi kanvas gelap yang dihiasi bintang-bintang. Udara terasa sejuk, angin malam membawa aroma bunga dan tanah basah. Di dalam apartemennya, Sarah baru saja selesai dirapikan oleh tim butik Bella Moda.

Wanita itu menatap bayangannya di cermin. Gaun midnight blue berbahan sutra tipis itu membungkus tubuhnya dengan sempurna. Potongannya yang off-shoulder memperlihatkan tulang selangka indah Sarah, sementara payet halus di pinggangnya menambah kesan mewah. Rambutnya yang panjang ditata dengan soft curls, dibiarkan tergerai indah di bahu. Riasan wajahnya tipis namun elegan, hanya sentuhan smoky eyes dan warna bibir merah muda yang lembut.

"Signorina Sarah, Anda terlihat sangat memukau," puji penata rias itu sambil merapikan sedikit ujung gaun Sarah.

Sarah tersenyum tipis. "Terima kasih. Anda sangat membantu."

Baru saja penata rias dan tim butik itu berpamitan, bel apartemen berbunyi. Ding-dong.

Sarah menghela napas, menenangkan diri. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Begitu pintu terbuka, Sarah langsung terkesiap. Ia mengira yang menjemput adalah Felix. Namun, di depan pintu, berdiri Samudra Grayson dengan setelan jas hitam yang sangat rapi. Kemeja putihnya yang bersih, ditambah dasi sutra hitam tipis, membuatnya terlihat sangat tampan dan berwibawa. Rambutnya ditata rapi, dan aroma parfum maskulinnya sudah tercium bahkan dari jarak satu meter.

"Pak... Bos?" Sarah terbata-bata. "Felix tidak menjemput saya?"

Samudra menatap Sarah. Matanya membelalak sejenak. Gaun midnight blue itu, rambut yang tergerai, riasan wajah yang memikat—semuanya membuat Samudra kehilangan kata-kata untuk beberapa detik. Hatinya berdegup lebih kencang, tapi ia dengan cepat mengalihkan pandangan, takut Sarah melihat keterpukuannya.

"Felix ada urusan di kantor," jawab Samudra, suaranya sedikit serak, berusaha terdengar datar. "Aku yang menjemputmu. Ayo, kita sudah terlambat. Acara dimulai setengah jam lagi."

Sarah mengangguk. Ia mengambil clutch kecil berwarna silver yang sudah disediakan, lalu melangkah keluar. Samudra menunduk, membukakan pintu mobil untuknya.

Sepanjang perjalanan dari apartemen menuju Villa Toscana, suasana di dalam mobil terasa hening. Samudra fokus menyetir, sesekali melirik Sarah dari sudut matanya. Sarah memilih menatap ke luar jendela, menikmati lampu-lampu kota Milan yang berkerlap-kerlip, makin lama makin berganti menjadi jalanan pedesaan yang diterangi rembulan.

Tidak ada pembicaraan. Hanya suara mesin mobil dan degup jantung masing-masing.

Setelah sekitar 40 menit berkendara, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang megah. Di depan mereka, Villa Toscana berdiri dengan anggun, diterangi lampu kuning keemasan yang berbaris di sepanjang jalan masuk. Air mancur besar dengan patung dewa Romawi memancarkan air di tengah halaman. Para tamu yang mengenakan pakaian mewah berjalan masuk, disambut oleh pelayan berseragam hitam putih.

Sarah menatap semua itu dengan mata terbelalak. Kemewahan ini baru pertama kali ia lihat secara langsung. Ia biasa melihatnya di film atau majalah, tapi tidak pernah membayangkan ia akan berada di tempat seperti ini.

"Kamu belum pernah ke pesta gala sebelumnya?" tanya Samudra, menyadari ekspresi Sarah.

"Belum, Pak. Ini pertama kalinya," jawab Sarah jujur.

Samudra tersenyum tipis. "Maka, nikmati saja. Jangan terlalu tegang."

Mereka turun dari mobil, dan Samudra menyerahkan kunci pada petugas parkir. Ia lalu mendekati Sarah dan secara spontan, ia meraih pinggang Sarah, menariknya sedikit lebih dekat.

Sarah menegang, tetapi Samudra berbisik pelan di telinganya. "Jangan kaget. Di pesta seperti ini, pasangan akan berpegangan untuk menghindari tersesat. Aku tidak ingin kamu tersesat di antara orang-orang asing ini."

Sarah mengangguk. Meskipun hatinya berdebar, ia tidak menolak. Mereka melangkah beriringan masuk ke dalam villa. Di dalam, ada ruang dansa besar dengan lampu gantung kristal yang berkilauan. Orkestra memainkan lagu klasik yang lembut. Para tamu tersebar di beberapa meja, mengobrol, dan menyesap sampanye.

Samudra menuntun Sarah menuju salah satu meja di dekat panggung. Mereka duduk, dan segera seorang pelayan menyodorkan dua gelas sampanye. Namun, Samudra menolak dan meminta dua gelas air mineral.

"Kamu tidak boleh minum alkohol," ujar Samudra pada Sarah. "Untuk kesehatan kandungan."

Sarah tersenyum. "Terima kasih, Pak. Bapak benar-benar memperhatikan."

"Aku hanya bertanggung jawab," jawab Samudra singkat, meskipun matanya masih sesekali melirik Sarah.

Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjas abu-abu mendekati meja mereka. Pria itu rambutnya sudah memutih, dengan kumis tebal dan senyuman ramah.

"Samudra! Senang sekali kamu bisa hadir," sapa pria itu. "Ini pasti pendampingmu, ya. Sangat cantik."

Samudra berdiri dan berjabat tangan. "Halo, Herbert. Senang bertemu lagi. Ini Sarah, asisten pribadiku."

Herbert mengulurkan tangannya pada Sarah. "Apa kabar, Sarah? Kamu sangat beruntung menjadi asisten Samudra. Pria ini adalah salah satu pengusaha paling cerdas di Eropa."

Sarah berjabat tangan dengan sopan. "Saya juga merasa beruntung, Tuan Herbert."

Mereka pun mengobrol beberapa saat. Herbert banyak bercerita tentang properti di Swiss, pasar properti Eropa, dan berbagai proyek yang sedang dikerjakan. Sarah mendengarkan dengan saksama, sesekali memberikan tanggapan cerdas yang membuat Herbert terkagum-kagum.

"Kamu pandai berbicara, Sarah," puji Herbert. "Samudra, kamu benar-benar memilih pasangan yang tepat untuk acara ini."

Samudra hanya tersenyum tipis, tetapi matanya menangkap tatapan Sarah yang sedikit terkesiap. Rasa bangga muncul di dadanya.

Setelah Herbert beranjak pergi, Samudra dan Sarah kembali duduk. Sarah mengambil seteguk air mineralnya. Suasana ruangan mulai ramai, para tamu mulai saling berinteraksi dan berdansa di lantai.

Mereka duduk berdua. Satu momen di antara keramaian, hanya ada mereka. Udara di antara mereka terasa hangat, tetapi juga menegangkan.

"Kamu benar-benar pandai berbicara dengan tamu," ujar Samudra memecah keheningan. "Herbert sangat jarang memuji orang baru."

Sarah tersenyum. "Saya hanya mendengarkan, Pak, dan menyesuaikan omongan. Bapak yang sudah mengajarkan saya untuk selalu fokus pada lawan bicara."

Samudra menatap Sarah dalam-dalam. Gaun midnight blue itu berkilau di bawah lampu gantung. Matanya berkilat.

"Bagaimana perasaannya? Tidak terlalu kaku?" tanya Samudra.

"Sedikit, Pak," jawab Sarah jujur. "Tapi karena ada Bapak di sini, saya merasa lebih tenang."

Mendengar itu, Samudra tersenyum. Senyuman yang tidak sering ia tunjukkan. "Syukurlah. Kamu tidak perlu takut. Aku di sini."

Sesaat, sebuah lagu waltz mulai dimainkan oleh orkestra. Beberapa pasangan mulai beranjak ke lantai dansa. Samudra menatap Sarah, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya.

"Mau menari?" tawarnya.

Sarah terkejut. "Pak, saya tidak bisa menari waltz."

"Aku yang akan memimpin. Kamu hanya perlu mengikutiku. Ayo."

Sarah ragu, tapi melihat tatapan Samudra yang tulus, ia akhirnya menerima tangan Samudra. Mereka berjalan ke lantai dansa. Samudra meletakkan satu tangannya di pinggang Sarah, satu tangan lainnya menggenggam tangan Sarah dengan lembut. Mereka mulai bergerak mengikuti irama.

Langit-langit Villa Toscana seolah berputar perlahan. Sarah tidak bisa menari waltz, tapi Samudra memimpinnya dengan sangat halus. Kakinya tidak menginjak kaki Sarah, gerakannya begitu lembut, mengikuti alunan biola.

"Kamu bilang tidak bisa menari, tapi kamu sangat ringan," puji Samudra di dekat telinganya.

Sarah tersenyum. "Karena Bapak yang memimpin, Pak. Saya hanya terbawa."

Dalam pelukan itu, di tengah lagu waltz yang romantis, Sarah merasakan sesuatu yang lebih dalam. Ia tidak lagi merasa seperti asisten kontrak. Ia merasa seperti wanita yang diperhatikan. Dan di mata Samudra, ia melihat cerminan yang sama.

Mereka berputar perlahan, mengabaikan tamu-tamu lain yang menari di sekitar mereka. Untuk sesaat, dunia hanya milik mereka berdua. Dan Sarah tahu, malam ini, ia tidak akan pernah melupakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!