Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 Misi Selesai
BRAKK!
Jeruji besi ventilasi itu jebol seketika, tubuh Alneo turun ke bawah. Dua kaki sandal jepitnya menghantam tepat di pundak pengawal sebelah kanan dengan kekuatan penuh.
KRETEK!
"Argh!"
Pengawal itu bahkan tidak sempat menarik pelatuk senjatanya, karena Alneo menendang kepala bagian belakang pria itu hingga jatuh
[Anda beruntung, pengawal lainnya sedang pergi ke toilet, Anda harus pergi dalam waktu 2 menit]
Inilah kesempatan Alneo untuk menyelamatkan Riani.
Alneo mengendap-endap dan akhirnya ia berhenti di dekat Riani.
"Hmm mmph! Mmmph!" Riani terkejut, bukannya kakaknya tadi. sudah mati di pukul oleh ayahnya, tapi sekarang kakaknya baik-baik saja?
"Riani! Kau tidak apa-apa?!" Alneo dengan cepat membuka sumpalan kain di mulut adiknya, lalu membuka tali di tangan dan kakinya.
Begitu ikatan itu terlepas, Riani langsung menghambur ke pelukan Alneo, menangis sejadi-jadinya. "Kak Alneo! Hiks... Aku takut sekali! Ayah... Ayah jahat, Kak! Dia menjualku!"
Alneo memeluk adiknya erat-erat, mengelus rambutnya yang berantakan. "Kakak tahu, Riani. Kakak tahu. Sekarang ada Kakak di sini. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu lagi."
"Ayo pergi dari tempat terkutuk ini, Riani," bisik Alneo.
Alneo terus memacu kedua kakinya menuruni anak tangga darurat dengan kecepatan penuh.
Di punggungnya, Riani mendekap leher Alneo erat-erat. Suara sirine alarm gedung berbunyi menandakan bahaya.
Para pengawal Bos Reno pun bergerak untuk mencari bahaya tersebut.
"Kak... mereka masih mengejar kita?" bisik Riani dengan suara bergetar ketakutan.
"Tidak akan Kakak biarkan mereka mendekatimu lagi, Riani. Pegangan yang erat," jawab Alneo.
[Peringatan. Tiga armada kendaraan milik anak buah Bos Reno di area parkir luar telah diaktifkan. Mereka mulai memblokade gerbang keluar utama.]
"Sial, mereka bergerak cepat sekali," umpat Alneo dalam hati.
"Sistem, apa ada jalan keluar lain yang tidak dijaga?"
[Menganalisis cetak biru digital area belakang... Terdapat sebuah pagar pembatas besi yang berbatasan langsung dengan area perkebunan warga di sisi barat. Jarak: 50 meter. Namun, tinggi pagar mencapai 2,5 meter dengan kawat berduri di atasnya.]
"Bisa kau beri aku tambahan kekuatan lompatan seperti tadi?" tanya Alneo sambil terus berlari.
[Bisa, Tuan. Namun energi fisik Anda saat ini berada di batas kritis 15%. Mengaktifkan Lompatan Pegas Instan dalam kondisi ini akan menguras energi Anda dan menyebabkan efek kelelahan otot yang parah setelahnya. Apakah Anda tetap ingin mengeksekusinya?]
Alneo melirik ke belakang. Di kejauhan beberapa pria berbadan kekar mengejarnya sambil berteriak.
"Berhenti kalian! Jika tidak akan ku tembak!" kata pengawal yang mengejar Alneo saat itu.
"Tidak ada pilihan lain! Lakukan sekarang!" kata Alneo.
[Perintah diterima. Mempersiapkan otot kaki... Sekarang!]
Begitu Alneo mencapai area pagar pembatas di sisi barat, ia merasakan otot kakinya yang telah di perkuat.
"Riani, pejamkan matamu!" teriak Alneo.
BOOM!
Dengan satu hentakan kaki yang kuat, tubuh Alneo melesat tinggi ke udara. Mereka berdua melayang melewati kawat berduri tajam di atas pagar pembatas setinggi dua setengah meter itu dan akhirnya mendarat di atas tanah area perkebunan warga.
BRUK!
Alneo sedikit berguling memastikan Riani tetap aman dalam dekapannya.
Sesaat setelah mendarat, rasa sakit yang luar biasa hebat langsung menjalar ke seluruh tubuh Alneo.
Ia seolah-olah kehabisan oksigen.
[Energi tubuh Anda habis. Kerja bagus, Tuan Alneo.]
Alneo yang terengah-engah di atas tanah, mencengkeram lututnya yang gemetar hebat.
"Kak Alneo! Kakak tidak apa-apa?! Kaki Kakak terluka?" kata Riani dengan raut wajah sangat cemas.
"Kakak... tidak apa-apa, Riani. Hanya sedikit lelah," bohong Alneo, mencoba tersenyum.
Tapi pada akhirnya, ia pun pingsan.
"Kakak! Kakak!" teriak Riani panik, tapi mau tak mau, gantian ia membohongi tubuh kakaknya yang pingsan untuk segera bersembunyi.
******
Ting!
[Misi Selesai]
[Anda dapat memilih angka undian!]
[Silakan pilih dari angka 1-10]
[Tentukan pilihan Anda]
Seketika Alneo tersadarkan, hal. pertama setelah ia sadar dari pingsannya ia melihat layar sistem denga misi selesai.
Tangannya mengulur ke depan. "Apa ini?" tanya Alneo penasaran
"Ini adalah hadiah setelah misi Anda selesai, Anda bisa memilih undian angka, silakan di pilih]
"Aku pilih... angka... 2," kata Alneo ragu-ragu, karena ini adalah hadiah perdananya.
Ting!
[Pilihan jatuh angka 2]
[Selamat Anda mendapatkan uang 2.000.000]
[Selamat, Anda mendapatkan 2 buah ponsel]
[Selamat Anda mendapatkan 2000 poin]
[Selamat Anda mendapatkan 2 potion. Satunya untuk memperkuat tubuh, dan satunya menyembuhkan tubuh Anda yang sakit]
"Wah, hadiah luar biasa sekali," kata Alneo dengan mata membulat.
Ia melihat ke kiri dan kanan, tapi tidak menemukan Riani. Dan juga tempat itu sebuah gubuk reot yang seperti sudah lama di tinggalkan.
"Riani! Riani!" teriak Alneo ingin berbagi kebahagiaannya. "Aku ingin mengatakan jika aku mendapatkan sistem."
[Maaf Tuan, sebaiknya Anda tidak memberi tahu keberadaan sistem sekalipun dengan adik Anda, sistem harap ini adalah menajdi rahasia bagi Anda]
"Begitu ya, tidak apa-apa, Terima kasih sistem karena sudah memberi kehidupan baru untuk ku, tapi bisakah aku tahu di mana Riani?" taya Alneo penasaran.
[Saat ini adik Anda sedang pergi mencari air minum untuk Anda, di sumur tidak jauh dari gubuk reot ini]
"Syukurlah kalau begitu," kata Alneo lega
"Oh ya, bagaimana aku mengambil uang dan ponselnya?" tanya Alneo penasaran.
[Anda tinggal sentuh layar hologram, dan Anda uang dan ponsel Anda menjadi nyata]
"Benarkah? Segampang itu?" tayang Alneo tak percaya.
[Cobalah]
Alneo pun menyentuh layar hologramnya, ia menyentuh gambar uang dan ponsel, dan seketika menjadi nyata.
"Wow, ini sangat luar biasa sekali!" kata Alneo terpukau.