Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sanjaya vs Sudaraksa
Setelah gong dibunyikan, pertandingan di babak pertama pun resmi di mulai. 4 pertandingan di 4 panggung yang berbeda langsung tersaji dengan begitu seru. Para peserta tanpa segan menunjukkan kemampuan terbaiknya masing-masing. Mereka begitu antusias untuk memperlihatkan bahwa mereka pantas untuk menjadi Senopati agung berikutnya.
Sorak sorai penonton bergemuruh mendukung jagoannya masing-masing. Mereka sangat bersemangat dan begitu terhibur dengan adanya turnamen kali ini. Dahaga mereka seakan terpuaskan, sebab sudah lama tidak ada hiburan sebesar ini, khususnya di kotaraja.
Tidak sedikit peserta yang dari kalangan perguruan, membawa saudara seperguruannya untuk membantu memberi semangat kepada mereka. Bahkan mereka juga membawa panji-panji kebesaran perguruan yang mereka kibarkan di sekitar panggung arena turnamen.
Lesmana yang terlihat duduk di tempat khusus pejabat istana, terlihat memandang ke arah bangku peserta dengan kebingungan. Dia tidak melihat sosok Wira di antara puluhan peserta yang sedang serius melihat jalannya pertandingan. Dia kemudian berdiri dan berjalan ke arah salah satu prajurit pribadinya.
"Coba kau cari Wira di rumah, apakah dia sudah berangkat ke sini atau belum?" bisik Lesmana pelan.
"Baik, Tuan," jawab prajurit tersebut.
Lesmana langsung balik ke tempat duduknya setelah prajurit tersebut kembali ke rumahnya untuk mencari Wira. Secara tidak langsung, dia menjagokan Wira dalam turnamen kali ini. Meski tidak pernah melihat kemampuan pemuda itu secara langsung, tapi dari informasi prajuritnya, dia yakin dengan kemampuan yang dimiliki Wira.
Peserta turnamen yang belum bertanding, terlihat sibuk menganalisa satu persatu kemampuan peserta yang saat ini sedang bertanding di atas panggung. Dan itu adalah sesuatu yang wajar, mengingat bisa saja mereka yang sedang bertanding saat ini akan menjadi lawannya nanti di babak kedua.
Pandangan mata mereka beralih dari satu panggung ke panggung lainnya. Dan jika terlihat ada peserta yang dominan dalam pertandingan, mereka akan memfokuskan pandangannya ke arah tersebut.
Pertandingan di babak pertama tersebut berlangsung tidak terlalu lama. Dua orang peserta dari perguruan, terlihat mendominasi jalannya pertandingan melawan peserta dari kalangan umum. Sedangkan dua orang Pangeran dari kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Sanggawana, juga sudah berhasil menekan lawan-lawannya.
Tak berapa lama kemudian, satu persatu peserta menyatakan menyerah, dan ada pula yang terlempar keluar dari arena. 4 orang peserta yang dinyatakan sebagai pemenang, kemudian turun dari panggung dan kembali ke tempat duduknya.
Peluh yang membasahi pakaian dan juga rasa lelah yang mendera, seakan terobati dengan kemenangan yang mereka dapatkan.
Pembawa acara kembali menaiki panggung untuk membacakan daftar nama peserta berikutnya yang akan bertanding. Para peserta yang belum mendapat kesempatan tampil, fokus tatapannya tertuju kepada lelaki tersebut.
Hingga pertandingan sesi kedua, Wira yang belum disebut juga namanya, sudah merasa gatal tangannya. Dia ingin merasakan bagaimana rasanya sensasi bertarung dalam sebuah turnamen, walau dia juga tahu jika pertarungan sesungguhnya jauh lebih menguras adrenalinnya.
Senada dengan Wira, Raden Sanjaya juga sudah tidak sabar untuk naik ke atas panggung. Dia ingin menunjukkan bagaimana kekuatannya yang sesungguhnya kepada semua orang. Raden Sanjaya juga ingin membuktikan bahwa hanya dialah yang pantas untuk menjadi Senopati agung.
Prajurit yang diperintah Lesmana untuk memanggil Wira, akhirnya sudah kembali dan menemui Lesmana.
"Kata gadis itu, Wira sudah berangkat sejak tadi, Tuan. Mungkin dia mencari tempat duduk lain yang jauh dari peserta lainnya," ucap prajurit tersebut pelan, dan hanya terdengar oleh Lesmana saja.
"Aneh sekali pemuda itu! Kenapa juga dia tidak mau bergabung dengan peserta lain?" tanya Lesmana dalam hati.
Lesmana kemudian teringat jika Raden Sanjaya juga ikut dalam turnamen ini. Dan menurutnya, besar kemungkinan Wira menghindari bertemu dengan Raden Sanjaya, Sehingga pemuda itu tidak duduk di tempat yang sudah disediakan untuk peserta.
"Begini saja, coba kau cari dia di sekitar sini. Siapa tahu dia memang duduk di tempat lain! Aku hanya ingin memastikan dia ada di sini sekarang." perintah Lesmana dengan suara yang juga pelan.
Prajurit itupun berlalu meninggalkan Lesmana setelah memberi hormat.
Dalam hati, Lesmana mempunyai harapan yang sangat besar kepada Wira. Dua hari bersama pemuda itu membuatnya tahu betul bagaimana sifat dan sikapnya pemuda tersebut. Dan jika Wira bisa menduduki tampuk senopati, dia yakin isu tentang beberapa kerajaan kecil yang hendak memisahkan diri akan bisa diselesaikan pemuda tersebut.
Bangsawan yang memiliki jabatan cukup tinggi di kerajaan Sanggawana itu kembali melayangkan pandangannya ke arah panggung pertandingan.
"Ada masalah apa yang kau hadapi, Lesmana? Kau terlihat seperti tidak tenang." tanya seorang lelaki tua yang duduk di sampingnya.
"Hamba tidak ada masalah, Tuan Patih. Hanya ada sedikit kendala dengan jadwal pertandingan yang tadi mundur cukup lama," jawab Lesmana berbohong.
"Syukurlah jika kau tidak ada masalah apa-apa. Kau tahu sendiri jika jalannya turnamen ini sepenuhnya ada dalam kendalimu, dan Yang Mulia Raja juga sudah memasrahkannya kepadamu."
"Benar, Tuan. Oh Iya, Di mana Putri Cempaka sekarang? Kenapa dia tidak terlihat di sini?"
"Putriku itu sifatnya masih seperti anak kecil saja, Lesmana. Dia setiap hari selalu keluar bermain entah kemana, aku tidak tahu," keluh Patih tua tersebut.
"Bagaimana kalau dijodohkan saja, Tuan Patih? Siapa tahu Putri Cempaka bisa berubah sifatnya." usul Lesmana.
"Saat ini aku juga sedang bingung Lesmana. Padahal beberapa hari yang lalu Arya Mungkarna sudah meminta untuk menjodohkan anaknya dengan putriku. Tapi sampai detik ini, putriku itu belum memberikan jawaban sama sekali. Aku sendiri juga tidak berani untuk memaksanya menerima perjodohan itu, jadi aku hanya bisa menunggu saja."
"Tuan Patih sudah benar. Jika Tuan memaksa Putri Cempaka untuk menerima perjodohan itu, dampaknya bisa tidak baik nantinya."
Lelaki tua itu hanya bisa mengangguk sambil melihat jalannya pertandingan.
Tiga peserta sudah memantapkan diri maju ke babak berikutnya, menyusul 4 peserta yang sudah lolos ke babak kedua. Hanya tinggal satu pertandingan di panggung 4 yang belum selesai.
Lelaki pembawa acara terlihat berjalan menemui Lesmana. Ada sesuatu hal yang ingin disampaikannya kepada Lelaki setengah baya tersebut.
"Tuan, sebaiknya kita tidak usah menunggu 4 pertandingan selesai semua, karena waktu akan terbuang percuma. Jadi hamba punya saran agar pertandingan yang sudah selesai, dilanjutkan dengan pertandingan berikutnya."
Lesmana mengangguk menyetujui usul pembawa acara.
"Usulmu boleh juga. Segera kau panggil peserta berikutnya!"
Lelaki pembawa acara itu kemudian berbalik dan berjalan menuju panggung. Sesampainya di atas panggung, dia kemudian membacakan daftar peserta berikutnya yang akan bertanding.
Nama Raden Sanjaya disebut pertama kali dan akan melawan Pangeran Sudaraksa dari kerajaan Ngelawan. Mereka berdua akan bertanding di panggung satu.