NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Keesokan harinya, Aurel datang tepat waktu. Untuk bertemu dengan pengacara barunya.

Aurel memilih mengenakan kemeja berwarna krem dipadukan celana bahan hitam.

Penampilannya sederhana, seperti saat berangkat bekerja.

Sesampainya di firma hukum tempat Najwa bekerja, Aurel langsung disambut oleh resepsionis.

"Selamat sore, Bu Aurel."

"Bu Najwa sudah menunggu di lantai tiga."

"Terima kasih." jawab Aurel.

Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka.

Najwa sudah berdiri di depan ruangannya.

"Rel."

Najwa tersenyum. Aurel membalas senyuman itu.

"Maaf ya, jadi merepotkan." kata Aurel.

Najwa menggeleng. "Jangan bilang begitu."

"Ayo."

"Kita ke ruangan Pak Arya."

Selama berjalan melewati lorong kantor, Aurel diam-diam merasa gugup. Entah seperti apa sosok pengacara yang akan menggantikan Najwa. Di dalam pikirannya, seorang pimpinan firma hukum pasti sudah berusia di atas empat puluh tahun. Berwajah tegas. Mungkin sedikit menyeramkan. Setidaknya begitulah bayangan Aurel.

Najwa mengetuk pintu.

"Silakan masuk." suara Arya terdengar dari dalam.

Najwa membuka pintu. "Permisi, Pak."

Arya yang sedang membaca sebuah berkas langsung mengangkat wajah. Ia berdiri dari kursinya.

"Silakan masuk." ucap Arya.

Baru saat itulah Aurel benar-benar melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya. Tubuhnya tinggi. Berpenampilan rapi dengan kemeja putih dan jas berwarna gelap yang tergantung di sandaran kursi. Wajahnya terlihat tenang. Tatapannya teduh. Namun tetap memancarkan wibawa. Aurel spontan terdiam. Masih muda. Jauh dari bayangannya.

Arya mengulurkan tangan. "Selamat sore, Bu Aurel."

"Saya Arya Aditia."

Aurel sedikit gugup. Ia menyambut uluran tangan itu sekadarnya.

"Selamat sore."

"Saya Aurel."

Setelah semuanya duduk, Arya memulai percakapan.

"Najwa sudah menjelaskan garis besar perkara Ibu."

"Tapi saya ingin mendengar langsung dari Ibu."

"Sebab sering kali ada hal-hal yang tidak tertulis di dalam berkas."

Aurel mengangguk. Selama hampir satu jam, ia menceritakan semuanya. Tentang rumah tangganya. Tentang Mahesa. Tentang Kayla. Tentang Raka.

Arya mendengarkan tanpa sekalipun memotong. Sesekali ia hanya mencatat beberapa poin penting.

Usai mendengar penjelasan Aurel, Arya menutup buku catatannya.

"Saya turut prihatin atas apa yang Ibu alami."

"Terima kasih." Jawab Aurel pelan.

Suasana sempat hening. Lalu Najwa tersenyum kecil.

"Rel."

"Kamu tahu umur Pak Arya berapa?"

Aurel sedikit bingung. "Tidak."

Arya justru tertawa kecil. "Memangnya penting?"

Najwa mengangguk usil. "Penting."

"Karena tadi Aurel mengira Bapak sudah berumur."

Aurel langsung membelalak. "Wah... Wa!" Wajah Aurel seketika memerah.

Arya tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa."

"Banyak orang juga mengira begitu."

Najwa tertawa. "Padahal Pak Arya baru tiga puluh lima tahun."

Aurel terdiam. "Tiga puluh lima?"

"Iya." Najwa mengangguk.

"Kalau tidak salah... beda lima tahun dengan kamu." kata Arya.

Aurel semakin salah tingkah. Berarti..Usia Arya hampir sama dengan Mahesa. Bayangannya tentang seorang pimpinan firma hukum benar-benar meleset.

Arya tidak tampak terganggu. Justru ia kembali mengalihkan pembicaraan ke perkara.

"Baik."

"Sekarang kita bicara proses hukumnya."

Arya membuka sebuah map. "Dalam perkara perceraian, sebelum pemeriksaan pokok perkara, biasanya akan ada proses mediasi."

Mendengar kata mediasi, Aurel langsung menggeleng.

"Saya tidak mau." kata Aurel.

Arya menatapnya tenang. "Boleh saya tahu alasannya?"

"Karena keputusan saya tidak akan berubah."

"Saya tetap ingin bercerai." jawab Aurel tegas.

Arya mengangguk pelan. "Saya mengerti."

"Saya tidak sedang meminta Ibu mengubah keputusan."

"Lalu?" tanya Aurel.

"Tetap ikuti mediasi."

Aurel tampak heran. "Untuk apa?"

Arya menjawab dengan suara tenang. "Karena mediasi adalah bagian dari proses yang perlu dijalani. Selain itu, forum tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mencatat sikap masing-masing pihak secara resmi."

"Ibu tidak harus berdamai."

"Ibu juga tidak harus mencabut gugatan."

"Tapi dengan mengikuti prosesnya secara baik, jalannya perkara akan lebih tertata."

Aurel terdiam. Penjelasan Arya terdengar masuk akal.

"Saya hanya ingin semua berjalan sesuai prosedur."

"Lalu setelah itu..."

"Kalau memang keputusan Ibu tetap sama, kita akan melanjutkan proses berikutnya."

Najwa ikut mengangguk. "Aku setuju."

"Pak Arya benar." kata Najwa.

Aurel akhirnya mengembuskan napas pelan.

"Baik."

"Saya akan datang ke mediasi."

"Bukan karena saya berubah pikiran."

"Tapi karena saya ingin semuanya selesai dengan cara yang benar."

Arya menutup map di hadapannya. "Itu keputusan yang bijaksana."

Aurel mengangguk pelan. Tanpa ia sadari, pertemuan pertama dengan Arya membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Bukan karena Arya menjanjikan kemenangan. Melainkan karena pria itu tidak pernah memaksanya mengambil keputusan. Ia hanya memastikan setiap langkah yang diambil Aurel berada di jalur yang tepat.

♡♡♡

Sabtu siang. Seperti biasanya, Aurel menyempatkan diri pergi ke salon langganannya.

Salon itu sudah menjadi tempat yang ia datangi sejak sebelum menikah.

Para pegawainya pun sudah mengenalnya dengan baik.

Sebenarnya. Sejak perselingkuhan Mahesa terbongkar, Aurel sempat ingin mencari salon lain. Ia ingin menghindari kemungkinan bertemu orang-orang yang dikenalnya.

Namun sampai sekarang, ia belum menemukan tempat yang membuatnya senyaman salon itu.

Akhirnya, Aurel tetap datang.

Setelah selesai mencuci rambut, ia duduk di depan cermin sambil menunggu giliran creambath. Baru beberapa menit berlalu, pintu salon kembali terbuka. Suara lonceng kecil di atas pintu berbunyi.

Aurel tidak terlalu memperhatikan. Hingga bayangan seseorang muncul di cermin. Yaitu Kayla.

Tatapan mereka bertemu melalui pantulan kaca. Aurel sama sekali tidak terlihat terkejut. Justru Kayla yang tersenyum tipis.

"Halo, Rel." sapa Kayla.

Aurel hanya mengangguk singkat. "Halo." Seolah tidak terjadi apa-apa.

Kayla kemudian duduk di kursi sebelah. "Kebetulan banget ya."

Aurel tahu itu bukan kebetulan. Selama bertahun-tahun bersahabat, Kayla tahu betul kebiasaan Aurel. Termasuk salon yang selalu ia datangi setiap beberapa minggu sekali.

Namun Aurel memilih diam. Ia terlalu lelah untuk memperdebatkan hal-hal seperti itu.

Beberapa menit kemudian, saat pegawai salon sedang mengambilkan produk perawatan, Kayla memanfaatkan kesempatan itu.

"Rel."

"Aku boleh bicara sebentar?"

Aurel menghela napas pelan. "Kalau memang harus ya bicaralah." jawab Aurel.

Kayla menatap Aurel.

"Proses perceraian kalian sudah sampai mana?" tanya Kayla.

Aurel menjawab tanpa emosi. "Tinggal menunggu waktu."

"Sidang dan prosesnya sedang berjalan."

Kayla mengernyit. "Tapi..."

"Kenapa Mahesa malah menghindariku." tanya Kayla.

Aurel memandang pantulan wajah Kayla di cermin.

"Lalu apa urusannya denganku?" tanya Aurel.

"Aku pikir setelah kamu menggugat cerai..."

"...dia bakal datang ke aku."

"Nyatanya malah menjauh." kata Kayla.

Aurel kembali menatap lurus ke depan. "Itu bukan urusanku."

Jawaban Aurel membuat Kayla terdiam sesaat.

"Apa kamu yakin?" tanya Kayla.

Aurel mengangguk. "Sejak aku memutuskan menggugat cerai....kehidupan Mahesa di luar urusan sebagai ayah Raka bukan lagi tanggung jawabku."

"Tapi dia bilang mau mengakhiri hubungan sama aku." Suara Kayla mulai meninggi.

"Aku sudah kehilangan Ardi."

"Orang tuaku marah."

"Orang tua Mahesa juga menolakku."

"Sekarang Mahesa juga menjauh."

"Lalu aku dapat apa?" perkataan Kayla secara beruntun.

Aurel menoleh untuk pertama kalinya. Tatapannya tenang. "Pertanyaan itu seharusnya kamu tanyakan pada dirimu sendiri."

Kayla menggigit bibir. "Aku melakukan semua ini demi mendapatkan Mahesa."

Aurel tersenyum tipis. "Tapi apakah kamu benar-benar mendapatkannya?"

Kayla membisu.

Aurel kembali berbicara. "Kamu mengira kalau aku pergi, otomatis Mahesa akan menjadi milikmu."

"Padahal manusia bukan hadiah yang berpindah tangan."

Kalimat Aurel terasa menampar.

Kayla mencoba menyanggah. "Tapi dia pernah bilang mencintaiku."

Aurel mengangguk pelan. "Mungkin."

"Tapi sekarang dia juga sedang menanggung akibat dari pilihannya." Aurel berdiri dari kursinya karena pegawai salon telah selesai. Ia merapikan tasnya.

"Satu hal yang perlu kamu tahu, Kay."

Kayla menatap Aurel.

"Aku menggugat cerai bukan supaya kamu bisa mendapatkan Mahesa."

"Aku menggugat cerai supaya aku bisa mendapatkan kembali diriku sendiri."

Kalimat Aurel membuat Kayla terdiam.

Aurel melangkah menuju meja kasir.

Sebelum benar-benar pergi, Aurel berhenti sejenak.

"Lagipula..."

"Kalau Mahesa memilih menjauh darimu..."

"Itu adalah keputusan Mahesa."

"Bukan keputusanku."

"Jadi jangan datang kepadaku untuk mencari jawaban."

Setelah mengatakan itu, Aurel berjalan keluar dari salon. Pintu kaca kembali menutup. Meninggalkan Kayla yang masih duduk mematung. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Selama ini ia merasa telah menang. Namun kenyataannya...Aurel memang akan bercerai. Tetapi Mahesa juga tidak kunjung datang untuk membangun masa depan bersamanya.

Untuk pertama kalinya, Kayla menyadari bahwa kemenangan yang ia impikan selama tujuh tahun ternyata tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!