Sinopsis
Season 1:
Brian dan Richie, adalah 2 saudara kembar mirip wajah namun beda sifat. Keduanya memulai tahun ajaran baru di sekolah baru yang terkenal sebagai sekolah elit. Di sana, Brian segera menjadi sosok yang terkenal dan dikagumi murid-murid cewek karena ketampanannya dan sifatnya yang cool. Namun Brian juga memiliki sifat temperamental dan mudah tersinggung. Sementara adiknya Richie lebih sabar dan perhatian.
Di kelas baru, Brian segera mencuri perhatian Violetta, cewek paling beken di sekolah. Violetta jatuh cinta pada pandangan pertama pada Brian, namun Brian selalu bersikap dingin padanya. Hati Brian malah diam-diam terpaut pada Clarissa, kakak kandung Violetta yang juga sekelas dengan mereka. Di lain pihak, Richie malah diam-diam menyukai Violetta.
Walaupun Brian menyukai Clarissa, namun dia tak bisa mewujudkan perasaaannya, karena ada dendam yang dibawanya dari masa lalu orangtuanya. Dua puluh tahun lalu, ayah Brian tewas dalam suatu insiden yang melibatkan Raven (ayah Clarissa-Violetta) dengan Claire (mama Brian-Richie). Papa Brian-Richie yang bernama Kyle, tewas dalam insiden tersebut. Brian memendam dendam pada Raven yang mengakibatkan tewasnya sang ayah, Kyle, dan dipenjaranya sang ibu, Claire selama 20 tahun. Karena itu, dia sudah menyiapkan pembalasan pada Raven dengan mendekati Clarissa-Violetta, 2 putri Raven bersama Angela.
Clarissa-Violetta yang tak tahu apa-apa dan tak tahu maksud Brian memilih bersekolah di sekolah yang sama dengan mereka adalah untuk mendekati dan melancarkan rencana pembalasan dendam, bersahabat dan melewati hari-hari bersama kedua saudara kembar itu. Bahkan kedekatan mereka berempat membuat mereka saling percaya. Akhirnya, Clarissa dan Violetta harus menelan pil pahit. Keduanya menjadi korban Brian-Richie. Sebenarnya, Richie yang berhati baik dan sabar enggan membalas dendam dan mengasihi Violetta. Namun karena Brian, abang kandungnya telah lebih dahulu menyakiti dan menghancurkan hidup Violetta, gadis yang dicintainya, maka Richie pun membalas dengan menyakiti dan menghancurkan Clarissa, gadis yang dicintai Brian.
Perseteruan pun terus berlanjut hingga Brian berhasil masuk ke dalam keluarga Raven, bertemu, dan hampir berhasil membunuh Raven saat mamanya, Claire, tiba-tiba muncul menghalangi niat Brian menghabisi Raven. Claire yang di masa mudanya sangat mencintai Raven, menjelaskan pada kedua putranya kalau sebenarnya Raven bukan pembunuh papa mereka. Namun Claire-lah sendiri yang menghabisi Kyle, ayah dari kedua anaknya itu, dikarenakan saat insiden tersebut, Claire hendak melindungi Raven dari senjata Kyle, laki-laki yang mencintainya.
Setelah melewati banyak konflik, akhirnya Brian-Richie dan Clarissa-Violetta dapat bersatu kembali bersama pasangan yang mereka cintai.
* * *
Season 2:
Clarissa berhasil menamatkan kuliah dan menjadi seorang dokter. Dia harus mengabdikan diri selama 3 tahun di sebuah desa yang terpencil sebelum diizinkan membuka praktik sendiri.
Di desa itu, Clarissa yang sudah menjadi istri Brian dan melahirkan seorang putra, bertemu dengan seorang dokter muda yang sama-sama berpraktik di sana. Dokter bernama Harsono itu menaruh hati pada Clarissa. Sebaliknya Clarissa sangat menghormati dokter muda itu karena dianya dangat berdedikasi pada tugas dan tulus dalam merawat pasien.
Kepada Dokter Harsono, Clarissa berterus terang kalau dia sudah memiliki suami dan anak di kota, namun dokter muda itu tak peduli. Dia berkata akan menunggu bila suatu saat nanti Clarissa mau membuka pintu hati untuknya.
Di tempat yang terpisah dari Clarissa, Brian yang merupakan suami Clarissa, mengeloloa perusahaan keluarga yang diwariskan dari kakeknya. Adik kembarnya, Richie, ikut membantu.
Sementara Violetta, istri Richie, sehari-hari merawat 3 anak, yaitu putranya dengan Brian, putrinya dengan Richie, dan putra Brian dengan Clarissa.
Siapa sangka nasib mempertemukan kembali Violetta dengan Josh yang sangat menyukainya semasa SMA. Josh merupakan musuh bebuyutan Brian yang pernah terlibat konflik fisik dengannya. Walaupun Josh mengetahui akhirnya Violetta menikah dengan Richie, bukan dengan Brian, namun Josh tetap tak bisa melupakan dendamnya pada Brian apalagi melupakan perasaannya pada Violetta.
Josh yang sudah menjadi boss besar dari bisnis yang kurang terpuji, berusaha mendekati dan mendapatkan Violetta kembali dengan cara-cara licik dan keji. Termasuk menghasut hubungan Violetta dengan Richie dan Brian. Juga memasukkan seorang wanita bayaran ke perusahaan Brian-Richie untuk memperkeruh hubungan di dalam keluarga besar mereka.
Adapun Raven, papa Clarissa- Violetta, harus berurusan dengan perasaan 2 wanita yang di sisinya, yaitu Angela, istri resminya yang merupakan mama Clarissa-Violetta dengan Claire, mantan kekasihnya alias wanita yang dicintainya yang merupakan mama Brian-Richie. Ketegangan dan kecemburuan sering terjadi antara Raven dengan 2 wanita itu.
Masalah, tantangan, dan cobaan yang datang beruntun di keluarga besar Raven-Claire-Angela dengan anak-anak mereka Brian-Richie-Clarissa-Violetta, akan menjadi inti cerita season 2.
* * *
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosni Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perselisihan Brian dengan Teman-teman Violetta
Bab 2
“Oh...,” Bob mendesis panjang sambil melihat Brian mencorat-coret buku notes itu. Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin ditanyakannya pada Brian, karena ia merasa Brian adalah sosok yang misterius. Tapi melihat sikap Brian yang seolah tidak suka kalau orang mengorek data-data tentang dirinya, membuat Bob jadi terdiam. Akhirnya mereka hanya saling membisu dan mencatat jadwal pelajaran yang ditulis oleh Ibu guru tadi di papan tulis.
Violetta yang duduk di dekat Brian, hanya dipisahkan oleh sebuah lorong kecil sebagai jalan, tidak mampu menyembunyikan keingintahuannya tentang Brian. Walaupun tangannya mencatat jadwal pelajaran di papan tulis, tapi pikirannya tidak ke situ, karena ia terus memasang telinga sejak tadi, mendengarkan percakapan singkat antara Bob dan Brian barusan.
Mata Violetta melirik buku notes kecil berwarna ungu yang dipakai Brian. Ungu sama dengan Violet? Kenapa kebetulan sekali sama dengan namanya? Dan bolpoin berwarna hitam pekat dengan tinta hitam yang dipakai Brian untuk mencorat-coret buku notes ungu itu...?
Ah, Violetta cepat-cepat membuang pikirannya yang tidak-tidak. Dia dan Brian bahkan belum sempat kenalan. Apakah setelah melihat Brian untuk pertama kali tadi, sudah membuatnya terobsesi, jadi apapun tindak-tanduk Brian membuatnya penasaran?
Sebuah suara khas menyadarkan lamunannya. “Papan tulisnya di depan, Nona, bukan di samping...,” entah mengapa Brian seperti tahu jalan pikirannya. Ia menolehkan kepalanya ke samping, tersenyum pada Violetta yang ketahuan sedang menatapi dirinya.
Violetta merasa malu setelah kepergok terus mencuri lihat pada Brian sejak tadi. Ditundukkannya kepalanya dengan wajah bersemu merah jingga.
“Kenalkan, aku Brian,” Brian berusaha membantu Violetta mengatasi rasa salah tingkahnya.
Violetta mengangkat kepalanya, melihat uluran tangan Brian. Ia merasa sangsi, tapi setelah Brian mengangguk dan tersenyum ramah padanya, barulah Violetta merasa lega dan menyambut uluran tangan Brian.
“Namaku Violetta, senang berkenalan denganmu!”
“Sama-sama!” Brian membalas. Setelah itu Brian kembali lagi melihat ke papan tulis dan menekuni tulisannya.
Violetta juga sibuk menyalin dan kali ini ia tidak berani lagi mencuri lihat karena takut akan ketahuan. Walaupun dalam hatinya sangat tersiksa karena ia sudah ingin secepatnya bisa mengenal Brian lebih dekat. Rasanya pasti bangga sekali, bila bisa berjalan bersama dengan Brian yang gagah, tampan, atletis, sempurna fisiknya bak seorang pangeran itu, lain sekali bila dibandingkan dengan semua teman lelaki yang pernah dikenalnya selama ini.
“Violet!” suara Josh yang duduk di sampingnya, membuyarkan khayalan Violetta.
“Apaa...?!” sahut Violetta kaget, merasa sebal karena khayalannya terganggu.
“Sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan Brian,” Josh memperkecil suaranya sampai volume yang terkecil, volume yang hanya bisa didengar oleh Violetta seorang yang duduk di sampingnya, sedangkan Brian yang duduk agak jauhan, tidak mungkin bisa mendengarnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Violetta heran.
“Apa kau tidak melihat sorot matanya tadi, sewaktu di depan kelas? Begitu dingin dan misterius, seolah menyimpan suatu rahasia. Tapi begitu melihat dan berbicara denganmu, sorot matanya tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi ramah, seperti disengaja untuk menarik simpatimu. Orang seperti ini pasti memiliki maksud jahat. Sebaiknya kau berhati-hati!”
“Akh! Kau jangan mengada-ada, Josh!” ujar Violetta bertambah sebal. “Aku tahu maksudmu! Kau tidak ingin aku berdekatan dengan Brian karena kau takut tersaingi bukan? Biar kuberitahu ya, Josh, kau itu bukan tipeku, dan kau juga tak bakalan bisa menyaingi Brian. Jadi jangan bicara yang tidak-tidak tentangnya, okey?”
“Tapi aku benar mengkhawatirkanmu, Violet! Aku punya prasangka buruk terhadap Brian. Biasanya prasangka dan firasatku itu kebanyakan benar lho!”
“Seandainya prasangkamu itu benar pun, aku tidak takut! Karena mulai detik ini aku sudah bertekad untuk mendapatkannya, puas?!” tegas suara Violetta bersamaan dengan tangannya yang menyelesaikan salinan di papan tulis. Dihempaskannya bolpoin di tangannya ke atas meja dengan kasar, lalu membuang muka ke samping. Eh..., malah tatapannya bertemu dengan mata Brian yang entah sejak kapan sudah mengawasinya.
Rona wajah Violetta langsung memerah. Semula hendak marah jadi merasa malu. Apakah Brian mendengar kata-katanya barusan? Mungkinkah volume suaranya jadi agak keras karena emosi tadi? Gawat, berarti Brian sudah mendengar percakapannya dengan Josh tadi?
“Ada yang membuatmu tidak senang?” pertanyaan Brian yang spontan membuat Violetta terhenyak.
“Ah, tidak...!” Violetta menjawab gugup. Dengan cepat ia menyembunyikan wajahnya yang sedang bersemu merah dari pandangan Brian. Sorot mata Brian begitu tajam dirasakannya, seolah-olah ingin mengoyaki isi hatinya. Apakah dikarenakan Brian mendengar kata-kata Josh tadi, dan sekarang ia merasa marah? Salah mereka juga, kenapa harus bicara hal seperti ini di saat Brian ada di dekat mereka?
“Kalau ada yang sengaja membuatmu marah, sudah seharusnya diberi pelajaran,” ucap Brian seenaknya.
Josh yang merasa tersindir oleh kata-kata Brian, spontan bangkit dari duduknya, sorot matanya tak senang menatap Brian dan suaranya terdengar keras, “Hati-hati kalau bicara ya! Kau ini orang baru! Sombong sekali!”
Brian tersenyum dikit, dingin dan sinis.
Melihat reaksi Brian itu, Josh bertambah emosi. “Memangnya kamu hebat...!”
“Sudahlah, Josh..., sudah...!” Violetta menarik tangan Josh supaya duduk kembali. Mata Violetta yang menatap Josh seolah memerintahkannya untuk tidak lagi bertikai.
“Iya Josh, jangan galak-galak!” timpuk seorang siswa laki-laki yang duduk di depan Violetta. Ucapannya yang bernada lucu itu spontan membuat beberapa orang siswa yang duduk di sekitar situ tertawa.
“Benar, Josh, tidak ada yang ingin berebutan Violetta denganmu!” seorang siswa perempuan ikut menimpali, seolah ingin memanasi Josh.
“Iya Josh, aku mendukungmu. Kalau ada yang sengaja ingin berebutan Violetta denganmu, sudah seharusnya diberi pelajaran,” kata-kata Brian dibalikkan kembali oleh salah seorang siswa laki-laki yang duduk di depan Josh.
Brian melihatnya sekilas. Siswa laki-laki yang duduk di depan Josh itu bertubuh tinggi besar dan bersikap menantang. Nada suaranya terdengar mengancam. Ia adalah Ted, teman sekelompok Josh. Jadi sudah tentu ia membela Josh.
“Sudah! Sudah! Sudah cukup belum?!” nada suara Violetta terdengar agak marah.
Beberapa orang siswa memang sedang memperhatikan mereka, seolah ingin mengetahui kelanjutan pertikaian itu. Kebetulan guru yang mencatat jadwal pelajaran di papan tulis tadi sedang keluar kelas, jadi mereka lebih bebas.
“Kalian semua puas, sudah memberikan kesan tidak baik terhadap seorang siswa baru, ha?! Ini baru hari pertama baginya, bagaimana nanti ia bisa melanjutkan belajar kalau sikap kalian seperti ini?” Violetta memandangi mereka satu persatu. Sorot matanya menyiratkan kemarahan. Beberapa orang siswa membuang muka, yang lainnya terdiam.
“Josh, Ted,” Violetta menyebut kedua nama itu dan menatap mereka tajam. “Aku ingin kalian berdua mnta maaf pada Brian, sekarang juga!”
“Apa...?!” Josh hendak protes.
“Kalau kau tidak minta maaf sekarang, Josh, maka nanti jangan berharap bisa menjadi temanku lagi,” ancam Violetta.
Josh menggigit bibir. Dipandanginya Brian yang sedang menunduk tapi di bibirnya tersembunyi seulas senyum. Senyum kemenangan dari orang yang benar-benar licik! Pikir Josh merasa muak. Seandainya diancam dengan pisau pun ia tak bakalan mau minta maaf. Tapi ini diancam dengan kata-kata Violetta, wanita yang sudah lama diincarnya, yang dikaguminya selama ini, dan ia tidak mau lagi berteman dengannya hanya gara-gara seorang siswa baru? Akh! Dengan terpaksa Josh harus menjilat kata-kata makiannya kembali.
“Aku minta maaf!” ucap Josh, berat dan ketus.
“Begitukah caramu minta maaf?” Violetta meliriknya marah.
“Okey, aku minta maaf, Brian..., puas?” Josh mengulangi ucapannya dengan jengkel.
Violetta melirik Ted. “Giliranmu, Ted!” perintahnya.
Ted membungkam mulutnya, hatinya terasa berat. Tapi setelah mellihat Josh memberi isyarat padanya untuk meminta maaf, barulah Ted membuka mulut. “Aku minta maaf,” ucapnya pelan.
Violetta menarik nafas lega. “Nah, kalian semua sudah dengar kan?”
“Sudah...!” jawab para siswa yang duduk di sekitar situ yang sedari tadi memperhatikan mereka.
“Brian...?” Violetta menatap Brian yang sedang memainkan bolpoinnya.
“Ya...!” Brian hanya mengangguk kecil. Ia tersenyum sedikit pada Violetta. Senyumannya itu terasa amat melegakan hati Violetta. Entah mengapa, Violetta amat takut Brian akan tersinggung, apalagi bila gara-garanya.
* * *
like,😍