"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : DUA RAHASIA DI SATU RUANGAN
Bau khas obat-obatan dan denting pelan alat pemantau medis mengisi kesunyian di dalam kamar rawat inap Lastri.
Sejak Lulu melangkah masuk memindahkan tumpukan roti gandum dan buah-buahan segar ke atas meja kecil, Lastri hanya diam memperhatikan.
Sahabatnya itu belum mengucapkan satu patah kata pun untuk memulai percakapan.
Lastri menangkap ada yang tidak beres. Wajah Lulu nampak begitu lesu, pandangan matanya kerap kali menerawang jauh dan melamun menatap lantai. Pikiran gadis berkacamata itu seolah tertinggal di tempat lain.
Tak tega melihat keheningan itu, Lastri akhirnya menggeser tubuhnya perlahan di atas kasur dan membuka suara.
"Lulu..." panggil Lastri lembut.
"Kamu... lagi ada masalah berat ya di kantor?"
Lulu tersentak kecil dari lamunannya, lalu menoleh canggung.
"E-eh? Nggak kok, Las... Kenapa nanya gitu?"
"Muka kamu lesu banget, dari tadi ngelamun terus" ujar Lastri dengan sorot mata penuh simpati. Ia menghela napas panjang, menduga-duga beban yang dipikul sahabatnya.
"Aku tahu bekerja di bawah tekanan manajermu yang dingin dan tegas itu pasti menguras tenaga banget. Kamu pasti frustrasi dan capek ya menghadapinya setiap hari?" Ucap Lastri lalu meraih jemari Lulu, mengelusnya dengan kehangatan seorang sahabat sejati. Ia menyalurkan semangat lewat pesan-pesan haru dan tulus.
"Tapi kamu harus kuat ya, Lu... Kamu itu gadis yang hebat. Jangan biarkan sikap galak atau tekanan dari manager mu itu bikin kamu patah semangat. Kalau kamu capek, istirahat. Aku bakal selalu ada buat dengarin keluh kesahmu..."
Mendengar ucapan tulus dari Lastri, tenggorokan Lulu serasa tersekat. Dadanya makin gemuruh dan gelisah.
Betapa ironisnya... Lastri sama sekali tidak tahu bahwa penyebab jantung Lulu berdegup kencang tak karuan dan dadanya dipenuhi kegelisahan belakangan ini memang manajernya itu sendiri. Namun, bukan karena tekanan pekerjaan atau sikap galaknya seperti yang dikira Lastri.
Melainkan karena perhatian-perhatian kecil, tatapan mata yang hangat dan kebaikan tak terduga dari sang manager yang membuat Lulu benar-benar bingung harus bagaimanakah ia bersikap dan menanggapi perasaan yang kian tak terkendali ini?
Lulu hanya bisa menggigit bibir bawahnya, tersenyum samar menutupi gejolak hatinya, dan mengangguk pelan tanpa sanggup membongkar rahasia manis sekaligus menyiksa itu.
Tak ingin berlarut-larut tenggelam dalam pusaran perasaannya sendiri, Lulu menepuk pelan pipinya mencoba membuang jauh-jauh bayangan wajah Angga dari kepalanya. Ia segera menyusun kembali fokusnya pada sahabat di depannya ini.
Tiba-tiba sebuah kesadaran menyengat benak Lulu. Semenjak Lastri dilarikan ke rumah sakit, Lulu menyadari dirinya sama sekali belum pernah menanyakan apa penyebab utama sahabatnya itu bisa mengalami kecelakaan tunggal.
Sikapnya yang sibuk bekerja dan terdistraksi habis-habisan oleh gejolak hatinya yang kalang kabut telah membuat detail penting ini terlewat begitu saja.
"Oh iya... Las..." potong Lulu, memotong pesan haru Lastri seraya menatapnya lekat.
"Aku baru ingat... Sebenarnya apa yang terjadi hari itu ? Kenapa kamu bisa mengalami kecelakaan tunggal sampai masuk rumah sakit begini?"
Mendengar pertanyaan yang keluar tiba-tiba dari bibir Lulu, tubuh Lastri seketika menegak kaku. Sorot matanya yang tadi penuh kehangatan berubah meredup dan terdiam seribu bahasa.
Jemari Lastri yang menggenggam tangan Lulu meremas sprei kasurnya perlahan. Ada raut ragu dan kecemasan samar yang melintas di wajahnya seolah-olah ada rahasia besar dan menyakitkan yang berusaha keras ia sembunyikan rapat-rapat agar tak diketahui oleh siapapun, termasuk Lulu.
Menyadari keheningan yang mulai terasa ganjil, Lastri menarik napas dalam-dalam berusaha menguasai raut wajahnya kembali sebelum Lulu curiga.
"Oh... itu..." Jawab Lastri dengan tawa kecil yang dipaksakan.
"Hari itu aku cuma terlalu lelah dan ngantuk berat sewaktu perjalanan pulang, Lu. Jalanan licin jadi refleksku melambat waktu ada kucing melintas tiba-tiba. Aku kaget, pengereman mendadak, lalu motor hilang kendali" Jawaban yang meluncur begitu runtut dan masuk akal itu terucap begitu saja dari bibir Lastri.
Alasan yang sangat wajar dan dapat diterima oleh logika Lulu. Lulu menghela napas lega, memeluk sahabatnya itu dengan tulus tanpa menyadari sedikit pun bahwa di balik alasan rasional itu Lastri baru saja menyembunyikan sebuah kenyataan pahit yang belum sanggup ia ceritakan.
Lulu mendengarkan penjelasan Lastri dengan manggut-manggut tenang. Dadanya dipenuhi rasa syukur yang amat besar. Terlepas dari betapa mengerikannya bayangan kejadian itu yang terpenting baginya adalah Lastri segera dilarikan ke rumah sakit ini dan mendapatkan tindakan medis secara cepat dari tim dokter.
"Yang penting kamu selamat, Las. Itu sudah membuatku lega luar biasa" bisik Lulu lembut seraya mengelus punggung tangan sahabatnya.
Namun, di saat Lulu sibuk bersyukur, pikiran Lastri justru terlempar kembali pada sore kelabu itu menjadi pemicu sebenarnya yang hampir merenggut nyawanya.
Beberapa hari sebelum insiden, Lastri bersama dua orang rekannya mendapat tugas penting untuk menganalisis sebuah proyek. Di tengah proses tersebut, ia secara mengejutkan menerima bocoran dokumen rahasia dari pihak ketiga.
Sebagai jurnalis yang cermat, Lastri membongkar meta data dan jejak digital dokumen terenkripsi itu. Namun, makin dalam ia membedahnya makin bergidik bulu kuduknya. Seluruh jalur data dan alamat IP mengarah pada satu akun terenkripsi milik "sosok misterius" yang sangat terlindungi.
Dampak dari temuan itu terasa begitu cepat dan mencengkeram.
Sore itu, usai menyelesaikannya di tempat kerja Lastri mengendarai sepeda motornya untuk pulang. Perasaannya mulai tidak tenang saat melintasi jalur alternatif yang cukup sepi. Bukan tanpa alasan sejak beberapa hari terakhir, Lastri memang merasa ada sebuah mobil misterius yang selalu mengawasi dan membututinya dari kejauhan.
Firasat buruknya menjadi kenyataan sore itu.
Di tengah jalanan sepi, suara raungan mesin mobil di belakangnya mendadak memekakkan telinga. Sebelum Lastri sempat menghindar mobil tersebut sengaja memotong dan menyambar sepeda motornya dengan keras!
BRAKK!
Benturan hebat itu melemparkan Lastri ke bahu jalan. Rasa sakit luar biasa langsung menghantam kakinya yang tertindih beban berat dan benturan aspal.
Mobil penabrak itu langsung tancap gas menghilang meninggalkan Lastri yang terkapar dalam kesakitan akibat cedera serius di kakinya. Cedera parah yang memaksa tim dokter melakukan tindakan operasi darurat malam itu.
Mengingat kembali teror sore itu dan benturan sengaja yang merusak kakinya, Lastri hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Rahasia ancaman ini terlalu berbahaya... Ia tidak mungkin menyeret Lulu ke dalam pusaran teror yang sedang mengincarnya.
Keadaan di dalam ruangan itu perlahan berbalik. Jika tadinya Lulu yang tenggelam dalam lamunan, kini giliran Lastri yang mendadak membisu.
Pandangan matanya terpaku kosong ke ujung selimut, membayangkan kembali detik-detik menegangkan di sore kelabu itu. Raung mesin mobil yang mendekat, benturan keras yang menghantam sepeda motornya serta rasa sakit luar biasa saat kakinya terhenyak di atas aspal.
Melihat perubahan raut wajah sahabatnya yang mendadak redup dan menyimpan duka, hati Lulu tersentuh. Ia tak ingin Lastri terus-menerus larut dalam rasa trauma atau kesedihan akibat musibah yang menimpanya.
Lulu mengikis jarak, mengikis keheningan dengan kehangatan. Ia menggenggam jemari Lastri dengan erat menyalurkan seluruh ketulusannya.
"Las... jangan bersedih lagi ya..." Bisik Lulu dengan lembut menatap tepat ke dalam manik mata Lastri.
"Musibah memang tidak ada yang tahu kapan datangnya. Tapi yang terpenting sekarang kamu selamat. Percaya sama aku, operasi kakimu berjalan lancar dan kamu pasti bisa segera sembuh dan kamu bisa beraktivitas kembali seperti biasanya"
Mendengar semangat tulus dari Lulu, benteng pertahanan Lastri akhirnya runtuh.
Air mata menetes tipis di sudut matanya. Tanpa berkata-kata, Lastri merengkuh tubuh Lulu ke dalam pelukan yang erat. Lulu pun membalas pelukan itu tak kalah hangat, mengusap-usap punggung sahabatnya dengan penuh kasih sayang.
Di dalam kamar rawat yang hening itu, dua sahabat saling berpelukan erat, saling menguatkan dan menyalurkan kehangatan tanpa pernah menyadari rahasia besar yang masing-masing mereka simpan rapat.
Lastri tidak tahu bahwa jantung Lulu sedang kalang kabut karena gejolak cinta pada managernya dan Lulu pun tidak pernah menyadari bahwa kecelakaan Lastri bukanlah sekadar nasib sial, melainkan ancaman bahaya dari sebuah konspirasi besar.
Ting!
Suara denting notifikasi ponsel Lastri yang tergeletak di atas nakas memecah keheningan pelukan mereka.
Dering pesan masuk secara beruntun dari grup obrolan kantornya memicu getaran panjang yang tak kunjung berhenti.
Melonggarkan pelukannya, Lastri mengusap air matanya dan meraih ponsel tersebut.
Lulu yang duduk di sampingnya hanya memperhatikan dengan senyum tipis, menyangka itu hanyalah pesan pekerjaan biasa dari rekan-rekan sahabatnya tersebut.
Namun, begitu layar ponsel menyala dan mata Lastri membaca baris demi baris pesan di grup redaksi, darah di tubuhnya seketika terasa berhenti mengalir. Wajahnya pucat pasi dan ponsel di genggamannya bergetar hebat.
Sebuah berita duka menyergap grup kerja mereka. Salah satu jurnalis sekaligus rekan satu tim Lastri yang ikut menganalisis dokumen whistleblower dan mengetahui rahasia besar itu, baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas yang sangat parah.
Sialnya, nyawa sang rekan tidak tertolong. Ia tewas seketika di lokasi kejadian. Itu bukan sekadar kecelakaan. Lastri tahu betul bahwa itu adalah teror pembungkaman yang sama dengan yang menimpanya sore tadi.
Bedanya, sang rekan tidak seberuntung dirinya. Rekan-rekan kerja lainnya di grup obrolan sibuk mengucapkan belasungkawa dan mengutuk nasib sial yang menimpa tim mereka akhir-akhir ini. Tapi, tak satu pun dari anggota kantor yang tahu bahwa Lastri, rekan yang tewas tersebut dan satu rekan jurnalis tersisa sedang memegang sebuah rahasia konspirasi yang begitu besar hingga sanggup merenggut nyawa rekan timnya itu.
Lulu yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah Lastri yang tiba-tiba membeku ketakutan dan membungkuk cemas.
"Las? Ada apa? Kenapa muka kamu mendadak pucat begitu?" tanya Lulu bingung, matanya menatap cemas pada sahabatnya yang kini bernapas memburu.
Jemari Lastri nampak bergetar hebat hingga layar ponsel di genggamannya bergoyang tak tentu arah.
Penasaran dengan reaksi sahabatnya yang mendadak membeku, pandangan Lulu secara tidak sengaja terlempar ke arah layar ponsel Lastri yang menyala terang.
Manik mata Lulu membaca baris demi baris pesan singkat di grup obrolan kantor Lastri. Berita duka tentang meninggalnya salah satu rekan jurnalis Lastri akibat kecelakaan tragis.
Lulu mengelus dadanya, merasa sangat prihatin dan terkejut membaca kabar duka yang menimpa tempat kerja sahabatnya itu.
"Ya ampun, Las... ini kabar yang mengejutkan banget..." tutur Lulu dengan nada penuh simpati. Meski tidak mengenal langsung rekan sahabatnya tersebut karena Lulu sendiri bekerja di perusahaan logistik dan bukan seorang jurnalis. Ia bisa merasakan betapa beratnya kehilangan seorang rekan seperjuangan dalam dunia kerja.
Sementara itu, di atas tempat tidur Lastri terdiam kaku dengan ketakutan yang kian mencekam. Ia tahu betul kecelakaan rekan jurnalisnya itu bukanlah musibah biasa melainkan teror nyata dari konspirasi yang mereka selidiki.
Melihat Lastri yang tampak sangat syok dan terpukul atas kepergian temannya, Lulu lekas mengambil tindakan. Ia mengikis jarak, lalu memeluk Lastri dengan hangat untuk menguatkan sahabatnya.
"Sabar ya, Las... Yang tenang..." Bisik Lulu lembut seraya mengusap punggung Lastri, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Semoga almarhum tenang di sana... Kamu jangan terlalu kepikiran dulu ya, fokus saja sama pemulihan kakimu" Ucap Lulu terus mengusap punggung Lastri untuk menenangkannya dan sama sekali tidak menyadari fakta membahayakan di balik meninggalnya rekan jurnalis sahabatnya tersebut.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..