Alena wanda amira adalah seorang gadis berusia 20 tahun. Dari umur 10 tahun dia hanya hidup bersama paman, bibi dan kakak sepupunya. walaupun tinggal bersama paman dan bibinya namun kasih sayang yang dia terima tetap tidak lengkap. hingga suatu ketika dia terikat kontrak dengan laki-laki dewasa berumur 28 tahun, CEO sekaligus pewaris tunggal ADIDHARMA yaitu Andrian Ramatha. namun apakah kehidupan Ale akan menjadi lebih kelam atau Andrian adalah sosok yang selama ini dia tunggu untuk memberi pelangi bagi hidup Ale?
.
.
suport karya pertamaku ya teman-teman semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annisanurhasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19."Pelukan terimakasih"
“Baik pak... saya akan menikah dengan bapak.” Ale mengucapkan itu sambil menatap punggung Andrian, dia tidak mengerti apakah pilihan ini benar atau tidak, tapi dia hanya berharap semoga dia tidak salah melangkah.
“Kau yakin dengan hal yang kau ucapkan Al? Kau tidak akan pernah bisa menarik ucapanmu setelah aku menanyakan pertanyaan ini.”
“Iya pak, sesuai perjanjian yang bapak ajukan tadi.” Dia mulai ragu dengan apa yang dia ucapkan, tapi dia mencoba meyakinkan pernyataannya kembali.
“Trimakasih Al, trimakasih telah membantu saya.” Reflek Andrian mengucapkan kata trimakasih sambil memeluk Ale.
Ale kaget mendapat pelukan secara tiba-tiba dari andrian. Namun untuk sesaat Ale merasakan rasa nyaman dengan pelukan yang diberikan Andrian, walaupun dia sadar bahwa ini hanyalah pelukan rasa trimakasih yang Andrian berikan.
“Ehmm.. pak..” Ale mencoba menarik tubuhnya dari pelukan Andrian karna dia mulai merasa sesak.
“Ahhhh iya, maaf saya terlalu senang tadi.”
“Oiya, jadi besok kita akan kerumah bibi dan pamanmu untuk memberi kabar ini?”
“Ehmmm.. bisakah bapak memberi saya waktu untuk mengatakannya terlebih dulu kepada paman dan bibi saya?” Ale memberikan tatapan memohon kepada Andrian.
“Baiklah, tidak masalah.”
“Pak, apakah orang kantor akan mengetahuinya?” Tanya Ale penasaran, karna jika sampai orang kantor tau yang ada dia akan dihujat sana-sini karna kasta mereka yang seperti langit dan bumi.
“Tentu saja, semua orang harus tau siapa calon istri CEO ADHIDARMA” Ucap Andrian dengan sifatnya yang mulai kembali angkuh.
“Bisakah kita sembunyikan ini terlebih dahulu pak?”
“Kenapa? Apa kau akan mencoba untuk membatalkan perjanjian ini? Atau kau mengira aku tidak pantas untukmu?” Tanya Andrian bertubi-tubi.
“Bu-bukan pak.. hanya saja, bukankah sesama karyawan Adhidarma tidak boleh saling memiliki hu bungan spesial?”
“Oya? Benarkah? Ada di pasal berapa?”
“Pasal 27 no3 dihalaman 57.”
“Kau mengingat semua pasal itu?”
“I-iya pak, “
“kalau begitu besok akan saya hapus pasal itu” Andrian menjawabnya dengan enteng.
“Tapi pak.. plisss beri saya waktu, saya belum siap diujat oleh para fans bapak.” Ale memohon kepada Andrian, dia benar-benar belum siap jika semua karyawan kantor harus mengetahui hal ini.
“Oke, tapi jangan salahkan saya jika suatu saat saya yang menceploskannya.” Jawab andrian dengan santai dan berlalu pergi meninggalkan Ale yang masih berdiri disana.
“Ehhh paak...” Ale yang tersadar Andrian akan turun mengikuti dibelakangnya dengan tergesa.
“Pak, apa bapak akan keceplosan dengan cepat? Pliss pak.. saya benar-benar belum siap menerima serangan fans bapak yang ganas itu.” Ale terus mengoceh dibelakang Andrian, namun Andrian tidak menanggapi satupun ucapan Ale, dia hanya diam saja sambil menuruni tangga.
“Auhhhhhh” Tiba-tiba saja Andrian berhenti, namun Ale tidak mengetahuinya karna dia berada terlalu dekat dengan Andrian.
“Aku baru saja bertanya padamu apa kau mau menikah denganku dan kau sudah langsung ingin tidur dikamarku?” Kini Andrian mengatakan itu sambil berbalik arah menghadap Ale, sehingga jarak mereka sangatlah tipis.
“Hahh? Maksud bapak?” Ale mengangkat kepalanya menghadap Andrian yang lumayan terpaut tinggi dengannya.
Andrian sedikit menggeser tubuhnya memperlihatkan pintu kamarnya kepada Ale.
“Saya kan tidak tau jika bapak akan berjalan masuk ke kamar.” Jawab ale kesal.
“Sekarang kau sudah tau, apa kau akan ikut masuk kekamarku juga?” Kali ini Andrian semakin memotong jarak antara mereka berdua, mengarahkan wajahnya tepat didepan wajah Ale.
Ale yang mendapapat perlakuan seperti itu seketika wajahnya memanas.
“S-saya mau balik ke kamar dulu pak.” Ale langsung berbalik dan berlari kembali kekamarnya yang Cuma berada di sebrangnya.
Andrian yang melihat itu terkekeh melihat tingkah sekretaris kecilnya itu.
‘Gila apa ya, kan bisa jantungan kalo disuguhi wajah tampan sedekat itu.’ Ale menggerutu diatas ranjangnya, sudah pasti wajahnya tadi pasti sudah seperti kepiting rebus.
Dia masih terbayang betapa dekatnya wajahnya bossnya tadi, benar-benar sangat dekat sampai Ale bisa merasakan hembusan nafasnya diwajah Ale. Membayangkannya saja sudah membuat wajahnya memerah, apalagi tadi.
“Ahhhhhhhhh”
Ale membekap wajahnya dengan bantal sambil berteriak kencang. Kini dia kembali memeikirkan suatu keputusan yang baru saja dia ambil. Dia bingung akan bagaimana nanti kehidupannya, apakah jalan yang dia pilih adalah jalan yang benar. Semakin memikirkannya membuat Ale semakin pusing, disisi lain dia mencoba menenangkan diri sendiri bahwa ini hanya dua bulan, namun disisi lainnya lagi, dia sungguh takut ketika nanti dia benar-benar jatuh cinta pada Andrian lalu harus dia apakan cintanya ini, apakah dia sungguh siap untuk sakit hati.
Saat ini dia benar-benar butuh seseorang yang mampu menenangkannya seperti Dhita, Ale mengambil ponselnya berniat menelfon Dhita, tapi ternyata ditempat ini dia tidak bisa menemukan sinyal disana.
Ale mencoba mencari-cari sinyal, dia keluarkan tangannya dari jendela berharap mendapat sinyal tapi nihil dia juga tidak menemukannya. Dia terus berusaha mencarinya keluar kamar, namun tetap tidak ada.
“Kamu mencari sinyal?”
“I-iya pak” Ale kaget karna tiba-tiba Andrian muncul dari balik pintunya.
“Disini memang tidak bisa menggunakan telfon genggam, hanya telphone rumah yang ada diruang TV, kamarku dan ruang kerjaku yang bisa dipakai. Kamu membutuhkannya untuk menghubungi bibimu? Kamu bisa menggunakan telphone yang ada dikamarku.”
“Bu-bukan pak, saya hmmm eh gak jadi deh, saya sudah tidak butuh lagi pak. Tadi hanya ingin mengecek pesan saja.” Ale langsung buru-buru masuk kamar karna tak ingin ditanya banyak hal lagi oleh Andrian.
Ale benar-benar merasa gelisah saat ini, dia benar-benar bingung sebenarnya apa yang dia rasakan, dia merasa bersalah kepada mama widya karna melakukan pernikahan kontrak ini, dia juga merasa bersalah kepada pamannya jika dia berbohong, tapi dia justru semakin khawatir karna takut akan kenyataan jika suatu saat justru dia kalah bertaruh dan mencintai Andrian.
Rasanya semakin memikirkan hatinya dia semakin sesak, siapa yang tidak jatuh cinta dengan pria tampan dan mapan seperti Andrian, hanya saja sifat yang seenaknya kepada semua orang membuat orang lain takut untuk jatuh cinta kepadanya. Ale menatap langit-langit kamarnya sambil menerawang jauh kejadian kedepan, apa yang bakal terjadi jika nanti orang kantor tau, karna cepat atau lambat pasti semua akan mengetahui hal ini.
Terlalu banyak hal yang difikirkan tanpa sadar Ale terlelap dengan seribu fikiran yaang masih berkecamuk didalam kepalanya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya teman-teman. Trimakasih sudah suport
By. Nurhasanah
semangat terus ka
salam di batas cakrawala
mampir juga yaa
mampir juga yaa
mampir juga yaa