NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26 - Supermarket

Rahang Kelvin mengeras hanya sebentar.

Ketika Keiko berjalan kembali ke arahnya, wajah Kelvin sudah kembali datar. Dia menyerahkan helm pink tanpa komentar, mengambil buku dari tangan Keiko untuk dimasukkan ke bagasi motor, lalu memasang helm hitamnya sendiri.

Raka masih berdiri dekat pos satpam. Dia tidak memanggil lagi. Hanya mengangguk sopan ke arah Keiko, lalu berbalik menuju mobil sekolahnya sendiri.

Keiko menerima helm dari Kelvin. "Aku sudah mengembalikan bukunya."

"Aku lihat."

"Dia juga minta maaf soal hadiah."

"Hmm."

Jawaban itu pendek, tetapi bukan pendek yang biasa. Biasanya Kelvin pendek karena memang tidak suka membuang kata. Kali ini pendeknya seperti pintu yang ditutup sedikit lebih keras.

Keiko mengaitkan tali helm. "Kamu marah?"

Kelvin menoleh. "Kenapa aku harus marah?"

"Aku bertanya karena kamu terlihat begitu."

"Aku nggak marah."

Keiko menatapnya.

Kelvin akhirnya menghela napas, seperti orang yang kalah oleh tatapan lembut. "Naik."

Motor keluar dari parkiran sekolah dengan kecepatan biasa. Tidak ada gerakan kasar, tidak ada rem mendadak, tidak ada cara kekanak-kanakan untuk menunjukkan kesal. Justru itu yang membuat Keiko lebih sadar bahwa Kelvin sedang menahan sesuatu. Punggungnya tetap tegak di depan Keiko, bahunya lebih kaku daripada biasanya.

Keiko memegang pegangan belakang motor, bukan ujung jaketnya.

Kelvin sadar. Dia melirik dari spion, tetapi tidak berkata apa-apa.

Di tengah jalan, hujan gerimis turun. Bukan hujan besar, hanya titik-titik tipis yang membuat aspal mengilap. Kelvin menepi di depan sebuah supermarket kecil yang terang, lalu mematikan mesin.

"Tunggu di sini. Aku beli jas hujan."

"Aku ikut."

"Di luar licin."

"Aku bisa jalan pelan."

Kelvin melihatnya seolah hendak menolak, tetapi akhirnya hanya membuka bagasi dan mengambil jaket tipis. "Pakai."

Di dalam supermarket, udara dingin dari AC langsung menempel di kulit. Lampu putih membuat semua rak terlihat terlalu bersih. Ada aroma roti hangat dari pojok bakery, suara kasir memindai barang, dan lagu pop pelan dari speaker langit-langit.

Keiko berjalan di sebelah Kelvin. Dia sudah mengambil jas hujan plastik dari rak dekat pintu ketika Kelvin tiba-tiba berhenti.

Tidak jauh dari kasir, seorang anak laki-laki kecil berdiri sambil memegang mobil-mobilan. Mungkin umurnya enam atau tujuh tahun. Ibunya menunduk, merapikan tali sepatu anak itu, lalu berkata sambil tersenyum, "Tunggu di sini sebentar, ya. Mama ambil susu dulu."

Anak itu mengangguk.

Hal yang sangat biasa.

Tapi Kelvin tidak bergerak.

Jari-jarinya menggenggam kemasan jas hujan sampai plastiknya berkerut. Matanya tidak lagi melihat rak, tidak melihat kasir, tidak melihat Keiko. Dia menatap anak kecil itu seperti sedang melihat sesuatu yang hanya ada di kepalanya sendiri.

"Kelvin?"

Kelvin berkedip. Suara Keiko seperti menariknya dari tempat yang jauh. Dia menaruh jas hujan ke keranjang, lalu berjalan ke kasir tanpa memilih apa-apa lagi.

Di luar, gerimis berubah menjadi hujan tipis yang rapi. Mereka berdiri di bawah kanopi supermarket, menunggu plastik jas hujan dibuka. Motor Kelvin terparkir beberapa meter dari mereka, basah oleh titik-titik air.

Keiko tidak bertanya langsung.

Dia hanya memegang ujung kantong belanja dan menunggu.

Kadang, diam yang tidak mendesak membuat orang lebih mudah bernapas.

Kelvin menatap jalan. "Dulu aku pernah disuruh nunggu begitu."

Keiko menoleh pelan.

"Di supermarket?" tanyanya.

Kelvin mengangguk. "Umur tujuh."

Hujan jatuh dari tepi kanopi, membentuk garis bening di depan mereka.

"Melinda bawa aku belanja. Katanya mau beli susu. Dia kasih aku biskuit cokelat, suruh aku duduk dekat rak promo." Sudut mulut Kelvin bergerak sedikit, bukan senyum. "Aku ingat karena raknya warna merah. Ada balon diskon. Aku takut kalau pindah tempat, dia nanti nggak nemu aku."

Keiko menggenggam kantong belanja lebih erat.

"Aku nunggu sampai biskuitnya habis. Sampai kasir ganti shift. Sampai satpam tanya orangtuaku ke mana." Kelvin berbicara tanpa melihat Keiko. Suaranya tenang, terlalu datar untuk cerita yang seharusnya tidak bisa diceritakan seperti itu. "Aku bilang Mama beli susu."

Keiko ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kalimat yang cukup hati-hati.

"Ternyata susu yang dicari lama banget," lanjut Kelvin.

Kali ini Keiko mendengar pahit di balik kalimat itu.

"Siapa yang jemput kamu?"

"Oma."

Kata itu keluar lebih lembut.

Kelvin menatap hujan. "Oma Lim datang malam-malam pakai sandal rumah. Rambutnya belum disisir. Dia bawa jaket dan termos air hangat. Begitu lihat aku, dia nggak nanya kenapa aku bodoh nunggu. Nggak nanya kenapa aku nggak cari telepon. Dia cuma jongkok, peluk aku, terus bilang, `Kel, ayo pulang.`"

Keiko menunduk.

Di dalam dadanya, rasa sakit bergerak pelan. Bukan miliknya, tetapi seperti menekan tulang rusuknya sendiri.

"Setelah itu kamu tinggal dengan Oma Lim?"

"Iya." Kali ini suara Kelvin tidak sedingin tadi. "Rumahnya kecil. Atap dapurnya bocor kalau hujan deras. Di halaman belakang ada pohon jambu yang buahnya lebih sering dimakan kelelawar daripada orang. Tapi Oma selalu bilang rumah kecil juga rumah, asal orang di dalamnya mau pulang."

Keiko membayangkan Kelvin kecil duduk di meja makan sempit, menggenggam biskuit yang sudah tidak ingin dimakan, lalu seorang perempuan tua dengan sandal rumah datang menjemputnya dari tempat terang yang terlalu ramai.

"Oma Lim baik sekali," kata Keiko pelan.

"Galak."

Keiko terkejut sedikit.

Kelvin meliriknya. Di matanya, untuk pertama kali sejak Raka tadi, ada sesuatu yang hampir ringan. "Kalau nilai ulangan jelek, dia suruh aku tulis ulang soal sampai tengah malam. Kalau berantem, dia suruh aku bersihin halaman tetangga yang potnya pecah. Tapi tiap aku sakit, dia tidur di lantai sebelah kasur karena katanya kalau di kasur berdua aku gerah."

Keiko tersenyum samar.

"Dia yang beliin motor bekas pertamaku," lanjut Kelvin. "Padahal waktu itu motornya lebih sering mogok daripada jalan. Dia bilang, `Anak laki-laki harus tahu arah pulang sendiri.`"

Gerimis membuat udara dingin. Keiko menarik jaket tipis yang tadi Kelvin berikan lebih rapat di bahunya.

"Kamu sangat menyayanginya."

Kelvin diam cukup lama.

"Dia satu-satunya orang yang nunggu aku pulang."

Kalimat itu pelan, tetapi jatuh lebih berat daripada hujan.

Keiko tidak tahu apakah dia boleh menyentuh Kelvin. Mereka berdiri cukup dekat, tetapi ada cerita tujuh tahun, rak promo merah, biskuit cokelat, dan seorang ibu yang tidak kembali di antara mereka.

Akhirnya Keiko hanya mengulurkan tangan, menyentuh ujung lengan jaket Kelvin sebentar.

Kelvin tidak menjauh.

"Sekarang juga ada yang menunggu kamu pulang," kata Keiko.

Kelvin menoleh.

Keiko langsung menambahkan, seolah takut kalimatnya terlalu berani, "Yuan Yuan. Bagas dan Dimas juga pasti menunggu kalau kamu tiba-tiba hilang."

"Cuma mereka?"

Pertanyaan itu sangat pelan.

Keiko merasakan telinganya memanas. Hujan di depan mereka tiba-tiba terdengar lebih keras.

"Aku juga," katanya.

Kelvin menatapnya tanpa berkedip.

Di dalam supermarket, ibu yang tadi membeli susu sudah kembali. Anak kecil itu tertawa saat ibunya memasukkan susu ke keranjang, lalu mereka berjalan ke kasir bersama.

Kelvin melihat mereka sebentar. Kali ini, matanya tidak lagi kosong seperti tadi.

"Oma meninggal waktu aku empat belas," katanya.

Keiko masih memegang ujung lengan jaketnya.

Kelvin menatap motor yang basah di luar hujan. "William datang bukan untuk melayat. Dia datang membawa orang untuk mengukur rumah."

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!