NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Ciyyyeee, yang patah hati jadi malas makan kayaknya! Awas ntar tambah ramping itu badan! Kayak triplek, nggak ada enak-enaknya kalau dipeluk!"

"Heh! Pagi-pagi udah mesum aja!"

Mas Yunus hanya tertawa menanggapi. "Ya, tunggu ya. Habis ini balik ke kantor kok!"

"Makasih Mas!"

"Sama-sama sayaang!" lalu dia mematikan sambungan sepihak. Rupanya dia hapal aku pasti akan mengomel karena ulah jahilnya itu.

Tidak lama, Mas Yunus datang dengan membawa sarapan pesananku.

"Makasih Ya Mas!" ucapku sambil tersenyum dan mengulurkan selembar uang berwarna hijau.

"Apaan ini?" tanyanya sambil mendelik.

"Duit lah!"

"Tahu itu duit, buat apa?"

"Duit somay lah Mas!"

"Dih, duitmu gak laku buat belanja!" ucapnya sambil pergi setelah membukakan segel air kemasan yang tadi juga dia bawakan.

Aku tidak lagi menjawabi ucapannya. Segera ku nikmati seporsi somay. Lumayan lah, rejeki anak sholehah. Hahahha. ..

"Alhamdulillah, kenyang. Siap kerja!" gumamku lirih.

Seharian ini banyak sekali yang harus aku selesaikan. Ditambah Bu Bos dan Pak Bos sedang trip keluar. Harus banyak-banyak sabar dan istighfar.

"Mbak Rani, ada yang nyari di depan!" ucap salah satu anak gudang dengan wajah judesnya. Ini pasti dia cemburu buta gara-gara di cuekin sama Mas Yunus lagi.

"Siapa?" tanyaku sambil mengalihkan

pandangan sebentar dari layar laptop.

"Mene ketehek!" jawabnya sambil pergi.

Nita, temanku satu ruangan tertawa tergelak melihat adegan lucu itu tadi.

"Ngomong apa dia tadi?" tanyaku

"Udah sana temuin tamunya! Anak stres dituruti, yang ada kamu nanti ikutan gendeng!" ucap Nita lalu tertawa melihat aku yang masih bengong.

Aku menggedikkan bahuku. Lalu segera beranjak pergi karena aku penasaran siapa sebenernya yang datang karena aku tidak punya janji temu dengan siapapun hari ini. Dan kebanyakan juga tahu kalau bos ku sedang trip keluar negeri, jadi tidak mungkin toh tamunya bos.

Setelah sampai di teras depan, aku melihat sosok lelaki yang sebenarnya sudah tidak ingin aku temui. Dia tidak datang sendiri kali ini, dia datang bersama Yunita.

"Ehm," sengaja aku berdehem agak keras karena Yunita sedang memeluk manja lengan Mas Daniel. Sepertinya dia ingin menunjukan kalau dialah pemenangnya, karena kulihat dia sepertinya enggan melepaskan tangannya dari lengan yang sempat menjadi sandaran saat aku lelah dulu. Padahal ini adalah tempat umum. Mungkin syaraf malunya benar-benar sudah putus.

"Iya, ada yang bisa dibantu. Sampai-sampai kalian datang ke kantor. Mohon maaf ini ya, aku nggak bisa lama. Masih jam kerja, jadi langsung aja ke intinya." ucapku yang enggan basa basi lagi.

Aku bisa melihat, Mas Daniel kurang nyaman dengan sikap Yunita. Tapi sekali lagi, itu bukan urusanku.

"Ran, please! Aku mau minta maaf!" ucapnya sambil terus berusaha menepis tangan Yunita dari lengannya.

"Aku udah maafin kamu lho, Mas! Kemaren aku kan udah ngomong, apa kurang jelas?"

"Ran,... "

"Mas, maaf. Bukannya sok atau gimana. Tapi memang kerjaanku lagi numpuk dan harus cepet selesai. Jadi, maaf. Kalau kedatangan kalian hanya untuk pamer kemesraan, maaf... itu sudah nggak ada efeknya buat aku. Dan satu lagi, aku tunggu undangan pernikahan kalian! Halalin Mas, jangan cuma jadikan teman bobo' dan tempat pipis aja!"

Aku langsung berdiri meninggalkan mereka. Tapi saat aku masuk, aku di buat terkejut karena mukaku menabrak dada saat melewati pintu. Untungnya aku tidak sampai jatuh, dan sempat berpegangan.

"Ih, apaan sih! Nguping ya!" tuduhku pada Mas Yunus yang entah sejak kapan ada di balik pintu.

"Kalau iya kenapa?"

"Nggak papa! Emang aku bilang nggak boleh? Enggak kan!"

"Ran, are you oke?" tanyanya.

"Munafik kalau aku bilang aku nggak papa Mas. Bahkan sampai sekarang bayangan mereka main kuda-kudaan aja kadang masih melintas, tapi hidup itu bukan harus jalan ke depan toh! Ngapain juga nengok ke belakang, apalagi yang ditengok modelan kayak gitu!"

"Pinter!" jawabnya sambil mengelus puncak kepalaku.

"Ish! Apaan sih! Kantor ini! Tempat kerja! Bukan tempat tebar pesona!"

"Kamu masih normal kan?" tanyanya.

"Njir! Normal lah. Masih suka sama laki-laki aku."

"Cuma kamu yang cuek sama pesona aku!" ucapnya sambil tersenyum dan menyugar rambutnya dengan tangan kanan.

"Anda salah sasaran Pak!" ucapku sambil berlalu kembali ke ruangan.

"Aish, udah makan aja Ibu satu ini!" ucapku saat melihat Nita makan sambil terus mengerjakan tugasnya.

Ini hal biasa buat kami, makan sambil terus menyelesaikan pekerjaan, kecuali sedang ada customer. Lebih hemat waktu, kecuali saat benar-benar suntuk, kami lebih memilih makan di luar meski yang kami makan bekal dari rumah. Sekedar mancari suasana baru untuk menyegarkan pikiran.

"Cacing udah pada demo minta jatah, Bu!" jawabnya lalu tertawa.

Karena padatnya pekerjaan hingga tidak sadar sudah sore dan waktunya pulang.

"Alhamdulillah," ucapku. Kemudian membereskan meja dan bersiap pulang.

*****

Saat sampai dirumah aku sedikit heran karena ada dua motor asing yang terparkir di halaman rumah.

"Assalamu'alaikum," ucapku saat melewati pintu.

"Wa'alaikumussalam," jawab mereka.

Aku mengangguk dan tersenyum, lalu menyalami dua orang tua yang usianya masih di bawah kedua orang tuaku. Ada lagi satu orang gadis seusia Azka, adikku.

"Permisi, saya masuk dulu njeh! Ngapunten, mau bersih-bersih dulu," ucapku pamit.

Setelah bersih-bersih aku keluar kamar dan ternyata tamunya sudah pulang.

Kudekati Azka yang sedang duduk di depan televisi sambil main PS.

"Dek, tadi tu yang cewek pacar kamu?" tanyaku.

"Bukan mbak," jawab Azka.

"Aneh! Jujur aja kali sama Mbak! Nggak mungkin kalau bukan pacar kamu, trus tadi emak bapaknya kan?"

Azka hanya diam tidak menjawab.

"Mbak nggak Papa kamu pacaran! Tapi ingat! Tahu batasan! Jangan bikin malu orang tua! Paham!"

"Iya mbak!" jawabnya sambil nyengir.

"Gabut nih! Makan di luar yuk! Sambil jalan.

" Pakai motor mbak aja ya, bensin ku diambang kehancuran itu!" ucapnya sambil terkekeh

"Bawa punya kamu aja, dek! Ntar mampir pom bensin. Isi sekalian!"

"Pakai duit Mbak kan?" tanyanya sambil nyengir.

"Sejak kapan kamu keluar duit kalau keluar sana, Mbak?" tanyaku.

Azka tertawa, sambil membereskan stik PSnya. "Iya, percaya! Tangan kanan Bu Bos mah, nggak kenal krisis, dompet nya selalu tebell!"

"Buruan! Mbak tungguin di depan!" ucapku

Tak lama, Azka sudah siap dan kami segera meluncur ke angkringan langganan kami. Dan baru pulang saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Sedangkan Ibu sudah beberapa kali menelepon.

*****

Pagi hari, udara terasa segar karena tadi lepas sholat subuh kubuka jendela kamarku. Aku ijin Ibu tidak membantu memasak karena merasa kurang enak badan. Mungkin karena semalam jaket yang kupakai kurang tebal, hingga pagi ini aku merasa agak meriang.

"Ijin aja Mbak, kalau nggak enak badan!" ucap Ibu.

"Dereng saged ijin, Bu! Bos nya lagi trip keluar negeri!" jawabku ( dereng saged \= belum bisa)

"Oalah Mbak, nggak ada yang bisa nggantikan tugas kamu toh?"

"Belum ada, Bu! Yang lainnya kalau diajarin anyih-anyih. Takut katanya, nggak tahu takut apa. Padahal aku kan nggak gigit." jawabku sambil terkekeh.

"Ya sudah, nanti nggak usah bawa motor. Kalau emang mbak mau bawa motor, nyetirnya hati-hati ya. Ibu mau berangkat kerja dulu. Itu Azka udah siap mau ngantar."

"Njeh, Bu. Atos-atos!"

*****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!