NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Taksi yang membawa Liana melaju membelah jalanan kota, menjauhkan dirinya dari cengkeraman Dokter Kenzo.

Di sepanjang perjalanan, Liana terus meremas tas kanvasnya dengan tubuh yang gemetar parah.

Air matanya terus menetes, membasahi masker medis yang belum sempat ia lepas. Pikirannya carut-marut. Monster dari malam terkutuk itu ternyata adalah seorang dokter, dan kini pria itu tahu siapa dirinya.

Begitu taksi berhenti di depan pagar rumah kostnya yang bernomor 14, Liana buru-buru membayar ongkos dengan sisa uang di dompetnya.

Ia melangkah turun dengan tubuh yang luar biasa lemas, hanya ingin segera masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.

Namun, baru saja ia menapakkan kaki di halaman, langkahnya langsung terhenti.

Sosok Bu Ambar, pemilik kost paruh baya berwajah ketus, sudah berdiri di depan pintu kamar Liana dengan kedua tangan bersedekap di dada.

"Eh, Liana. Kebetulan kamu sudah pulang," sapa Bu Ambar tanpa basa-basi, suaranya terdengar nyaring dan tidak bersahabat.

"Saya langsung saja ya. Hari ini batas akhir. Tolong segera kosongkan kamar ini dan pergi dari kost saya."

Deg.

Liana menatap pemilik kostnya dengan tatapan nanar.

"T-tapi, Bu... Kenapa mendadak sekali?"

"Mendadak bagaimana?!" Bu Ambar berkacak pinggang, matanya melotot.

"Kamu itu sudah menunggak satu bulan, Liana! Saya sudah cukup sabar ya. Kamar ini mau disewa sama orang lain yang bisa langsung bayar tunai setahun. Jadi, tolong angkat kaki sekarang juga!"

Rasa lelah, mual, dan trauma yang belum usai kini ditambah dengan kenyataan bahwa ia akan kehilangan tempat tinggal.

Liana menatap Bu Ambar dengan mata berkaca-kaca, memohon dengan sisa-sisa harga dirinya.

"Bu, tolong beri saya tenggang waktu beberapa hari lagi. Saya berjanji akan melunasinya setelah gajian kantor bulan ini. Tolong saya, Bu..."

Bu Ambar mendecus kasar, memalingkan muka. "Maaf, Mbak Liana, tidak bisa! Keputusan saya sudah bulat. Cepat bereskan barang-barangmu. Sebelum magrib, kamar ini harus sudah kosong!"

Kata-kata ketus itu memutus seluruh harapan Liana.

Ia menghela napas panjang yang terasa begitu sesak di dada.

Dunia seolah tidak pernah berhenti memukulinya bertubi-tubi.

Dengan langkah lunglai dan kepala yang berputar pening, Liana masuk ke dalam kamarnya yang sempit.

Ia menatap sekeliling. Kamar kost ini adalah satu-satunya tempat ia bernaung, dan kini ia harus pergi tanpa tahu harus ke mana.

Sambil menahan rasa mual yang kembali merayap di ulu hatinya, Liana mengambil beberapa kardus bekas di sudut kamar.

Kondisi fisiknya yang sedang hamil muda dan mudah lelah membuat Liana terpaksa mengemas pakaian dan barang-barangnya secara perlahan-lahan.

Setiap kali ia melipat baju, napasnya terengah-engah, dan ia harus berhenti sejenak untuk memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.

Ia benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya.

Sementara itu, di seberang jalan yang berjarak beberapa puluh meter dari rumah kost Liana, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap terparkir rapi di bawah pohon rindang.

Di dalam mobil tersebut, seorang wanita berpenampilan tomboi dengan jaket kulit hitam sedang mengamati gerak-gerik Liana dari balik kaca spion.

Wanita itu bernama Bunga, salah satu anak buah kepercayaan Kenzo di geng Black Cobra yang ditugaskan untuk memantau alamat kost Liana sebelum sang Bos datang nanti malam.

Bunga mengernyitkan kening saat melihat Liana keluar-masuk kamar sambil menggotong kardus-kardus pakaian dengan wajah pucat dan tubuh yang tampak kepayahan.

Tak jauh dari sana, sang pemilik kost tampak terus mengomeli dan mengawasi Liana bagai mandor.

Menyadari ada situasi yang tidak beres, Bunga segera meraih ponselnya dan menekan nomor pribadi Kenzo. Panggilan itu langsung diangkat pada nada pertama.

"Bos, ada masalah..." ucap Bunga cepat tanpa basa-basi.

Di seberang telepon, terdengar suara bariton Kenzo yang seketika berubah dingin dan sarat akan ancaman. "Ada apa?"

"Sepertinya ratumu akan pergi, Bos. Dia diusir oleh ibu kostnya karena menunggak bayar," lapor Bunga dari seberang telepon, matanya tetap mengawasi Liana yang sedang menggotong koper dengan tubuh kepayahan.

"Aku ke sana sekarang," potong Kenzo mutlak. Suaranya berdesir tajam di udara, dipenuhi kepemilikan yang berbahaya.

Pria itu langsung memutus sambungan telepon, beralih menatap Willy dan anak buahnya yang sudah bersiap di markas.

"Willy, gerakkan tim. Ikuti koordinat Bunga sekarang juga. Jangan sampai dia lepas lagi," perintah Kenzo sambil menyambar jaket kulit hitamnya. Matanya menggelap penuh obsesi.

"Dia sedang mengandung anakku."

Di teras kost, Liana mengusap keringat dingin yang membanjiri dahinya.

Tubuhnya terasa remuk redam. Semua pakaian dan barang-barangnya kini sudah berpindah ke dalam satu koper tua dan sebuah tas ransel besar.

Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan kunci kamar kepada Bu Ambar yang menyambutnya dengan wajah ketus tanpa simpati. Liana menghela napas panjang.

Mengingat motor matic-nya masih tertinggal di parkiran kantor logistik, ia mengambil ponselnya dan memesan taksi online untuk menuju ke sana terlebih dahulu.

Tak butuh waktu lama, sebuah taksi berpelat kuning berhenti tepat di depan pagar kost.

Namun, tepat saat Liana hendak melangkah mendekati taksi itu, raungan mesin mobil SUV hitam besar membelah jalanan sepi, berhenti mendadak tepat di belakang taksi dan mengunci jalur pelarian Liana.

Pintu mobil terbuka kasar. Willy turun lebih dulu, melangkah lebar ke arah sopir taksi dan menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu ke kaca jendela.

"Batalkan pesanannya. Ini uang ganti rugi untukmu, pergi sekarang!" perintah Willy dengan tatapan preman yang tak terbantahkan.

Sopir taksi yang ketakutan langsung menancap gas, meninggalkan Liana sendirian.

Dari pintu belakang SUV, sosok tinggi tegap itu keluar.

Kenzo melangkah mendekat dengan senyum miring yang teramat dingin di bibirnya.

"Halo sayang, kita bertemu lagi, hm?" sapa Kenzo dengan suara bariton yang lembut namun begitu mencekam.

Jantung Liana serasa lolos dari tempatnya. Wajahnya yang semula pucat kini memutih sempurna bagai mayat hidup.

"K-kamu?!"

"Masuklah," ucap Kenzo, menunjuk pintu mobilnya yang terbuka lebar.

"Tidak akan dan jangan mimpi!!" jerit Liana, mundur selangkah dengan tatapan penuh dendam dan ketakutan.

Melihat mangsanya memberontak, Bunga yang sejak tadi mengawasi langsung bergerak cepat dari belakang bersama Willy.

Mereka berdua mencengkeram lengan Liana, mendorong tubuh wanita itu secara paksa untuk masuk ke dalam mobil.

"Lepaskan! Tolong! Lepas!!" Liana mengamuk liar.

Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia mengangkat kaki dan menendang perut Willy dengan keras hingga pria itu terhuyung mundur sambil mengumpat kasar.

Namun sebelum pemberontakan Liana semakin menjadi, sebuah lengan kekar berotot langsung melilit lehernya dari belakang.

Kenzo membekap mulut Liana dengan telapak tangannya yang besar, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.

Kenzo meraba saku jaketnya, hendak mengambil obat bius cair untuk menenangkan wanitanya yang histeris.

Namun, begitu kulit tangannya bersentuhan dengan leher dan pipi Liana, Kenzo tersentak.

Suhu tubuh Liana luar biasa tinggi, membakar kulitnya.

Wanita itu sedang demam parah karena kelelahan, stres, dan trauma yang bertumpuk.

"L-lepaskan aku..." igau Liana. Suaranya nyaris habis, matanya berputar, sebelum akhirnya tubuh mungil itu mendadak lemas dan jatuh pingsan sepenuhnya di dalam pelukan hangat Kenzo.

Kenzo dengan sigap mendekap tubuh Liana, menatap wajah pucat yang kini tak berdaya itu dengan sorot mata yang melunak, meski tetap dipenuhi obsesi gelap.

"Ssshhh... Istirahatlah, sayang. Ingat, kamu sedang hamil..." bisik Kenzo di telinga Liana yang sudah tidak sadarkan diri.

Pria itu menggendong Liana masuk ke kursi belakang.

Sebagai seorang dokter spesialis, ia langsung tanggap melihat kondisi darurat wanitanya.

Kenzo menyambar tas medis darurat yang selalu tersedia di mobilnya.

Dengan gerakan tangan yang teramat terlatih dan cekatan, ia meraba pergelangan tangan Liana, lalu menembus kulit halus itu dengan jarum, memasang selang infus berisi cairan nutrisi dan penurun demam.

Kenzo menoleh tajam ke arah depan. "Willy, pindah ke depan. Segera lajukan mobilnya!" perintah Kenzo.

"J-jangan..."

Liana mengigau dalam pingsannya, bibirnya yang kering bergetar hebat.

Jemarinya yang dingin bergerak acak di atas jok mobil, sebelum akhirnya tanpa sadar mencengkeram erat ujung kemeja hitam Kenzo, seolah mencari pegangan di tengah mimpi buruknya.

Kenzo menatap tangan mungil yang mencengkeram kemejanya itu.

Ia tidak melepaskannya, melainkan balik menggenggam tangan Liana dengan erat, memberikan kehangatan yang posesif.

"Jalan, Willy. Kita kembali ke markas pribadiku sekarang," ucap Kenzo dingin.

Pintu perangkap telah tertutup rapat, dan mulai hari ini, tidak akan ada satu pun sudut di dunia ini yang bisa menyembunyikan Liana dari cengkeramannya.

1
Bunga Andthea
triple hp dungs kak
Bunga Andthea
yok yok bisa up lagi
seru ni
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
Alex
sweet bgts
Bunga Andthea
seru
up lgi kkak
Bunga Andthea
double up dungs kak
my name is pho: ok kak
total 1 replies
Muft Smoker
jgn terpengaruh dg omongan ulat bulu tu liana ,, org yg terpojok biasa ny akan melakukan berbagai macam cara tuk menang ,, meski dg cara licik sekali pun 😒😒😒😒
Muft Smoker
aaaaaa meleleh adek bang ,,
Alex
oh sweet bgtsss
Muft Smoker
nah kan di marahin ma mak ,, makany jgn punya fikiran mcm2
Muft Smoker
jgn mcm2 kania ,, liana mungkin org biasa ,, tp anggora black cobra semua melindungi serta menghargai dirinya ,,
Muft Smoker
lanjuuut kaak ,,
Muft Smoker
lanjuut kaak ,, makiin seruuuu
Muft Smoker
ngeri juga yx ,, jd incaran ketua gangster ,, 😲😲😲😲😲
Muft Smoker
lanjuuut kak
Bunga Andthea
ayok kak up lagi
Bunga Andthea
up lgi yuk kak
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
baru Kali ini dapet cerita ketua geng motor profesi ny dokter kandungan ,,
biasa ny kn CEO perusahaan ,,

tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!