"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24
"Kamu... Nabella?"
Arden mengerutkan dahi, menatap wanita bergaun soft pink elegan yang kini berdiri anggun di hadapannya. Rambut panjang wanita itu terurai indah, melengkapi senyum manis yang mengembang tanpa cela di wajah cantiknya.
"Iya, Arden! Untung kamu masih ingat sama aku!" kekeh wanita itu renyah. Suaranya terdengar sangat lembut dan berkelas. "Aku baru landing dari Singapura lima belas menit yang lalu. Eh, pas mau menuju parkiran, aku lihat cowok tinggi yang jalannya tegap banget. Ternyata beneran kamu."
Nabella Anindya Raharja. Putri tunggal dari Keluarga Raharja—salah satu relasi bisnis terbesar sekaligus anak sahabat dekat Maya, Mamanya Arden. Wanita yang selalu disanjung-sanjung oleh Mamanya sebagai sosok wanita ideal tanpa cela.
Dulu, mereka sempat bertetangga dekat dan bersekolah di tempat yang sama sewaktu kecil, sampai akhirnya pekerjaan orang tua membuat mereka harus berpindah. Takdir kembali mempertemukan mereka saat Arden menempuh studi kuliah di Korea. Waktu itu, Bella—begitu wanita itu biasa dipanggil—sedang berlibur dan sempat dibantu oleh Arden.
Arden tersenyum tipis, sekadar menjaga kesopanan. "Baru balik ke Jakarta, Bel? Udah selesai studinya di sana?"
"Udah dong. Dan rencananya aku bakal menetap di Jakarta mulai sekarang," ujar Bella dengan binar mata yang terang. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Arden dengan pandangan hangat.
"Lagian... Tante Maya udah mewanti-wanti aku dari minggu lalu buat cepat pulang. Katanya ada acara keluarga penting yang wajib aku datangi."
Dahi Arden makin berlipat mendengar nama Mamanya disebut. "Acara keluarga?" batin Arden penuh tanda tanya. Pria itu merasakan firasat yang kurang menyenangkan merayap pelan di dadanya.
"Gak tau, ada lah pokoknya. Ayo ikut ke rumah, Mama pasti senang liat kamu. Secara, kamu anak kesayangan Mama," ujar Bella tersenyum. Dia langsung menarik tangan Arden tanpa Arden sempat menolak.
Mobil jemputan keluarga Raharja sudah menunggu. Arden pun pasrah mengikuti Bella. Lagian, niat awalnya dia memang baru akan pulang besok.
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Raharja. Arden menatap rumah mewah tersebut. Dulu, rumah mereka kecil dan berada di kawasan perumahan sederhana. Tapi sekarang, mereka berada di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Sementara Keluarga Narendra sendiri menetap di kawasan elit PIK 2.
"Ayo masuk, malah bengong," ajak Bella. Dia kembali merangkul lengan Arden.
"Mama, Mama! Lihat siapa yang aku bawa!" seru Bella saat melangkah masuk. Silvana Maharani adalah ibu dari Bella, sekaligus sahabat karib Maya.
"Nyonya di belakang, Non," sahut Bibi Nola—asisten rumah tangga di sana.
"Ayo!" Bella menarik Arden menuju halaman belakang. Di sana, ia melihat wanita seumuran sang ibu yang sedang sibuk menata bunga-bunga.
"Mama, lihat siapa yang aku bawa?" Bella berseru semangat.
Silvana langsung menoleh. "Bella? Akhirnya kamu pulang juga, Nak. Siapa ini? Tampan sekali," ujar Silvana memindai pemuda di samping putrinya.
"Mama masa lupa sih? Ini Arden, anaknya Tante Maya! Aku pulang karena Papa mau adain acara keluarga sama keluarganya Arden," jelas Bella.
"Arden? Astaga, ya ampun... Kamu sudah besar!" Silvana menangkup wajah lalu memeluk Arden yang hanya bisa tersenyum canggung.
"Iya, Tante."
"Maaf ya, Tante sempat lupa. Soalnya terakhir kita ketemu pas kamu masih SD," kekeh Silvana renyah. Wanita itu sengaja tak langsung menjelaskan detail acara keluarga tersebut. Ia lantas mengajak Arden dan Bella menuju ruang tengah, lalu meminta pelayan menyiapkan minuman serta camilan.
*
*
Tak terasa waktu pun sudah berganti menjadi malam. Alyssa duduk di meja makan bersama Bagas dan Maya, kedua mertuanya. Maya sangat menyayangkan tindakan Adrian yang langsung pergi bekerja padahal kenyataanya, Adrian sedang bulan madu bersama istri barunya. Walau Alyssa berkata tidak apa-apa, Maya sangat mengerti bagaimana hancurnya kondisi hati Alyssa.
"Kamu tenang aja ya! Nanti Mama bakal marahin dia kalau pulang," ujar Maya menatap menantunya prihatin.
"Iya, Ma," balas Alyssa singkat sembari mengaduk pelan makanannya.
"Arden belum pulang, Ma?" tanya Bagas memecah keheningan.
"Belum, Pa. Katanya sih baru besok."
Bagas mengangguk-angguk. Alyssa sendiri sejak tadi diam-diam selalu melirik ponselnya, menunggu pesan dari Arden yang tak kunjung datang. Jangan tanyakan pesan dari Adrian—Alyssa sama sekali tidak mengharapkannya lagi. Hatinya justru hanya cemas memikirkan Arden.
"Ma, besok aku izin ke rumah Ibu ya?" pamit Alyssa pelan.
"Boleh, Sayang. Tapi kamu sendiri gak apa-apa? Nanti Mama siapin hadiah dan oleh-oleh buat Ibu ya."
"Gak apa-apa, Ma. Kan ada Pak Sopir yang antar," jawab Alyssa tersenyum tipis.
Maya mengangguk paham. Setelah itu, makan malam kembali dilanjutkan dalam keheningan. Tidak ada lagi pembahasan, hanya ada riak kepedihan yang disembunyikan Alyssa rapat-rapat.
Arden sendiri saat ini sedang menikmati makan malam bersama keluarga Bella. Bahkan, hidangan favoritnya sampai disajikan khusus oleh pelayan rumah tersebut—ayam taliwang, salah satu makanan yang paling sangat disukainya.
"Tante masih ingat makanan kesukaan aku?" ujar Arden tersenyum, sejenak melupakan pikiran tentang Alyssa yang sejak tadi mengganggunya.
"Tante selalu ingat dong. Jangankan kamu, makanan favorit Mas-mu pun Tante masih ingat," balas Silvana hangat.
Sementara itu, kepala keluarga Raharja belum kelihatan bergabung. Biasanya, pria itu memang selalu pulang larut malam karena kesibukan bisnisnya yang padat. Namun, baru saja Arden hendak bertanya di mana keberadaan Om Ardi, sebuah suara bariton yang khas terdengar dari arah pintu masuk.
"Om Ardi!" sapa Arden refleks berdiri, lalu memberikan pelukan hangat pada pria paruh baya yang masih tampil rapi dengan kemeja kerjanya itu.
"Arden? Astaga, kamu sudah besar sekali, Nak!" seru Ardi seraya menepuk-nepuk bahu Arden bangga.
"Mas, tumben jam segini udah pulang? Biasanya kan larut," celetuk Silvana heran sekaligus senang.
"Mas tahu ada Arden di rumah, makanya Mas langsung usahain pulang cepat. Ayo, lanjut makan malamnya," ajak Ardi santai. Pria itu langsung menarik kursi dan ikut bergabung di meja makan.
"Maaf ya, Den. Om belum sempat bersih-bersih diri," kekeh Ardi renyah. "Soalnya Om udah kangen banget sama masakan Tante-mu."
"Papa ini... bisa aja," puji Silvana dengan wajah yang mendadak merona manis.
Arden tersenyum tipis menyaksikan kemesraan kedua orang tua Bella yang tampak sangat harmonis itu. "Gak masalah sama sekali, Om."
Bersambung ...
mana sih Suami'y.,
wwooii Suami Indah yang gak Indah.,
bawa pulang noh istri durjana'mu itu
🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : kali ini klo Kamu bikin ulah., mengganggu siapapun termasuk Alis., Aku akan mengembalikan Kamu sm Kakak'mu
KAMU BOLEH BALIK KE SINI KLO SUDAH BAWA SURAT CERAI
s' Han ini bebener ya...
astagaaaaaaaa...
Han : ko' nyalahin Aku Jum., ini semua gegara Otor lo., bukan Aku
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣