Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Benda yang tidak ikut dibawa itu tetap berada di meja Chisen sampai pagi keberangkatan.
Erlyn melihatnya ketika melewati pintu kamar yang setengah terbuka. Kamus biru tua itu diam di sudut meja, bersih, berat, seolah tidak punya hubungan apa pun dengan koper yang sudah ditutup rapat di dekat ranjang. Di atas koper, tag bagasi baru bergoyang pelan terkena angin AC.
Hari itu rumah di Jalan Kenanga bangun lebih awal daripada biasanya.
Mama sudah berada di dapur sejak matahari belum benar-benar naik. Ia membuat bubur ayam, telur rebus, dan roti panggang, seolah Chisen akan menempuh perjalanan sehari penuh tanpa ada satu pun makanan di bandara. Yu Changli duduk di meja makan dengan map dokumen terbuka. Kacamata bacanya turun sedikit di hidung, ponselnya penuh pesan dari konsultan pendidikan dan agen perjalanan.
Chisen turun dengan tas kabin di satu tangan.
Wajahnya sama seperti pagi-pagi biasa. Rapi. Tenang. Tidak ada tanda bahwa beberapa jam lagi ia akan melewati pintu keberangkatan dan membuat rumah ini berubah bentuk.
"Makan dulu," kata Mama.
"Aku sudah."
"Kamu baru minum air."
"Itu juga masuk perut."
Mama menatapnya.
Chisen menarik kursi dan duduk. "Baik."
Erlyn duduk di seberangnya, menggenggam sendok terlalu erat. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri sejak bangun tidur bahwa ia tidak akan menangis. Tidak di rumah, tidak di mobil, tidak di bandara. Chisen paling tidak suka orang yang merepotkan. Kalau ia menangis, Mama akan ikut menangis, Om Changli akan semakin kaku, dan Chisen mungkin akan menatapnya dengan ekspresi sulit yang membuat semuanya lebih sakit.
Jadi Erlyn menyuap bubur pelan-pelan, walau lidahnya tidak merasakan apa-apa.
"Tas kabin berisi dokumen asli?" tanya Yu Changli.
"Iya, Papa."
"Paspor?"
"Ada."
"Surat penerimaan?"
"Ada."
"Alamat tempat tinggal sementara?"
"Ada dua salinan."
"Uang tunai?"
"Ada."
"Nomor roaming sudah aktif?"
Chisen mengangkat mata. "Papa mau aku bacakan seluruh daftar dari awal?"
Yu Changli terdiam satu detik, lalu menutup mapnya. "Tidak perlu. Aku hanya memastikan."
Nada Chisen melunak sedikit. "Aku tahu."
Mama menyodorkan kotak makanan kecil. "Ini roti. Kalau nanti lapar di jalan."
"Ma, aku transit di Singapura. Bukan naik kapal tiga hari."
"Ambil saja."
Chisen menerima kotak itu. "Baik."
Erlyn menatap kotak makanan itu, lalu menunduk. Kata baik yang keluar dari mulut Chisen pagi itu terdengar lebih patuh daripada biasanya. Mungkin semua orang sedang menahan sesuatu dengan cara masing-masing. Mama dengan makanan. Om Changli dengan daftar. Chisen dengan jawaban pendek. Erlyn dengan sendok yang tidak berhenti bergerak meski buburnya hampir tidak berkurang.
Perjalanan ke Bandara Juanda terasa lebih singkat dari yang seharusnya.
Yu Changli duduk di depan bersama sopir. Mama dan Erlyn duduk di tengah. Chisen duduk di belakang, dekat koper dan tas kabin. Setiap kali mobil melewati gundukan jalan, roda koper berbunyi pelan. Bunyi kecil itu membuat dada Erlyn ikut melonjak, seolah benda itu tidak sabar meninggalkan rumah.
Di luar jendela, Surabaya bergerak seperti biasa. Toko sudah buka. Motor berdesakan. Penjual koran berdiri di pinggir jalan. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam mobil ini, satu rumah sedang belajar kehilangan satu orang untuk pertama kalinya.
Ponsel Erlyn bergetar.
Angie mengirim pesan.
Jangan nangis di depan dia. Nanti dia kepikiran.
Erlyn mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi.
Aku nggak nangis.
Balasan Angie datang cepat.
Bagus. Kalau nanti nangis, tunggu dia masuk dulu.
Erlyn menatap layar sampai huruf-huruf itu kabur sedikit. Ia cepat mengunci ponsel dan memasukkannya ke saku.
"Siapa?" tanya Mama pelan.
"Angie."
"Dia titip salam?"
"Iya."
Chisen dari belakang berkata, "Dia pasti bilang jangan menangis."
Erlyn menoleh. "Koh baca pikiranku?"
"Tidak. Aku baca pola temanmu."
"Aku memang nggak akan nangis."
"Bagus."
Jawaban itu terlalu ringan. Erlyn ingin kesal, tetapi tidak jadi. Karena setelah mengatakan bagus, Chisen memalingkan wajah ke jendela. Dari pantulan kaca, Erlyn melihat matanya tidak benar-benar melihat jalan.
Bandara Juanda pagi itu ramai. Suara roda koper, pengumuman penerbangan, dan panggilan sopir bercampur menjadi bunyi yang tidak memberi ruang untuk berpikir. Udara di depan terminal terasa panas, tetapi begitu masuk ke dalam, dingin AC menyentuh kulit Erlyn sampai ia merapatkan jaket.
Chisen mengambil koper sendiri sebelum sopir sempat membantu.
"Biar Om bantu," kata Yu Changli.
"Tidak apa-apa, Pa."
Erlyn berdiri di dekat troli sambil memegang tas kecil Mama. Ia memperhatikan Chisen mendorong koper hitam itu menuju konter check-in. Koper yang semalam masih terbuka di lantai kamar sekarang berdiri tegak seperti sesuatu yang sudah punya tujuan jelas.
Petugas menimbang bagasi. Angka di layar bergerak, berhenti, lalu membuat Mama sedikit maju.
"Kelebihan?"
Petugas tersenyum sopan. "Masih aman, Bu."
Chisen menoleh ke Erlyn. "Sambalmu hampir membuatku bayar ekstra."
"Itu sambal Mama."
"Kamu yang mengangkatnya ke kamera Juwanto."
"Berarti Juwanto yang salah."
Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Chisen naik tipis. Hanya sebentar. Erlyn menyimpannya cepat-cepat di dalam dada, seperti orang menyimpan barang kecil sebelum perjalanan panjang.
Setelah check-in selesai, bagasi menghilang di balik sabuk berjalan. Erlyn menatap koper itu sampai tidak terlihat lagi. Ada sachet melati di kantong sampingnya. Ada sweater yang ia lipat ulang. Ada sambal yang diejek Chisen. Semua benda itu ikut pergi. Ia ingin percaya, kalau ada bagian rumah yang ikut masuk ke perut pesawat, Chisen tidak akan terlalu jauh.
Tetapi jarak tidak bisa ditipu dengan pengharum lemari.
Mereka berhenti di depan area keberangkatan internasional. Di sana ada garis yang tidak boleh dilewati penjemput. Di sana pula kata nanti berubah menjadi sekarang.
Yu Changli menyerahkan map tipis terakhir. "Simpan ini di bagian depan tas. Setelah transit, kabari."
"Iya, Papa."
"Jangan sungkan minta bantuan kalau ada masalah."
"Aku tahu."
Yu Changli menepuk bahu Chisen. Gerakannya kaku, tetapi telapak tangannya tinggal di sana lebih lama daripada biasanya. "Belajar baik-baik. Jaga diri."
Chisen mengangguk. "Papa juga."
Mama sudah tidak bisa berpura-pura sibuk. Matanya merah, tetapi ia masih berusaha tersenyum.
"Makan yang benar. Jangan cuma kopi. Kalau dingin, pakai mantel. Jangan tidur terlalu malam. Kalau sakit, bilang. Jangan tunggu parah."
"Ma."
"Apa?"
"Aku dengar."
Mama memukul pelan lengannya, lalu akhirnya memeluk Chisen. Pelukan itu canggung hanya pada detik pertama. Setelah itu, Chisen menunduk sedikit, membiarkan Mama menepuk punggungnya seperti ia benar-benar anak yang akan pergi jauh dari rumah, bukan remaja dingin yang selalu tampak bisa mengurus semua hal sendiri.
Erlyn berdiri di samping, menelan sesuatu yang terasa seperti batu kecil.
Saat Mama melepas pelukan, giliran Erlyn seharusnya maju.
Tetapi kakinya tidak bergerak.
Chisen menatapnya. "Kenapa diam?"
"Aku sedang memastikan semua orang sudah selesai bicara."
"Sekarang giliranmu."
"Aku nggak punya daftar sepanjang Mama."
"Bagus. Aku tidak kuat dengar satu daftar lagi."
Erlyn ingin tertawa, tetapi suaranya tersangkut. Ia akhirnya maju satu langkah. Jarak mereka dekat, tetapi tidak cukup dekat untuk disebut pelukan. Di tengah bandara yang ramai, dengan Mama dan Om Changli hanya beberapa langkah dari mereka, Erlyn tidak tahu apa yang boleh dilakukan oleh seorang adik tiri.
Jadi ia hanya mengangkat tangan dan merapikan tali tas kabin Chisen yang sedikit miring.
"Nanti kabari kalau sudah sampai transit."
"Iya."
"Kalau lihat bunga mawar rambat, foto."
"Belum tentu musimnya."
"Kalau belum musim, foto pagarnya."
Chisen menatapnya. "Pagar?"
"Biar aku tahu tempatnya benar."
"Baik."
Kata itu hampir membuat pertahanannya retak. Erlyn cepat menurunkan tangan. "Jangan hilangkan sachet melati."
"Itu di bagasi. Kalau hilang, berarti seluruh koper hilang."
"Jangan bercanda soal koper hilang."
"Kalau begitu jangan beri instruksi aneh."
Ia terdengar seperti biasa. Terlalu seperti biasa. Dan karena itulah Erlyn hampir tidak sanggup.
Chisen tiba-tiba mengangkat tangan, lalu menepuk puncak kepalanya pelan. Bukan gerakan yang lama. Bukan pelukan. Hanya satu sentuhan ringan yang selama ini sering ia pakai untuk membuat Erlyn berhenti bicara.
Namun kali ini, sentuhan itu seperti menekan tombol yang membuat semua pagi, semua daftar, semua suara roda koper, semua pesan Angie, semua roti di kotak kecil, berkumpul di belakang mata Erlyn.
Ia menggigit bagian dalam pipinya.
Tidak sekarang.
Chisen menurunkan tangan. "Belajar yang rajin."
Erlyn memaksa dirinya mengangkat dagu. "Koh juga."
"Aku sekolah. Tentu belajar."
"Maksudku belajar hidup jauh dari rumah."
Chisen diam sebentar. Lalu ia berkata pelan, "Kamu juga."
Erlyn tidak sempat menjawab.
Pengumuman penerbangan terdengar dari pengeras suara. Penumpang tujuan Singapura diminta bersiap menuju pemeriksaan imigrasi. Chisen menoleh ke arah pintu, lalu kembali melihat mereka.
"Aku masuk dulu."
Mama mengangguk sambil menutup mulut dengan tisu. Yu Changli mengangguk sekali, wajahnya tegang. Erlyn mengangguk paling cepat.
Chisen berjalan menuju antrean pemeriksaan. Langkahnya tidak terburu-buru. Tas kabinnya bergerak pelan di belakang. Ia menyerahkan paspor pada petugas, melewati garis, lalu berhenti sebentar untuk mengambil kembali dokumen.
Erlyn berdiri sangat tegak.
Ia tidak menangis.
Chisen berjalan beberapa langkah lagi.
Ia masih tidak menangis.
Lalu, tepat sebelum tubuhnya tertutup oleh dinding kaca dan belokan menuju ruang tunggu, Chisen menoleh.
Tidak lama. Hanya satu detik. Mungkin kurang. Tetapi tatapannya menemukan Erlyn di antara keramaian seolah sejak awal ia tahu persis di mana ia berdiri.
Erlyn mengangkat tangan sedikit, kecil sekali, takut kalau bergerak lebih banyak, semuanya akan runtuh.
Chisen melihat gerakan itu. Matanya melembut, nyaris tidak terlihat. Lalu ia mengangguk, berbalik, dan menghilang di balik koridor keberangkatan.
Baru setelah punggungnya tidak bisa dilihat lagi, air mata pertama Erlyn jatuh.