NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 005

Pesta Pertama

"Besok," kata Bunga pada bayangannya sendiri malam itu, "kita naik kelas."

Keesokan sorenya, saat ia berdiri di depan gerbang rumah besar Keluarga Prawira dengan sepatu hak yang mulai menyiksa jari kakinya, Bunga baru sadar bahwa naik kelas ternyata bisa membuat betis gemetar.

Rumah itu tidak seperti rumah dalam pengertian Bunga. Lebih mirip kompleks kecil dengan halaman luas, lampu taman tersembunyi, kolam memanjang, dan area rumput yang sudah disulap menjadi garden party. Para tamu berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, tertawa pelan, memegang gelas, dan memandang dunia seolah semua jalan lahir untuk mengantar mereka.

"Punggung tegak," kata Tuan Misterius.

"Kalau lebih tegak lagi, tulang gue keluar."

"Jangan bicara seperti itu di luar."

"Ini di dalam kepala."

"Tetap kebiasaan buruk."

Bunga menahan keinginan untuk memutar mata. Di tangannya ada undangan digital yang tidak benar-benar miliknya. Tuan Misterius menemukan celah dari daftar tamu yang sempat ia lihat di acara amal sebelum semuanya kacau: satu rombongan tamu dari Jawa Tengah batal datang, tetapi satu slot pendamping belum dihapus dari daftar. Bunga hanya perlu berjalan seolah ia memang pantas ada di sana.

Hanya.

Kata yang sangat sombong.

Petugas di meja registrasi menatap layar tablet. "Nama?"

Bunga menarik napas. "Bunga Lestari. Saya hadir sebagai pendamping dari keluarga rekanan Jawa Tengah."

Petugas menatapnya dari atas ke bawah. Bunga merasakan tatapan itu berhenti sebentar di clutch pinjaman, lalu di perban yang sudah ia tutup rambut dan bedak.

"Undangannya?"

Bunga menunjukkan kode QR. Tuan Misterius membimbingnya mengatur wajah: jangan terlalu berharap, jangan terlalu takut, cukup sedikit bosan, seperti orang yang sering menunggu staf memproses sesuatu.

Tablet berbunyi pelan.

Petugas tersenyum. "Silakan, Mbak."

Bunga melangkah masuk.

Di dalam kepala, ia hampir melompat. Di luar, ia hanya mengangguk kecil.

"Jangan tersenyum seperti habis menang lotre," kata Tuan Misterius.

"Tapi rasanya begitu."

"Menang lotre pun orang-orang di sini akan pura-pura biasa."

"Menyedihkan."

Tuan Misterius tidak menjawab, mungkin karena ia setuju.

Di meja hidangan, Bunga melihat potongan daging panggang, salad kecil dalam mangkuk kaca, kue-kue mungil, dan sesuatu yang bentuknya seperti makanan mainan tetapi aromanya mahal. Perutnya langsung bereaksi, mengingatkan bahwa ia hanya makan roti sisa rental sejak pagi.

"Jangan langsung ke makanan," kata Tuan Misterius.

"Kenapa?"

"Kamu harus terlihat datang untuk bersosialisasi, bukan berburu protein."

"Aku memang berburu protein."

"Bunga."

"Iya, iya."

Ia mengambil segelas air putih, bukan karena ingin, tetapi karena Tuan Misterius mengatakan itu pilihan aman. Baru tiga langkah, seorang perempuan muda bergaun pastel menghampirinya. Wajahnya lembut, matanya jernih, senyumnya tidak setajam tamu lain.

"Hai. Aku Melati," katanya. "Kayaknya kita belum pernah ketemu."

Tuan Misterius langsung berbisik, "Melati Prawira. Adik Baskara. Jangan terlalu defensif."

Bunga tersenyum, mencoba versi senyum orang yang tidak pernah tawar-menawar harga angkot. "Bunga Lestari."

"Dari pihak mana?"

"Keluarga rekanan dari Jawa Tengah," jawab Bunga. "Saya ikut rombongan, tapi mereka tertahan urusan lain."

Melati mengangguk, seolah itu masuk akal. "Pertama kali ke acara keluarga kami?"

"Iya."

"Kalau begitu jangan berdiri sendiri. Orang-orang di sini kalau sudah punya kelompok, suka lupa ada tamu baru."

Bunga menatapnya sebentar. Tidak ada sindiran. Tidak ada tatapan menghitung. Gadis ini benar-benar menawarkan tempat berdiri.

"Terima kasih," kata Bunga.

"Terlalu kaku," komentar Tuan Misterius.

"Makasih," Bunga mengulang lebih ringan.

Melati tertawa kecil. "Nah, begitu lebih enak."

Untuk beberapa menit, Melati memperkenalkan Bunga pada dua tamu lain tanpa membuatnya merasa sedang diuji. Bunga menjawab seperlunya, mengikuti arahan Tuan Misterius: jangan menyebut detail yang bisa dicek, jangan berlebihan membicarakan keluarga, arahkan obrolan ke cuaca, acara, dan pujian kecil pada taman.

Lalu seorang perempuan bergaun merah marun muncul.

Senyumnya manis. Matanya tidak.

"Melati," katanya, lalu menoleh pada Bunga. "Teman baru?"

Tuan Misterius segera berkata, "Ratih Permata. Putri Suryo Permata. Hati-hati. Dia menikmati kelemahan orang."

Bunga mengencangkan jari di gelas.

"Bunga Lestari," kata Melati. "Dari Jawa Tengah."

"Oh?" Ratih menatap Bunga dari sepatu sampai rambut. "Keluarga mana? Aku cukup sering bertemu keluarga-keluarga militer dari sana."

Jebakan pertama datang lebih cepat dari perkiraan.

Bunga ingin menjawab asal-asalan, tetapi Tuan Misterius menahannya.

"Jangan sebut nama. Katakan generasi tua tidak suka diekspos."

Bunga tersenyum tipis. "Keluarga saya tidak terlalu suka disebut di acara sosial. Generasi lama, Mbak. Mereka lebih nyaman bekerja tanpa banyak foto."

Ratih tertawa halus. "Menarik. Biasanya orang justru bangga sekali menyebut keluarganya."

"Mungkin karena saya belum punya apa-apa untuk dibanggakan selain cara berdiri tanpa jatuh di sepatu ini."

Melati tertawa spontan.

Ratih juga tertawa, tetapi matanya menyipit. "Lucu."

"Terima kasih," jawab Bunga.

"Itu bukan pujian," kata Tuan Misterius.

"Aku tahu."

Ratih hendak bertanya lagi ketika suara dari sisi taman membuat beberapa tamu menoleh. Seorang pria tinggi memasuki area pesta dengan setelan abu-abu gelap. Wajahnya tenang, nyaris dingin. Tidak perlu ada yang mengumumkan namanya. Cara orang-orang memberi ruang sudah cukup.

"Baskara Prawira," kata Tuan Misterius.

Bunga melihatnya.

Jadi itu akses halus menuju Hartono.

Baskara tidak tampak seperti laki-laki yang mudah didekati. Ia menyalami beberapa tamu, mengangguk pada yang lain, tetapi sorot matanya seperti pintu yang hanya terbuka dari dalam. Bunga mengenali jenis kesepian seperti itu, meski bungkusnya mahal.

"Jangan menatap terlalu lama," kata Tuan Misterius.

"Aku sedang observasi."

"Kamu sedang melotot."

Bunga cepat memalingkan wajah.

Melati memperhatikan gerakannya, lalu tersenyum kecil. "Kakakku memang bikin orang salah tingkah."

"Saya tidak salah tingkah."

"Belum bilang kamu."

Bunga terbatuk pelan.

Acara mulai bergerak ke sesi makan ringan. Tuan Misterius menyuruh Bunga mengambil satu piring kecil saja. Bunga patuh selama lima menit pertama. Ia mengambil salad, satu potong daging, dan kentang kecil, lalu makan dengan garpu dari luar ke dalam seperti latihan.

Rasa daging itu membuatnya hampir menutup mata.

"Jangan bereaksi berlebihan," kata Tuan Misterius, tetapi suaranya sendiri terdengar lebih pelan.

"Kamu juga suka."

"Saya hanya menganalisis tekstur."

"Bohong."

Piring pertama selesai terlalu cepat.

Bunga menunggu jeda sopan, lalu mengambil piring kedua. Ia berbicara sebentar dengan Melati tentang taman, menghindari Ratih yang masih sesekali melirik. Piring kedua habis dengan strategi yang lebih rapi.

Lalu ada steak kecil di sudut meja yang baru diisi ulang.

"Tidak," kata Tuan Misterius.

"Ini kecil."

"Itu piring ketiga."

"Kalau kecil, hitungannya setengah."

"Tidak ada matematika seperti itu."

Bunga mengambilnya.

Ia berdiri agak menjauh dari keramaian, di dekat tanaman hias tinggi, lalu memotong steak itu dengan konsentrasi penuh. Kali ini gerakannya hampir benar. Garpu tidak terlepas. Pisau tidak berbunyi keras. Saus tidak menetes ke gaun. Kemenangan kecil, tetapi bagi Bunga rasanya seperti lulus ujian negara.

Ia memasukkan potongan pertama ke mulut.

Enak.

Terlalu enak.

Tanpa sadar wajahnya melembut. Bukan wajah gadis yang sedang menyusup. Bukan wajah pembohong. Hanya wajah seseorang yang selama ini terlalu sering lapar dan tiba-tiba diberi sesuatu yang layak.

Di seberang taman, Baskara Prawira berhenti berbicara.

Matanya tidak tertuju pada gaun Bunga. Tidak pada wajahnya yang sudah dipoles seadanya. Tidak pada kisah palsu dari Jawa Tengah.

Ia menatap piring ketiga di tangan Bunga dan ekspresi puas yang gagal ia sembunyikan.

Bunga baru sadar ketika Tuan Misterius berkata pelan, "Dia melihatmu."

Garpu Bunga berhenti di udara.

Baskara masih menatapnya.

Dan untuk alasan yang tidak Bunga pahami, sudut bibir pria itu bergerak sedikit, nyaris seperti senyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!