NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~20

Dengan rasa yang sudah campur aduk tidak karuan, Sinta mulai membuka suara.

Di hadapannya, Zia duduk dengan wajah yang sudah sangat lemas. Ia mencoba menata hatinya sejenak, bersiap mendengarkan kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat hari ini.

Kenyataan yang mungkin akan menjadi jawaban atas segala kebimbangan yang menyiksanya selama ini.

"Zi, dengerin aku. Jangan berharap apa-apa lagi sama Mas Charis," ucap Sinta sambil menggenggam erat kedua tangan Zia yang mulai bergetar dingin.

"Kenapa?" tanya Zia. Suaranya parau, tatapannya kosong.

"Maaf kalau aku lancang. Kemarin malam, waktu kamu ketemu sama Zizan, sebenarnya aku diam-diam nemuin Mas Charis. Aku udah gak sabar liat kamu terus-terusan digantung kayak gini. Aku gak mau kamu menaruh harapan di hati yang salah, Zi. Kamu terlalu baik untuk disakiti, dan aku gak bisa terima itu. Jadi, aku mutusin buat bicara langsung sama dia.

"Apa... apa yang dia katakan, Sin?" tanya Zia, nyaris berbisik. Napasnya mulai terasa berat.

Sinta akhirnya menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Mulai dari urusan martabak, obat P3K, drama menyapu halaman, hingga banyak hal lain yang selama ini menjadi teka-teki.

Setiap untaian kalimat Sinta seketika menghantam dada Zia, membungkam sisa-sisa harapan di hatinya yang kini hancur berkeping-keping.

"Ternyata selama ini dia gak benar-benar sayang sama kamu, Zi. Dia mengaku udah berusaha buat mencintai kamu, tapi hatinya selalu berbalik arah, menariknya kembali ke masa lalu. Dia ternyata udah lama menyukai Mbak Salsa, Zi. Jauh sebelum dia dijodohkan sama kamu," jelas Sinta dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Zia membeku. Dunia di sekitarnya seolah runtuh seketika pada detik itu juga. Seluruh sendi tubuhnya melemas, badannya gemetar hebat, dan air mata meluncur deras tanpa bisa ia bendung lagi.

"Ya Allah, sesakit ini rasanya? Kenapa harus aku? jerit Zia dalam batinnya yang teramat perih, seolah ada belati yang menghujam jantungnya berulang kali.

Melihat kerapuhan itu, Sinta langsung memeluk tubuh sahabatnya yang sudah tak berdaya. "Keluarin semuanya, Zi. Nangis aja, tumpahin semua sakitnya di sini. Gak akan ada yang dengar. Aku di sini, Zi. Aku nemenin kamu," bisik Sinta yang akhirnya runtuh juga. Air matanya ikut mengalir, tak tega melihat sahabat baiknya sehancur ini.

Zia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menangis sesenggukan, menyisakan suara isak tangis yang tertahan dan deru napas yang terasa luar biasa sesak di dadanya.

"Berarti... aku yang salah, kan? Aku yang bodoh karena berharap terlalu jauh, Sin..." ucap Zia terbata-bata di sela tangisnya yang kian memilukan.

"Bukan! Ini sama sekali bukan salah kamu, Zi! Jangan pernah salahin diri kamu sendiri," sanggah Sinta cepat.

Ia mendekap tubuh Zia lebih erat lagi, berusaha menyalurkan kekuatan agar sahabatnya itu tidak tumbang.

Setelah tangis Zia mulai sedikit mereda, meski dadanya masih naik turun akibat sisa emosi yang membuncah, Sinta menambahkan dengan nada penuh penyesalan.

"Maafin aku, Zi... Maaf kalau kejujuran ini bikin kamu sakit. Tapi aku gak tahan liat kamu terus-terusan mengemis kepastian yang gak akan pernah datang. Aku udah sabar banget nunggu dia buat jelasin semuanya langsung ke kamu, tapi nyatanya? Dia pengecut, Zi. Dia sama sekali gak bergerak sampai detik ini. Kamu gak layak dijadikan pelarian atas masa lalunya yang belum selesai."

"Ternyata benar ya kata orang, seberapa keras kita berjuang sebagai orang baru, kalau cintanya sudah habis di orang lama, orang baru bisa apa?" gumam Zia. Tatapannya kosong, lurus menembus pemandangan pepohonan yang seolah ikut mendung. Ada retak yang amat jelas dalam suaranya yang parau.

Sinta menggeser duduknya, meraih kedua tangan Zia yang terasa dingin. Ia menggenggamnya erat, mencoba menyalurkan kehangatan. "Kamu berhak bahagia, Zi. Mungkin bukan sekarang, tapi suatu saat nanti," ucap Sinta lembut, matanya menatap lekat sepasang manik mata Zia yang mulai berkaca-kaca.

"Aku yakin, di luar sana akan ada pria yang jauh lebih bisa menghargai kamu. Pria yang mencintai kamu setulus mungkin, tanpa pernah membuat kamu harus mengemis waktu, apalagi mengemis ruang di hatinya. Kamu terlalu berharga untuk sekadar jadi pelarian, Zi. Semangat, ya?" Sinta mengulas senyum paling mekar yang ia punya.

Senyuman tulus seorang sahabat yang akhirnya runtuh juga pertahanan Zia. Air mata yang sejak tadi ditahan Zia kini meluruh, membasahi pipinya. Namun bersamaan dengan itu, sebuah senyum tipis yang getir berhasil terukir di bibirnya.

"Nah, begitu dong, senyum. Jangan biarkan orang lain merebut bahagiamu," hibur Sinta sembari menghapus bulir air mata di pipi sahabatnya.

Zia mengangguk pelan, mencoba menelan sesak di dada. "Sekarang yang ada di pikiranku cuma satu, Sin. Gimana caranya aku berdamai dengan hatiku yang benar-benar sakit ini. Jujur, aku nggak benci sama Mbak Salsa. Sama sekali. Tapi aku takut, kalau nanti tiba-tiba harus berhadapan langsung sama dia, aku nggak tahu apakah aku masih bisa menjaga hubungan baik ini atau malah menangis di depannya."

Sinta menghela napas panjang, mengusap bahu Zia dengan penuh empati.

"Aku nggak akan melarang kamu untuk tetap berteman baik dengan Mbak Salsa. Tapi, kalau nanti sekiranya hatimu belum kuat, kalau melihat dia malah bikin lukamu berdarah lagi, nggak apa-apa kalau kamu menjauh dulu. Tarik dirimu pelan-pelan. Biarkan hatimu menerima semua kenyataan ini sampai pulih. Setelah kamu merasa siap dan tenang, baru perbaiki lagi hubungannya secara perlahan. Menjauh bukan berarti memusuhi, Zi. Itu cara kamu menyelamatkan diri sendiri."

"Mendengar kalimat itu, pertahanan Zia benar-benar jebrol. Ia langsung menghambur ke pelukan Sinta, menyembunyikan wajahnya di bahu sahabatnya itu sambil terisak.

"Terima kasih ya, Sin. Terima kasih untuk semuanya," bisik Zia di sela tangisnya.

"Iya, sama-sama. Aku akan selalu ada di sini," balas Sinta, mendekap tubuh Zia dengan erat, membiarkan sahabatnya itu menumpahkan seluruh luka yang selama ini dipendam sendiri.

***

Hari berganti malam. Zia dan Zizan menjadwalkan ulang pertemuan mereka untuk urusan belajar. Entah mengapa, malam ini Zizan tampak begitu bersemangat. Langkah kakinya terdengar ringan, dan senyumnya terus mengembang sejak sore. Perubahan drastis itu tentu saja sudah diamati oleh dua sahabatnya yang sedang nongkrong di kamar.

"Bro, titip salam buat Zia, ya," goda Ares sambil menyeduh kopi hitam dari cangkir kesayangannya.

Di sebelahnya, Dafa sedang sibuk membolak-balik buku. "Iya, salam dari aku juga." timpal Daffa tanpa mengalihkan pandangan.

Zizan menghentikan langkah di ambang pintu. Ia berbalik, lalu dengan sengaja meliukkan tubuhnya dan memasang wajah kemayu. "Waalaikumsalam, Mas Ares ganteng... Mas Daffa manis..." sahutnya dengan suara yang dibuat-buat melengking.

Ares langsung bergidik ngeri. "Gila, merinding aku! Istighfar, Zan, istighfar! Muka sangar kelakuan minus."

Zizan kembali ke mode normal dan mencibir. "Halah, lagian kalau salamnya aku sampaikan ke Zia, paling juga nggak bakal dibalas sama dia."

Karena tenggorokannya mendadak kering setelah berakting jadi banci, Zizan tanpa permisi merebut cangkir kopi dari tangan Ares. Tanpa ragu, ia meneguk kopi hitam buatan Ares itu dalam satu tegukan besar.

Slurp.

Satu detik. Dua detik. Wajah Zizan langsung berubah drastis. Matanya membelalak, otot-otot wajahnya menegang menahan syok rasa yang luar biasa dahsyat.

"Peh! Uhuk-uhuk!" Zizan langsung menyemburkan kembali kopi itu ke samping. Semburan maut itu melesat cepat, nyaris saja membasahi pipi Ares kalau saja Ares tidak refleks memiringkan kepalanya ke belakang.

"Gila kamu, Res! Ini kopi apa rebusan daun brotowali?! Pahitnya sampai ke ginjal!" protes Zizan sambil menjulurkan lidahnya yang mendadak mati rasa.

Ares yang syok karena nyaris mandi kopi langsung melotot tak terima. Ia mengusap lehernya yang terkena sedikit cipratan.

"Heh, sembarangan aja kalau bicara! Ini wajah tampan edisi terbatas, ya! Kalau sampai kena semburan air liurmu yang penuh kuman itu, harga diriku turun drastis! Lagian, ini kopi premium, resep rahasia turun-temurun dari kakek buyutku. Nggak semua orang punya selera setinggi ini!" gerutu Ares sambil membusungkan dada, sok keren.

Zizan mendengus malas, tidak sudi mendengarkan dongeng kakek buyut Ares. "Ah, terserah kamulah, Res. Otakmu memang sudah agak geser semenjak tugas akhir menumpuk. Aku pamit dulu. Assalamu'alaikum!"

Tanpa menunggu jawaban, Zizan ngacir keluar kamar, menyelamatkan diri sebelum dipaksa menghabiskan sisa cairan hitam mencurigakan itu.

Daffa yang sejak tadi hanya menonton, menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Zizan. Ia melirik cangkir kopi yang diletakkan kembali oleh Ares di depannya. Karena penasaran dengan reaksi Zizan yang begitu heboh, Daffa meraih cangkir tersebut.

"Zizan mah lebay, Res. Selera kopinya saja yang masih sekelas kopi sasetan lima ribuan," ujar Daffa membela Ares. Dengan penuh percaya diri, Daffa menyesap kopi itu agak banyak.

Dan... petaka kedua terjadi.

Pruuutt!!

Daffa spontan menyemburkan kopi itu ke depan. Kali ini Ares tidak sempat menghindar. Sisa cairan hitam bercampur busa itu sukses mendarat mulus di dahi dan sebagian pipi kanan Ares.

"Peh! Pahit beneran, Res! Ini mah racun berkedok kafein!" teriak Daffa sambil terbatuk-batuk, matanya sampai berair menahan rasa pahit yang membakar lidah.

Ares mematung. Setengah wajahnya kini basah kuyup. Ia memejamkan mata perlahan, mencoba menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Dengan ujung kaosnya, ia mengelap wajahnya yang malang.

"Sini ah kalau nggak suka! Dasar manusia-manusia tidak punya cita rasa estetika kopi!" omel Ares sengit. Ia merebut cangkir dari tangan Daffa.

"Sudah dibilang, ini resep kakek buyutku. Wajar kalau rasanya beda, secara kita udah beda zaman. Kakek buyutku itu selera sastranya tinggi, kopinya juga harus berkarakter!" Ares menenggak kopi buatannya sendiri demi membuktikan omongannya.

Namun, begitu cairan itu menyentuh kerongkongannya, matanya langsung mendelik. Napasnya tercekat.

"Peeehhh!!! Uhuk! Uhuk!" Ares ikut menyemburkan kopi itu ke lantai. Wajahnya berkerut masai, menahan rasa pahit yang rasanya seperti mengunyah arang dicampur obat puyer.

Daffa yang melihat hal itu langsung bersedekap dada sambil mengangkat satu alisnya. "Nah, kan! Aku bilang juga apa, Ares!" Ares mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menetralkan rasa pahit di mulutnya. Ia mengetuk-ngetuk dahinya sendiri, seolah baru saja mendapatkan pencerahan spiritual.

"Eh... aku ingat sekarang. Tadi pas di dapur, aku belum masukin gula kayaknya. Pantas aja rasanya agak... aneh.," ucap Ares tanpa dosa, menyengir lebar hingga deretan giginya terlihat.

Mendengar pengakuan konyol itu, urat sabar Daffa langsung putus. Dengan gerakan secepat kilat, Daffa menyambar peci hitam miliknya yang tergeletak di atas karpet, lalu menggulungnya erat-erat.

PLAK! PLAK!

"Dasar Areeessss!!! Mau bikin kita mati muda, ya?!" teriak Daffa emosi, melayangkan pukulan peci bertubi-tubi ke lengan dan punggung Ares.

"Aduh! Sakit, Daf! Ampun! Itu peci buat ibadah, jangan dipakai buat aniaya teman sendiri! Aduh!" jerit Ares sambil melompat-lompat, mencoba menghindari sabetan peci maut Daffa.

Kamar pun mendadak riuh dengan drama saling pukul dan kejar-kejaran antara dua pemuda yang gagal menikmati kopi malam itu.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!