Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : Jalinan Kasih yang Murni
Matahari siang di atas langit kawasan Sudirman masih memancarkan terik yang menyengat, namun di pojok parkiran terbuka itu, waktu seolah berjalan lambat bagi kedua anak manusia yang baru saja dipertemukan kembali oleh garis takdir. Sri masih berdiri terpaku dengan seulas senyuman tulus yang merekah manis di bibirnya, sepasang matanya yang bersinar cerah menatap lurus ke arah pemuda berjaket ojol di hadapannya.
"Nama saya Bagus, Mbak Sri. Cuma seorang kurir ojek online biasa," ulang Bagus sekali lagi dengan nada suara yang sangat tenang dan lembut.
Mendengar nama itu diucapkan, ada sebuah desiran aneh yang sangat halus mampir di relung hati Sri. Ia merasa nama 'Bagus' terdengar begitu akrab di telinganya, seolah-olah nama itu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Namun, ketika ia mencoba menggali ingatannya lebih dalam, pikirannya tetap bersih kosong. Kemurahan Tuhan bener-bener telah menghapus seluruh memori trauma penyiksaan gaib Jaran Goyang dari otaknya. Bagi Sri saat ini, Bagus hanyalah seorang pemuda ojol asing berwajah teduh dan berwibawa yang baru saja menyelamatkannya dari tindakan kasar seorang pria kekar.
Berbeda dengan Sri yang telah melupakan segalanya, Bagus justru tetap mengingat setiap detail fragmen masa lalu mereka dengan sangat jelas. Ingatan tentang caci maki Sri yang menyakitkan di parkiran ini, ritual malam Selasa Kliwon di kamar kosnya yang pengap, hingga tangis histeris Sri saat menjadi mayat hidup, semuanya masih tersimpan rapi di dalam memori kepala Bagus.
Namun, ingatan itu tidak lagi memicu rasa sakit hati, dendam, ataupun amarah di dada Bagus. Berkat gemblengan ilmu tasawuf dan hikmah di Desa Pagedongan, rasa cinta Bagus kepada Sri telah mengalami metamorfosis spiritual yang sangat agung. Jika dulu ia mencintai Sri dengan ambisi egois yang buta untuk menguasai dan memiliki secara paksa, kini Bagus mencintai Sri karena Allah. Cintanya telah menjelma menjadi sebuah rasa Ihsan yang murni, sebuah keinginan luhur untuk melihat Sri hidup bahagia, sehat, dan selamat dari segala bentuk marabahaya dunia maupun akhirat. Bagus menahan seluruh gejolak rasa rindunya di dalam dada demi menghormati kesucian jiwa Sri yang baru saja pulih.
"Mbak Sri sepertinya masih gemetar. Kalau boleh, biarkan saya mengantarkan Mbak pulang ke rumah atau kembali ke tempat yang aman. Kebetulan motor saya kosong, dan saya tidak akan memungut biaya sepeserpun," tawar Bagus dengan senyuman tulus yang sangat bersahaja, menawarkan helm cadangan yang bersih kepada Sri.
Sri sempat ragu sejenak, logikanya sebagai wanita karir mengingatkan untuk tidak sembarangan ikut dengan orang asing. Namun, ketika ia kembali menatap sepasang mata Bagus yang memancarkan kejujuran murni tanpa ada sedikitpun niat terselubung, benteng keraguannya seketika runtuh. Berkat pilar Ilmu Tawakalan Ahadi yang sudah mendarah daging di tubuh Bagus, aura di sekitar pemuda itu memancarkan rasa aman yang luar biasa damai yang langsung menenangkan batin Sri.
"Ya sudah, saya mau, Mas Bagus. Kebetulan saya juga masih agak syok untuk menyetir sendiri atau naik angkutan umum," jawab Sri lembut sambil menerima helm tersebut dan memasangnya di kepala.
Bagus perlahan naik ke atas jok motor Beat karbu tuanya, lalu menyalakan mesin motor yang berbunyi berdering teratur. Sri dengan gerakan yang sangat sopan dan bersahaja langsung ikut naik membonceng di bagian belakang. Kali ini, tidak ada paksaan mantra gaib yang membuat Sri memeluk erat pinggang Bagus seperti robot manekin yang hilang kesadaran. Sri duduk dengan jarak yang sopan, namun hatinya merasa sangat nyaman dan tenang berada di belakang punggung tegap pemuda ojol tersebut.
Motor matic tua itu perlahan bergerak membelah kemacetan jalanan Sudirman di siang hari. Sepanjang perjalanan, embusan angin kota menerpa wajah mereka. Sri mulai membuka obrolan dengan menanyakan banyak hal ringan tentang kehidupan narik ojek Bagus, dan Bagus menjawabnya dengan untaian kalimat yang sangat dewasa, bijaksana, dan sesekali dibumbui humor ringan yang membuat Sri tertawa renyah di sepanjang jalan.
Bagus menatap pantulan wajah Sri yang ceria dan merona segar dari kaca spion motornya. Di dalam hatinya yang paling dalam, Bagus melangitkan rasa syukur yang teramat sangat besar kepada Tuhan. Inilah puncak kemenangan sejati yang ia impikan selama ini: melihat Sri kembali menjadi manusia seutuhnya yang hidup dengan penuh kebahagiaan dan kerendahan hati, tanpa ada lagi sekat kesombongan materi yang memisahkan mereka. Jalinan kasih asmara yang baru ini mengalir begitu indah, tumbuh subur secara organik dari lubuk sanubari mereka masing-masing secara sadar, bersih dari noda hitam syirik masa lalu. Jilid pertama dari kisah kelam Kutukan Jaran Goyang telah resmi berakhir, bertransformasi menjadi sebuah kisah pertobatan dan cinta murni dibawah rida Sang Pemilik Semesta.
“Ketika takdir mempertemukan kembali dua jiwa yang telah dibersihkan oleh air pertobatan, rahasia masa lalu tak lagi menjadi belenggu yang mengikat. Kasih sejati tidak akan pernah lahir dari paksaan mantra kegelapan yang merusak raga, melainkan mekar dengan indah dari kesucian hati yang pasrah berserah di bawah rida Sang Pencipta.”
— Sang Alifas Yang Merumput
"Wah, akhirnya Sri kenalan lagi dari nol sama Bagus tanpa pengaruh pelet! Menurut kalian, Bagus harus jujur gak soal masa lalu mereka di Jilid 2 nanti? Yuk, adu pendapat di kolom komentar! Dukung terus cerita ini ya. See you!"