"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Hari yang paling ditakuti oleh Tsabita Azzahra akhirnya benar-benar tiba.
Bita berdiri di depan cermin besar di dalam kamar rias area ndalem pesantren elit itu. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk. Tubuhnya yang biasa dibalut pakaian kasual kini terbungkus rapat oleh kebaya akad nikah brokat berwarna putih payet yang sangat elegan. Di kepalanya, sebuah jilbab pashmina putih melilit rapi, lengkap dengan kain brokat panjang yang menjuntai.
Klik.
Pintu kamar rias bergeser halus. Melalui pantulan cermin, Bita melihat Safira melangkah masuk. Kakaknya tampil sangat cantik dengan gamis brokat berwarna pastel, namun wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.
Safira berjalan mendekat, lalu berhenti di belakang Bita. Tangannya yang ramping terulur untuk merapikan ujung kain brokat di bahu Bita.
"Mbak," panggil Bita pelan, memecah keheningan.
"Kenapa, Ta? Ada yang kurang nyaman kebayanya?" tanya Safira, suaranya terdengar sangat parau dan hampa.
Bita membalikkan tubuhnya, menatap lekat mata kakaknya. "Lo... beneran gak papa? Sebulan ini lo diem mulu kayak patung. Biasanya lo yang paling hobi nyeramahin gue dari A sampai Z kalau gue bikin masalah."
Safira menurunkan pandangannya, menghindari kontak mata. "Nggak apa-apa, Bita. Mbak cuma kurang tidur aja akhir-akhir ini."
"Bohong," tembak Bita ketus. "Mbak, kalau lo ngerasa perjodohan ini konyol, kenapa lo gak bantuin gue bujuk Papa? Lo kan anak emas Papa. Kalau lo yang minta pembatalan, Papa pasti mikir dua kali!"
Safira memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat getir. "Semuanya sudah diputuskan oleh Papa, Bita. Lagian... Gus Ibra itu orang yang sangat baik. Dia laki-laki yang bertanggung jawab."
"Baik dari mananya sih?" Bita mendengus kencang, memutar bola matanya malas. "Dia tuh kaku, sedingin kulkas! Kemarin aja pas ketemu, sok-sokan gak mau liat gue gara-gara bukan mahram. Sok suci banget tahu gak."
"Jaga ucapan kamu, Tsabita," tegur Safira, ada nada getaran menahan sesak dalam suaranya. "Dia calon suami kamu. Sebentar lagi, tugas Mbak buat jagain kamu sudah selesai. Nanti... sudah ada Gus Ibra yang lebih berhak untuk membimbing kamu."
"Mbak, tapi gue—"
"Mbak ke depan dulu ya," potong Safira cepat, memutus kalimat adiknya. "Abi dan Papa sudah siap di meja akad. Semoga pernikahanmu lancar."
Tanpa menunggu balasan, Safira berbalik badan dan melangkah terburu-buru keluar dari kamar rias. Bita sempat menangkap basah momen di mana kakaknya itu mengusap sudut matanya dengan cepat sebelum menghilang di balik pintu.
"Aneh banget sih," gumam Bita gusar sambil meremas saputangannya. "Gue yang mau dikorbanin, kenapa malah dia yang kayak mau kiamat?"
Beberapa menit kemudian, Bita dibimbing masuk menuju masjid utama pesantren. Suasana di dalam masjid berarsitektur megah itu terasa sangat sakral. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu jati pendek telah dikelilingi oleh Papa, Abi, dua orang saksi, dan penghulu.
Dan di sana, duduk dengan tegap menghadap Papa, adalah Gus Ibra Al Zayn.
Pria itu terlihat luar biasa tampan sekaligus berwibawa dalam balutan jas akad putih premium dan peci hitam. Sesuai dengan pembawaannya yang tenang, Ibra sama sekali tidak menoleh saat Bita datang. Ia tetap duduk tenang dengan pandangan mata yang diturunkan ke lantai demi menjaga adab.
Bita dituntun untuk duduk di kursi area belakang meja akad. Jantungnya mulai berdentum dengan ritme yang sangat cepat.
Penghulu memulai prosesi, dan tak lama kemudian, Papa Hasan mengulurkan tangannya, menjabat erat tangan kanan Gus Ibra.
"Saudara Ibra Al Zayn bin KH. Ahmad Muzakki," suara Papa Hasan bergetar menahan haru melalui mikrofon. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Tsabita Azzahra, dengan maskawin perhiasan emas lima puluh gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Keheningan total mendadak menyelimuti masjid. Bita menahan napasnya erat-erat.
Gus Ibra menarik napas pendek dengan sangat tenang. Detik berikutnya, suaranya yang bariton dan sangat mantap mengalun memecah kesunyian.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Tsabita Azzahra binti Hasan dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
Hanya dalam satu tarikan napas. Begitu lancar, tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah!"
"Sah!"
Suara koor dari para saksi seketika menggema. Detik itu juga, Bita lemas. Ia kini telah resmi menjadi seorang istri.
"Silakan untuk pengantin pria, mendekat ke pengantin wanita untuk memegang ubun-ubun istri seraya membacakan doa," instruksi dari penghulu.
Tubuh Bita mendadak menegang kaku saat Gus Ibra bergeser duduk menjadi menghadap ke arahnya. Untuk pertama kalinya dalam jarak sedekat ini, Bita bisa mencium aroma parfum pria itu—campuran aroma kayu gaharu yang maskulin dan sangat menenangkan.
Ibra perlahan mengangkat tangan kanannya. Ketika telapak tangan Ibra menyentuh ubun-ubun kepala Bita, gadis itu refleks menahan napas. Sentuhan itu sama sekali tidak kaku, melainkan terasa luar biasa hangat dan lembut.
Ibra memejamkan matanya, lalu mulai merapalkan doa dengan suara yang sangat rendah, lirih, dan adem di dekat kepala Bita.
"Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi, wa a’udzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi..."
Mendengar lantunan doa yang begitu tulus, jantung Bita berdegup dengan sangat liar. Sambil gemetaran, Bita berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar oleh orang lain. "Gak usah modus ya lo..."
Ibra menyelesaikan doanya dengan tenang. Ia menurunkan tangannya, lalu sedikit menundukkan kepalanya tanpa menatap mata Bita langsung.
"Ini ibadah. Bukan modus," balas Ibra, berbisik dengan nada yang sangat rendah namun terdengar begitu tenang di telinga Bita.
Bita langsung bungkam, wajahnya mendadak terasa panas.
Malam harinya, setelah seluruh rangkaian acara yang melelahkan selesai, Bita diantarkan masuk ke dalam kamar pribadi Gus Ibra di lantai dua bangunan ndalem. Kamar itu didesain sangat modern dengan gaya Japandi yang didominasi perabot kayu jati dipoles kilap.
Begitu pintu ditutup dari luar, Bita langsung mengembuskan napas panjang.
"Aduh! Gila ya, ini sepatu menyiksa banget!" gerutu Bita keras-keras.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menendang sepasang high heels putihnya ke sudut ruangan hingga terkapar berantakan. Bita berjalan limbung menuju tepi ranjang, lalu menghempaskan tubuhnya di sana. Tangannya bergerak gusar ke arah kepalanya.
"Sialan, ini peniti banyak banget sih! Leher gue kayak ditusuk-tusuk dari pagi, anjir!" omel Bita jalang, mencoba mencabut paksa pashminanya.
Klik.
Suara pintu yang dibuka membuat gerakan tangan Bita mendadak membeku.
Gus Ibra melangkah masuk. Pria itu sudah menanggalkan jas akadnya, kini hanya mengenakan polo shirt hitam casual dan sarung tenun gelap yang santai. Rambut undercut-nya tampak agak basah habis berwudhu.
Bita langsung memasang mode defensif. "Heh! Lo... ngapain masuk gak ketok pintu?!"
Ibra tidak langsung menjawab. Dengan gerakan tenang, ia berbalik untuk mengunci pintu kamar dengan rapat, membuat Bita makin panik. Ibra kemudian melangkah melewati Bita, berjalan menuju dispenser, lalu menuangkan air putih dingin ke dalam gelas.
Pria itu berbalik, mendekati ranjang, lalu mengulurkan gelas tersebut ke arah Bita.
"Minum dulu," ucap Ibra. Suaranya terdengar sangat pelan dan lembut di keheningan kamar.
Bita melotot, menaikkan dagunya tinggi-tinggi. "Gak butuh! Gue gak haus!"
"Jangan bohong," potong Ibra tenang, tatapannya tetap diturunkan ke arah gelas. "Dari siang kamu belum minum air putih sama sekali. Cuma minum sirup dua teguk di depan umum. Kerongkongan kamu bisa kering."
Bita tertegun. Kok dia bisa tahu detail banget sih? batinnya heran. Karena gengsinya terlalu tinggi, Bita langsung menyambar gelas itu dengan kasar.
Bita meneguk air itu hingga tandas. Begitu kosong, Ibra mengulurkan tangannya kembali untuk mengambil gelas tersebut. Ujung jemari mereka sempat bersentuhan selama satu detik, membuat Bita refleks menarik tangannya dengan cepat karena kaget.
Ibra meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas nakas. Bukannya pergi, pria itu justru melangkah maju, memutari ranjang, lalu memosisikan tubuh jangkungnya berdiri tepat di belakang punggung Bita.
Bayangan tubuh tegap Ibra seketika mengurung Bita. Bita yang merasa privasinya terancam langsung menegang dan mencoba berbalik badan. "Heh! Lo mau ngapain—"
"Diam," potong Ibra dengan bisikan yang sangat pelan namun sarat akan ketegasan yang tidak bisa dibantah.
"Gak mau! Minggir lo, jangan macem-macem ya! Gue pinter bela diri—"
"Saya bilang diam, Tsabita."
Suara Ibra kali ini terdengar lebih dalam, membuat Bita mendadak bungkam dan terkunci di tempatnya.
Melalui pantulan cermin besar di depan ranjang, Bita bisa melihat Ibra perlahan mengangkat kedua tangannya ke arah belakang kepala Bita. Jemari panjang Ibra yang hangat mulai bergerak menyentuh jilbabnya dengan sangat hati-hati.
"Peniti jilbab kamu menyangkut di serat kain brokat dan rambut," ucap Ibra dengan nada suara yang sangat adem dan luar biasa sabar. "Kalau kamu tarik paksa seperti tadi, nanti rambut kamu rontok dan kepala kamu sakit."
"L-lo... bisa pelan-pelan gak? Sakit tahu!" ketus Bita, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang mulai muncul akibat jarak mereka yang terlalu dekat.
"Ini sudah paling pelan," sahut Ibra lembut, tangannya dengan telaten mencabut satu per satu peniti dan jarum pentul dari kepala Bita. "Makanya, kalau tidak bisa melepaskan sendiri, jangan dipaksa. Kulit kepala kamu bisa luka."
Bita benar-benar membisu sekarang. Suasana kamar menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara helaan napas mereka yang saling bersahutan. Bita terus memperhatikan wajah Ibra dari cermin—wajah yang tetap terlihat begitu tenang, fokus, dan tidak banyak tingkah.
Setelah beberapa saat terjebak dalam keheningan yang intim itu, Bita akhirnya memberanikan diri untuk bersuara, memecah kecanggungan.
"Gue mau tanya," kata Bita, nadanya beralih agak serius.
"Tanya apa?" balas Ibra, tangannya masih sibuk melepaskan sisa jarum terakhir di bagian atas kepala Bita.
"Lo... beneran gak bakal ngadu ke bokap gue tentang kejadian malam itu di Senopati?" Bita melirik cermin, mencoba membaca ekspresi suaminya. "Gak bakal lo jadiin senjata buat bikin hidup gue menderita di sini?"
Gerakan tangan Ibra mendadak berhenti. Pria itu menurunkan tangannya setelah berhasil melepaskan seluruh peniti, membuat pashmina putih Bita akhirnya terurai bebas, menampilkan rambut hitam bergelombang milik Bita yang jatuh ke bahu.
Ibra perlahan memutari ranjang, lalu berdiri di samping Bita. Ia melipat kedua tangannya di dada, tatapannya tetap dijaga agar tidak menatap bagian tubuh Bita yang terbuka. Dan untuk pertama kalinya tatapan mereka beradu sangat intens.
"Untuk apa saya melakukan itu?" tanya Ibra balik, suaranya terdengar sangat tenang.
"Ya... mana tahu lo dendam gara-gara sepatu lo gue kotorin malam itu," tuduh Bita ketus.
Ibra perlahan mengembuskan napas pendek. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, membentuk senyuman misterius yang sangat menawan namun mematikan.
"Menyimpan aib orang lain itu adalah kewajiban sesama muslim," ucap Ibra, suaranya mengalun rendah namun sarat penekanan yang langsung menusuk tepat ke ulu hati Bita. "Apalagi sekarang kamu sudah sah menjadi istri saya. Menjaga nama baik kamu, berarti menjaga nama baik saya juga."
Bita melongo, kehilangan seluruh kata-kata sarkas yang biasanya meluncur bebas dari bibirnya.
Ibra sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda permisi. "Pakaian santai kamu sudah dipindahkan Umi ke dalam lemari kayu itu. Silakan bersih-bersih dan ganti baju. Saya tunggu di bawah untuk makan malam bersama."
Tanpa menunggu balasan dari Bita, Gus Ibra langsung berbalik badan dan melangkah tenang keluar dari kamar, menutup pintu dengan sangat halus.
Bita terpaku sendirian di tepi kasur, menatap pintu yang baru saja tertutup dengan jantung yang masih berdegup tidak karuan. Di hadapan ketenangan, kewibawaan, dan kelembutan pria ber-moge yang irit bicara itu, Tsabita Azzahra tahu... seluruh pertahanan egonya malam ini telah runtuh tak bersisa.