NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Jejak Perang

Matahari telah bergeser ke arah barat ketika tiga kereta logistik yang sebelumnya mereka kawal menghilang dari pandangan. Setelah seluruh muatan berhasil diserahkan kepada garnisun desa perbatasan, Regu Shugo Ryu memulai perjalanan kembali menuju Benteng Vargan. Jalan yang mereka lalui masih sama seperti saat berangkat, membelah padang rumput sebelum memasuki kawasan hutan yang memisahkan desa-desa kecil dari benteng perbatasan Green Continent. Langkah keempat anggota regu berjalan teratur mengikuti jalur yang telah mereka lalui beberapa jam sebelumnya, sementara angin sore bertiup pelan membawa aroma pepohonan dan tanah yang mulai mengering diterpa matahari.

Tidak banyak percakapan terdengar selama perjalanan.

Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.

Hector sesekali mengusap gagang kapak raksasa di punggungnya sambil memperhatikan keadaan sekitar. Melinda terus mengamati jejak-jejak yang tertinggal di tanah, kebiasaan yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Hana berjalan tidak jauh dari Ryosuke dengan membawa tas perlengkapan yang sejak pagi tidak pernah lepas dari pundaknya, sedangkan Ryosuke sendiri tetap memimpin rombongan di bagian depan tanpa mengendurkan kewaspadaan.

Meskipun misi pengawalan telah selesai, ia memahami bahwa perjalanan pulang tetap menyimpan risiko yang sama.

Keheningan itu akhirnya terpecahkan ketika Melinda tiba-tiba berhenti.

Ia mengangkat tangan memberi isyarat.

Ryosuke segera menghentikan langkahnya.

"Ada apa?"

Melinda menarik napas perlahan.

"Baunya berubah."

Hector mengernyit.

"Berubah?"

Melinda mengangguk pelan.

"Ada bau kayu terbakar."

Semua orang mulai memusatkan penciuman mereka.

Beberapa saat kemudian, samar-samar mereka juga mulai merasakan aroma asap yang terbawa angin dari arah barat laut.

Ryosuke mengalihkan pandangannya ke langit.

Di balik rimbunnya pepohonan tampak kepulan asap tipis yang membumbung ke udara.

"Asap." gumam Hana.

"Itu bukan dari perapian biasa."

Tidak ada seorang pun yang perlu mengucapkan dugaan mereka.

Ryosuke segera mengubah arah langkah menuju sumber asap.

Regu Shugo Ryu bergerak lebih cepat menembus hutan hingga pepohonan perlahan mulai terbuka.

Beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah dataran kecil.

Pemandangan yang terbentang di hadapan mereka membuat seluruh langkah terhenti.

Sebuah desa berdiri dalam keadaan nyaris rata dengan tanah.

Rumah-rumah kayu yang sebelumnya menjadi tempat tinggal penduduk kini hanya menyisakan rangka hitam yang masih mengeluarkan asap tipis. Atap-atap yang runtuh berserakan memenuhi jalan desa, pagar-pagar kayu hancur berantakan, sementara berbagai peralatan rumah tangga tampak tercecer di mana-mana seolah para pemiliknya tidak sempat menyelamatkan apa pun ketika bencana datang.

Suasana desa begitu sunyi.

Tidak terdengar suara anak-anak.

Tidak terdengar percakapan.

Hanya suara kayu yang sesekali masih runtuh karena sisa bara api.

Hana menutup mulutnya perlahan.

"Ini..."

Ryosuke memandang keadaan di sekeliling tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pemandangan itu mengingatkannya pada desa tempat ia dilahirkan.

Rumah-rumah yang hancur.

Jalan yang dipenuhi puing.

Kesunyian yang muncul setelah semuanya berakhir.

Kenangan yang selama ini berusaha ia kubur kembali muncul dengan begitu jelas di hadapan matanya.

Hector mengepalkan tangannya.

"Waktu kami kehilangan desa..."

"Keadaannya juga seperti ini."

Melinda menundukkan kepala.

Matanya menyapu setiap sudut desa yang telah berubah menjadi puing-puing.

Ryosuke menarik napas panjang sebelum berbicara.

"Kita periksa."

"Mungkin masih ada yang selamat."

Tanpa membuang waktu, keempat anggota regu segera berpencar.

Ryosuke bergerak menyusuri jalan utama desa sambil memeriksa setiap rumah yang masih mungkin dimasuki. Hana memeriksa bangunan-bangunan yang tidak terbakar sepenuhnya. Hector mulai mengangkat balok-balok kayu besar yang menutupi pintu beberapa rumah, sementara Melinda memanfaatkan pendengarannya untuk mencari suara sekecil apa pun di antara reruntuhan.

Beberapa menit berlalu.

Tidak ada siapa pun.

Hanya kesunyian.

Ketika Ryosuke hendak berbalik menuju rumah berikutnya, telinganya menangkap suara yang sangat pelan.

Bukan suara kayu.

Bukan pula suara angin.

Melainkan suara seseorang yang sedang berusaha menahan rasa sakit.

Ia segera berlari menuju arah datangnya suara.

Di samping sebuah rumah yang runtuh, tampak tumpukan balok kayu menimpa sebagian dinding yang telah roboh.

"Hector!" teriak Ryosuke.

Hector segera datang berlari.

"Ada korban?"

Ryosuke mengangguk.

"Aku mendengar suara."

Tanpa menunggu lagi, Hector menyelipkan kedua tangannya ke bawah balok kayu terbesar.

Otot-otot di lengannya menegang ketika ia mulai mengangkat beban berat tersebut.

Balok itu perlahan bergeser.

Ryosuke dan Hana segera membantu menyingkirkan puing-puing yang lebih kecil.

Melinda mengawasi keadaan sekitar, memastikan tidak ada bahaya lain yang mendekat.

Setelah beberapa saat bekerja tanpa henti, sebuah celah akhirnya terbuka.

Dari balik reruntuhan terdengar batuk pelan.

Masih ada seseorang yang hidup.

Ryosuke segera berlutut di depan celah sempit yang baru terbuka di antara reruntuhan rumah. Cahaya matahari sore yang mulai condong ke barat menembus sela-sela balok kayu yang patah, memperlihatkan sosok seseorang yang masih terjebak di bawah sisa bangunan. Napasnya terdengar berat, sementara debu memenuhi pakaian dan wajahnya hingga hampir tidak mungkin dikenali.

"Hana."

panggil Ryosuke singkat.

Hana segera berlutut di sampingnya.

"Aku di sini."

" Dia Masih hidup."

Hana menganggukkan kepala, lalu memeriksa keadaan orang tersebut secepat mungkin tanpa memindahkannya secara paksa. Ia memastikan tidak ada balok lain yang berisiko runtuh sebelum memberikan pertolongan.

"Hector."

"Kita harus mengangkat balok yang menahan bagian atas."

Hector langsung mengambil posisi.

Dengan kedua tangannya, ia menggenggam balok kayu besar yang masih menekan reruntuhan. Otot-otot lengannya kembali menegang ketika ia mengangkat perlahan agar susunan puing tidak kembali runtuh.

"Ryosuke!"

"Sekarang!"

Ryosuke dan Hana segera menarik korban keluar melalui celah yang telah terbuka.

Beberapa saat kemudian tubuh itu berhasil dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Korban langsung terbatuk hebat, menghirup udara sebanyak mungkin setelah sekian lama terjebak di bawah reruntuhan.

"Tenang." ucap Hana lembut.

"Kau sudah selamat."

Ia segera membersihkan luka-luka ringan yang terlihat di lengan dan dahi korban, kemudian membalutnya menggunakan kain bersih yang dibawanya sejak berangkat dari barak.

Sementara Hana memberikan pertolongan pertama, Ryosuke kembali memandang ke arah desa.

"Asal suara tadi hanya satu." gumamnya pelan.

Namun ia belum ingin mengambil kesimpulan.

"Kita periksa seluruh desa."

Ketiga anggota lainnya menganggukkan kepala.

Mereka kembali berpencar.

Hector memeriksa rumah-rumah yang roboh di sisi utara desa, menggunakan tenaganya untuk memindahkan balok-balok besar yang menghalangi jalan. Melinda menyusuri bagian timur, mencari jejak siapa pun yang mungkin berhasil melarikan diri ke arah hutan. Ryosuke bergerak menuju bagian barat desa, sedangkan Hana tetap berada di dekat korban sambil sesekali memanggil apabila mendengar suara balasan dari reruntuhan lain.

Waktu berlalu.

Matahari semakin rendah.

Setelah memeriksa hampir seluruh bangunan, mereka kembali berkumpul di jalan utama desa.

Melinda menggeleng pelan.

"Aku tidak menemukan jejak penyintas lain."

Hector mengembuskan napas panjang.

"Rumah-rumah di sisi utara juga kosong."

Ryosuke memandang keadaan di sekeliling.

Kesunyian yang menyelimuti desa itu terasa jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Puing-puing rumah, pagar yang hancur, dan sisa-sisa kehidupan yang ditinggalkan begitu saja menjadi saksi bisu bahwa perang telah merenggut hampir seluruh penduduknya.

Hana berdiri setelah memastikan kondisi korban mulai stabil.

"Lukanya tidak mengancam nyawa."

"Tetapi tubuhnya sangat lemah."

"Ia membutuhkan makanan, air, dan tempat beristirahat."

Ryosuke menganggukkan kepala.

"Kita bawa kembali ke barak."

Tidak ada yang membantah.

Meninggalkan seseorang yang selamat sendirian di desa yang telah hancur bukanlah pilihan.

Hector kemudian berjongkok di depan korban.

"Naiklah."

"Aku akan membawamu."

Korban itu berusaha berbicara, tetapi suaranya masih terlalu lemah hingga tidak terdengar jelas. Ia hanya mampu menganggukkan kepala perlahan sebagai jawaban.

Dengan hati-hati Hector mengangkatnya ke punggung.

Setelah memastikan semuanya siap, Regu Shugo Ryu meninggalkan desa tersebut.

Tidak seorang pun menoleh ke belakang.

Namun bayangan desa yang telah berubah menjadi lautan puing terus memenuhi pikiran mereka sepanjang perjalanan.

Hana memecah keheningan setelah beberapa lama berjalan.

"Semakin banyak desa yang menjadi korban."

Melinda menundukkan pandangan.

"Kalau perang terus berlanjut..."

"...akan semakin banyak orang kehilangan rumah."

Ryosuke tidak segera menjawab.

Langkahnya tetap mantap menyusuri jalan menuju Benteng Vargan.

Di dalam hatinya, ia memahami bahwa desa yang baru saja mereka tinggalkan bukanlah yang pertama, dan kemungkinan besar juga bukan yang terakhir. Empire Krusador terus memperluas pengaruhnya melalui peperangan, meninggalkan kehancuran di setiap wilayah yang mereka lalui.

Regu Shugo Ryu memang berhasil menyelamatkan satu nyawa hari itu.

Namun kenyataan yang mereka saksikan membuat Ryosuke semakin menyadari bahwa mengayunkan pedang untuk memenangkan satu pertempuran saja tidak akan pernah cukup untuk menghentikan penderitaan yang terus meluas di Green Continent.

Menjelang matahari tenggelam, siluet Benteng Vargan akhirnya kembali terlihat di kejauhan.

Dengan seorang penyintas yang mereka bawa bersama, Regu Shugo Ryu melanjutkan langkah menuju barak, tanpa mengetahui bahwa orang yang baru saja mereka selamatkan akan menjadi awal dari pertemuan yang mengubah perjalanan mereka pada bab berikutnya.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!