Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter tampan
Sudah hampir setengah jam Alya izin ke kamar mandi tetapi tidak kunjung kembali. Bahkan taksi yang Sena pesan telah tiba beberapa menit lalu.
Gadis itu mulai gusar, apalagi sejak pagi wajah atasannya terlihat pucat tetapi memaksakan untuk bekerja.
"Pak tunggu sebentar ya, saya mau panggil teman dulu," ujar Sena tidak enak.
Dia berlari memasuki lobi hotel tempatnya bertemu klien tadi. Mencari letak toilet yang lumayan tersembunyi.
"Mbak Alya!" panggil Sena setelah berada di kamar mandi. Dia mendorong semua pintu dan pintu kamar mandi paling pojok terkunci.
"Mbak!" Ia mengendor dan tidak mendapatkan sahutan apapun. Demi memastikan dia menelepon Alya dan ponsel itu berbunyi di balik pintu toilet.
"Oh Tuhan apa yang terjadi padanya." Sena mengigit bibir bawahnya. Dia keluar, mencari bantuan untuk mendobrak pintu.
Berhasil. Dan dia melihat betapa pucat wajah Alya yang terduduk di lantai kamar mandi.
"D-darah." Sena menutup mulutnya melihat darah di antara paha Alya. Ia semakin panik, meminta tolong pada penjaga agar menelepon ambulance.
***
Sena duduk di bibir ranjang UGD. Menahan hasratnya untuk menghubungi Adrian tentang kondisi Alya saat ini. Apalagi dokter terus mencari suami pasien untuk menjelaskan kondisi kehamilan Alya yang sangat rentang keguguran.
"Nggak, ini bukan urusanku. Mbak Alya menderita karena pak Adrian," guman Sena yang memutuskan untuk tidak menghubungi Adrian atau siapapun itu sampai pemilik tubuh sadar.
"Sudah dihubungi keluarganya? Atau perlu saya saja?" tanya dokter tampan yang sudah berulang kali mendatangi brankar. "Kebetulan saya mengenal keluarga suami pasien."
"Ja-jangan hubungi siapapun sampai orangnya sadar dokter. Jika terjadi sesuatu saya yang bertanggung jawab," ujar Sena sedikit gugup.
"Kamu tahu kan keluarga suami pasien bagaimana? Hidupmu bisa menderita jika tahu calon cucu pertama mereka kenapa-napa."
"Saya tahu." Sena mengangguk meski sangat takut.
Dokter itu berlalu tanpa mendesak untuk menghubungi keluarga dari pihak suami Alya.
"Cucu pertama apanya, orang ada wanita hamil di rumah suami mbak Alya," gerutu Sena yang setia duduk samping brankar Alya.
Dia sangat antusias ketika melihat kelopak mata Alya bergerak pelan dan akhirnya terbuka.
"Akhirya mbak bangun juga, saya khawatir banget," ucapnya dengan napas lega.
Alya hanya tersenyum tipis dan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Seingatnya dia ada di kamar mandi hotel, saat itu perutnya terasa sakit dan yang paling mengejutkan dia melihat cairan merah dari pangkal pahanya sebelum tidak sadarkan diri.
Wanita itu menatap takut-takut pada asistennya, tangannya bergerak mengenggam jemari Sena. "Kandunganku baik-baik saja kan?" lirihnya.
Kening Sena mengerut. "Jadi mbak tahu kalau sedang hamil?"
"Nggak, tapi melihat darah di kamar mandi aku yakin sedang hamil. Sena jawab yang jujur kandunganku baik-baik saja kan?"
Sena mengeleng pelan. "Kata dokternya kandungan mbak sangat rentang. Harus istirahat total dan rajin makan makanan yang bergizi."
"Tadi dokter menyarankan untuk menghubungi keluarga pak Adrian. Dokter itu mengenal mbak."
Alya terdiam
"Tapi saya bilang jangan dulu, tunggu mbak bangun, keputusannya bagaimana."
"Bisa minta tolong dokternya dipanggil?" tanya Alya dan dijawab anggukan oleh Sena.
Gadis itu pergi dan beberapa menit kemudian kembali dengan dokter tampan yang selalu datang untuk memastikan keadaan Alya.
"Saya selalu ingin bertemu dengan kamu, eh sekalinya ketemu malah jadi pasien," ucap dokternya ramah.
"Sepertinya Adrina banyak cerita tentang saya." Alya tersenyum pada kekasih mantan adik iparnya. Dokter yang selalu Adrina bicarakan entah sedang bahagia atau pun bertengkar.
"Benar." Dokter itu mengangguk.
"Tapi apa boleh saya minta tolong agar keberadaan saya hari ini nggak diceritakan pada Adrina?"
Kening dokter tampan itu mengerut.
"Sa-saya ingin memberi kejutan pada mereka." Sebenarnya Alya tidak ingin berbohong, tetapi ini jalan satu-satunya agar tidak ada yang tahu bahwa dia sedang hamil.
"Bisa, semoga kejutannya berjalan lancar." Dokter tampan yang bertugas di UGD itu mengangguk. "Semua kondisi mendisnya sudah saya jelaskan kepada mbak Sena."
"Terimakasih."
***
Alya keluar dari rumah sakit setelah dirawat tiga hari, dan selama itu pun tidak ada yang tahu kondisi dan kehamilannya selain Sena.
"Mbak beneran nggak mau ngasih tau ibu?" tanya Sena memastikan.
"Menurutmu ibu aku harus tahu Na? Ibu bukan orang yang bisa tenang kalau tahu ada yang menyakiti putrinya."
"Saat tahu aku hamil, ibu akan mengamuk. Mungkin saja mendatangi mas Adrian dan meminta pertanggung jawabannya. Padahal aku berusaha agar keluarga suamiku nggak tahu apapun."
"Maaf mbak karena lancang." Akhirnya Sena tidak lagi bicara.
Anehnya, setelah tahu bahwa dirinya sedang hamil, Alya jauh lebih peduli pada hidupnya. Makan teratur, membeli makanan bergizi dan latihan fisik. Bahkan Alya menyuruh agar Sena tidak mengambil jadwal apapun lagi. Hanya menyelesaikan yang sudah diterima saja.
"Sena, sepertinya aku akan benar-benar hiatus dari pekerjaanku sampai bayiku lahir. Maaf, tapi kamu bisa mencari pekerjaan lain," ujar Alya secara tiba-tiba.
"Aku mengerti Mbak, tapi apa bisa aku tetap sama mbak?"
"Kalau nggak ambil job bagaimana aku ngasih kamu upah Sena? Kamu ini ada-ada saja." Alya tertawa.
"Maksudnya aku tetap tinggal sama mbak. Ikut kemanapun mbak pergi, nanti cari kerjanya sambil menemani mbak di masa-masa kehamilan."
Kelopak mata Alya mengerjap pelan, menatap Sena dengan tatapan haru dan tidak percaya. Dari banyaknya orang yang meninggalkannya, hanya Sena yang tetap bertahan meski tidak ada ikatan darah sedikitpun.
"Aku hidup sebatang kara dan selama ini hanya berteman sama mbak."
"Baiklah kalau itu mau kamu." Alya menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk Alya yang kini duduk di bibir ranjangnya. "Terimakasih Sena karena selalu ada untuk saya. Dulunya saya mengira perhatian dan kepatuhanmu hanya karena gaji yang diberikan oleh mas Adrian yang bisa dibilang diluar akal sehatku," lirihnya.
"Sama-sama Mbak." Sena tersenyum dan membalas pelukan Alya tidak kalah eratnya.
Dan pelukan itu harus terlerai karena ketukan pintu kamar.
Sena langsung beranjak dan mengintip. Mulutya terbuka lebar melihat Adrian ada di depan kamarnya, mengetuk berulang kali.
"Siapa?" tanya Alya.
"Pak Adrian, Mbak."
"Ya sudah temui saja, takut menganganggu penghuni lain kalau mengetuk terus."
Sena mengangguk dan segera keluar dari kamar Alya. Berjalan mendekati Adrian yang fokus pada pintunya.
"Ada apa pak Adrian datang malam-malam seperti ini?" tanya Sena.
"Saya dengar kalau Alya beberapa hari lalu dirawat di rumah sakit dan selalu bersamamu. Di mana dia sekarang Sena?"
"Saya nggak tahu Pak."
"Jangan bohong kamu. Saya bisa melaporkan kamu ke pihak berwajib karena berusaha menyembunyikan istri saya."
.
.
.
Alya beneran hamil dong, gimana ya kalau Adrian atau keluarganya tau🙂
Vote kalian belum hilang kan? 👉👈. Jangan lupa meninggalkan jejak
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya