Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Dengan tergesa-gesa, Antonio merapikan rambutnya di pantulan layar monitor yang mati, mengambil draf laporan lapangan yang ia kebut semalam, lalu melangkah menuju ruang rapat utama.
Di dalam ruang rapat yang sejuk dan luas, Grizla sudah duduk di kursi pimpinan. Hari ini ia tampil tak kalah misterius; mengenakan setelan blazer bold burgundy dengan kacamata hitam berbingkai emas yang senada, serta syal sutra yang menutupi sebagian leher hingga dagunya. Di sebelahnya, Boni duduk dengan laptop yang sudah terbuka, menampilkan grafik perkembangan proyek.
Tok! Tok!
Pintu terbuka, dan Antonio melangkah masuk dengan senyum yang dipaksakan seprofesional mungkin.
"Selamat pagi, Nyonya G. Selamat pagi, Bu Siska... dan Boni," sapa Antonio, sengaja tidak menyebut Boni dengan panggilan 'Pak' demi menjaga harga dirinya yang tersisa.
Grizla tidak menjawab, ia hanya mengetukkan pena mahalnya ke atas meja kaca, memberikan isyarat kepada Boni untuk memulai.
"Silakan duduk, Antonio," ujar Boni tenang, menunjuk kursi kosong di ujung meja yang paling jauh dari posisi Nyonya G. "Kita langsung saja. Nyonya G ingin melihat hasil survei kelayakan lahan di distrik barat yang Anda kerjakan kemarin sore setelah pulang kantor."
Antonio segera membuka mapnya dengan percaya diri. "Tentu. Berdasarkan analisis saya di lapangan, lahan distrik barat sangat siap untuk dieksekusi. Struktur tanahnya kokoh, dan saya sudah menegosiasikan potongan harga sebesar lima persen dengan mandor lokal di sana. Saya yakin, di bawah arahan saya, perusahaan bisa menghemat ratusan juta."
Antonio melirik ke arah Nyonya G, berharap wanita berkuasa itu akan terkesan dengan efisiensi kerja yang ia tawarkan.
Namun, ruangan itu justru mendadak senyap. Siska yang berdiri di belakang Grizla tampak menahan tawa, sementara Boni hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menggeser sebuah dokumen ke tengah meja.
"Potongan harga lima persen, Antonio?" Boni bertanya dengan nada menyindir. "Apakah Anda benar-benar turun ke lapangan, atau Anda hanya menyalin data lama dari internet sambil bersantai di kafe?"
Wajah Antonio seketika menegang. "Apa maksudmu, Boni?! Saya sendiri yang datang ke sana! Jangan asal menuduh!"
"Kalau Anda benar-benar datang ke sana dan memeriksa dokumen terbaru," Boni mengetuk layar laptopnya, menampilkan sebuah surat keputusan pemerintah daerah, "Anda pasti tahu bahwa lahan di distrik barat itu sudah dinyatakan sebagai kawasan jalur hijau oleh pemda sejak tiga hari lalu. Proyek apa pun tidak boleh dibangun di sana. Mandor lokal yang Anda temui itu adalah penipu yang mencoba memeras dana taktis perusahaan!"
Zasss!
Bagai disambar petir di siang bolong, seluruh pasokan udara di paru-paru Antonio rasanya menguap seketika. Wajahnya memucat, berganti menjadi abu-abu. Tubuhnya gemetar hebat.
"I-itu... itu tidak mungkin..." gagap Antonio, keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. "Saya... saya rasa ada kesalahan data dari pihak pemda..."
"Cukup, Antonio."
Satu suara rendah, dingin, dan sarat akan otoritas memotong pembelaannya. Itu suara Nyonya G.
Grizla memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja, tepat di hadapan Antonio yang kini tampak seperti tikus basah.
Dari balik kacamata hitamnya, mata Grizla menatap tajam, menikmati setiap detik kehancuran mental suaminya.
"Ternyata, kemampuan yang Anda agung-agungkan semalam...maksud saya, yang Anda sombongkan selama ini... hanya sebatas ini, Pak Antonio?" tanya Grizla dengan tersenyum sinis.
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..