Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 | TERUNGKAP
Pesawat mendarat di landasan pacu pribadi dengan dentuman yang terasa seperti detak jantung yang terhenti. Sepanjang perjalanan turun dari tangga pesawat hingga masuk ke dalam mobil limousine hitam yang sudah menunggu, Dante tidak mengeluarkan satu kata pun. Suasana di dalam mobil itu begitu mencekam, seolah oksigen di dalamnya telah habis diserap oleh amarah yang tertahan di balik rahang Dante yang terkunci rapat.
Elara hanya bisa menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela yang gelap. Gaun merah yang dikenakannya kini terasa seperti kostum untuk sebuah eksekusi.
"Ke mana kita?" Elara memecah keheningan, suaranya terdengar terlalu nyaring di tengah kesunyian yang tegang.
Dante bahkan tidak menoleh. Matanya menatap lurus ke depan, pupil matanya yang hitam legam tampak seperti jurang yang tak berdasar. "Ke propertiku. Dan jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, Elara. Tokyo bukan tempat di mana kau bisa bermain petak umpet denganku."
Elara mengepalkan tangannya di balik tas kecil yang ia bawa. Ia teringat bahwa ia tidak membawa senjata apa pun. "Aku butuh perlengkapan. Kau tahu ini wilayah asing bagiku. Berikan aku pistol."
Dante menatapnya dengan seringai yang merendahkan. Ia menekan tombol di samping kursinya, membuat kompartemen tersembunyi di bawah jok terbuka. Di dalamnya terdapat senjata-senjata kelas militer dengan pelapis peredam suara.
"Pilih," perintah Dante dingin.
Elara meraih pistol Glock 19 yang ringkas, merasakan bobot besi dingin itu memberikan kenyamanan yang aneh di tangannya. Ia mengokangnya dengan satu gerakan efisien sebelum menyelipkannya ke balik paha gaun merahnya tempat yang tak akan terpikirkan oleh siapapun.
"Kita menuju ke hotel milikmu di Distrik Minato?" tanya Elara, berusaha menetralkan nada bicaranya.
Dante akhirnya menoleh, menatap Elara dengan tatapan yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. " Itu bukan sekadar hotel. Itu adalah benteng yang menampung rahasia-rahasia kotor keluarga Moretti. Dan malam ini, kau akan menjadi saksi bagaimana aku membersihkan tumpukan sampah yang menghalangi jalanku."
Mobil berbelok tajam memasuki pelataran gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, arsitekturnya terlihat megah namun sekaligus mengintimidasi. Begitu pintu mobil terbuka, penjaga hotel dengan setelan jas hitam segera membungkuk dalam-dalam.
Dante turun lebih dulu, lalu berbalik memberikan tangannya kepada Elara. Tatapan Dante kini berubah, bukan lagi kemarahan yang meluap-luap, melainkan sebuah kepemilikan yang dingin dan absolut.
" Selamat datang di tempat di mana tidak ada aturan CIA yang berlaku," bisik Dante saat Elara meraih tangannya. "Di sini, aku adalah hukumnya. Dan kau, Elara Vanderbilt, baru saja menandatangani kontrak seumur hidup dengan iblis."
Elara melangkah keluar dari mobil, merasakan angin malam Tokyo yang dingin menerpa wajahnya. Ia sadar, ia tidak sedang dibawa ke sebuah hotel untuk urusan bisnis. Ia sedang dibawa masuk ke dalam pusat badai yang akan menentukan apakah ia akan berakhir sebagai pemenang atau sebagai tumbal dalam perang yang tidak ia mengerti ini.
Langkah Elara terhenti di depan pintu besar berlapis emas di lantai tiga. Begitu pintu terbuka, dentuman musik klasik dan aroma parfum mahal menyambut mereka. Pesta ini bukan sekadar perayaan; ini adalah pameran kekuasaan.
"Anniversary ke-19 kerajaan bisnis Moretti," bisik Dante dingin.
Elara menatap Dante dengan tajam. "Kau membawaku ke sarang singa hanya untuk memamerkan kekayaanmu? Di mana wanita yang seharusnya mendampingimu?"
Dante mencengkeram lengan Elara, matanya menatap tajam ke dalam iris Elara. "Jangan pernah sebut nama itu di depanku. Mind your own business, atau aku akan memastikan kau tidak pernah melihat cahaya pagi lagi."
Sebelum Elara sempat membalas, sebuah suara berat menghentikan mereka. Seorang pria tua dengan tatapan predator, Alaric Moretti, berdiri di sana, diikuti oleh Franco ayah Dante yang tampak dingin dan tak tersentuh.
" Kau datang, Dante," suara Alaric menggema, sarat akan otoritas. Matanya jatuh ke arah Elara. "Dan siapa wanita malang yang kau seret ke sini?"
"Dia hanya bawahan, Kakek," jawab Dante singkat.
"Bawahan?" Franco mencibir, menatap Elara dengan tatapan meremehkan.
"Sepertinya kau lupa cara memilih pendamping, Dante. Wanita ini bahkan tidak pantas berdiri di dekat keluarga Moretti."
Dante hanya menatap Franco dengan kebencian yang mematikan. "Aku tidak butuh pelajaran darimu, Ayah Apalagi dari seseorang yang menukar nyawa ibu kandungku demi memuluskan jalan bisnisnya."
Suasana mendadak hening. Alaric Moretti maju selangkah. Dengan kecepatan yang mengejutkan untuk pria setua itu, ia melayangkan tamparan telak ke wajah Dante.
PLAK
Suara itu bergema ke seluruh ruangan. Dante terhuyung, namun ia tidak melawan. Ia hanya membuang muka, rahangnya mengetat hingga memutih.
"Berani-beraninya kau bicara seperti itu pada ayahmu!" bentak Alaric. "Kau hanyalah alat, Dante! Tanpa keluarga Moretti, kau hanyalah bangkai di jalanan!"
Elara, yang selama ini diam, merasakan amarah yang membakar jiwanya. Ia tidak tahan melihat Dante pria yang baru saja ia sadari memiliki luka masa lalu yang begitu dalam dihina habis-habisan.
"Anda salah," suara Elara memecah ketegangan. Ia melangkah maju, berdiri tepat di antara Dante dan kakeknya.
" Menindas seseorang yang kehilangan segalanya tidak membuat Anda terlihat kuat. Itu hanya membuktikan bahwa keluarga ini tidak memiliki martabat. Anda menyebut Dante lemah? Padahal kenyataannya, dialah satu-satunya yang masih punya nurani di ruangan penuh bangkai ini."
Alaric menatap Elara dengan tatapan yang bisa membunuh. Namun, sebelum ia bisa membalas, Dante menarik Elara dengan kasar dan menyeretnya keluar dari aula menuju ruangan VIP.
Begitu pintu tertutup, Dante membanting Elara ke dinding, matanya berkilat kemarahan. " Siapa yang memintamu membela diriku?! Kau gila? Mereka bisa saja membunuhmu saat itu juga!"
Elara tidak gentar. "Aku tidak butuh Perlindunganmu. Aku hanya muak melihat mereka!"
Dante terdiam, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Tiba-tiba, ia meninju dinding tepat di samping kepala Elara, menciptakan retakan pada tembok. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan pergi, meninggalkan Elara dalam kesunyian yang mencekam.
Elara berdiri mematung di sana hingga ia mendengar suara pintu terbuka. Ia segera bersembunyi di balik sofa saat melihat Alaric masuk, sibuk menelepon seseorang.
"Ya, aku tahu sudah mulai curiga. Tapi dia tidak akan pernah tahu kebenarannya," suara Alaric terdengar berat. "Soal pembunuhan Eleanor Vanderbilt pastikan dokumennya tetap terkubur. Agen CIA itu nenek si Elara adalah ancaman terbesar. Pastikan tidak ada yang tahu bahwa akulah yang memerintahkan eksekusi itu."
Dunia Elara seakan berhenti berputar. Napasnya tercekat di tenggorokan. Neneknya
Jadi, bukan Dante yang membunuh neneknya, tapi kakeknya sendiri? Dan kakek Dante adalah dalang di balik semua kehancuran keluarganya?
●●●●