seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 20
Kevin tidak langsung menjawab. Dia meletakkan kain lapnya di atas etalase gerobak stainless-steel, lalu menatap pria paruh baya berbatik sutra itu dengan pandangan tenang.
Berkat Indra Pengecap Tingkat Dewa yang juga mempertajam kepekaan sensoriknya, Kevin bisa merasakan aura kepemimpinan yang sangat kuat dari pria ini.
Pin emas di dadanya menunjukkan logo resmi Pemerintah Kota Depok bukan pin sembarangan, melainkan pin kedinasan tingkat tinggi.
"Betul, Pak. Saya Kevin."
"Ada yang bisa saya bantu malam-malam begini? Sayangnya nasi goreng saya sudah hampir habis,"
jawab Kevin sopan, tetap menjaga karisma tenangnya.
Pria paruh baya itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh wibawa namun ramah.
Dia melangkah mendekat ke gerobak, sementara dua ajudannya yang berbadan tegap tetap berjaga dengan sigap di dekat pintu Toyota Alphard.
"Perkenalkan, saya Mohammad Idris, Walikota Depok," ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya hangat.
Kevin sedikit terkejut, namun dengan cepat menguasai keadaan dan menjabat tangan sang Walikota.
Gila, Sistem. Baru minggu ketiga jualan nasgor di warkop, yang dateng langsung orang nomor satu di Depok! batin Kevin geleng-geleng kepala.
"Ajudan saya bercerita kalau di kawasan GDC ada fenomena kuliner luar biasa yang bikin warga rela mengantre berjam-jam."
"Katanya rasanya bisa memanipulasi perasaan menjadi sangat bahagia,"
lanjut Pak Walikota sembari melirik papan nama 'Nasi Goreng Lidah Dewa'.
"Kebetulan, malam ini kami baru saja menyelesaikan rapat koordinasi anggaran yang sangat melelahkan di Balaikota hingga tengah malam."
"Saya dan para staf dinas benar-benar kelaparan dan butuh sesuatu yang bisa menyegarkan pikiran."
Pak Walikota menunjuk ke arah sisa nasi di dalam wadah gerobak Kevin.
"Apakah masih cukup untuk sebelas porsi, Nak Kevin? Kami butuh tepat sebelas porsi untuk dibawa ke pendopo."
Ding!
[Mendeteksi Permintaan Pelanggan VIP!]
[Jumlah Pesanan: 11 Porsi Nasi Goreng.]
[Sisa Kuota Misi Utama: 11 Porsi!]
[Pemberitahuan: Ini adalah hidangan final untuk menutup profesi Chef Nasi Goreng Lidah Dewa. Sistem menyarankan Pengguna untuk mengeluarkan seluruh kemampuan tersembunyi demi menciptakan 'Mahakarya Kuliner Protokoler'!]
Kevin tersenyum lebar, matanya berkilat penuh semangat.
"Pas sekali, Pak Walikota. Sisa nasi dan bahan baku saya malam ini memang tepat tinggal sebelas porsi."
"Silakan ditunggu, saya akan buatkan yang terbaik khusus untuk Bapak dan para staf."
"Terima kasih, Nak Kevin."
"Buatlah dengan santai, kami akan menunggu di mobil," kata Pak Walikota, tampak sangat menghargai keramahan Kevin.
Begitu Pak Walikota kembali ke dalam Alphard, Kevin langsung menarik napas dalam-dalam.
Dia mengikat kembali tali celemeknya, lalu memutar keran tabung gas hingga api biru besar menyala memanaskan wajan pusakanya.
Nabila, yang sejak tadi mengintip dari balik pintu warkop dengan mulut setengah terbuka karena syok melihat sosok Walikota, perlahan berjalan mendekati Kevin dengan langkah gemetaran.
"K-Kak Kevin... itu tadi beneran Pak Wali? Kakak gak salah liat?" bisiknya panik.
"Beneran, Nab. Makanya, Mas butuh bantuan kamu sekarang."
"Tolong siapin sebelas kotak sterofoam dan karetnya ya."
"Ini pertempuran terakhir kita malam ini," ujar Kevin penuh keyakinan.
Nabila mengangguk cepat, rasa paniknya langsung menguap berganti dengan semangat untuk mendukung Kevin.
Kevin mulai beraksi. Untuk sebelas porsi terakhir ini, Kevin mengombinasikan seluruh Resep Rahasia Kuliner Surgawi yang dimilikinya.
Dia memecahkan belasan butir telur ayam organik sekaligus ke dalam wajan dengan kecepatan tangan yang luar biasa.
Potongan daging ayam pilihan, bakso, dan sosis premium yang disediakan Sistem dimasukkan dengan presisi dewa.
SREEEKKK! WUSH!
Kevin mengayunkan wajan besarnya ke atas dan ke bawah.
Untuk pertama kalinya, Kevin menggunakan kekuatan Kecepatan Tangan Pengocok Wajan pada tingkat seratus persen.
Gerakan tangannya begitu cepat hingga menciptakan ilusi visual seolah-olah ada tiga sutil yang sedang mengaduk nasi secara bersamaan di dalam wajan.
Aroma gurih yang keluar kali ini jauh lebih dahsyat dari malam-malam sebelumnya.
Aroma rempah nusantara yang hangat, berpadu dengan wangi asap pembakaran wajan (wok hei) yang sempurna, langsung menyerbu keluar dari area warkop, bahkan menembus kaca mobil Alphard yang tertutup rapat.
Kedua ajudan yang berjaga di luar mobil langsung menelan ludah serentak, perut mereka yang tadinya hanya keroncongan kecil kini berbunyi sangat nyaring.
Di dalam mobil, Pak Walikota sendiri sampai menurunkan kaca jendela mobilnya, menghirup aroma magis tersebut dengan mata terpejam.
"Luar biasa... aroma ini benar-benar bisa menghilangkan stres," gumam beliau takjub.
Dalam waktu tepat lima menit, sebelas porsi nasi goreng selesai dimasak dengan kematangan dan distribusi bumbu yang sangat merata.
Nabila dengan cekatan memasukkan setiap porsi ke dalam kotak, lengkap dengan acar segar dan kerupuk udang pilihan.
"Selesai, Pak. Sebelas porsi Nasi Goreng Lidah Dewa siap disajikan,"
kata Kevin sambil menyerahkan dua kantong besar berisi kotak makanan kepada ajudan yang mendekat.
Pak Walikota kembali turun dari mobil, menghampiri Kevin dengan dompet di tangannya.
"Berapa semuanya, Nak Kevin?"
"Sesuai harga warkop saja, Pak. Dua puluh ribu per porsi, jadi totalnya dua ratus dua puluh ribu rupiah,"
jawab Kevin jujur tanpa berniat menaikkan harga meskipun pembelinya adalah pejabat negara.
Pak Walikota tertegun melihat kejujuran dan kesederhanaan Kevin, padahal dengan rasa sewangi ini, Kevin berhak mematok harga ratusan ribu per porsi.
Beliau mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan, lalu menyerahkannya kepada Kevin.
"Ambil kembaliannya, Nak Kevin. Anggap saja ini apresiasi dari Pemerintah Kota untuk UMKM kuliner sekualitas bintang lima seperti ini."
"Terima kasih banyak, Pak Walikota. Semoga berkah dan bisa memulihkan stamina setelah lelah rapat," balas Kevin tersenyum.
Begitu mobil Alphard itu perlahan melaju pergi meninggalkan pelataran warkop, sebuah suara digital yang sangat familier dan dinantikan langsung berdengung riang di dalam kepala Kevin.
Ding!
[PROGRES MISI UTAMA: 500/500 PORSI TERJUAL!]
[MISI PROFESI MINGGU 3: CHEF NASI GORENG LIDAH DEWA RESMI SELESAI DENGAN EVALUASI SEMPURNA (S-GRADE)!]
[Menghitung Hadiah...]
Aset Permanen: Sertifikat Digital Mutlak 1 Unit Vila Mewah di Puncak Bogor (Hak Milik Atas Nama Kevin Wijaya) telah dikirimkan ke dalam Inventori Sistem.
Kemampuan Permanen yang Dipertahankan: Indra Pengecap Tingkat Dewa dan Kecepatan Tangan Pengocok Wajan.
Score Harem Global: Meningkat drastis! Kedekatan dengan Nabila mencapai level 'Saling Percaya'.
Kevin menghela napas panjang, bersandar di gerobaknya dengan perasaan lega yang luar biasa.
Beban berat di pundaknya serasa terangkat total.
Dia menoleh ke arah Nabila yang sedang menghitung lembaran uang hasil jualan mereka malam ini dengan wajah gembira.
"Kita kaya, Kak Kevin! Malam ini omzet kita tembus target!" seru Nabila riang, melompat kecil mendekati Kevin.
"Bukan kita, Nab."
"Tapi kamu dan bapakmu,"
kata Kevin lembut, mengejutkan Nabila.
"Gerobak ini beserta seluruh sisa bahan baku premium di dalamnya... Mas hibahkan buat Warkop Berkah."
"Mas sudah gak bakal jualan nasi goreng lagi mulai besok."
Nabila menghentikan senyumannya, menatap Kevin dengan mata berkaca-kaca.
"L-Lho? Kenapa, Kak? Padahal nasgor Kakak laris banget... Kakak mau pergi lagi?"
Kevin mengusap rambut Nabila dengan penuh kasih sayang.
"Mas gak pergi jauh, Nab.'
"Mas cuma harus menyelesaikan 'tantangan hidup' berikutnya."
"Mas pasti bakal sering mampir ke sini buat nyari kopi buatanmu."
Sebelum Nabila sempat membalas, layar hologram Sistem kembali berkedip di pelupuk mata Kevin, membawa teks berwarna merah menyala yang menandakan datangnya minggu keempat.
Ding!
[Mempersiapkan Transisi Profesi Minggu 4...]
[Profesi Baru: Dokter Spesialis Bedah Jantung Tanpa Pisau (Ilmu Medis Dewa Alternatif).]
[Lokasi Tugas: Rumah Sakit Pusat Medika Depok.]
[Plot Utama Dimulai: Menyelamatkan Nyawa Kakek dari Viola (Mantan Jenderal Besar) yang sedang kritis akibat racun langka dari faksi rahasia Kota Depok!]
Kevin menelan ludah, matanya membelalak menatap baris demi baris perintah Sistem.
"Dokter bedah jantung? Tanpa pisau?! Terus kakeknya Viola diracun faksi rahasia?! Waduh, ini urusannya makin lama makin mirip film konspirasi internasional!"
#NOTE
Bagaimana aksi Kevin di minggu keempat saat dia mendadak harus mengenakan jas dokter putih dan masuk ke ruang operasi demi menyelamatkan nyawa kakek Viola?