Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : Gending Penari Bisu dan Sup Tulang Misterius
Melangkah masuk ke Hutan Larangan pada sepertiga malam terakhir adalah keputusan yang sangat mendekati kegilaan. Pohon-pohon trembesi raksasa berdiri menjulang bagaikan raksasa hitam yang siap melahap siapa saja yang lewat. Kabut tebal merayap di atas tanah, membawa aroma lembap humus yang menusuk hidung—bersaing sengit dengan bau empedu dan bangkai dari tubuh Nyai Seruni yang kian menyengat.
"Nyai... ini beneran harus terus berjalan?" bisik Sari dengan napas terengah-engah.
Sari melirik ke belakang. Rombongan bayangan hitam berdarah masih setia mengekor di belakang mereka. Bedanya, sekarang bayangan-bayangan itu tampak memegang dedaunan besar untuk menutupi hidung mereka masing-masing. Tampaknya, aroma pembusukan sang Nyai sudah mencapai tingkat yang bahkan membuat makhluk halus sendiri merasa mual dan serba salah.
"Jalan... terus, Sari..." rintih Seruni. Suaranya sudah tidak menyerupai manusia lagi, melainkan seperti suara ban sepeda bocor yang dipaksa berputar di atas krikil. "Hutan ini... rumah Pertiwi..."
Tiba-tiba, dari balik semak belukar yang gelap, melompat seekor kera hitam berukuran cukup besar. Kera itu berniat menyergap atau setidaknya menakut-nakuti kedua manusia yang lancang memasuki wilayahnya. Namun, tepat saat kera itu mendarat satu meter di depan Seruni, embusan angin malam menerbangkan bau busuk murni dari borok sang Nyai tepat ke arah wajah si kera.
Kera hitam itu mendadak berhenti kaku. Matanya mendelik lebar, tangannya menutupi hidung dengan gerakan sangat drama, sebelum akhirnya kera itu teler, limbung ke samping, dan pingsan di atas rumput dengan kaki ke atas.
Sari membelalakkan mata, menatap kera yang terkapar kaku itu lalu menatap bibinya. "Nyai... ilmu petunduk Nyai sudah berganti jadi ilmu pembius kera ya?"
Seruni hanya bisa mengerang, tidak tahu harus merasa bangga atau terhina. Ulat-ulat kecil di pipinya bahkan tampak ikut menggeliat protes karena terguncang-guncang sepanjang perjalanan.
Semakin dalam mereka menerobos hutan, suara alunan gending Jawa terdengar kian nyaring. Nada gamelan itu begitu mendayu-dayu, indah namun menyimpan kesedihan yang menusuk tulang. Di tengah sebuah pemukiman pohon tua yang rindang, berdiri sebuah rumah panggung kayu yang unik. Halamannya ditata rapi dengan batu-batu kali dan ditanami bunga melati putih yang mekar semerbak.
Di atas teras rumah panggung itu, seorang perempuan bergaun kemben hijau lumut sedang menari. Gerakannya begitu gemulai, jemarinya meliuk halus mengikuti irama gending yang entah berasal dari mana. Namun, ketika rembulan menerobos celah dedaunan dan menyinari wajahnya, terlihatlah tragedy yang sebenarnya.
Setengah dari wajah perempuan itu sangat cantik bagai dewi, tetapi setengahnya lagi tumpat oleh bekas luka bakar hitam yang mengerikan. Bibirnya terkatup rapat, tidak mampu menyuarakan sepatah kata pun akibat racun petunduk yang dulu diteteskan Seruni ke dalam minumannya saat sang penari berada di puncak kejayaan.
Dia adalah Nyi Pertiwi, sang penari gending legendaries yang musnah karirnya dalam semalam karena dengki Seruni.
Tarian Pertiwi mendadak berhenti saat aroma empedu pecah merusak keharuman bunga melati di halamannya. Pertiwi menoleh. Mata tunggalnya yang utuh berkilat tajam memandangi sosok Seruni yang tergeletak bagai seonggok daging membusuk di atas tanah.
Sari bergegas berlutut, menyatukan kedua tangannya di dada. "Nyi Pertiwi... tolong... kami datang bukan untuk merusuh. Nyai Seruni... beliau ingin meminta ampun..."
Seruni merangkak maju dengan sisa kekuatan yang teramat tipis. Setiap kali dadanya bergesekan dengan tanah, darah kental meninggalkan jejak. "Per... tiwi..." desis Seruni dengan lidah yang kaku. "Aku... datang..."
Pertiwi tidak meluapkan kemarahan dengan teriakan—karena ia memang tidak bisa bersuara. Ia berjalan turun dari tangga kayu dengan anggun namun pasti. Langkah kakinya tanpa suara. Ketika sampai di depan Seruni, Pertiwi berjongkok. Ia memandangi wajah Seruni yang kini jauh lebih mengerikan dari separuh wajahnya yang rusak.
Pertiwi meraih sebuah mangkuk tanah liat dari meja kecil di sudut teras. Mangkuk itu berisi kuah hitam pekat yang asapnya mengepul hangat. Tanpa ekspresi, Pertiwi menyodorkan mangkuk itu ke depan muka Seruni.
"A-apa... ini?" bisik Sari bingung.
Pertiwi menunjuk lehernya sendiri yang cacat, lalu menunjuk mangkuk itu, dan kemudian menunjuk ke arah Seruni. Dengan isyarat tangan yang tegas, ia memerintahkan Seruni untuk meminumnya.
Seruni, yang mengira ini adalah syarat atau jamu pengampunan dari Pertiwi, dengan gemetar memegang mangkuk tanah liat itu. Dengan susah payah, ia meneguk cairan hitam pekat itu hingga kandas.
Sari menahan napas, berharap mukjizat terjadi dan rasa sakit bibinya menghilang.
Namun, sepuluh detik berlalu...
Glek.
Mata Seruni mendadak melotot sejadi-jadinya. Perutnya membusung tebal. Tiba-tiba...
BULLLLL!
Seruni kentut dengan suara yang begitu nyaring dan panjang hingga menggetarkan ranting-ranting pohon di sekitarnya. Bukan cuma suaranya yang dahsyat, bau yang dihasilkan dari campuran racun tubuh Seruni dan kuah racikan Pertiwi menghasilkan aroma kegelapan murni yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
"HOEEK!" Sari yang berdiri di dekatnya langsung melompat ke belakang, menyiram wajahnya sendiri dengan air wadah bambu karena matanya mendadak perih dan berair hebat.
Bahkan rombongan bayangan hitam berdarah yang sejak tadi setia mengikuti di belakang mereka, langsung bubar jalan. Beberapa bayangan tak kasat mata itu terlihat lari berhamburan menabrak pohon trembesi karena tidak kuat menahan siksaan aroma ghaib tersebut.
Pertiwi, yang rupanya sudah memakai penyumbat hidung dari gulungan daun sirih sejak awal, tersenyum tipis—sebuah senyuman kepuasan yang sangat langka. Ia kemudian mengambil sebuah papan kayu kecil dan sepotong kapur putih yang tersimpan di balik kembennya.
Dengan tenang, Pertiwi menulis di atas papan tersebut:
'Itu sup jelatang dan ramuan kentut penawar racun. Wajahku boleh kau rusak, suaraku boleh kau curi, tapi kau tidak bisa mencuri martabatku. Aku sudah lama memaafkanmu, Seruni. Bukan karena kau pantas dimaafkan, tapi karena aku tidak mau hatiku ikut membusuk seperti tubuhmu.'
Seruni tertegun membaca tulisan di papan itu. Air matanya mengalir deras, membasahi tanah yang berjelaga. "K-kau... memaafkanku, Pertiwi?"
Pertiwi membalikkan papan kayu itu, lalu menulis kalimat berikutnya dengan sangat cepat:
'Aku memaafkanmu. Tapi ingatalah, maaf dariku hanya melepaskan dendamku, bukan menghapus hukum alam atas dosa-dosamu. Pergilah ke sumur tua di tengah hutan ini. Airnya bisa membersihkan sisa racun petunduk di ragamu... agar kau bisa mati dengan tenang, atau menghadapi neraka yang sesungguhnya.'
Setelah menulis kalimat itu, Pertiwi berbalik arah, berjalan naik ke rumah panggungnya, dan membanting pintu rapat-rapat. Suara gending kembali terdengar, lebih nyaring dan terdengar penuh kebebasan, seolah beban berat yang mengikat jiwa sang penari selama puluhan tahun baru saja terangkat sepenuhnya.
Dengan berbekal petunjuk dari Nyi Pertiwi, Sari kembali menyeret tubuh Seruni menerobos rimbunnya hutan utara. Kali ini, perjalanan mereka terasa jauh lebih ringan. Rombongan bayangan hitam yang tadinya mengekor kini sudah kapok dan tidak berani mendekat lagi, kapok terkena "ledakan" gas beracun Nyai Seruni sebelumnya.
"Nyai, kita hampir sampai," bisik Sari saat melihat lingkaran batu tua di tengah ladang terbuka hutan.
Di sana berdiri sebuah sumur tua tanpa timba. Air di dalamnya tampak begitu jernih dan memantulkan cahaya bulan purna yang bersinar terang tepat di atas langit malam.
Sari memapah Seruni hingga ke bibir sumur. Tubuh Seruni kini tinggal kulit pelapis tulang. Bau busuk empedunya perlahan-lahan pudar, berganti dengan aroma dingin kematian yang pasrah.
"Sari..." bisik Seruni. Suaranya kini terdengar sangat lembut, tidak ada lagi keangkuhan atau kegelapan dukun di dalamnya. "Terima kasih... kau adalah satu-satunya jiwa baik yang mau sudi mengurus bangkai seperti diriku..."
"Jangan bicara lagi, Nyai. Bersihkan dirimu..." tangis Sari menetes ke atas tangan Seruni.
Seruni merangkak mendekati bibir sumur. Dengan sisa-sisa jemarinya yang cacat, ia menyauk air jernih dari dalam sumur tua itu lalu membasuhkannya ke wajah, dada, dan tangannya yang membusuk.
Seketika itu juga, reaksi ajaib terjadi. Sisik-sisik hitam di kulit Seruni luruh perlahan bersama aliran air, terbawa masuk kembali ke dalam bumi. Rasa panas mendidih yang membakar organ dalamnya mendadak padam, digantikan oleh rasa dingin yang amat menenangkan. Borok dan ulat-ulat merah yang menggerogoti dagingnya sirnah seketika.
Napas Seruni yang selama ini tersengal-sengal dan tertahan rantai besi ghaib, kini berhembus dengan sangat panjang dan lega.
Haaaaah...
Seruni mendongak menatap langit malam. Bintang-bintang tampak begitu indah di matanya—keindahan sederhana yang puluhan tahun tak pernah ia nikmati karena matanya selalu tertutup oleh rasa iri dan dengki pada pencapaian orang lain.
"Tanah... akhirnya mau memelukku..." bisik Seruni pelan sambil tersenyum tulus untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Perempuan tua itu memejamkan mata secara perlahan. Jantungnya memberikan denyutan terakhir yang sangat lembut. Tubuhnya melemas di pangkuan Sari, terkulai pasrah tanpa lagi menyisakan bau busuk maupun beban dendam yang mengikatnya.
Nyai Seruni telah pergi—meninggalkan dunia yang pernah ia penuhi dengan racun dengki, menuju pertanggungjawaban abadi di alam berikutnya.
Sari memeluk jasad bibinya yang kini terasa ringan dan damai. Di tengah keheningan hutan larangan, angin malam berembus lembut, membawakan aroma bunga melati yang harum menggantikan bau empedu yang telah sirna ditelan tanah.