Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Prang!
Gelas anggur merah bernilai puluhan juta rupiah hancur berantakan setelah dilemparkan ke dinding ruangan.
Napas Taipan Zhao memburu kasar, wajahnya merah padam menahan amarah yang rasanya bisa meledakkan pembuluh darah di kepalanya.
Kehilangan Naga Logistik dalam sekejap mata bukan hanya menghancurkan urat nadi bisnisnya, tetapi juga meruntuhkan harga dirinya di depan seluruh penguasa dunia bawah.
"Bocah keparat bernama Yao Wi itu benar-benar ingin menguji batas kesabaranku," geram Taipan Zhao dengan suara serak.
Ia mondar-mandir di ruang kerjanya yang mewah, mengabaikan pecahan kaca yang menggores sepatu kulit mahalnya.
Di sudut ruangan, seorang pria berkulit pucat dengan setelan serba hitam berdiri diam layaknya patung.
Pria itu adalah perantara dari jaringan pembunuh bayaran internasional yang sengaja dipanggil secara khusus malam ini.
"Tuan Zhao, Anda memanggil saya?" sapa pria pucat itu dengan nada datar tanpa emosi.
Taipan Zhao menghentikan langkahnya dan menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
"Hubungi skuad Viper sekarang juga, aku tidak peduli berapa miliar yang harus kubayar malam ini," perintah Taipan Zhao tanpa ragu.
"Aku ingin kepala bocah Linzhou itu diletakkan di atas meja kerjaku sebelum matahari terbit besok pagi."
Pria pucat itu menyunggingkan senyum tipis yang mengerikan, seolah sudah memprediksi permintaan mematikan tersebut.
"Skuad Viper adalah tim pembunuh elit yang biasa menangani kepala negara, tarif mereka adalah lima puluh miliar tunai di muka," sebut pria itu santai.
Taipan Zhao tidak berkedip sedikit pun mendengar nominal yang sangat fantastis tersebut.
Baginya, lima puluh miliar tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa malu dan kerugian yang ia derita hari ini.
"Ambil uangnya di brankas utamaku, dan pastikan mereka membakar seluruh markas Linzhou Corp menjadi abu," desis Taipan Zhao kejam.
Pria pucat itu membungkuk hormat lalu menghilang ke dalam bayangan ruangan, bersiap melepaskan anjing pemburu paling mematikan ke Kota Linzhou.
Sementara itu, langit malam di Kota Linzhou terlihat sangat cerah dengan taburan bintang yang menghiasi angkasa.
Di lantai puncak markas besar Linzhou Corp, suasana terasa sangat tenang seolah tidak ada ancaman apa pun yang mendekat.
Yao Wi duduk santai di sofa kulitnya sambil membaca buku laporan keuangan, ditemani oleh alunan musik klasik yang lembut.
Tok! Tok!
Pintu ruangan terbuka perlahan, dan Bai Lu melangkah masuk dengan langkah cepat namun nyaris tanpa suara.
"Tuan Bos, jaringan intelijen kita baru saja menyadap komunikasi dari dunia bawah tanah Provinsi Donghai," lapor Bai Lu dengan wajah serius.
"Taipan Zhao telah kehilangan akal sehatnya, ia menyewa skuad Viper untuk melakukan penyerangan malam ini juga."
Yao Wi membalik halaman bukunya tanpa menoleh, wajah tampannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan.
"Skuad Viper? Apakah mereka kelompok sirkus yang baru sedang melakukan tur keliling?" tanya Yao Wi dengan nada mengejek.
Bai Lu menelan ludah, merasa perlu meluruskan pemahaman bosnya tentang seberapa bahayanya musuh yang akan datang.
"Mereka bukan preman jalanan seperti Geng Naga Hitam, Tuan, mereka adalah tentara bayaran elit yang menggunakan senjata api peredam suara tingkat militer," jelas Bai Lu memperingatkan.
"Mereka sudah membunuh puluhan pengusaha kelas atas tanpa pernah meninggalkan jejak satu pun."
Alih-alih merasa takut, Yao Wi justru menutup bukunya dan tersenyum sangat lebar.
Sebuah senyuman yang membuat Bai Lu diam-diam merinding karena aura intimidasi yang memancar begitu pekat.
"Bagus sekali, akhirnya ada sedikit hiburan di tengah malam yang membosankan ini," ucap Yao Wi santai.
Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela kaca raksasa, menatap gemerlap lampu kotanya yang damai.
"Bai Lu, pergilah ke ruang keamanan bawah tanah dan nikmati pertunjukannya dari layar monitor," perintah Yao Wi.
"Biar pasukan bayanganku yang menyambut tamu-tamu istimewa dari Donghai ini."
Bai Lu mengangguk patuh, tidak berani membantah perintah mutlak dari pria yang kini memegang kendali atas hidupnya tersebut.
Ia segera undur diri, meninggalkan Yao Wi sendirian di ruangan yang luas dan sunyi itu.
Wush!
Angin malam tiba-tiba berhembus sangat kencang, membawa hawa dingin yang tidak wajar menyelimuti gedung pencakar langit tersebut.
Di luar dinding kaca markas Linzhou Corp, sepuluh sosok berpakaian tempur serba hitam sedang merayap naik menggunakan tali pengait berteknologi tinggi.
Mereka bergerak sangat sinkron dan diam, layaknya sekawanan laba-laba beracun yang mengincar mangsanya dalam kegelapan.
Pemimpin skuad Viper menempelkan alat pemotong kaca laser ke jendela ruangan Yao Wi.
Srettt.
Dalam hitungan detik, kaca tebal anti peluru itu terpotong rapi tanpa menimbulkan suara pecahan sedikit pun.
Sepuluh pembunuh bayaran itu melompat masuk ke dalam ruangan secara bergiliran, mendarat di atas karpet tebal dengan sangat mulus.
Mereka menyalakan kacamata penglihatan malam mereka, memindai seluruh sudut ruangan yang terlihat kosong.
"Target tidak terlihat, menyebar dan geledah seluruh lantai ini," bisik sang pemimpin melalui alat komunikasi radio di telinganya.
Kesepuluh pembunuh itu mulai bergerak menyebar, mengangkat senapan serbu mereka yang telah dilengkapi peredam suara tingkat tinggi.
Namun, baru saja mereka melangkah tiga meter dari jendela, suhu ruangan mendadak turun drastis hingga napas mereka mengeluarkan uap putih.
Klik.
Lampu ruangan tiba-tiba menyala terang benderang, membutakan mata para pembunuh yang masih menggunakan kacamata malam mereka.
"Akh!"
Beberapa pembunuh mengerang kesakitan dan buru-buru melepas kacamata mereka yang mengalami kelebihan cahaya.
Saat penglihatan mereka kembali normal, mereka seketika membeku di tempat dengan keringat dingin yang mengucur deras.
Di tengah ruangan, Yao Wi duduk di atas meja kerjanya sambil menopang dagu, menatap mereka dengan tatapan bosan.
Dan yang membuat para pembunuh itu merinding ketakutan adalah sosok-sosok yang berdiri mengelilingi Yao Wi.
Tiga puluh pria bertubuh kekar setinggi dua meter, mengenakan seragam taktis hitam pekat dan topeng balaclava, telah mengepung mereka dari segala arah.
Mereka adalah Pasukan Bayangan Elit, penjaga mutlak yang dibeli oleh Yao Wi menggunakan kekuatan sistem.
"Kalian terlambat lima menit dari jadwal yang kutebak," sapa Yao Wi memecah kesunyian yang mencekam.
"Apakah tali pengait kalian tersangkut di jemuran warga?" ejeknya dengan nada sangat merendahkan.
Pemimpin skuad Viper mengertakkan giginya menahan amarah karena merasa diremehkan oleh targetnya sendiri.
"Jangan banyak bicara, tembak kepalanya sekarang juga!" teriak sang pemimpin memberikan perintah eksekusi.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan peredam yang terdengar seperti letupan pelan menggema di ruangan tersebut.
Belasan peluru mematikan melesat dengan kecepatan tinggi tepat ke arah kepala dan dada Yao Wi.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat akal sehat para pembunuh elit itu hancur berkeping-keping.
Tiga anggota Pasukan Bayangan melesat ke depan Yao Wi dengan kecepatan yang mustahil dilihat oleh mata manusia.
Trang! Trang! Trang!
Mereka memutar baton baja teleskopik mereka dengan kecepatan kilat, menangkis semua peluru yang datang tanpa terlewat satu pun.
Percikan api menyala di udara saat peluru-peluru baja itu terpental jatuh ke lantai tanpa menyentuh sehelai pun rambut Yao Wi.
"I-itu tidak mungkin! Mereka menangkis peluru dengan tongkat baja?!" jerit salah satu pembunuh bayaran yang mulai kehilangan kewarasannya.
Yao Wi menguap pelan, merasa sangat kecewa dengan kualitas pembunuh bayaran seharga puluhan miliar ini.
"Sangat mengecewakan, aku kira kalian punya trik sihir yang lebih menarik dari ini," keluh Yao Wi santai.
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, memberikan isyarat maut kepada pasukan bayangannya.
"Bersihkan sampah-sampah ini, tapi sisakan pemimpin mereka hidup-hidup untukku," perintah Yao Wi mutlak.
Wush!
Perintah itu menjadi lonceng kematian bagi sembilan anggota skuad Viper.
Tiga puluh Pasukan Bayangan menghilang dari pandangan dan muncul kembali tepat di hadapan para pembunuh bayaran tersebut.
Pertarungan jarak dekat terjadi, namun itu sama sekali bukan pertarungan yang seimbang.
Brak! Krrrak!
Suara tulang yang dipatahkan secara paksa terdengar saling bersahutan, diiringi oleh jeritan penderitaan yang tertahan di tenggorokan.
Senapan serbu yang dibanggakan oleh skuad Viper dibengkokkan dengan tangan kosong layaknya mainan plastik murahan.
Pukulan dan tendangan Pasukan Bayangan menghancurkan organ dalam para pembunuh itu dalam satu serangan mematikan.
Bugh!
Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik untuk membuat sembilan pembunuh elit kelas dunia terkapar tak bernyawa di atas karpet mewah tersebut.
Pemimpin skuad Viper kini berdiri sendirian dengan tubuh bergetar hebat, senjatanya sudah terlepas dari tangannya yang gemetar.
Ia menatap anak buahnya yang tewas dengan kondisi mengenaskan, lalu menatap monster-monster berbaju hitam yang kini mengepungnya rapat.
Ini bukan misi pembunuhan, ini adalah misi bunuh diri yang dirancang oleh iblis.
Dua orang Pasukan Bayangan mencengkeram lengan pemimpin Viper itu dan memaksanya berlutut dengan kasar tepat di depan Yao Wi.
Bruk!
"Ampun... Tuan, tolong ampuni nyawa saya," rintih sang pemimpin pembunuh yang reputasinya sangat ditakuti di dunia bawah.
Semua kesombongan dan kekejamannya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh insting bertahan hidup yang menyedihkan.
Yao Wi turun dari mejanya dan berjongkok menatap wajah pemimpin pembunuh yang tertutup topeng taktis tersebut.
"Kau tahu aturan mainnya, bukan? Siapa yang menyewa, dia yang harus menanggung akibatnya," bisik Yao Wi dingin.
"T-Taipan Zhao! Dia yang membayar kami lima puluh miliar untuk membunuh Anda!" teriak pemimpin itu tanpa ragu mengkhianati kliennya.
"Saya akan mengembalikan semua uangnya kepada Anda, saya berjanji tidak akan pernah kembali ke negara ini lagi!"
Yao Wi tertawa pelan, tawa yang sama sekali tidak memancarkan belas kasihan.
"Uang lima puluh miliar milikmu itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya pembersihan karpetku yang ternoda darah kalian," ucap Yao Wi merendahkan.
Yao Wi berdiri tegak, memandang rendah pria malang yang masih bersujud di lantai.
"Tapi aku sedang berbaik hati malam ini, aku akan membiarkanmu hidup untuk mengantarkan sebuah pesan singkat kepada anjing tua di Donghai itu."
Pemimpin Viper mendongak dengan air mata keputusasaan yang menggenang di matanya.
"P-pesan apa, Tuan?" tanyanya dengan suara serak.
"Bawa kembali semua mayat anak buahmu ini, dan letakkan di atas tempat tidur Taipan Zhao malam ini juga," perintah Yao Wi tanpa ampun.
"Katakan padanya untuk mencuci lehernya bersih-bersih, karena besok pagi, aku sendiri yang akan datang untuk menebasnya."
Mendengar perintah yang luar biasa sadis tersebut, pemimpin Viper hanya bisa mengangguk patuh berkali-kali layaknya robot yang rusak.
Ia tahu bahwa menolak perintah pemuda di depannya ini akan menghasilkan penderitaan yang jauh lebih buruk dari kematian itu sendiri.
Yao Wi membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju sofa, mengabaikan proses pembersihan yang sedang dilakukan oleh pasukan bayangannya.
Besok pagi, Provinsi Donghai akan menyaksikan kejatuhan raksasa mereka yang paling berkuasa.
Dan kerajaan bisnis Linzhou Corp akan memperluas cengkeramannya, menelan seluruh wilayah tanpa menyisakan tulang sedikit pun.