NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

TRING! TRING!

Bel istirahat siang berbunyi nyaring membelah koridor, menandakan waktunya seluruh murid SMA 09 Cimanggu berhamburan keluar kelas.

Dalam sekejap, lorong-lorong sekolah dipenuhi hiruk-pikuk obrolan, gelak tawa, dan lalu lalang para siswa.

Dari arah kelas 3-F, muncul sosok siswi yang mendadak menarik seluruh perhatian koridor.

Vina.

Primadona tercantik sekaligus siswi paling populer di SMA 09 Cimanggu.

Dengan rambut panjang yang terurai indah, seragam rapi, serta ukiran senyum manis yang amat langka diperlihatkan, kehadiran Vina seolah sanggup memperlambat laju waktu.

Ia melangkah santai menyusuri koridor, raut wajahnya tampak begitu ceria dan berseri-seri.

Beberapa siswa cowok yang nongkrong di depan kelas langsung heboh berbisik-bisik dari kejauhan.

"Lihat tuh! Si Vina... hari ini kok makin kelihatan makin cantik aja ya?"

"Bener, biasanya kan cuek dan dingin banget. Ini malah senyum-senyum sendiri sepanjang jalan."

"Lagi bahagia banget kayaknya."

"Jangan-jangan dia udah official punya pacar?"

"Nggak mungkinlah, Bro! Vina itu tipe yang nggak tersentuh. Anak pejabat tinggi aja waktu itu ditolak mentah-mentah sama dia."

"Terus kenapa bisa semenyenangkan itu mood-nya hari ini?"

"Mana gue tahu, mungkin lagi good mood aja?"

Suasana koridor kian riuh.

Namun rasa penasaran mereka mendadak berubah menjadi keterkejutan saat menyadari arah tujuan langkah Vina.

Cewek itu terus berjalan hingga mendekati pintu kelas 3-C—kelas tempat bermukimnya cowok yang sama sekali tak pernah mereka duga bakal jadi pusat perhatian: Repan Kusuma.

Sementara itu di dalam kelas, Repan masih duduk santai di kursinya.

Ia membereskan buku-buku pelajarannya dengan gerakan perlahan tanpa ekspresi berarti.

Di deretan bangku belakang, Zahra mendadak mematung. Gadis berhijab itu diam-diam memperhatikan Repan dari belakang, menatap punggung cowok itu dengan raut wajah cemas dan gugup.

'Aku harus memberanikan diri mengajak Repan makan siang...' batin Zahra, detak jantungnya mendadak berdegup kencang.

Telapak tangannya dingin, bibirnya ingin berucap, namun tak ada satu kata pun yang sanggup meluncur keluar. Ini adalah kali pertama baginya berniat mengajak seorang pria untuk makan bersama.

'Tapi... aku harus bicara bagaimana? Mengajaknya pakai kalimat apa? Nanti kalau malah bikin canggung gimana?!' pikir Zahra panik sendiri.

Namun ia terus mengarahkan pandangannya pada Repan, berusaha mengumpulkan segenap keberanian.

Hingga...

Krieeet...

Pintu kelas terbuka lebar diiringi derap langkah ringan.

"Hai, Repan!" sapa Vina ceria seraya melempar senyuman menawan di hadapan seluruh isi kelas 3-C.

Seketika seluruh ruangan mendadak hening seketika. Beberapa siswa tampak menahan napas, sementara yang lainnya sigap merogoh ponsel untuk merekam kejadian langka itu secara diam-diam.

"Kita makan siang bareng, yuk!" lanjut Vina tanpa rasa canggung sedikit pun.

Ruangan kelas langsung meledak oleh desas-desus heboh.

"Hah?! Vina ngajak Repan makan siang?!"

"Gue nggak salah dengar kan?! Primadona sekolah ngajak cowok dari keluarga biasa makan bareng?!"

"Gila... anak pejabat aja dilepeh sama dia, tapi sekarang malah dia yang nyamperin Repan!"

Sementara itu, Repan hanya menatap Vina sejenak, lalu menghembuskan napas panjang.

"Vina... lo bikin kegaduhan tahu nggak. Lihat tuh, sekarang semua orang menatap gue dengan sorot mata iri dan dendam cuma gara-gara lo berdiri di sini," tutur Repan santai, bahkan terkesan malas merespons.

Namun Vina tetap mempertahankan senyumannya. "Gue nggak peduli. Lagian gue ke sini kan memang khusus buat nyamperin lo, Repan." Suaranya sengaja dikencangkan agar terdengar oleh seisi ruangan.

Repan bangkit berdiri perlahan. "Lo cuma bakal menyeret gue ke masalah yang nggak penting."

Vina terkekeh kecil. "Harusnya lo bangga dong. Gue, seorang Vina, yang datang sendiri ngajak lo makan bareng."

"Gue nggak butuh rasa bangga semacam itu," cetus Repan dingin. "Gue mau makan sendiri."

Tanpa membuang waktu, Repan melangkah melewati Vina begitu saja.

Namun dengan gesit Vina langsung memutar badan dan berjalan bersisian di sampingnya. "Nggak mau. Gue tetap mau ikut makan bareng lo."

Kerumunan siswa di koridor makin heboh bukan main.

"Lihat tuh! Selama ini Vina yang selalu dikejar-kejar cowok, tapi sekarang malah dia yang ngejar-ngejar Repan!"

"Dan gilanya... si Repan malah bersikap cuek dingin begitu!"

"Apaan sih yang dilihat Vina dari Repan?! Gila banget!"

Di tengah hiruk-pikuk kegaduhan itu, Zahra hanya bisa duduk membeku di bangkunya.

Kepalanya tertunduk dalam, kedua jemarinya mengepal erat di bawah kolong meja.

'Apa yang baru saja aku lihat...? Vina dan Repan...?' batin Zahra dengan napas yang terasa agak sesak.

'Apa... mereka berdua pacaran? Tapi... bukankah Repan baru saja putus dari Sasa? Atau mereka putus karena Repan...?' pikiran Zahra makin berkecamuk tak karuan.

Namun Zahra mencoba menarik napas dalam-dalam. Ia mengangkat wajahnya perlahan, berusaha menata kembali keteguhan hatinya.

'Tenang, Zahra... jangan langsung mengambil kesimpulan sendiri. Mungkin mereka cuma sebatas teman. Bisa jadi ini cuma salah paham.'

Ia menatap kosong ke arah luar jendela, memejamkan matanya sejenak.

'Aku harus tahu kebenarannya. Aku bakal bicara langsung sama Repan... sepulang sekolah nanti.'

Meskipun dadanya mulai dirayapi rasa nyeri yang asing, Zahra enggan menyerah begitu saja. Perasaan yang bertunas untuk Repan kian menguat, dan ia tahu betul... ia tidak ingin mundur begitu saja.

Sementara itu, kegaduhan kecil kian merebak di sepanjang koridor SMA 09 Cimanggu.

Para siswa berkerumun di pinggir lorong, berbisik-bisik seraya mencuri pandang ke arah dua sosok yang berjalan berdampingan.

"Pan... tungguin napa! Langkah kaki lo cepat banget sih!" protes Vina seraya berusaha menyamai ritme jalan Repan.

"Gue mau ke kantin, kan ini waktunya istirahat," sahut Repan santai tanpa menoleh sedikit pun.

Langkah Repan tetap tenang dan teratur, seolah tak memedulikan puluhan pasang mata yang memandangi mereka dengan tatapan tak percaya.

Namun Vina tak kalah gigih. Ia terus mengekor, senyuman manisnya tak pernah luntur.

Lalu mendadak—

"Tunggu sebentar, Pan!" seru Vina seraya memegang pergelangan tangan Repan dari belakang, membuat langkah cowok itu terhenti seketika.

Seketika mata para siswa di koridor membelalak lebar.

"Gila! Vina memegang tangan si Repan!"

"Sumpah, gue nggak salah lihat kan?!"

"Cewek tercantik di sekolah memegang tangan cowok... dan cowoknya itu Repan?!"

"Iri banget gue, elah!"

Suara bisik-bisik yang tadinya bersahut-sahutan kini berubah menjadi riuh.

Repan memutar badannya perlahan. Tatapannya datar, walau matanya menyiratkan keheranan.

"Ada apa lagi, Vin? Kenapa lo ngikutin gue kayak gini?"

'Cewek ini benar-benar merepotkan. Dia nggak sadar seberapa besar daya tarik dirinya yang bikin keributan massal,' batin Repan. Ia bukannya risih atau malu—hanya malas menjadi pusat perhatian yang bising.

Namun Vina justru menatapnya dengan binar mata yang berbinar-binar.

"Gue udah buatin bekal makan siang khusus buat lo, Repan! Yuk makan bareng!" serunya penuh semangat.

Seisi koridor seakan langsung membeku kaku.

Vina... membuatkan bekal makanan untuk seseorang?! Untuk Repan?!

Ibarat kata kalau Vina adalah idola populer di sekolah, kejadian ini seperti seorang idola terkenal memasakkan bekal untuk murid biasa. Benar-benar di luar nalar mereka.

Repan mengamati raut wajah Vina sejenak. 'Merepotkan... cewek ini nggak bakal membiarkan gue pergi sebelum niatnya terwujud,' batin Repan tahu betul karakter Vina yang tidak mudah menyerah.

Ia pun menghembuskan napas panjang. "Yaudah. Ayo makan."

Vina langsung bersorak kegirangan.

"Yey! Ayo duduk di sana aja, tempat favorit gue!"

Tanpa ragu, Vina kembali menarik tangan Repan, membawanya menuju salah satu meja kayu panjang di area luar kantin sekolah.

Sorot mata para siswa—baik yang sedang berada di kantin maupun yang mengintip dari jendela lantai atas—semua tertuju lurus pada mereka.

Mereka duduk berhadapan. Vina membuka tasnya, lalu mengeluarkan dua wadah kotak makan berdesain elegan.

"Ini khusus buat lo," tutur Vina seraya menyodorkan satu kotak makan ke hadapan Repan disertai ukiran senyum manis.

Repan membuka tutup bekalnya. Matanya sedikit melebar.

Penataan di dalam kotak bekal itu sangat rapi dan estetik, mirip dengan sajian restoran berbintang.

Nasi yang dicetak rapi, ayam saus madu mengkilap yang menggugah selera, gulungan telur dadar tipis, serta irisan buah segar yang tertata cantik.

"Ini buatan ibu lo?" tanya Repan heran.

Vina mendongak cepat.

"Enak aja! Ini murni buatan tangan gue sendiri tahu! Gue sampai bangun jam 4 pagi cuma buat menyiapkan bekal ini!" protes Vina dengan bibir cemberut yang malah membuatnya terlihat gemas.

Repan cukup terkejut. 'Dia bisa masak? Dan rela bangun sesubuh itu cuma buat bikin bekal?' pikirnya.

"Ayo dicicipi! Gue terjamin masakan gue enak!" ujar Vina penuh percaya diri.

Repan mulai menyuap makanan itu. Setelah suapan pertama mendarat di lidahnya, sepasang matanya kembali melebar halus. 'Enak... ternyata dia beneran jago masak.'

"Gimana rasanya?" pancing Vina penasaran. Tubuhnya sedikit condong ke depan seraya menatap Repan penuh harap.

"Lumayan," jawab Repan datar, walau dalam hati ia mengakui kelezatannya.

Vina seketika cemberut. "Maksudnya 'lumayan' apa coba?! Enak atau nggak?!"

"Enak kok," sahut Repan akhirnya, lebih jujur.

"Syukurlah! Gue senang kalau lo suka!" seru Vina dengan riang. Wajahnya seketika tampak cerah bagaikan bunga yang baru mekar.

Lalu dengan nada suara yang sedikit manja, Vina menambahkan, "Kalau gitu... mulai besok dan seterusnya gue buatin lo bekal tiap hari ya!"

"APA?!"

Seruan kaget dari para siswa yang tak sengaja mendengar ucapan itu mendadak bergema dari berbagai penjuru kantin.

"Vina mau bikin bekal tiap hari buat Repan?! Ini gila!"

"Mereka beneran pacaran ya?! Repan ini sebenarnya anak siapa sih?!"

"Atau jangan-jangan dia anak konglomerat yang lagi menyamar?!"

Atmosfer kantin kian membara. Bisik-bisik, tatapan iri, dan sorot mata tak percaya terus tertuju pada pasangan tak biasa tersebut.

Sementara Repan hanya mengunyah makanannya dengan tenang. 'Apa-apaan cewek ini... Bisa-bisanya dia bicara begitu di depan umum. Kalau begini kan orang-orang makin salah paham mikir kita pacaran,' batin Repan seraya melirik Vina yang tampak begitu menikmati momen makan bersamanya.

'Bener-bener bikin pusing,' gumam Repan dalam hati, lalu melanjutkan makan siangnya.

Di sisi lain, Vina menyunggingkan senyum tipisnya. 'Pelan-pelan saja... yang penting gue bisa terus ada di samping lo.'

Dan dari jarak yang agak jauh, seseorang memperhatikan interaksi mereka dalam keheningan... Zahra.

Dadanya terasa amat sesak menyaksikan keakraban Repan dan Vina.

'Mungkin... mereka memang sudah berpacaran,' batin Zahra seraya menundukkan kepalanya.

'Ya... mau bagaimana lagi... Repan memang sosok yang baik dan menarik, wajar kalau banyak siswi yang menyukainya,' pikir Zahra berusaha merasionalisasi.

Meski mencoba bersikap tegar, ada kehampaan mendalam yang menyeruak di dalam dadanya—sebuah harapan kecil yang mendadak goyah sebelum sempat terucap.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!