SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeratan di Balik Kegelapan
Dengan senyum lebar yang tak sanggup ia sembunyikan, Lu Shi mengalirkan seutas kekuatan jiwanya menuju Cincin Ruang di jarinya.
Dalam sekedipan mata, kantong berisi pilar harta jarahan milik klan murni itu lenyap dari genggamannya, berpindah aman ke dalam dimensi penyimpanan tanpa batas.
Gadis itu menepuk-nepuk telapak tangannya dengan puas. Namun, saat pandangannya bergulir ke area tanah berlumpur darah di bawah dahan, sudut matanya menangkap tiga jasad pemuda Klan Ao yang terbujur kaku.
"Hei, Lelaki Bodoh," panggil Lu Shi seraya menunjuk tiga bangkai berzirah mewah tersebut dengan dagunya. "Bagaimana dengan jasad tiga bajingan ini? Apakah kita perlu menguburnya atau menyembunyikan jejak mereka?"
Tian Xue melirik sekilas ke arah jasad Ao Feng, Ao Lin, dan Ao Yun yang sudah tak bernyawa. Raut wajahnya dingin tanpa riak emosi.
"Biarkan saja di sana," sahut Tian Xue datar. "Aroma darah yang pekat ini akan segera mengundang kawanan Beast pemakan bangkai dari sekeliling hutan. Dalam beberapa jam, tidak akan ada sisa tulang yang tertinggal."
Namun, tatkala pandangan Tian Xue beralih sedikit ke samping—menatap tumpukan bangkai Beast tingkat rendah dan menengah yang sebelumnya disembelih secara brutal oleh ketiga pemuda Klan Ao—dadanya mendadak berdesir aneh.
Sebuah gumpalan rasa iba yang asing mengusik nuraninya.
Sebagai seseorang yang terbiasa hidup keras, Tian Xue memang tak ragu membunuh Beast saat mempertahankan nyawa.
Namun, melihat ratusan bangkai Beast asli bertumpuk tak berdaya hanya demi pemuas ego dan pembantaian sia-sia manusia, gejolak darah Naga Purba di dalam nadinya bergetar gelisah.
Di dalam Ujian Seribu Tangga sebelumnya, ribuan Beast yang ia hancurkan hanyalah wujud bentukan ilusi energi. Pemandangan di depannya saat ini adalah kematian nyata dari makhluk-makhluk bernapas.
Lu Shi yang semula tampak begitu gembira mendapatkan harta jarahan perlahan terdiam.
Sensasi getaran dari garis darahnya membuat gadis rubah itu ikut merasakan apa yang berkecamuk di dalam dada Tian Xue. Keheningan yang sesak dan mencekam mendadak merayap di antara mereka berdua.
Tidak ingin tenggelam lebih dalam oleh atmosfer yang muram, Lu Shi mendahului berdehem keras untuk memecah kesunyian.
"Hei, Lelaki Bodoh!" seru Lu Shi dengan nada yang dibuat-buat ketus.
Gadis itu mendongak, menatap rimbunnya kanopi pohon raksasa yang kian pekat.
"Matahari sudah lama tenggelam. Cahaya di celah dedaunan ini makin gelap," lanjut Lu Shi seraya mengibaskan jubahnya. "Lebih baik kita segera mencari tempat yang tenang untuk bermalam dan memulihkan sisa energi fisik kita."
Tian Xue mengalihkan pandangannya dari tumpukan bangkai, lalu mengangguk pelan.
"Kau benar. Ayo kita bergerak masuk lebih dalam," ujar Tian Xue.
Keduanya berbalik meninggalkan area pembantaian, menyusuri jalan setapak di antara bongkahan akar-akar purba yang menjulang.
Sepanjang perjalanan menembus keremangan malam, Lu Shi tidak menghentikan ocehannya. Gadis barbar itu terus melontarkan keluhan, mulai dari rasa laparnya yang belum terpuaskan, hingga bentuk pepohonan Hutan Purba yang dianggapnya terlalu membosankan.
Tian Xue hanya sesekali menanggapi dengan gumaman singkat, sementara fokus penglihatannya terus bersiaga memindai setiap sudut belukar.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam di tengah kegelapan yang kian pekat, langkah Lu Shi mendadak terhenti di depan sebuah celah tebing batu granit.
"Sialan... Sepanjang jalan tadi kita sama sekali tidak menemukan tempat yang benar-benar aman," gerutu Lu Shi seraya menggaruk pelipisnya.
Telunjuk lentiknya menunjuk ke arah celah sempit di dasar tebing tersebut.
"Lihat ini. Mulut guanya sangat kecil dan sempit. Bahkan untuk masuk saja kita harus memiringkan badan."
Lu Shi melangkah lebih dekat. Dengan penuh rasa penasaran, gadis itu membungkuk dan menengokkan kepalanya menembus celah gelap tersebut.
Seketika, sepasang mata cantiknya membelalak heran.
"Eh? Bodoh, lihat ini!" seru Lu Shi penuh antusias. "Meskipun mulutnya sempit seperti celah batu, bagian dalamnya ternyata sangat luas!"
Tian Xue melangkah mendekat, menyipitkan matanya untuk mengamati kondisi dinding dalam gua tersebut.
Benar saja. Di balik himpitan mulut batu yang sempit itu, terbentang sebuah aula gua alami yang cukup lapang dengan hembusan angin sejuk yang mengalir tenang.
"Ya, tempat ini cukup terlindung dari terpaan angin malam," jawab Tian Xue menyetujui.
Tanpa menaruh prasangka buruk, keduanya mulai melangkah masuk satu per satu.
Mereka melewati bagian celah batu yang sempit, sebelum akhirnya tiba di ruangan dalam gua yang terhampar luas dan sunyi. Dinding-dinding batu di sekeliling mereka memancarkan aroma kelembapan tanah yang amat tua.
Namun, tepat ketika kedua kaki mereka melangkah semakin jauh menelusuri bagian dalam gua tersebut—
SREKKKKKKKKK!
Secara mendadak, permukaan tanah granit yang mereka pijak retak berantakan!
Struktur lantai gua itu ternyata hanyalah ilusi tipis dari lapisan batuan rapun yang menyembunyikan jurang menganga di bawahnya.
"Apa-apaan ini?!" jerit Lu Shi histeris saat keseimbangannya hilang total.
"Awas!" seru Tian Xue berusaha mengulurkan tangannya.
Namun, gravitasi menarik tubuh mereka berdua dengan daya dorong yang amat dahsyat!
BRUK... WUUUUSH!
Lantai gua runtuh sepenuhnya. Tian Xue dan Lu Shi terhempas jatuh meluncur deras ke dalam kegelapan abadi bawah tanah yang amat dalam.
Sensasi terombang-ambing di udara tanpa dasar membuat angin malam berhembus kencang menerpa wajah mereka.
Mereka terus meluncur turun menembus kedalaman bumi—seolah menuju sebuah jurang tanpa akhir yang menyembunyikan peradaban terasing selama ratusan tahun
"Aaaaaaaaaahhhhhh bodoh, teriak lu shi,
Tian Xue menggertakkan giginya erat-erat. Dalam sekedipan mata, sisik-sisik naga hitam pekat langsung merayap cepat memenuhi lengan kanannya. Cakar Naga Purba meluncur tajam, menghujam keras ke dinding batu gua di dekatnya demi menahan bobot tubuh mereka.
SRAAAAK!
Bunga api memercik hebat saat cakar Tian Xue menancap pada dinding batu tebing. Namun, bukannya berhenti, gravitasi di dalam jurang itu seolah memancarkan daya hisap gaib yang teramat kuat, menarik tubuh mereka berdua untuk terus terseret turun lebih dalam.
"Tahan!" teriak Tian Xue menahan tekanan luar biasa pada persendian lengannya.
Di saat Tian Xue sedang berusaha keras mempertahankan posisi pitingan cakarnya pada dinding batu, Lu Shi yang panik setengah mati justru melakukan tindakan ceroboh.
Tanpa berpikir panjang, gadis rubah itu melepaskan Tembakan Ekor Rubah—melemparkan tembakan bola energi pekat dari ujung ekornya ke arah dinding gua untuk mencari pijakan!
BOOOMMMMM!
Ledakan energi Lu Shi memang menghantam dinding tebing, namun hantamannya justru menghancurkan struktur batuan tempat Cakar Naga Tian Xue menancap! Seketika itu juga, tebing tumpuan mereka runtuh total menjadi puing-puing halus!
"Bodoh! Apa yang kau lakukan?!" bentak Tian Xue, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan sporadis Lu Shi di situasi kritis seperti ini.
"Mana aku tahu kalau dindingnya serapuh ini?!" balas Lu Shi panik dengan wajah pucat pasi.
Tanpa adanya lagi pijakan atau dinding tumpuan, pegangan mereka terlepas sepenuhnya. Tian Xue dan Lu Shi kini benar-benar terhempas bebas, meluncur deras menembus jurang hitam bawah tanah tanpa dasar.
Di antara desiran angin malam yang melintasi telinga dan kepingan batu yang berguguran, keduanya kini berada di ambang garis tipis antara hidup dan mati.