Elias Alexander Rainer, menyaksikan sendiri bagaimana ibunya dibunuh di apartemen kecil mereka di Brooklyn. Tetapi, karena usianya yang masih kecil, kesaksiannya dianggap tidak benar. Kasus pembunuhan itu akhirnya ditutup sebagai perampokan biasa dan pembunuh ibunya tak pernah ditemukan.
20 tahun kemudian, Elias tumbuh menjadi pria jenius yang sangat berbakat di dunia digital. Ia bertekad untuk menemukan pelaku pembunuhan ibunya dengan menyamar menjadi seorang Programmer IT.
Namun, semakin ia mendekati sang pelaku utama, Elias justru terlibat makin dalam. Yang membuatnya terancam bahaya. Orang-orang dari Zenthera mulai mengejar dan menargetkannya.
Belum lagi, kedatangan seorang agen divisi kejahatan siber ikut memburunya dan mencurigai Elias sebagai pelaku dari skandal jatuhnya beberapa pejabat penting dan tokoh publik terkenal.
Akankah Elias berhasil menemukan pembunuh ibunya? Mampukah Elias membongkar kejahatan-kejahatan yang dilakukan Zenthera Corp?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THC 20
"Apa kau bilang? Kau tidak bisa menemukan pria dalam foto ini? Bodoh!" umpat John, memukul anak buahnya sendiri. Ia sama sekali tak peduli dengan perbedaan usia di antara mereka.
Pria itu meringis. "Maaf, Bos. Tapi aku sungguh-sungguh tidak menemukan pria itu, yang tinggal di sana adalah orang lain," jelasnya.
John mendesis, "Bagaimana mungkin?! Semua informasi yang aku beri pasti benar."
"Tapi …." Pria itu tak sanggup melanjutkan ucapannya karena melihat John sudah mengeluarkan pistolnya. "Bos? Apa yang mau kau lakukan?" tanyanya gemetar.
Dor!
Tanpa aba-aba lagi, John melayangkan satu tembakan tepat mengenai tulang kering pria itu.
Pria itu mengerang kesakitan, meminta tolong, tetapi John mengabaikannya. Ia memilih melangkah keluar, meninggalkan pria itu.
"Itu hukuman karena kau tidak becus," katanya sebelum benar-benar menutup pintu.
John mengenakan kacamata hitamnya, mengelap pistol miliknya dengan kain, kemudian kembali menyembunyikan pistol itu di balik pakaiannya.
Ia meraih selembar foto, menatapnya lama. "Apa kesalahannya? Dia tidak terlihat berbahaya," gumamnya. Lalu, kembali menyimpan foto itu ke dalam jaket kulitnya.
•••
Elias berpamitan sore itu dengan beralasan bahwa ia memiliki pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan. Sebelum benar-benar pergi, Elias sempat menyerahkan satu amplop putih kepada Marriana.
"Apa ini, Nak?" tanya Marriana, menatap amplop itu selama beberapa detik lalu tergerak untuk membukanya. "Elias? Ini terlalu banyak, Nak. Bagaimana dengan kehidupanmu nanti?"
Elias tersenyum, "Tidak apa-apa, Sus. Gunakan uang di dalamnya untuk merenovasi dan memenuhi kebutuhan yang lainnya. Hanya itu yang bisa aku beri sebagai ucapan terima kasih kepadamu."
Kedua mata Marriana tiba-tiba mengembun. "Semoga Tuhan selalu melindungimu, Nak. Datanglah kemari kapanpun kau mau, ya? Pintu ini akan selalu terbuka untukmu," katanya penuh haru. Ia memeluk Elias sesaat.
"Pasti, aku pasti akan selalu kembali ke tempat di mana aku tumbuh." Elias tersenyum, kemudian melambaikan tangan kepada Marriana.
Motor Elias melaju pelan di jalanan Harlem sore itu. Langit mulai menampilkan warna jingga keemasan saat Elias melewati jalanan Harlem yang lenggang.
Gedung-gedung bata merah dengan jendela tua berjajar rapi di sepanjang jalan. Bayangan panjang dari pepohonan dan tiang lampu menyapu trotoar yang retak, menciptakan siluet yang seolah bercerita.
Mobil-mobil tua melintas pelan, dan sesekali terdengar bunyi klakson dari supir taksi yang melambat mencari penumpang. Di dekat stasiun subway, para pejalan kaki mempercepat langkah, mengejar sisa sinar matahari sebelum malam benar-benar turun.
Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu, menciptakan pendar kekuningan yang memantul di jendela. Elias menatap Harlem untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal," gumamnya, kembali fokus pada tujuan di depannya.
Elias tidak benar-benar pulang ke rumah seperti yang ia katakan pada Marriana. Melainkan menuju sebuah tempat, sebuah rumah di mana ia akan mulai penyelidikannya sendiri.
Di rumah itu, terlihat seorang perempuan sedang berdiri di depan halaman, ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Elias memperhatikannya dari kejauhan dengan kening mengernyit dalam.
"Kenapa dia ada di sini?" monolognya, seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Apakah mungkin …."
Pandangan Elias kemudian tertuju kepada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah itu. Dua orang perempuan dan satu pria terlihat keluar dari mobil itu secara bersamaan.
"Mereka? Sedang apa mereka di sini?"
Elias menahan diri untuk tidak langsung pergi ke sana, melainkan tetap memperhatikan dari kejauhan, dari jarak yang menurutnya aman.
Empat orang itu terlihat saling mengakrabkan diri, Elias mengenal dua dari mereka. Sementara mereka terlihat berbincang, Elias mengambil kamera dan memotret mereka dari tempatnya.
"Aku harus melakukan sesuatu, perempuan itu tidak boleh berada di sini, tidak dalam jangkauan si tua bangka itu," gumam Elias, mulai memikirkan sesuatu.
Sementara Elias tetap memperhatikan dalam diam ke-empat orang itu, ia sama sekali tak menyadari bahwa ia pun sedang dalam pantauan seseorang.
•••
"Bagaimana keadaanmu, Patricia?" tanya Aliyah ramah, memeluk perempuan itu dan tersenyum lembut.
Patricia menyambutnya dengan senang hati, "Lebih baik dari sebelumnya, terima kasih atas bantuan kalian semua," katanya ramah.
"Kenapa kau berdiri di luar sendirian? Bagaimana jika—"
"Maksud Christian, kenapa kau menunggu kami di luar? Kau seharusnya di dalam saja," sela Anne, tak memberi izin kepada Christian untuk melanjutkan ucapannya.
Anne dan Aliyah memberi pria itu tatapan tajam, seolah mengingatkan Christian untuk menjaga ucapannya baik-baik.
"Ah, ya, itu maksudku." Christian menyahut pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Aku tidak sabar bertemu dengan teman-teman penolongku. Jika tidak ada kalian yang membantuku, aku pasti …." Patricia tak sanggup melanjutkan ucapannya, kepalanya tertunduk dalam.
Melihat hal itu, Anne cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. "Se-sebaiknya kita mengobrol di dalam saja. Ayo, ayo kita masuk." Ia mengajak yang lainnya untuk masuk.
Di dalam, mereka bertemu dengan Nicholas dan Luciana yang sedang menyiapkan makan malam. Anne sudah mengirim pesan sebelumnya, bahwa teman-temannya akan datang untuk menjenguk Patricia.
Luciana yang senang, langsung bersemangat untuk menyiapkan makan malam istimewa untuk mereka.
"Hai, Paman. Bagaimana kabarmu? Kau terlihat sangat bugar sekarang," puji Christian yang menghampiri Nicholas.
Pria itu terkekeh pelan, "Benarkah? Aku memang suka berolahraga akhir-akhir ini, kau juga semakin terlihat tampan," katanya balas memuji sambil menepuk pelan bahu Christian akrab. Keduanya langsung hanyut dalam pembicaraan mereka.
"Hai, Bibi. Lama tidak berjumpa." Aliyah menyapa Luciana yang sedang memasak. Dengan cepat, Patricia ikut bergabung.
Sementara itu, Anne justru kembali ke luar. Tadi, sebelum masuk, ia seperti melihat seseorang yang sedang mengintai mereka dari kejauhan. Ia yakin bahwa ia tidak salah lihat.
"Ke mana pria itu pergi? Sepertinya ada di sebelah sana," gumam Anne memicingkan matanya. "Apa dia sudah pergi? Apa aku salah lihat? Seharusnya aku langsung berlari menangkapnya tadi."
Merasa penasaran, Anne memilih untuk mendatangi tempat di mana ia melihat sosok pria itu. Ia berlari-lari kecil sambil tetap waspada.
Ketika langkahnya hampir mendekati tempat itu, ia memelankan langkah kakinya, jantungnya ikut berdebar hebat. Nafasnya tercekat saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Siapa kau?!" Anne berteriak kencang ketika berbalik cepat. Tangannya memasang ancang-ancang menyerang.
entahlah, apa lagi yang harus kubilang, terkadang aku merasa, ko sengaja menulis genre ini, biar aku bisa belajar banyak hal (kepenulisan). Terimakasih, karya yang luar biasa, Thor! 🙆🏻♂️