NovelToon NovelToon
Resep Cinta Setelah Akad

Resep Cinta Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?

Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.

Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.

Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.

Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.

Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berusaha Mengurangi Jarak

Naira menggigit bibir bawahnya ragu, lalu menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya menghela napas pasrah. "Begini... misal, ya. Ini misal saja. Ada seorang perempuan..."

Risa langsung menyeringai lebar, matanya berbinar jenaka. "Oke, pengalihan nama yang klasik. Terus, perempuan 'misal' itu kenapa, Mbak?"

"Perempuan itu baru saja menikah. Lalu... suaminya itu sebenarnya baik sekali. Baik banget, kaku tapi perhatian," lanjut Naira, tangannya bergerak abstrak di udara mencoba mendeskripsikan sosok Satria tanpa menyebut nama.

Risa mengangguk-angguk paham, menyimak dengan serius. "Terus? Masalahnya di mana kalau suaminya baik banget?"

"Suatu hari, setelah mereka selesai salat, suaminya melakukan sesuatu yang sebenarnya... wajar dilakukan oleh sepasang suami istri yang sah. Tapi, karena perempuan ini belum terbiasa, dia malah refleks kaget dan menggeser duduknya menjauh," jelas Naira, suaranya perlahan mencicit pelan karena malu.

Risa menahan senyumnya, mulai bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. "Lalu, setelah perempuan itu menjauh?"

"Nah, sejak kejadian detik itu juga, suaminya jadi merasa bersalah banget. Sekarang dia malah menjaga jarak terus, kaku lagi, dan seolah membuat batas yang tebal karena takut menyinggung istrinya," keluh Naira, bahunya merosot lemas.

Risa menatap Naira selama beberapa detik dalam keheningan, sebelum akhirnya sebuah senyum geli yang lebar tidak bisa lagi ditahan dari bibirnya.

"Mbak Naira," panggil Risa pelan dengan nada menggoda.

"Hm?" Naira menyahut polos.

"Itu cerita perempuan 'misal' itu... sebenarnya cerita Mbak Naira sendiri dengan Pak Kasubag kaku itu, kan?" goda Risa, matanya mengedip jahil.

Naira langsung membelalakkan matanya sempurna, wajahnya seketika memerah hebat. "Lho?! Kok kamu bisa langsung tahu?!" pekik Naira tertahan.

Risa langsung meledak dalam tawa kecil yang puas. "Ya ampun, Mbak! Yang Mbak ceritakan itu detailnya persis banget sama gosip pengantin baru. Mana mungkin aku nggak sadar! Lagian wajah Mbak Naira sekarang sudah merah kayak stroberi di atas tart!"

Naira langsung menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu yang luar biasa. "Aduh... ketahuan banget, ya? Malu-maluin saja."

Risa menghentikan tawanya, lalu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Naira. "Kalau menurut Mbak Naira sendiri... sekarang Mbak merasa sedih atau bagaimana?"

Naira perlahan menurunkan tangannya, menatap Risa dengan pandangan sendu. "Iya, Risa. Aku sedih. Soalnya... aku merasa Mas Satria jadi membatasi dirinya sendiri untuk mendekat. Padahal, aku tahu akulah yang membuat semuanya jadi canggung kembali karena refleks menjauh malam itu." Naira meremas ujung jilbabnya dengan gelisah.

"Padahal aku sama sekali nggak marah, aku cuma kaget karena belum pernah sedekat itu dengan laki-laki. Dan sekarang... setelah dia menjauh, aku malah merasa ada yang hilang."

"Mbak Naira." Risa tersenyum lembut, lalu menepuk-nepuk punggung tangan Naira untuk menenangkan.

"Hm? Apa?" Naira menoleh, menanti petuah dari asistennya yang kadang lebih dewasa dalam urusan asmara ini.

"Boleh aku kasih pendapat sebagai adik?" tanya Risa meminta izin.

"Tentu saja boleh. Aku malah butuh saran sekarang," jawab Naira cepat.

"Menurutku... Mbak Naira jangan terlalu banyak membuat atau memikirkan batasan lagi," ujar Risa serius.

Naira mengernyitkan dahinya bingung. "Kenapa? Bukankah wajar kalau kami berproses pelan-pelan?"

"Iya, berproses boleh, Mbak. Tapi ingat, Mbak Naira sama Mas Satria itu sedang belajar saling mengenal dalam ikatan yang sudah halal," jelas Risa, mengetuk-ngetukan jarinya di meja.

"Bukan berarti harus langsung terburu-buru melakukan 'hal jauh', tapi juga jangan sampai menolak interaksi kecil karena takut canggung. Kalau Mbak ingin lebih mengenal Mas Satria, ya lakukan saja pendekatan seperti orang pacaran pada umumnya."

Naira mulai mendengarkan dengan saksama. "Contohnya bagaimana?"

"Ya sering-sering mengobrol hal random, jalan-jalan sore bareng, bercanda, atau saling cerita masa lalu. Sentuhan-sentuhan kecil seperti menggandeng tangan atau bersandar itu justru yang akan mengikis jarak kalian, Mbak," tutur Risa mantap.

Naira manggut-manggut, mencerna kata-kata Risa. "Masuk akal juga, sih. Aku yang harusnya mulai membuka celah agar Mas Satria tidak segan lagi, ya?"

Risa tiba-tiba membekap mulutnya sendiri, menahan tawa yang mendadak ingin meledak kembali.

"Apa lagi, Risa? Kenapa mukamu jadi aneh begitu?" tanya Naira curiga melihat gelagat karyawannya.

"Mbak... tapi ini tolong jangan dimasukkan ke dalam hati, ya. Janji dulu?" Risa mengacungkan jari kelingkingnya.

"Iya, janji. Apaan, sih?" Naira menyatukan kelingking mereka dengan penasaran.

Risa berdeham sebentar, memajukan wajahnya lalu berbisik dengan volume yang sialnya agak terlalu bersemangat. "Begini, Mbak... orang-orang yang pacaran di luar sana saja, yang belum halal, sudah berani cium sini, cium sana sampai nempel kayak perangko! Nah, ini Mbak Naira yang statusnya sudah sah, dicium suaminya di ubun-ubun saja malah melompat mundur! Waduh... rugi bandar, Mbak! Mubazir status halalnya!"

Kebetulan, tepat saat Risa mengucapkan kata cium sini, cium sana dan mubazir status halalnya, tiga orang ibu-ibu pelanggan baru saja mendorong pintu toko. Suara lonceng pintu yang berdentang berbarengan dengan ucapan lantang Risa membuat ketiga ibu-ibu itu serempak menoleh ke arah meja kasir dengan tatapan mata yang membelalak heran.

Naira yang menyadari hal itu seketika merasa dunianya runtuh karena malu. Ia spontan mengambil sebuah serbet kain bersih di dekatnya, lalu menepuk pelan lengan Risa dengan gemas.

"Risa!" bisik Naira setengah menjerit dengan wajah yang sudah memerah pekat. "Ih, pelan-pelan kalau bicara! Suaramu kedengaran sampai luar tahu!"

Risa yang baru sadar ada pelanggan langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, lalu membungkuk meminta maaf kepada pelanggan. "Hehehe... maaf, Mbak. Keceplosan," bisiknya bersalah namun matanya masih menyiratkan tawa geli yang tertahan.

Naira akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Melihat wajah panik Risa, ia ikut tertawa kecil hingga kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Dasar kamu ini. Mulutnya memang benar-benar nggak ada remnya!"

"Kan yang aku bilang benar, Mbak. Tapi... ya begitulah." Risa tersenyum puas, bernapas lega melihat bos sekaligus kakaknya itu akhirnya kembali ceria.

"Bukan begitu maksudnya, Risa. Tapi... iya juga, sih. Aku yang terlalu kaku," aku Naira pasrah sambil menggelengkan kepala.

Risa menepuk bahu Naira sekali lagi sebelum berdiri untuk melayani pelanggan yang baru datang. "Nah, begitu dong, senyum! Soalnya dari pagi tadi wajah Mbak Naira itu sudah kayak kue brownies yang gagal ngembang, bantet dan suram!"

"Kamu ini ada-ada saja!" seru Naira, melempar gulungan tisu kecil ke arah Risa yang langsung berlari menghindar sambil tertawa renyah.

Untuk pertama kalinya sepanjang pagi itu, beban berat yang menghimpit dada Naira terasa sedikit berkurang. Mungkin apa yang dikatakan Risa ada benarnya. Yang ia dan Satria butuhkan saat ini bukanlah semakin banyak batasan yang mengekang, melainkan keberanian untuk saling mendekat dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Belajar menjadi sepasang kekasih seutuhnya, bukan sekadar dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap rumah yang sama.

✨✨✨✨

Sore itu, toko kue ditutup sedikit lebih cepat dari biasanya. Semburat langit yang mulai menguning membuat Naira bergegas menurunkan pintu rolling door hingga setengah tiang. Ia memeriksa kembali etalase kaca, memastikan tidak ada remah kue yang tertinggal, serta mengecek ulang seluruh catatan pesanan untuk esok hari.

"Alhamdulillah... akhirnya selesai juga semuanya," gumam Naira pelan sembari mengibaskan kedua tangannya yang terasa pegal.

Raisa yang sedang sibuk mengelap permukaan meja kasir menoleh, lalu melirik jam dinding bulat di atasnya. Ia tersenyum penuh arti. "Mbak Naira, tumben banget hari ini kita pulang cepat?"

Naira yang sedang melepas celemek kremnya mendadak menghentikan gerakan tangannya. Wajahnya merona merah muda, ia tersenyum malu-malu kucing. "Iya, Raisa. Soalnya..." Naira menggantung kalimatnya, memainkan ujung tali celemek. "Aku mau mengajak seseorang jalan-jalan sore ini."

Raisa langsung menghentikan aktivitas mengelapnya. Ia menegakkan tubuh, lalu menyeringai lebar dengan mata yang berbinar jenaka. "Ceileee... seseorang siapa nih, Mbak? Jangan-jangan Mas Satria, ya? Pak Kasubag kaku kita itu?"

Naira hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan wajahnya yang kian memanas.

"Wah, mantap! Semoga berhasil ya rencana pendekatannya!" Raisa tertawa kecil, memberikan gestur mengepalkan tangan memberi semangat. "Nah, begitu dong, Mbak. Jangan kebanyakan mikir dan bikin batasan terus. Pacaran sama suami sendiri setelah halal itu justru pahalanya gede banget, tahu!"

Naira terkekeh mendengar godaan asistennya yang blak-blakan itu. "Kamu ini... sudah, cepat selesaikan beres-beresnya."

Sebelum menunggu Satria datang menjemput, Naira memutuskan untuk menunaikan ibadah salat Asar terlebih dahulu di musala kecil yang terletak di bagian belakang toko. Seusai berdoa dan merapikan mukenanya kembali ke dalam lemari, Naira duduk di kursi kayu lalu mengambil ponsel dari dalam tas.

Jemarinya mengetikkan sebuah pesan dengan perasaan yang berdegup kencang.

Naira❤️

"Mas, kalau sudah selesai kerja di kantor, boleh jemput aku sekarang? Kalau Mas tidak terlalu lelah... aku ingin mengajak Mas jalan-jalan sebentar sore ini.✉️✉️"

Tak sampai dua menit, sebuah notifikasi balasan masuk ke ponselnya.

Satria Baskara❤️

"Boleh. Tunggu di dalam toko. Aku berangkat sekarang.✉️✉️"

Melihat balasan kilat itu, seulas senyum manis langsung mengembang sempurna di bibir Naira. Hatinya membuncah hangat.

Setelah memastikan seluruh area dalam toko aman, Raisa menyampirkan tas ranselnya di bahu. "Mbak, aku duluan ya. Pintu depan sudah aku kunci dari luar, tinggal sisa pintu kaca."

"Iya, Raisa. Hati-hati di jalan, ya."

"Siap, Mbak! Semoga kencan sorenya lancar jaya tanpa canggung-canggung club!" seru Raisa jahil.

"Raisa...!" pekik Naira gemas.

"Hehehe... dadah Mbak Naira!" Raisa buru-buru berlari kecil keluar toko dan menuju motornya sebelum sempat dilempari tatapan tajam nan malu dari sang atasan.

Kini, tinggal Naira seorang diri di depan toko yang mulai sepi. Ia berdiri di dekat pintu kaca, meremas pelan tali tasnya untuk mengusir rasa gugup yang tiba-tiba melanda.

Beberapa menit kemudian, suara deru mesin motor yang sangat dikenalnya terdengar mendekat dari arah jalan raya.

Brumm...

Motor Satria berhenti tepat di depan pelataran toko. Pria jangkung itu menurunkan standar motornya, lalu melepas helm hitamnya dengan gerakan yang tenang. Seragam PNS cokelatnya masih tampak rapi, meski gurat lelah samar terlihat di wajahnya.

"Maaf ya, membuatmu menunggu agak lama," ucap Satria begitu mendorong pintu kaca toko.

Naira menggelengkan kepala cepat dengan senyum ramah. "Tidak kok, Mas. Aku juga baru selesai salat dan bersiap lima menit yang lalu."

Satria mengangguk, lalu meraih helm cadangan berwarna merah muda yang menggantung di dekat dasbor motornya. "Ini helmnya."

Naira mengulurkan tangan hendak menerima helm tersebut. Namun, tepat pada detik itu, untaian kalimat Raisa tadi siang mendadak berputar kembali di dalam isi kepalanya.

“Kurangi batasannya, Mbak... Belajar seperti orang pacaran... Lakukan sentuhan kecil...”

Jantung Naira seketika berdegup dua kali lebih cepat. Tangannya yang sudah menyentuh permukaan helm perlahan berhenti bergerak. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki, lalu mendongakkan wajahnya menatap langsung ke dalam manik mata hitam Satria.

"Mas Satria..." Panggil Naira lirih.

"Iya? Kenapa?" Satria menatapnya bingung.

Naira meremas ujung hijab instannya sendiri, menundukkan pandangannya sedikit karena tidak kuat menatap mata suaminya. Suaranya mencicit pelan, nyaris tak terdengar jika bukan karena suasana toko yang sepi.

"Pasangkan... boleh?"

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!