NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Sebuah memo berwarna kuning mencuat

keluar. Ia mengenali tulisan tangan itu dengan sangat jelas karena itu adalah tulisannya

sendiri.

Jantungnya berdegup kencang saat membayangkan isi memo tersebut. Ia dengan cepat menutup jarak ke arah kursi suaminya yang kosong dan mengambil memo itu.

Ternyata, itu adalah catatan tentang rahasia warisan yang ia sembunyikan. Arga pasti sudah membacanya dan sekarang pria itu sedang menuju ke arah pengacara keluarga.

Ia tidak boleh membiarkan Arga mengambil alih kendali atas harta dua ratus triliun itu.

Dengan langkah cepat, ia berlari keluar rumah dan memacu mobilnya menyusul suaminya.

Ia harus sampai di kantor pengacara sebelum Arga membuka rahasia siapa dirinya

sebenarnya. Jika Arga tahu, warisan itu akan hilang selamanya.

Sesampainya di depan kantor pengacara, ia melihat mobil Arga sudah terparkir di sana. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar tidak terlihat mencurigakan. Ia membuka pintu kantor dengan sikap seolah-olah ia datang untuk mendukung suaminya. Namun, tatapan tajam Pak Herman membuatnya curiga.

"Saya tidak menyangka Anda berani datang setelah semua yang terjadi," ucap Arga

dengan suara dingin saat ia masuk ke ruangan.

Pak Herman terlihat bingung melihat

kehadirannya. Ia mencoba tersenyum, tapi sudut bibirnya gemetar hebat.

"Saya hanya ingin menjelaskan semuanya sebelum semuanya menjadi lebih buruk," jawabnya dengan suara pelan. Arga mendekat, menatap lurus ke matanya.

"Menjelaskan apa? Bahwa kamu bukan istriku yang sebenarnya? Atau bahwa kamu hanya mengincar uang keluargaku?" suara Arga

meninggi. Nadira mundur selangkah, terkejut karena Arga sepertinya sudah tahu sebagian

besar kebenarannya. Ini bukan lagi waktunya untuk berpura-pura.

"Arga, dengarlah... Aku bisa menjelaskan bagaimana aku bisa berada di sini," lirih Nadira, berusaha menahan tangis. Namun Arga justru melempar tumpukan dokumen ke lantai.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Pak Herman akan segera membatalkan hak warismu.

Kamu sudah ketahuan," bentak Arga. Ia merasa dunia seolah runtuh.

Nadira jatuh berlutut di atas karpet tebal, mengambil dokumen yang berserakan. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa ini adalah titik nadir. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia menatap Pak Herman yang terdiam di sudut ruangan.

"Pak Herman, kita harus bicara empat mata sebelum Anda menandatangani apa pun," pinta Nadira.

Pak Herman menatap Arga, lalu menatap Nadira yang masih berlutut. Arga mendengus tajam, memilih untuk keluar ruangan sambil membanting pintu keras-keras.

Kini, hanya Nadira dan Pak Herman yang tersisa. Ia harus memutar otak dengan sangat cepat untuk memperbaiki keadaan sebelum segalanya benar-benar berakhir.

Ia menarik napas lega sejenak karena Arga sudah pergi meninggalkan kantor. Namun, ia

sadar bahwa waktu yang dimilikinya sangat singkat. Tanpa membuang waktu lagi, ia

segera mendekati Pak Herman yang masih terlihat bingung dengan tumpukan dokumen

tebal di atas meja.

Udara di ruang tamu terasa berat oleh aroma tembakau lama dan aroma masker bedah

yang menyengat. Pak Herman duduk di sofa kulit yang sudah menggelambir, meletakkan

tumpukan dokumen setebal bantal di atas meja kayu jati. Ia membetulkan letak

kacamatanya yang melorot, menatap Nadira dengan sorot mata yang kritis.

Nadira menegakkan punggung, menyesuaikan napasnya agar terdengar tenang. Ia harus memproyeksikan sosok pemimpin yang tegas, bukan gadis polos yang biasanya terdiam di sudut ruangan.

Ia menarik napas perlahan, menahan napas sejenak, lalu menghembuskannya dengan

pelan melalui hidung. Ritme pernapasan ini membantu menenangkan saraf yang mulai

tegang. Pak Herman mulai merapikan dokumen yang berserakan, memastikan setiap lembar tertata rapi di hadapan mereka.

"Kita harus bicara soal dana warisan yang tertahan di bank," kata Pak Herman tanpa basa-basi. Suaranya parau, memecah kesunyian yang hanya diiringi oleh detak jam dinding.

Nadira mengangguk pelan, jemarinya mengusap permukaan meja yang dingin. Ia fokus pada detak jantungnya yang mulai melambat. Pak Herman membacakan poin demi poin syarat pencairan dengan nada monoton. Setiap kata terdengar seperti jebakan yang dirancang khusus untuk menguji kesabarannya.

Nadira tidak boleh terpancing emosi, ia

harus tetap tenang dan mengendalikan situasi dengan sikap yang terkendali.

Ia meraih buku kecil dari saku blazernya, mencatat setiap angka dengan teliti

menggunakan pulpen bermata runcing.

Tangan kanannya yang memegang pena terasa sedikit gemetar, namun ia segera merelakskan bahunya. Pikirannya terus menghitung risiko yang mungkin muncul jika ia salah menafsirkan kalimat hukum yang berbelit-belit itu.

Fokus utamanya adalah memastikan tidak ada celah bagi Dinda untuk masuk ke dalam

celah hukum yang ada.

"Angka di sini harus sesuai dengan laporan keuangan bulan lalu," sahut Nadira, suaranya

lebih berwibawa dari biasanya.

Pak Herman terdiam sejenak, menatapnya dengan kagum sekaligus curiga. Nadira menatap lurus ke arah mata Pak Herman, menunjukkan ketegasan yang selama ini tidak pernah ia miliki. Ia merapikan kerah kemejanya, sebuah gerakan kecil yang membantu mengembalikan rasa percaya dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!