NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETETAPAN YANG MASIH RAHASIA

Sore hari yang dinantikan akhirnya tiba. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan akhir dan memastikan kondisinya benar-benar stabil, dokter akhirnya memberikan lampu hijau bagi Maira untuk pulang. Udara sore yang hangat menerobos masuk melalui pintu kaca area lobi rumah sakit, memberikan sedikit kesegaran pada wajah Maira yang masih tampak agak pucat.

Dengan telaten, Aisyah memapah lengan Maira, menuntun langkah senior kerjanya itu dengan sangat hati-hati agar tidak mengguncang bahunya yang masih linu. Sementara itu, Fatih berjalan beberapa langkah di belakang mereka berdua. Lelaki itu bertindak bagai pelindung yang sigap, membawa tas jinjing berisi pakaian dan obat-obatan milik Maira dengan ekspresi tenang yang selalu terjaga.

Namun, tepat saat mereka baru saja melewati pintu utama dan hendak berjalan ke arah area parkir luar, langkah kaki Aisyah mendadak terhenti.

“Lho, Mbak Halwa?” seru Aisyah spontan.

Maira ikut menghentikan langkahnya dengan kening berkerut pelan. Di depan mereka, berjarak hanya beberapa meter, tampak sosok Halwa yang anggun dalam balutan gamis syar'i sewarna pramuka. Gadis anak kiai itu sedang berjalan bersama seorang teman perempuannya, tampaknya baru saja turun dari sebuah mobil.

Halwa yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh. Matanya berbinar cerah saat mengenali sosok adik kandung Fatih tersebut. “Aisyah? Masyaallah, kamu lagi apa di sini?” tanya Halwa lembut, melangkah mendekat dengan senyuman manis yang menenangkan.

“Eh, Mbak Halwa. Ini... temen kerja Aisyah semalam kena musibah kecelakaan mobil, Mbak. Makanya dari semalam Aisyah stand by di sini buat nemenin,” jawab Aisyah jujur sembari menepuk pelan lengan Maira.

Pandangan mata Halwa beralih menatap sosok wanita yang sedang dipapah Aisyah. Detik itu juga, ingatan Halwa langsung bekerja. “Lho, ini... Mbak yang semalam ikut pengajian di barisan belakang, kan? Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...” ucap Halwa dengan nada suara yang seketika berubah penuh empati. Ia menatap Maira dengan pandangan khawatir yang sangat tulus, sama sekali tidak dibuat-buat.

“Iya, Mbak Halwa, bener. Untungnya lukanya gak begitu parah, sore ini udah langsung dibolehin pulang sama dokter,” sahut Aisyah mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang.

Setelah memberikan senyum penuh simpati pada Maira, pandangan mata Halwa tanpa sengaja beralih menjauh, menatap siluet seorang lelaki tinggi yang berdiri dengan tegap di belakang punggung Aisyah. Menyadari siapa lelaki itu, seulas senyum malu-malu langsung terbit di bibir Halwa. Ia dengan cepat menundukkan pandangannya ke arah lantai, mencoba menjaga adab kedekatan yang belum halal.

“Mas Fatih... juga ada di sini ternyata?” ucap Halwa dengan nada suara yang melembut, ada sedikit getaran gugup yang tertangkap dari pembawaannya.

Fatih mengangguk pelan sekali, wajahnya tetap datar namun memancarkan keramahan yang proporsional. “Iya, Ning. Saya menemani Aisyah semalam ke sini karena mengkhawatirkan kondisinya jika sendirian,” jawab Fatih dengan nada suara yang bariton, tenang, dan sangat menjaga jarak aman.

Maira yang menyaksikan seluruh interaksi tersebut secara langsung dari jarak dekat hanya bisa membisu. Dadanya kembali dihentak oleh rasa sesak yang teramat pekat. Melihat bagaimana Halwa tertunduk malu-malu kucing di depan Fatih, dan bagaimana Fatih menjawabnya dengan sebutan 'Ning' yang penuh rasa hormat, membuat Maira tersenyum paksa.

Di dalam benak Maira, mereka berdua benar-benar definisi nyata dari pasangan surga. Sempurna, indah, dan tidak ada celah sedikit pun bagi orang asing seperti dirinya untuk masuk ke tengah-tengah mereka. Maira meremas ujung baju kaosnya diam-diam, menanamkan rasa sadar diri sedalam-dalamnya agar hatinya tidak melangkah terlalu jauh.

“Kalau Mbak Halwa sendiri, ngapain sore-sore ke rumah sakit ini?” tanya Aisyah, memecah keheningan di antara para orang dewasa itu.

Halwa mendongak kembali, membetulkan letak tas tangannya. “Ini, Syah, aku mau jenguk salah satu teman lama waktu mondok dulu. Kebetulan dia lagi sakit dan sudah dua hari dirawat di lantai atas. Makanya ini baru sempat mampir.”

Fatih melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu kembali menatap Halwa sekilas tanpa memotong jarak. “Kalau begitu... kami pamit duluan ya, Ning. Kebetulan taksi dan kendaraan sudah siap di luar, agar Mbak Maira bisa segera istirahat di rumah.”

“Oh, iya, silakan, Mas Fatih, Aisyah,” balas Halwa dengan anggukan anggun.

Sebelum melangkah pergi, Maira memaksakan diri untuk menyunggingkan senyuman terbaiknya ke arah Halwa. Ia ingin menunjukkan rasa hormatnya pada gadis berhati malaikat itu. Halwa yang melihat senyuman Maira pun langsung membalasnya dengan pelukan senyum yang tidak kalah tulus.

Halwa melambaikan tangannya pelan melepas kepergian rombongan kecil itu. Di dalam hatinya, Halwa murni hanya bersimpati pada kesembuhan Maira sebagai sesama jamaah pengajian. Gadis suci itu sama sekali tidak pernah tahu, tidak pernah menduga, bahkan tidak akan pernah menyangka, bahwa wanita berhijab instan yang baru saja tersenyum rapuh di depannya itu... adalah wanita yang kelak pada akhirnya akan dipilih dan diperjuangkan oleh Fatih untuk menjadi pendamping hidupnya seutuhnya. Takdir Tuhan sedang bermain dengan rahasia yang teramat rapi.

Sementara Maira dalam perjalanan pulang ke rumah dengan diantar oleh Fatih dan Aisyah, di belahan ruangan rumah sakit yang lain, atmosfer terasa begitu mencekam dan dingin. Rayn masih terbaring kaku di atas brankar IGD dengan pikiran yang terus-menerus tertuju pada Maira. Rasa sakit berdenyut di kepalanya seolah mati rasa, kalah oleh rasa frustrasi dan obsesi liar yang berkecamuk di otaknya.

Sret!

Suara gorden pembatas ruangan mendadak dibuka dengan kasar dari luar. Sosok wanita dengan riasan wajah yang agak berantakan dan napas terengah-engah melangkah masuk dengan panik. Itu Naomi.

“OMG, Rayn?! Lo kenapa bisa kecelakaan kayak gini sih?! Sorry banget gue baru dapet kabarnya barusan dan langsung ngebut ke sini!” pekik Naomi histeris. Wajahnya dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat saat melihat perban tebal melingkar di kepala kekasihnya. Tanpa babibu, Naomi langsung merangsek maju dan memegang erat tangan Rayn.

Namun, alih-alih menyambut perhatian itu, netra Rayn menatap Naomi dengan pandangan dingin dan penuh kilat kebencian. Dengan gerakan kasar, Rayn menyentak dan menepis tangan Naomi hingga terlepas.

“Naomi, please... jauhin gue mulai dari sekarang!” ucap Rayn dengan nada ketus dan tajam.

Naomi tertegun, matanya membelalak tak percaya. “Ray? Kok Lo ngomongnya gitu? Gue ke sini karena khawatir sama kondisi Lo!”

“Gara-gara Lo, Naomi! Gara-gara perbuatan Lo waktu itu, Maira jadi benci dan makin ngejauh dari gue!” tambah Rayn setengah membentak, meluapkan seluruh kekesalannya pada wanita di depannya.

Mendengar tuduhan sepihak itu, dada Naomi seketika bergemuruh hebat. Rasa perih dan tidak percaya menghantam hatinya dengan telak. “Lo... Lo nyalahin gue, Ray? Setelah semua yang udah gue kasih ke Lo selama ini, Lo dengan gampangnya nyalahin gue?!” ucap Naomi dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis dan amarah yang memuncak.

“Maira, Maira, dan Maira terus yang ada di pikiran Lo! Pernah gak sih, sekali aja Lo mikirin gimana perasaan gue, Ray?!” teriak Naomi, tidak peduli lagi jika suaranya memancing perhatian perawat di luar. “Dari dulu... dari dulu gue selalu harus ngalah sama Maira cuma karena Lo terobsesi sama dia! Dan saat ini juga, bahkan setelah semua hal intim yang udah kita lakuin bersama, pikiran Lo masih tetap tertuju sama Maira?!”

Naomi menunjuk wajah Rayn dengan jari yang gemetar. “Sadar, Ray! Maira yang sekarang itu udah berubah! Dia gak akan pernah mau lagi sama berandalan najis kayak Lo! Pakaiannya udah tertutup, dia udah sok suci!”

Naomi menarik napas dalam-dalam, menghapus air mata kemarahan yang lolos di pipinya. “Oke! Kalau Lo emang bersikeras mau ngejar Maira lagi, silahkan! Gue udah gak peduli! Detik ini juga, gue pergi dari hidup Lo, dan jangan pernah sekali-kali Lo berani datang lagi ke hidup gue, Rayn!!”

Setelah menumpahkan seluruh rasa sakit hatinya, Naomi membalikkan badan dengan angkuh dan melenggang pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah cepat, menyentak gorden pembatas hingga menimbulkan suara berisik.

Suasana bilik IGD itu kembali hening. Rayn hanya diam membisu, sama sekali tidak berniat menahan kepergian Naomi. Jangankan merasa bersalah pada Naomi, pikirannya saat ini justru sama sekali tidak tertuju pada wanita itu.

Netra Rayn menatap kosong ke langit-langit bangsal. Bayangan wajahnya bukan tertuju pada Naomi yang baru saja menangis, melainkan pada siluet lelaki religius berpakaian koko bersih yang beberapa jam lalu mendatangi ruangannya secara jantan untuk mengembalikan ponselnya.

Tangan Rayn mengepal erat di atas kasur rumah sakit. Dadanya bergemuruh oleh rasa penasaran yang teramat pekat sekaligus rasa terancam. “Siapa sebenarnya laki-laki itu? Apa hubungannya dia sama Maira sampai berani ikut campur sejauh ini?” batin Rayn penuh selidik dan dendam yang mulai memercik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!