NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

manifulatif

Alden tahu setiap gerakan yang ia lakukan akan menjadi pemicu trauma bagi gadis itu, namun egonya dan rasa kepemilikan yang gelap di dalam dirinya lebih mendominasi. Melihat Aleta yang terus menjauh justru membuat api di dada Alden semakin berkobar.

Dengan satu gerakan cepat dan tegas, ia menerjang jarak yang tersisa di antara mereka. Tangan Alden yang kuat mencengkeram lengan Aleta, lalu dengan paksa menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.

"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" Aleta berteriak histeris, tangannya memukul-mukul dada Alden dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia memberontak hebat, mencoba meloloskan diri dari pelukan yang terasa seperti jeratan penjara baginya.

Alden tidak bergeming. Ia justru mengeratkan pelukannya, mengunci tubuh Aleta dengan kedua lengannya hingga gadis itu tidak memiliki ruang untuk bergerak. Alden membenamkan wajahnya di bahu Aleta, menghirup aroma sabun yang tertinggal di kulit gadis itu, napasnya terasa panas di ceruk leher Aleta.

"Diam," desis Alden, suaranya terdengar parau, sarat akan emosi yang kompleks—penyesalan yang terbungkus paksaan.

"Aku tahu aku salah. Tapi berhenti berontak, Aleta. Kamu nggak akan bisa pergi ke mana pun dari sini."

Pelukan itu terasa sangat mencekik, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin bagi Aleta yang kini hanya bisa mematung di dalam dekapan Alden, air matanya jatuh tanpa suara karena tahu bahwa

perlawanannya sekali lagi akan sia-sia.

Setelah dirasa berontakan tubuh Aleta mulai mereda dan gadis itu hanya bisa pasrah dalam diam, Alden perlahan melonggarkan kuncian lengannya. Ia melepaskan pelukannya, memberikan sedikit jarak, namun kedua tangannya tetap bertumpu di sisi kiri dan kanan tubuh Aleta, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan dinding kamar.

Alden menurunkan pandangannya, menatap lekat-lekat Aleta yang kini tertunduk dalam. Rambut gadis itu sedikit berantakan, dan dari posisi ini, Alden bisa melihat dengan jelas bagaimana bahu Aleta naik-turun menahan napas yang masih tersengal.

Aleta sama sekali tidak mau mendongak. Ia menolak untuk menatap mata cowok yang baru saja memeluknya dengan paksa. Baginya, menatap Alden hanya akan membawa kembali memori kelam yang sejak tadi pagi berusaha ia singkirkan dari kepalanya.

🌍🌍🌍

Keheningan kembali merayap di antara mereka. Alden memperhatikan jemari Aleta yang meremas kuat ujung kaus yang dipakainya hingga memutih. Rasa bersalah yang sempat tertutup ego itu kini kembali mencuat di dada Alden saat melihat betapa hancurnya pertahanan gadis di hadapannya ini.

"Aleta, tatap aku," ucap Alden rendah, suaranya kini terdengar lebih tenang namun tetap menuntut kepatuhan.

Aleta tetap bergeming. Ia menutup rapat mulutnya, menolak mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan tidak berniat untuk menggerakkan kepalanya. Baginya, keheningan adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa.

Melihat keras kepalanya gadis itu, Alden kehilangan kesabaran. Dengan satu tangannya yang besar, ia menangkap dagu Aleta. Jari-jarinya mencengkeram dengan sedikit penekanan, tidak sampai melukai, namun cukup kuat untuk memaksa kepala Aleta terangkat hingga gadis itu terpaksa menatap langsung ke dalam manik matanya.

Saat mata mereka bertemu, Alden bisa melihat dengan jelas pantulan rasa takut, benci, dan kehancuran yang amat dalam di mata Aleta. Pandangan itu seolah menusuk tepat di dada Alden, meruntuhkan keangkuhannya dalam sekejap. Tenggorokannya mendadak tercekat.

"Maaf..."

Hanya itu yang mampu Alden ucapkan. Suaranya terdengar serak, berat, dan dipenuhi oleh beban rasa bersalah yang teramat sangat. Kata yang selama ini hampir tidak pernah keluar dari bibir seorang Alden, kini ia rapalkan di depan gadis yang telah ia hancurkan dunianya dalam semalam.

Aleta tetap bergeming. Tidak ada binar pengampunan, tidak ada air mata baru yang menetes, pun tidak ada makian. Tatapan mata Aleta terasa kosong dan dingin, seolah kata maaf dari Alden tidak lebih dari sekadar angin lalu yang tak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebebasan dan harga diri yang telah dirampas darinya.

Mendengar keheningan Aleta yang terasa begitu menyiksa, Alden perlahan mengendurkan cengkeramannya di dagu gadis itu, namun ia tidak menjauhkan wajahnya. Ia perlu Aleta tahu bahwa semuanya sudah ia atur, bahwa tidak ada gunanya gadis itu berharap akan ada orang yang datang menyelamatkannya dalam waktu dekat.

"Kamu nggak perlu khawatir tentang ibu kamu," ujar Alden pelan, suaranya terdengar begitu tenang namun mengerikan di telinga Aleta.

Aleta sedikit tersentak. Nama ibunya seolah memicu kembali kesadarannya yang sempat mati rasa.

"Tadi pagi, sebelum berangkat ke sekolah, aku udah ke rumah kamu," lanjut Alden, menatap lekat-lekat sepasang mata yang kini mulai bergerak gelisah itu.

"Aku ketemu langsung sama ibu kamu. Aku bilang ke dia... kalau anak-anak baru kelas sepuluh wajib ikut penginapan di sekolah selama masa MPLS ini. Aku bilang ini bagian dari kegiatan kedisiplinan dari OSIS."

Aleta membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Alden menemui ibunya? Membohongi ibunya?

"Lalu... ponselmu," Alden menjeda kalimatnya, kilatan posesif kembali muncul di matanya yang tajam.

"Aku juga udah jelasin ke dia, kenapa kamu bakal susah banget dihubungin beberapa hari ke depan. Aku bilang, peraturan dari panitia OSIS sangat ketat. Semua ponsel siswa baru disita selama kegiatan berlangsung dan baru dikembalikan waktu MPLS selesai."

Mendengar penjelasan itu, runtuh sudah seluruh harapan yang sempat Aleta bangun sejak pagi tadi. Alden telah menyusun kebohongan ini dengan begitu rapi memanfaatkan jabatannya sebagai Ketua OSIS. Ibunya yang polos pasti memercayai ucapan cowok terhormat di sekolah itu tanpa curiga sedikit pun.

"Ibu kamu percaya, Aleta. Dia bahkan nitip salam buat kamu supaya kamu belajar yang rajin di sini," bisik Alden lagi, seolah memberikan hantaman terakhir pada harapan Aleta.

"Jadi, nggak akan ada yang nyariin kamu ke sini. Kamu aman di sini, sama aku."

Aleta mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Rasa muak, benci, dan putus asa berbaur menjadi satu di dadanya. Cowok di depannya ini benar-benar monster yang manipulatif.

🌍🌍🌍

"Kamu..." Aleta bersuara, namun kalimatnya langsung terputus di udara.

Lidahnya mendadak kelu. Ia menatap Alden dengan tatapan yang bercampur aduk antara amarah, ketakutan, dan rasa tidak percaya. Kata-kata seperti 'kamu gila', 'kamu iblis', atau 'lepaskan aku' mendadak menguap begitu saja. Kebohongan Alden yang begitu rapi dan manipulatif membuat Aleta benar-benar kehilangan kata-kata. Ia bingung harus bicara apa lagi untuk menyadarkan cowok di depannya ini.

Alden tidak membalas kebisuan itu dengan amarah. Ia justru tetap menatap Aleta dengan begitu lekat, seolah sedang memetakan setiap jengkal ekspresi di wajah gadis itu.

saat pandangan Alden turun, tatapannya mendadak terkunci pada satu titik.

Di bagian ujung bibir Aleta, ada luka kecil yang sedikit membengkak—bekas robekan akibat ciuman kasarnya semalam. Dan begitu pandangannya turun lebih jauh ke arah leher jenjang Aleta yang kini tak lagi tertutup rambut, napas Alden mendadak tertahan.

Kaus longgar yang dipakai Aleta memperlihatkan dengan jelas noda-noda merah keunguan yang kontras di atas kulit putihnya yang bersih. Jejak-jejak kepemilikan paksa yang ia cetak dengan penuh amarah semalam kini terpampang nyata, terlihat begitu pekat dan menyakitkan.

Melihat bukti nyata dari kebrutalannya sendiri, tangan Alden yang tadi mencengkeram dagu Aleta perlahan turun, bergetar kecil. Ada rasa perih yang aneh yang tiba-tiba menjalar di dadanya saat menyadari bahwa dialah yang telah menorehkan luka-luka itu pada tubuh gadis yang kini terperangkap di hadapannya.

Ego Alden memang terlalu tinggi untuk membiarkan Aleta terus berdiam diri dalam kelaparan. Ia tidak butuh Aleta untuk merespons ancamannya; ia hanya perlu memastikan Aleta patuh.

Dengan gerakan yang tenang namun intimidatif, Alden bangkit dari posisinya. Ia melangkah menuju meja, mengambil nampan berisi makanan yang masih utuh itu, lalu kembali ke sisi Aleta. Ia duduk di atas karpet, tepat di sebelah gadis itu, memposisikan dirinya begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.

Aleta sontak menegang, tubuhnya merapat ke dinding seolah mencoba menembus tembok agar bisa menghilang. Ia bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari sosok Alden di sampingnya.

Alden tidak memedulikan kegelisahan Aleta. Ia meletakkan nampan itu di pangkuannya sendiri, lalu mengambil sendok berisi nasi dan lauk. Ia mengaduknya pelan, membiarkan aroma makanan itu tercium di udara, sebelum akhirnya mengarahkan sendok tersebut tepat di depan bibir Aleta.

"Buka mulutnya," perintah Alden singkat, tanpa nada bantahan. Tatapannya lurus ke depan, seolah-olah ia sedang melakukan sesuatu yang sangat wajar, padahal di dalam ruangan itu, Aleta sedang berjuang menahan isak tangis karena merasa dipaksa tunduk sepenuhnya oleh keinginan cowok itu.

🌍🌍🌍

Persiapan diri kalian yaa, ini salah satu bagian yang ga boleh kalian skip😚

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!