Ada pepatah terkenal, "Jangan menilai seseorang dari luarnya."
Theodore Arvan Ilyas. Semua wanita akan setuju kalau dia tampan bak jelmaan malaikat. Namun, apakah hatinya juga sebaik malaikat? Sayangnya iya. Itulah yang membuat Farah merasa dirinya tak pantas untuk sekedar berharap Theo melihat ke arahnya.
Karya kedua setelah Hutang Kepada Mr. Devil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wedding Planner 2
“Kak Sammy, itu tadi siapa? Kok wajahnya kayak artis Drakor?” tanya Fatah sesaat saat Kang bodyguard meninggalkan mereka.
“Oh itu bodyguard temen aku ini,” jawab Sammy santai sambil menyeruput espresso.
“Eh beneran?” tanya Fatah yang masih tak percaya. Ia memperhatikan kembali penampilan Farah dari ujung rambut sampai ujung jempol. Tidak ada tanda-tanda seorang putri milyuner yang melekat padanya. Biasanya yang punya pengawal kalau bukan artis ya calon pewaris. Fatah mengerjab-kerjab ketika kedapatan memperhatikan Farah.
“Apa lihat-lihat?!” Semacam itu kalau tatapan tajam Farah dibahasakan. Membuat pipi Fatah bersemu. “Lah kok aneh,” pikir Farah. “Cowok kok blushing.”
“Raisa!” sentak Fatah kepada partnernya, “Lo baik-baik saja? Bengong mulu.” Gantian Fatah mengagetkan partner-nya. Lumayan bisa sedikit meredam rasa malu.
“Eh maaf,” jawab gadis itu. “ Mmm, Kak Sammy. Bodyguard-nya namanya siapa?” tanya Raisa malu-malu.
“Tanya ke Nyonya Besar di samping aku, nih.” Sammy menunjuk Farah dengan dagunya.
Raisa menatap wajah Farah. “Eng, gak jadi deh.” Raisa batal bertanya karena melihat Farah yang tampak tak kooperatif.
Sammy menahan tawanya. “Hei, Farah. Itu tampang dibenerin dikit dong. Raisa takut, tuh.”
“Emang tampang aku kenapa?” tanya Farah yang tak paham dengan dirinya sendiri.
Meskipun dibawakan cermin di depannya, Sammy yakin kalau Farah tidak sadar. “Judes, Buk serius.”
Farah mengulas senyuman. “Kan gue gak gitu orangnya.”
“Iya, gue tahu. Kalau lo lagi jalan sama gue dan Gwen, sih gak gitu amat. Tapi kalau sama orang lain beda.”
“Oh,” jawab Farah pendek.
“Ngomong-ngomong ntar kalau ketemu calon suami jangan pasang tampang jutek, ya.” Farah membeliak. Debaran riuh yang tadi sempat menghentakkan jantungnya saat mendengar kabar kalau Theo akan datang, kini kembali lagi.
“Sialan lo Samm.”
Sammy tertawa kecil menyadari kalau Farah kembali gemetar. Meskipun tampang kaku bisa saja menipu, tapi Sammy sudah lama berteman dengan Farah hingga menyadari kalau Farah tidak dapat menyembunyikan tanda kegugupan yang muncul di tangannya.
--------
Setengah jam kemudian Sammy sudah memutuskan venue dan dekorasi yang ia pilih. Biasanya beberapa pasangan harus cek lokasi dulu sebelum memutuskan akan mengambil venue. Tapi Sammy tidak perlu melakukannya. Ia sudah kenal lokasi-lokasi yang ditunjukkan oleh Fatah karena Sammy juga sering kerjasama dengan hotel selama bekerja. Beberapa venue yang ditunjukkan Fatah pernah ia pakai sebagai lokasi pemotretan model dari agensinya.
Sammy menghubungi Rey dengan video call untuk meminta persetujuannya. Tapi Rey selalu cocok dengan selera Sammy, jadi Rey menyerahkan semua keputusan kepadanya.
“Biayanya hampir lima ratus lho, Rey. Ga pa-pa nih?” tanya Sammy sekali lagi. Lima ratus juta untuk dihabiskan dalam dua hari, meskipun Sammy bisa menghasilkan sejumlah uang yang sama dalam sebulan tapi rasanya kok sayang. Tanpa sadar ia sudah tertular sikap hemat si ratu triliuner, siapa lagi kalau bukan Gwen. Meskipun suaminya yang tampan dan tajir, pemilik tambang berlian dan perusahaan properti yang menguasai Asia, tapi sahabatnya itu tetap tak pernah terlihat berfoya-foya. Brand pakaian yang dia suka adalah yang lokal, dan sekarang buatan Farah masuk dalam top list. Dia tak mengoleksi banyak tas, karena dia lebih membutuhkan tas kulit dokter untuk menyimpan peralatan medis sehari-hari.
“Gak pa-pa, Hun. Ini kan sekali buat seumur hidup. Ingat semua pakai uang aku, ya,” jawab Rey.
Dan saat Sammy memutus panggilannya, yang terlihat meleleh adalah Fatah dan Raisa. “So sweeet,” komentar Fatah. “Ane demen, deh laki kayak calon suaminya Kak Sammy. Gak rewel orangnya.”
“Kalau lo lihat calon suami Nyonya ini, lo pasti lebih demen, gue jamin.” Sammy menaikkan alisnya. Fatah jadi makin penasaran dengan sosok yang disebut Sammy.
Farah mendengus. “Sammy ....” peringatan itu disampaikan dengan tatapan tajam, tapi Sammy sudah kebal dengan ekspresi membunuh Farah.
Namun, karena Fatah sudah profesional, pembicaraan calon suami klien yang most wanted ia kesampingkan dulu. Dia kembali fokus pada pekerjaannya, merencanakan pesta pernikahan Sammy sehingga menjadi Unforgettable memories.
“Jadi kita minggu depan langsung ke lokasi aja, ya Kak untuk food testing dan booking tempat,” ujar Fatah.
“Oke.” Sammy langsung setuju.
Farah mengalihkan perhatian ke ponselnya. Ia mengirimkan pesan ke Fatma, menanyakan kabar Galen yang sedang dijaga olehnya. [Galen gimana, Bund?]
[Tadi udah makan, sekarang masih tidur. Kamu jangan kuatir, puas-puasin jalan-jalannya. Masih ada ASIP di kulkas. Galen gak rewel anaknya.] (ASIP \= ASI Perah)
[Ya Bund, makasih.]
[Oh ya, tadi Theo telepon.]
DEG!
Tiba-tiba saja Farah berhenti bernapas. [Dia ijin Bunda nyusul kamu ke mall.]
Di tengah pembicaraan yang kembali serius antara Sammy dengan kedua wedding planner, mereka dikejutkan oleh kedatangan Theo yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja mereka.
Speak of the devil, si Theo sudah muncul di hadapan Farah sebelum ia bisa membalas pesan ibunya.
“Hai, boleh aku duduk di sini?” Theo menggeser kursi kayu berpelitur kecoklatan agar ia bisa duduk.
“Oh, udah dateng,” sapa Sammy. Ia melirik ke arah Fatah, dan benar saja pria melambai itu hampir-hampir mengeluarkan air lirnya. “Om, udah selesai.” Sammy melambaikan telapak tangannya ke depan Fatah. Sehingga pria itu tergagap, “Oh eh, i iya Kak.”
“Kita pindah meja dulu, beri mereka privasi,” ujar Sammy sambil mengambil cangkir kopinya dan pindah ke meja yang lain. Fatah dan Raisa mengikutinya.
“Bule, Kak?” tanya Fatah takjub.
“Tu mata dijaga, ya. Lakinya sohib gue tuh.”
“Iya ya, Kak. Sorry. Kan emang ganteng full. Kalau sama yang macem gitu jiwa hompimpa ane meronta-ronta pengen dibebasin.” Raisa menahan tawa mendengar pernyataan jujur Fatah.
“Jadi sekarang belum hompimpa?” tanya Sammy heran.
“Ya gak lah, Kak. Ane normal meskipun sedikit belok.”
Sammy tak paham maksud istilah yang dipakai oleh Fatah. “Maksudnya?”
“Ane masih suka cewek kok, Kak. Cuma ya gitu, harus yang garang. Kalau terlalu gemulai, ane merasa tersaingi.”
Kali ini Sammy tertawa. “Gue baru ketemu spesies langka kayak lo.” Fatah hanya senyam-senyum menahan malu. “Eh tapi sohib gue garang, loh.” Maksud Sammy adalah Farah, dan Fatah bersemu kemerahan kembali. Sammy tertawa lagi.
Rambut Theo yang biasa rapi terlihat sedikit acak-acakan, mungkin karena angin di bandara, pikir Farah. Senyumnya selalu memikat dan mata birunya yang menghanyutkan.
“Maaf lama, tadi jalanan macet,” kata Theo. Dibalas anggukan oleh Farah. Dia belum bisa mengeluarkan suara. Seorang pelayan menghampiri mejanya dan menanyakan pesanan. Theo memesan kopi espresso saja.
Saat pelayan meninggalkan meja mereka Theo kembali bicara. “Aku kangen lihat wajah kamu.” Pengakuan jujur itu meluluh lantakkan pertahanan Farah.
Dia menundukkan pandangan dan mencari-cari sesuatu di lipatan ujung kukunya mungkin saja ada kotoran di sana, sayangnya tidak. Sehingga Farah bingung harus berbuat apa untuk menutupi rasa aneh di dada yang merambat hingga ke pipinya.
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞
kebayang g sih wajah Zach yg ituuu truss senyum2 gaje🤣🤣
bumi kepada othor
bumi kepada othor
tapii
Theo nya kurang gahar dikit
ganteng pinter tapi kok aga be... dlm mslh asmara sich
gemeshh dweh
thd siapa saja
terutama anak dan pasangan kta
kan cerita ini ada mafia2nya juga.