NovelToon NovelToon
Bangkitnya Sekte Kuno: Meraih Puncak Tertinggi

Bangkitnya Sekte Kuno: Meraih Puncak Tertinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEKTE KUNO 18

Ziyan membelalakkan matanya, mengangkat pedang tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke depan dengan sekuat tenaga!

WHUSH!

Angin berhembus, tetapi tebasannya masih terasa berat dan mentah. Ayunan pedang itu hanya menciptakan angin yang sedikit lebih kencang dari sebelumnya, namun gagal mencapai jarak jauh.

Tiancheng menggelengkan kepala, mendecah pelan. "Masih salah. Kau masih menggunakan ototmu, bukan energimu. Biar aku tunjukkan."

Sebelum Ziyan sempat memprotes, Tiancheng sudah melangkah rapat ke belakang tubuh muridnya itu. Dada tegap Tiancheng menempel rapat di punggung Ziyan. Tangan besarnya yang hangat melingkar, memegang jemari Ziyan yang berada di gagang pedang. Sementara tangan kiri Tiancheng menempel di pinggang Ziyan, membenarkan posisi panggulnya.

"Genggam pedang ini seolah kau memegang burung kecil," bisik Tiancheng tepat di samping telinga Ziyan. Sentuhannya yang tegas membuat Ziyan terdiam seribu bahasa, seluruh fokusnya mendadak terkunci. "Jika kau menggenggamnya terlalu keras, dia akan mati. Jika terlalu longgar, dia akan terbang. Rasakan genggamanku."

Tiancheng menyalurkan sedikit qi miliknya ke dalam tubuh Ziyan. Seketika, Ziyan merasakan aliran hangat yang sangat murni dan dahsyat mengalir mengaliri pembuluh darahnya, membersihkan segala batasan dan penyumbatan energi yang tadi menyiksanya.

"Posisikan kakimu seperti ini..." Tiancheng menggeser sedikit tumit kiri Ziyan dengan kakinya sendiri. "Dan panggulmu... sedikit diputar ke kiri. Nah, sekarang... rasakan anginnya."

Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah. Dedaunan di pohon-pohon besar di sekeliling kebun mulai bergoyang hebat. Udara di sekeliling mereka seolah ditarik masuk ke pusat pedang yang dipegang bersama oleh guru dan murid tersebut.

"Satu... dua... ayunkan!"

Tiancheng menggerakkan lengan Ziyan. Gerakannya tidak cepat, tidak juga terlihat bertenaga, melainkan sangat halus, seperti seorang penari yang menyapu udara dengan selendang silk. Namun, begitu pedang itu berada di titik terendah ayunan...

BOOMMMMM!

Sebuah gelombang tebasan angin berwarna biru pucat meluncur deras dari mata pedang. Tebasan berbentuk sabit itu membelah udara dengan suara menderu yang memekakkan telinga. Gelombang qi itu melesat cepat, melompati jarak puluhan meter, melintasi area kebun, dan menabrak sebuah batu hitam raksasa yang berdiri kokoh di kaki bukit.

KRAKKKK! DUAMM!

Batu hitam seukuran rumah kecil itu terbelah sempurna menjadi dua bagian! Permukaan belahannya begitu rata, seolah dipotong menggunakan pisau dapur yang menyayat tahu lembut. Debu dan serpihan batu membumbung tinggi ke udara, diiringi angin kencang yang mengempaskan pakaian mereka berdua.

Ziyan terperangah. Matanya membelalak tak percaya. Mulutnya menganga lebar menatap batu raksasa yang kini telah terbelah dua di kejauhan.

"I-Ini... ini benar-benar perbuatanku?!" teriak Ziyan histeris. Sensasi energi dahsyat yang baru saja mengalir di tubuhnya membuat jantungnya berdegup kencang karena rasa gembira yang meluap-luap. Rasa kesal, lelah, dan frustrasi yang menumpuk sejak pagi menguap tanpa bekas dalam sekejap!

"Guru! Kau lihat itu?! Batu itu terbelah! Aku membelahnya!" jerit Ziyan girang. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik tubuh dan langsung melompat, memeluk leher Tiancheng dengan sangat erat. "Aku berhasil! Aku berhasil menguasai Inti Pedang Ketiga! Guru memang yang terbaik!"

Tiancheng yang tidak siap menerima serbuan pelukan tiba-tiba itu hampir saja hilang keseimbangan. Wajahnya menggelap seketika.

TAK!

"Aww! Aduh!" Ziyan melepaskan pelukannya dengan cepat, memegangi kepalanya yang baru saja dihantam pukulan lumayan keras dari gurunya.

"Kurang ajar," tegur Tiancheng dingin, meskipun matanya berkilat geli. "Siapa yang mengizinkanmu memelukku sembarangan? Lagipula, itu bisa berhasil karena aku yang mengarahkan energimu! Jika kau berlatih sendiri tanpa pemahaman mendalam, kau hanya akan melukai dirimu sendiri."

Ziyan mengerucutkan bibirnya lagi, mengusap kepalanya yang berdenyut. "Tapi setidaknya aku sudah tahu rasanya, Guru! Nanti aku pasti bisa melakukannya sendiri!"

Tiancheng mendengus, merapikan jubahnya yang sedikit kusut akibat pelukan Ziyan tadi. Ia kemudian membalikkan badan, mengalihkan pandangannya ke arah kamar pengobatan tempat pemuda terluka itu dibaringkan.

"Bagaimana kondisi pemuda Keluarga Liu itu sekarang?" tanya Tiancheng datar.

Raut wajah Ziyan seketika berubah muram dan jijik. "Ah, orang itu? Sangat parah, Guru! Seluruh bajunya bersimbah darah, napasnya satu-satu seperti ikan terdampar, dan dadanya penuh luka tebasan hitam yang mengerikan. Sepertinya sebentar lagi dia akan mati. Lagipula, untuk apa sih kita menolong orang mati seperti—"

PLAK!

Pukulan kedua mendarat telak di puncak kepala Ziyan, kali ini jauh lebih keras hingga membuat bocah itu mengaduh kencang dan terduduk di tanah.

"Aduhh! Guru! Kenapa memukulku lagi?!" protes Ziyan dengan mata berkaca-kaca.

"Berapa kali harus kukatakan padamu, Su Ziyan?!" suara Tiancheng terdengar amat menakutkan, penuh tekanan wibawa seorang ahli kultivasi tinggi. "Jangan pernah meremehkan nyawa orang lain! Sekecil atau sehina apa pun status seseorang, nyawa bukanlah sesuatu yang boleh kau jadikan lelucon atau kau harapkan melayang begitu saja! Jika kau tidak memiliki rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap nyawa, untuk apa kau mempelajari seni pedang? Apakah kau berlatih pedang hanya untuk menjadi pembunuh berdarah dingin?!"

Ziyan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa takut dan bersalah membakar dadanya. "M-Maafkan aku, Guru... Aku salah..."

Tiancheng menghela nafas kasar, meredakan emosinya. "Pergi ke dapur. Bantu Yuanling menyiapkan air panas dan menjaga api rebusan obat. Jika kau membuat kesalahan lagi hari ini, aku akan menyuruhmu berdiri di atas satu kaki sambil memegang dua batu besar sampai besok pagi."

"I-Iya, Guru! Aku pergi sekarang!" Ziyan buru-buru bangkit berdiri dan berlari kencang menuju dapur, takut gurunya benar-benar melaksanakan ancamannya.

Setelah Ziyan menghilang di belokan koridor, Tiancheng melangkah perlahan menuju kamar pengobatan. Ia mendorong pintu kayu tebal itu hingga terbuka tanpa suara.

Bau amis darah yang pekat bercampur dengan aroma obat-obatan menusuk hidungnya seketika. Di atas ranjang kayu, terbaring seorang pemuda dengan wajah pucat pasi bak mayat. Napasnya sangat lemah, dadanya bernapas naik-turun secara tidak teratur. Pakaian yang dikenakannya sudah robek-robek, dan di balik robekan itu, terlihat luka tebasan pedang yang menghitam, tanda bahwa pemuda ini tidak hanya diserang dengan senjata tajam, tetapi juga dihantam dengan energi jahat yang beracun.

Ia meraba pergelangan tangan pemuda itu, menyalurkan sedikit qi untuk memeriksa denyut nadinya. Denyutnya sangat lambat, rapuh, dan sewaktu-waktu bisa terputus.

"Keluarga Liu musnah... dan pelayan ini membawa rahasia besar itu sampai ke sini," gumam Tiancheng pelan. Matanya berkilat penuh misteri. "Dunia luar akan segera bergolak."

...****************...

Di dalam aula utama Sekte Lembah Sunyi, sebuah sekte kultivasi penyandangan aura iblis yang sangat ditakuti di wilayah barat, suasana terasa begitu mencekam. Udara di dalam ruangan itu serasa membeku, sarat akan aura pembunuh yang amat pekat hingga membuat para murid penjaga di luar aula gemetaran ketakutan.

Aura kegelapan membumbung tinggi dari lima sosok kuat yang duduk di kursi kebesaran mereka.

Di kursi tertinggi, duduk Ketua Utama Sekte Lembah Sunyi, seorang pria paruh baya bernama Mo Wuji. Matanya yang merah menyala berkilat penuh amarah yang menghancurkan. Di sisi kiri dan kanannya, duduk Ketua Lembah Satu yang berwajah dingin bak es, Ketua Lembah Tiga yang berbadan kekar dengan aura haus darah, serta Sesepuh Luar Sekte yang memegang tongkat berkepala tengkorak.

Namun, aura yang paling berbahaya dan tidak terkendali justru datang dari seorang pemuda berjubah hitam bersulam naga perak yang berdiri di tengah aula. Dialah Sang Putra Suci Sekte Lembah Sunyi, Lu Yunyao.

"Bicaralah sekali lagi!" raung Lu Yunyao, suaranya menggelegar menghantam dinding aula hingga menimbulkan retakan halus. Wajahnya yang tampan kini terdistorsi oleh kemurkaan yang tiada tara. "Apa yang terjadi dengan Keluarga Liu?!"

Seorang mata-mata berjubahkan kain abu-abu berlutut gemetaran di lantai dingin. Tubuhnya tersungkup rapat ke lantai, tidak berani menatap mata Sang Putra Suci.

"A-Ampun, Putra Suci! A-Keluarga Liu... seluruh kediaman Keluarga Liu telah rata dengan tanah!" lapor mata-mata itu dengan suara bergetar hebat. "Tidak ada satu pun yang tersisa! Tuan Besar Liu, para tetua, bahkan para prajurit dan pelayan... semuanya dibantai habis dalam satu malam! Kediaman mereka dibakar hingga menjadi abu!"

"APA?!"

BUMMM!

1
SENJA
ga sia sia turun gunung 🤣
SENJA
wah mantabs! instan hasilnya
SENJA
hmmm kemana kesombongan kalian 🤨
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
wihhhh enaknya ada pil panjang umur disini bagi dong Li 🤭🤣🤣🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
Zhao ini merasa dia paling sakti saja jadi dia menindas orang seenaknya sendiri memaksakan kehendaknya sendiri belum tau aja kalo ketemu Li Tiancheng habis kau
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
ini ketua sekte apaan suka intimidasi orang seenaknya sendiri mana mau memaksa lagi padahal anaknya tidak mau😏
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
baru juga di tingkat Ranah suci sombongnya amit amit ini Zhao woy diatas langit masih ada langit kau memang cocok diseumpamakan dengan serangga kecil 🤭
SENJA
sukur lu 😤
SENJA
lu ga tau dia lebih hebat tapi ngga sombong dan banyak bacot kaya lu 😄
SENJA
hmmm sombong amat 😤😤😤
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
dihhh ini sekte awan kok memaksa anak kecil supaya masuk ikut ke sektenya aneh anaknya mau kali kakeknya juga ikut tapi dia tak mau menerima kakeknya 😏
SENJA
mantabs! lawang sekte sombong begini 😤
SENJA
hmmm baru sekte menengah aja gayanya selangit 😮‍💨
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
wah bakalan seru nih nanti Valeska sama Su Ziyan 🤔🤭🤣🤣🤣
SENJA
berasa jalan jalan aja 😄
SENJA
lemah aja sok keras Lu 😄
SENJA
baru setitik itu 🤣
SENJA
belum tau aja kau rubah 🤣
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Ling Ling kalo kau keras kepala yang rugi kau sendiri bilang tidak mau lagi kau yang akan rugi
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
berpikir positif aja luu Valeska kau itu terluka parah kultivasi juga turun jauh kalo nurut sama Li Tiancheng minimal kau disembuhkan dan bisa kembali kuat lagi bahkan lebih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!