NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Secangkir teh hangat

Sore itu hujan turun deras sekali, mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan suara berisik seolah ingin ikut masuk ke dalam ruangan. Langit berubah kelabu pekat, membuat suasana di dalam apartemen terasa lebih gelap dari biasanya meski jarum jam baru menunjukkan pukul empat sore.

Karin duduk di lantai ruang tengah, bersandar pada sisi sofa sambil memeluk lutut. Di depannya ada tumpukan lembaran skripsi yang baru saja dia selesaikan revisi, tapi matanya malah melamun menatap butiran air yang meluncur turun di kaca. Perasaan masih bergejolak mengingat kejadian kemarin di ruang dosen rasa lega karena tidak ketahuan, tapi disusul rasa aneh yang tak kunjung hilang setiap kali teringat tatapan Arkan saat mereka berdua saja di ruangan itu.

Bunyi ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak. Dia bangkit perlahan, membuka kunci pintu, dan mendapati Arkan berdiri di ambang pintu dengan dua cangkir berasap di tangan. Hujan di luar membuat bahu kemejanya sedikit basah, tapi wajahnya tetap tenang seperti biasa.

"Belum makan?" tanyanya pelan, lalu melangkah masuk tanpa menunggu jawaban. Dia meletakkan cangkir itu di meja kecil dekat jendela. "Saya bikin teh jahe. Katanya bagus buat badan kalau cuaca dingin begini."

Karin duduk di hadapannya, memegang cangkir dengan kedua tangan. Hangatnya merambat cepat ke seluruh tubuh, membuat otot-otot yang tegang perlahan rileks. "Makasih. Kamu kok tau saya belum makan?"

Arkan duduk tegak, menatap hujan di luar sejenak sebelum menjawab. "Tadi lewat depan kamarmu, pintunya terbuka sedikit. Lihat kamu masih sibuk dengan kertas-kertas itu. Biasanya kalau sudah begini, kamu lupa waktu."

Karin menunduk menatap permukaan teh yang beriak pelan. Lagi-lagi hal kecil yang dia pikir tidak diperhatikan, ternyata dicatat baik-baik oleh laki-laki di hadapannya. "Maaf ya, sering bikin repot."

Arkan menggeleng pelan. "Tidak merepotkan. Lagipula... bagian dari kesepakatan, ini juga menjaga kamu tetap sehat, kan? Kalau kamu sakit, siapa yang mau menyelesaikan kewajibanmu?"

Kata-katanya terdengar seperti alasan biasa, tapi nada bicaranya lembut, tidak seperti sedang menegur atau mengingatkan perjanjian. Karin memberanikan diri menatap wajahnya lebih lama dari biasanya. Di bawah cahaya lampu yang temaram, garis rahangnya terlihat lebih lembut, dan ada lingkaran samar di bawah matanya tanda dia juga kurang tidur belakangan ini.

"Kamu sendiri gak capek?" tanyanya tiba-tiba. "Harus ngajar, ngurus berkas di kampus, terus pulang masih harus mikirin saya."

Arkan terdiam sebentar, lalu menyesap tehnya pelan. "Saya terbiasa sibuk. Tapi... melihat kamu bisa berjalan dengan baik, itu cukup buat saya."

Kalimat itu terucap begitu saja, tanpa persiapan. Keduanya sama-sama terdiam setelahnya, suara hujan di luar tiba-tiba terdengar sangat keras. Arkan memalingkan wajah, menyembunyikan kemerahan yang mulai muncul di telinganya. Dia tidak pernah berniat mengatakan hal sedemikian rupa, tapi saat melihat mata Karin yang menatapnya dengan pandangan lelah namun tulus, kata-kata itu keluar begitu saja.

"Eh... maksudnya," dia berusaha memperbaiki ucapan, "biar pernikahan ini tidak berantakan di tengah jalan."

Karin tersenyum tipis, tahu persis apa yang dia rasakan. "Iya, saya ngerti.makasih, Pak Arkan."

Mereka menghabiskan teh dalam diam, tapi bukan keheningan yang canggung. Rasanya nyaman, seperti dua orang yang sudah saling mengenal lama dan tidak perlu banyak bicara untuk mengerti satu sama lain.

Keesokan harinya di kampus, suasana kembali sibuk seperti biasa. Karin berjalan cepat menuju ruang perpustakaan, berniat meminjam referensi tambahan sebelum jam makan siang. Saat melewati koridor dekat ruang dosen, dia melihat sekelompok mahasiswi berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah pintu ruangan Arkan yang terbuka.

"Katanya Pak Arkan belum pernah pacaran lho," bisik salah satu dari mereka. "Saya dengar dari kakak tingkat, dia selalu menolak ajakan makan siang dari mahasiswi maupun staf lain."

"Wah, beneran dingin banget ya," sahut temannya. "Padahal kalau diliat-liat, ganteng juga. Siapa ya perempuan yang bakal beruntung dapetin hatinya?"

Jantung Karin berdegup aneh mendengar percakapan itu. Dia tahu Arkan tidak pernah dekat dengan perempuan, tapi mendengarnya langsung dari orang lain terasa berbeda. Dia mempercepat langkah, berniat lewat begitu saja, tapi tiba-tiba suara Arkan terdengar dari dalam ruangan.

"Karin, bisa masuk sebentar?"

Seluruh mata mahasiswi di koridor langsung beralih ke arahnya. Wajah Karin terasa panas seketika. Dia menelan ludah, berusaha terlihat tenang, lalu melangkah masuk ke ruangan dan menutup pintu rapat-rapat.

"Pak... jangan panggil nama saya di depan pintu terbuka gitu," bisiknya dengan nada cemas. "Nanti mereka salah paham."

Arkan yang sedang menyusun berkas di meja menoleh bingung. "Salah paham soal apa? Bukannya tadi kamu lewat di depan pintu?"

"Mereka tadi lagi ngomongin Bapak," jawab Karin pelan, lalu duduk di kursi tamu. "Katanya Bapak dingin, nggak pernah dekat sama perempuan. Terus Bapak panggil saya begitu saja... pasti mereka mikir aneh-aneh."

Arkan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Itu pertama kalinya Karin melihatnya tertawa lepas begitu bukan senyum tipis atau sekadar mengangkat sudut bibir, tapi tawa yang membuat matanya menyipit dan wajahnya terasa jauh lebih muda.

"Kamu ini aneh," ucapnya sambil menepuk meja pelan. "Kamu kan mahasiswaku. Wajar kalau saya panggil untuk urusan akademik."

"Tapi kan posisinya beda kalau yang lain nggak tau," protes Karin sambil memainkan ujung bajunya.

Arkan berhenti tertawa, menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut. "Biar mereka mikir apa saja. Yang penting kita berdua tau batasnya. Lagipula..." dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan pelan, "saya tidak merasa salah kalau berbicara denganmu."

Karin tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya menunduk, berusaha menyembunyikan senyum yang tak bisa dia tahan. Arkan mengambil sebuah buku dari rak, menyerahkannya kepadanya.

"Ini buku referensi yang kamu cari kemarin. Kebetulan saya punya salinan tambahan. Jangan lupa dikembalikan nanti," katanya sambil berdiri. "Dan satu hal lagi..."

Dia berjalan mendekat, mencondongkan badan sedikit ke arah Karin. Napas Karin tertahan sejenak.

"Jangan terlalu memikirkan omongan orang lain," bisiknya pelan. "Fokus saja pada apa yang kamu butuhkan."

Saat Arkan menarik badan kembali, pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar. Seorang dosen staf masuk membawa tumpukan kertas, dan matanya terbelalak melihat posisi mereka yang berdekatan.

"Eh... maaf ganggu," ucap dosen itu canggung. "Saya kirim berkas rapat."

Karin langsung melompat berdiri, wajahnya merah padam. Arkan tetap tenang, menyambut berkas itu dengan santai seolah tidak ada apa-apa di antara mereka berdua.

"Terima kasih, Bu," ucapnya sopan. "Saya dan Karin baru selesai berdiskusi."

Karin berjalan keluar ruangan dengan langkah tergesa-gesa, merasakan tatapan penasaran dari staf yang baru masuk itu di punggungnya. Begitu sampai di koridor yang sepi, dia bersandar pada tembok sambil memegang dada. Hampir saja lagi rasanya setiap hari selalu ada momen yang bikin jantungnya mau copot.

Sore harinya saat pulang ke apartemen, Arkan sudah ada di dapur, sedang memotong sayuran dengan gerakan teratur. Bau harum bumbu tumis sudah tercium sampai ke ruang depan.

"Masak apa?" tanya Karin sambil meletakkan tas di kursi.

"Tumis buncis dan telur dadar," jawab Arkan tanpa menoleh. "Tadi kamu bilang kemarin makanannya terlalu asin, jadi kali ini saya kurangi garamnya lagi."

Karin mendekat, berdiri di sampingnya melihat pisau yang bergerak lincah di tangan laki-laki itu. "Kamu hebat sekali ya memasak. Siapa yang ngajarin?"

"Nenek saya," jawab Arkan pelan. "Dia bilang laki-laki harus bisa mengurus dirinya sendiri, tidak boleh bergantung pada orang lain untuk hal-hal dasar." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan, "Tapi sekarang... rasanya ada senangnya kalau bisa memasak untuk orang lain juga."

Karin tidak menjawab, tapi hatinya terasa hangat sekali. Dia sadar, perjanjian satu tahun ini mungkin dimulai dari kebutuhan dan kewajiban, tapi perlahan di antara mereka mulai tumbuh sesuatu yang lain sesuatu yang jauh lebih berharga, sesuatu yang belum berani mereka ucapkan dengan kata-kata.

1
Ariany Sudjana
pasti ini si pelacur murahan Laras yang ketemu Rio
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhan
Ariany Sudjana
pasti ini kerjaan si pelacur murahan Laras
Mbak tii: mari kita liat nanti 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, finally Karin and Arkan together forever 😄
Mbak tii: hehe Harus dong
total 1 replies
Ariany Sudjana
mampus kamu Laras, terima saja kamu kalah kelas dibanding Karin. heh jalang, karin itu perempuan baik-baik dan cerdas, sedangkan kamu hanya pelacur murahan yang ga tahu diri dan bodohnya kebangetan... kamu itu harus dibunuh... ga ada gunanya pelacur murahan seperti kamu itu hidup
Mbak tii: hihi🤭😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Laras, kamu kalah kelas dibanding Karin dan perempuan sampah seperti kamu cocoknya di rumah bordil 😂😂🤣🤣
Mbak tii: iyapsss🤭
total 1 replies
falea sezi
lacur gatel🤣
Mbak tii: kk tahan🤭🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Laras, kamu kalah jauh dibandingkan Karin, yang kamu bilang kampungan itu.... perempuan sampah seperti kamu lebih cocok di rumah bordil 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
kenapa Arkan bukannya bilang kalau Karin sudah punya suami? tapi jangan bilang kalau Arkan itu suaminya
elief
lanjut thor
Mbak tii: siap kk
total 1 replies
elief
Luar biasa👍
Mbak tii: mksih kk
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!