NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Duda / CEO / Tamat
Popularitas:808.4k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lee

Akibat patah hati karena di tinggal selingkuh oleh istrinya, Erik Sanjaya 30 tahun seorang arsitek terkenal dan pemimpin sebuah perusahaan milik keluarganya yang kini berstatus sebagai duda tampan namun terkesan dingin terhadap lawan jenis itu, telah menutup hatinya rapat rapat untuk semua wanita mana pun.

Rasa trauma yang di berikan Citra yang merupakan cinta pertama dan isri tercinta yang sudah menghianatinya membuat duda tampan itu memukul rata bahwa semua wanita itu sama seperti mantan istrinya, "penghianat"

Bagaimana bila ada seorang mahasiswi muda yang tergila gila dan dengan terang terangan mengejar cinta sang duda ? Mampukah Mira Anisa 22 tahun menaklukan Erik seorang hot duda yang dingin, ketus dan arogan itu.

*Cerita ini hanya fiktif, jadi jangan baper,,,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah Planet

Mira mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan dengan cahaya yang masuk menembus matanya yang baru terbuka.

"Selamat pagi!" sapa Erik yang dada sebelah kirinya masih menjadi sandaran kepala Mira, sedangkan tangan kirinya kini terasa kebas karena menahan tubuh gadis yang semalaman terlelap di pelukannya itu.

"Dimana kita? Kenapa kita tidur di sini?" tanya Mira sambil mengucek matanya.

"Cuma kau yang tertidur, semalaman aku hanya menonton mu tidur!" sinis Erik yang semalaman memang tak bisa memejamkan matanya barang sedetik pun, gadis itu sangat membuatnya hawatir, dia hanya ingin menjaga Mira sambil menatap wajah tenang gadis yang terlelap di dadanya itu.

Mira menengok ke kiri dan ke kanan lewat jendela mobil yang masih tertutup rapat,

"Kita di Anyer?" pekik Mira kegirangan saat menyadari kalau mobil mereka terparkir menghadap lautan.

Mira membuka pintu mobil dan berlari ke luar dengan raut wajah bahagia, tak terlihat sisa sisa tangisan dia kemarin.

Sungguh tingkah Mira yang suasana hatinya bisa berubah secepat itu membuat Erik menggeleng gelengkan kepala, tanpa sadar diapun ikut tersenyum hangat melihat kegembiraan Mira dari dalam mobil.

"Om, cepat turun,,,! Sini kita liat sunrise," Mira mengetuk ngetuk jendela mobil Erik dari luar dengan wajah ceria nya.

Perlahan Erik menurunkan kaca jendela mobilnya, melongokkan kepalanya di sana.

"Nikmatilah! Aku tidak tertarik menonton matahari," ucapnya sambil mengenakan kacamata hitam nya karena di luar sudah terlihat cukup silau akibat sang surya yang mulai muncul untuk menyinari dan menghangatkan bumi.

"Om gak asik!" gerutu Mira seraya pergi dari samping bodi kendaraan dan menaiki kap depan sedan mewah itu sendirian sambil menatap mentari yang muncul dari balik lautan yang seakan tak berujung itu.

Lama Mira memandangi lautan sampai lamunannya membawa dia kembali ke kejadian yang membuatnya merasa sesak kemarin, dimana ibu kandungnya lebih mementingkan anak tirinya dari pada dirinya yang jelas jelas darah dagingnya sendiri.

Lelehan air mata pun tak dapat dia bendung, cairan sebening kristal itu kembali menetes membasahi pipinya.

Erik yang masih memperhatikan Mira dari dalam mobilnya pun bergegas turun saat menyadari gadis itu sepertinya tidak sedang baik baik saja saat ini.

"Apa lagi yang membuat mu sedih? Apa karena aku tak menemani mu menonton sunrise, lantas kau menangis seperti bayi?" Erik menyodorkan sekotak tissu yang tadi dia bawa dari dalam mobilnya.

"Apa aku benar benar terlahir dari perut ibu ku? Mengapa dia seolah tak pernah menyayangi ku sedikit saja," gumam Mira sambil menyeka air matanya dengan tissu yang Erik sodorkan tadi.

"Apa mau mu sekarang?" tanya Erik.

"Aku hanya tak ingin anak tiri ibu ku itu tidak tinggal menjadi satu dengan ku dan mengganggu kehidupan ku, tapi aku tau sifat ibu ku, dia tak akan berhenti mengganggu ku kalau keinginannya belum terpenuhi." ucap Mira putus asa.

Tangan Erik seperti sudah terformat otomatis, dia memeluk tubuh gadis bertubuh mungil itu saat Mira sedang bersedih seperti itu.

"Om, jangan peluk peluk!" ucap Mira dalam isak tangisnya.

"Kenapa? Aku hanya menyembunyikan wajah mu dari tatapan orang orang yang lewat, apa kau tak malu menangis di ruang umum seperti ini?" elak Erik ngeles.

"Aku sudah terbiasa menenangkan diri ku sendiri saat aku sedang sedih, sakit dan kecewa, jangan biasain peluk peluk aku kaya gini, ntar kalau aku nyaman gimana?" sambung Mira yang kini tangannya sudah melingkar erat di pinggang Erik, dada laki-laki itu terasa nyaman untuk di jadikannya sandaran saat rapuh, bau wangi tubuh Erik juga selalu berhasil membuatnya tenang.

"Tapi sekarang kau yang memeluk tubuh ku," ucap Erik mengangkat kedua tangannya ke atas membiarkan gadis itu memeluk tubuhnya dengan sangat erat.

"Kenapa? Om takut nyaman juga, karena terbiasa di peluk aku? Aku bersedia melukin om kapan pun, tenang aja!" Mira mendongak memandang wajah Erik yang kini berdiri di hadapannya.

Namun Erik mendorong kening gadis itu dengan jari telunjuknya agar menjauh dan tidak menempel erat lagi di tubuhnya.

"Gadis bodoh, aku tak perlu pelukan mu!" ketus Erik, entah mengapa dirinya menjadi serba salah dan sedikit gugup karena Mira seakan tahu apa yang dia rasakan.

Erik terlalu gengsi untuk mengakui kalau sebenarnya memeluk Mira membuatnya merasa tenang dan sangat nyaman.

"Ishh,,, awas ya, jangan minta peluk kalau om lagi inget mantan trus sedih, trus rapuh, trus mabok sampe tepar, trus----" ucapan Mira terhenti karena Erik tiba tiba membopong tubuhnya dan memasukannya ke dalam mobil.

"Kelamaan di pinggir laut omongan mu makin ngelantur, lebih baik kita nyari sarapan, mendengar ocehan mu membuat perutku lapar!" kata Erik memasangkan seatbelt di tubuh Mira yang hanya terdiam melihat perlakuan manis Erik padanya.

"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Erik di sela sarapannya di sebuah restoran yang berada tak jauh dari pantai.

"Aku tak punya rencana apa apa om, kalau ibu ku tetap memaksa anak tirinya untuk ikut tinggal bersama ku, paling aku yang akan mengalah dan pergi dari sana, aku tak sudi serumah dengan anak itu!" kata Mira.

"Kau tinggal di mana ?" Erik menghentikan suapan di mulutnya saat mendengar Mira akan pergi dari sana.

"Entah lah om, aku dapat tawaran pekerjaan di luar kota, mungkin aku akan mengambilnya, lagi pula pekerjaan ku di kantor om sudah selesai, kan?" urai Mira.

"Luar kota? Padahal kau akan aku tarik jadi karyawan tetap di perusahaan ku, pekerjaan mu bagus, kau bisa menjadi asisten kedua ku setelah Kemal, lagi pula Kemal akan sering mengerjakan proyek di luar kota, jadi kemungkinan aku akan kerepotan mengurus pekerjaan kantor, tapi kalau kau ingin bekerja di di perusahaan lain di luar kota, ya terserah!" kata Erik yang seakan tak ingin Mira pergi jauh dari dirinya, sehingga tanpa pikir panjang lagi Erik berkata kalau dirinya akan merekrut gadis itu menjadi asisten keduanya setelah Kemal.

"Emh,,, gimana ya, senernya aku juga tertarik sama pekerjaan yang di luar kota ini," ucap Mira sok jual mahal, padahal hatinya bersorak sorai karena akan selalu dekat dengan Erik, pria yang sudah membuatnya jatuh hati itu.

Erik terdiam, hatinya berharap harap cemas dengan jawaban Mira, dia tak punya alasan lain untuk menahan Mira agar tetap berada di dekatnya.

"Sebenaernya aku bisa aja menerima tawaran om, asal ,," Mira sengaja menggantungkan kalimatnya.

"Asal apa? Katakan!" Erik terlihat antusias mendengar peluang yang sepertinya akan memuluskan rencananya agar Mira tetap tinggal di perusahaannya.

"Asal om memohon padaku, coba om bilang gini, Mira yang cantik, yang baik, maukah kau menjadi asisten ku!" goda Mira menahan tawanya.

"Mhhh, lebih baik kau terima pekerjaan di luar kota itu, kalau perlu kau ke luar planet sekalian, biar aku tak perlu melihat wajah mu yang menyebalkan itu lagi!" kesal Erik yang lantas di sambut gelak tawa Mira yang begitu geli bercampur lucu melihat Erik yang terlihat kesal dan marah padanya.

"Jangan nyesel ya, kalau aku pindah ke luar planet, jangan nyariin!" goda Mira lagi yang sukses membuat Erik melemparkan remasan tissu yang baru saja di pakainya mengelap tangan dan mendarat tepat di wajah Mira yang sedang tertawa puas karena berhasil menggoda Erik laki laki si super jutek dan galak itu

1
Nur Syamsi
Yg kuat Mira menghadapi ujian rumah tanggamu dr ulat " bulu
Nur Syamsi
Tuhan tidur Mira bukan kamu yg membalas makian ibumu terhadapmu ttp ada orang lain yg membalasnya ...
Nur Syamsi
Tanya saja anakmu si Niko
Nur Syamsi
Dasar wanita egois Tdk ada kapok kapoknya, ngintilin mantan suaminya...
Nur Syamsi
😢😢😢 kemanami Mira kasian....😢😢😢
Nur Syamsi
Dasar sodara iblis,
Nur Syamsi
Erik itu orangnya penyayang, belas kasihnya tinggi dan pekah terhadap ap yg di hadapi seseorang
Nur Syamsi
Sewakan apartemen tu Mirabya Erik, dia orangnya pintar, bisa diandalkan kemampuannya....sudah ada pengalaman walaupun dianya baru lulus kuliah lo
Nur Syamsi
Lucu Athor yg satu kulkas 2 pintu yg satu konyol....awde...😃😃😃
Nur Syamsi
Mira Mira nggak ada takutnya ma bos
Nur Syamsi
Mira mira kocak bangat kamunya
Nur Syamsi
Ibunya Mira Sekalinya balik langsung minta uang,
marsellhayon
keren..
Fie Lian
Luar biasa
Lita: terimakasih sudah berkenan mampir, semoga kakak sehat dan bahagia selalu 🥰
total 1 replies
Sri Agustina
gak suka ada laki longor yg betul za
4M0R3_79
Anjiiir arwah katanya 🤣🤣🤣🤣
yana xana
ad yaa orang nggk tau diri
Kevin_Kenzo280216
astagaaaaaaa ngakak terus baca novel mu ini thor
Lita: terimakasih sudah berkenan mampir, semoga kakak sehat dan bahagia selalu ❤🙏
total 1 replies
Jamin Wongdue
seko mangan nganti dowone dalan
tak turuti berharab biso duweni
wes tak korbanke wektuku
ijih wae kalah karo mantan mu
Jamin Wongdue: iya iya... semangat ya nulisnya💪💪💪💪
total 2 replies
Mattea Bee
Luarbiasa Thor/Good//Good//Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!