Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Cara Mengambil Hati
Sehabis Dzuhur, pesanan bunga di Jenna’s Bloom Café akhirnya selesai.
Jenna berdiri di belakang meja rangkai bunga, memeriksa satu per satu buket yang sudah dibungkus rapi. Ada pesanan buket ulang tahun dengan nuansa pastel, standing flower untuk pembukaan butik, dan beberapa rangkaian kecil untuk meja restoran.
Naya menempelkan kartu ucapan terakhir pada salah satu buket, lalu menarik napas lega.
“Selesai juga, Kak.”
Jenna mengangguk, matanya melengkung lembut.
“Alhamdulillah. Tolong pastikan kurir mengambil sesuai jadwal, ya.”
“Siap, Kak.”
Alya yang berada di kasir menoleh. “Kak Jenna, setelah ini Kakak mau pulang?”
Jenna baru akan menjawab ketika ponselnya bergetar.
Nama Syana muncul di layar.
Jenna membuka pesan itu.
Syana:
Jen, kamu di kafe? Jalan yuk. Aku jemput. Jangan nolak, kamu butuh refreshing.
Jenna menatap pesan itu beberapa detik.
Jalan-jalan.
Sudah lama ia tidak keluar santai bersama Syana. Selama beberapa minggu terakhir, hidupnya dipenuhi persiapan pernikahan, acara keluarga, pindah rumah, dan situasi canggung bersama Shaka.
Jenna ingin pergi.
Namun sebelum menjawab Syana, ia membuka kontak Shaka.
Jarinya sempat berhenti di atas layar.
Hubungan mereka memang masih dingin. Shaka sendiri yang pernah mengatakan bahwa Jenna tidak perlu mencampuri urusannya. Namun Jenna tetap tahu posisinya. Ia sudah menjadi istri. Pergi ke luar bersama sahabat bukan sesuatu yang salah, tetapi ia tetap ingin meminta izin kepada suaminya.
Bukan karena takut.
Melainkan karena menghormati.
Jenna mengetik pesan dengan hati-hati.
Jenna:
Mas, pesanan di kafe sudah selesai. Syana mengajak Jenna jalan sebentar ke mall. Boleh?
Pesan itu terkirim.
Jenna menunggu.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Mas Shaka:
Boleh. Tapi Maghrib sudah pulang.
Jenna membaca pesan itu.
Singkat.
Datar.
Tetapi tidak melarang.
Ia membalas pelan.
Jenna:
Baik, Mas. Terima kasih.
Di kantor, Shaka menatap layar ponselnya setelah membaca balasan Jenna.
Lagi-lagi kata itu.
Terima kasih.
Sopan. Teratur. Berjarak.
Shaka meletakkan ponsel di meja, tetapi pikirannya justru mengikuti Jenna. Ia tahu Syana adalah sahabat dekat Jenna. Ia pernah bertemu perempuan itu saat fitting gaun. Syana cukup blak-blakan, bahkan sempat mengancamnya dengan gunting kain.
Setidaknya bersama Syana, Jenna mungkin bisa tertawa.
Pikiran itu membuat Shaka sedikit lega.
Namun ada bagian lain dalam dirinya yang terusik.
Jenna meminta izin kepadanya dengan sangat sopan, seolah ia bukan suami yang dekat, melainkan seseorang yang harus diberi laporan.
Dan Shaka tahu, lagi-lagi itu akibat dari batas yang ia buat sendiri.
Tidak lama kemudian, Syana datang ke Jenna’s Bloom Café.
Begitu masuk, ia langsung melepas kacamata hitamnya dan menatap Jenna dari atas sampai bawah.
“Pengantin baru kok mukanya kayak orang habis audit laporan keuangan?”
Jenna mengangkat wajah dari meja bunga.
“Syana.”
“Apa? Aku jujur.” Syana berjalan mendekat, lalu memegang tangan Jenna. “Ayo. Kamu ikut aku sekarang.”
Naya yang berada di samping Jenna langsung tersenyum.
“Kak Jenna sudah izin suami, Kak Syana?”
Syana menoleh cepat kepada Naya.
“Wah, sekarang sudah ada prosedur baru?”
Jenna menunduk malu.
“Jenna sudah izin.”
Syana langsung menggoda, “Cie, istri salehah.”
“Syana.”
“Apa? Bagus itu.” Syana tersenyum lebar. “Tapi sekarang istri salehah ini harus ikut sahabatnya jalan-jalan supaya nggak stres.”
Kevin dari balik mesin kopi menyahut, “Kak Syana, tolong ajak Kak Jenna makan enak. Dari tadi dia cuma minum teh.”
Jenna menoleh kepada Kevin.
“Kevin.”
Kevin langsung pura-pura sibuk membersihkan gelas.
Syana menyipitkan mata.
“Nah, kan. Kamu belum makan benar?”
“Sudah.”
“Makan apa?”
Jenna diam.
Syana menghela napas dramatis.
“Fix. Kamu aku culik.”
Beberapa menit kemudian, Jenna sudah duduk di kursi penumpang mobil Syana. Mobil itu melaju meninggalkan kafe menuju salah satu mall besar di pusat kota.
Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih ringan.
Syana menyalakan musik pelan, lalu melirik Jenna berkali-kali.
“Jadi, bagaimana rasanya jadi Nyonya Kalandra?”
Jenna menatap jalan dari balik kaca.
“Biasa saja.”
Syana langsung menoleh cepat.
“Biasa saja? Jen, kamu baru menikah dengan Arshaka Zayd Kalandra. Laki-laki yang kalau berdiri diam saja sudah kelihatan seperti karakter CEO dingin di novel. Dan kamu bilang biasa saja?”
Jenna hampir tersenyum.
“Memang dia dingin.”
“Nah, itu kamu mengakui.”
Jenna diam.
Syana menangkap perubahan itu, tetapi memilih tidak langsung menekan. Ia mengganti nada bicaranya menjadi lebih santai.
“Rumah baru kalian bagaimana?”
“Bagus. Tidak terlalu besar, tapi nyaman. Ada taman bunga di samping rumah dan kebun sayur di belakang.”
Syana menoleh dengan mata membesar.
“Serius?”
Jenna mengangguk.
“Mas Shaka yang menyiapkan?”
“Katanya begitu.”
Syana tersenyum tipis.
“Hmm.”
Jenna meliriknya. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Cuma menurutku, laki-laki yang menyiapkan taman bunga dan kebun sayur untuk istrinya itu tidak sepenuhnya sedingin kulkas.”
Jenna menunduk.
“Bisa saja hanya karena tanggung jawab.”
“Jen.” Syana menatapnya sekilas. “Tanggung jawab itu bisa dilakukan asal-asalan. Tapi menyiapkan hal yang sesuai dengan kesukaan seseorang butuh perhatian.”
Jenna tidak menjawab.
Ia tidak ingin terlalu berharap. Setiap kali hatinya mulai melihat sisi baik Shaka, ia kembali teringat ucapan laki-laki itu setelah akad.
Saya menikah karena keinginan Mama.
Kalimat itu masih terlalu jelas.
Terlalu sakit.
Syana tidak memaksa Jenna bicara. Ia hanya mengganti topik menjadi hal-hal ringan: pelanggan butik yang cerewet, stafnya yang salah kirim warna kain, dan seorang calon pengantin yang ingin gaun putih tetapi tidak mau terlihat seperti pengantin.
Untuk pertama kalinya hari itu, Jenna tertawa kecil.
Syana melihatnya dan tersenyum lega.
“Itu baru Jenna.”
Mall siang itu cukup ramai, tetapi tidak terlalu padat. Syana menggandeng Jenna memasuki beberapa butik dan toko aksesori. Mereka melihat-lihat tas keluaran terbaru, sepatu, scarf, hingga koleksi baju muslimah dari beberapa brand ternama.
Syana mengangkat sebuah tas kecil berwarna beige.
“Ini cocok untuk kamu.”
Jenna melihatnya. “Cantik.”
“Beli?”
“Jenna masih punya tas.”
Syana menatapnya datar.
“Jawaban khas Jenna. Kalau aku tanya bunga, kamu bisa beli puluhan jenis. Kalau tas, langsung hemat.”
Jenna tersenyum kecil.
“Bunga untuk usaha.”
“Alasan.”
Mereka kemudian masuk ke butik pakaian. Syana memilihkan beberapa outer panjang untuk Jenna, sementara Jenna lebih banyak melihat warna-warna lembut seperti ivory, dusty pink, sage, dan biru muda.
“Coba yang emerald ini,” kata Syana sambil mengambil satu set busana muslimah elegan.
“Jenna sudah punya gaun emerald.”
“Yang itu gaun resepsi. Ini outfit jalan. Beda kategori.”
Jenna menggeleng pelan. “Syana selalu punya alasan.”
“Karena aku benar.”
Setelah puas berkeliling, mereka akhirnya duduk di sebuah restoran di dalam mall. Syana memesan pasta dan iced lemon tea, sedangkan Jenna memilih nasi dengan grilled chicken serta teh hangat.
Beberapa menit pertama, mereka makan sambil mengobrol ringan.
Namun setelah itu, Jenna tampak lebih banyak diam.
Syana memperhatikannya.
“Jen.”
“Iya?”
“Kamu mau cerita sesuatu?”
Jenna menatap gelas tehnya.
Ia ingin bertanya, tetapi malu. Pertanyaan itu terasa terlalu pribadi. Namun sejak tadi, pikiran itu terus berputar di kepalanya.
Akhirnya Jenna memberanikan diri.
“Sya.”
“Hm?”
“Menurut kamu…” Jenna berhenti sebentar. “Bagaimana cara menyenangkan hati seorang cowok?”
Syana membeku.
Garpu di tangannya berhenti di udara.
Lalu perlahan ia meletakkannya kembali ke piring.
“Sebentar.”
Jenna langsung menyesal bertanya.
“Lupakan.”
“Tidak bisa.” Mata Syana berbinar jahil. “Kamu baru saja bertanya cara menyenangkan hati cowok.”
“Syana, jangan mulai.”
“Cowok yang mana dulu, nih?” Syana menyandarkan tubuh ke kursi. “Cowok random? Cowok yayasan? Atau suami dingin bernama Arshaka Zayd Kalandra?”
Jenna menunduk. “Syana…”
“Ya Allah.” Syana menutup mulutnya, menahan tawa. “Jennaira Hanania Mecca Kalandra sedang ingin mengambil hati suaminya.”
Wajah Jenna langsung terasa panas.
“Jangan keras-keras.”
Syana tertawa pelan.
“Lucu banget kamu.”
“Jenna serius.”
Syana berhenti menggoda ketika mendengar nada Jenna berubah lebih lembut. Ia menatap sahabatnya lebih dalam.
“Kamu ingin menyenangkan hati Shaka?”
Jenna mengangguk pelan.
“Kenapa?”
Jenna diam cukup lama.
Di dalam hatinya, jawaban itu sederhana tetapi berat.
Karena ia ingin rumah tangganya harmonis.
Karena ia tidak ingin pernikahan ini hanya berisi jarak.
Karena meski Shaka menyakitinya, Jenna tidak ingin membalas dengan membuat rumah mereka semakin dingin.
Karena ia sudah memilih menerima lamaran itu setelah istikharah, dan ia ingin berusaha sebelum menyerah pada luka.
“Jenna ingin rumah tangga Jenna baik-baik saja,” ucapnya pelan. “Jenna tahu Mas Shaka sulit percaya. Jenna juga masih sakit hati dengan beberapa ucapannya. Tapi kalau Jenna terus diam dan Mas Shaka juga terus dingin, sampai kapan rumah itu akan terasa seperti rumah?”
Syana menatap Jenna tanpa bercanda lagi.
“Jen…”
“Jenna tidak mau memaksa Mas Shaka mencintai Jenna. Tapi Jenna ingin mencoba mengambil hatinya. Pelan-pelan. Mungkin dengan memahami apa yang dia suka, apa yang membuat dia nyaman, atau bagaimana cara bicara dengannya tanpa membuat dia merasa diserang.”
Syana menghela napas lembut.
“Kamu baik banget, Jen.”
Jenna menggeleng.
“Bukan. Jenna juga egois. Jenna ingin bahagia. Jenna ingin rumah tangga Jenna bahagia.”
Syana tersenyum kecil.
“Itu bukan egois. Itu wajar.”
Jenna menatap sahabatnya.
“Jadi, caranya bagaimana?”
Syana berpikir sebentar.
“Pertama, jangan berubah jadi orang lain hanya supaya dia suka. Kamu boleh berusaha menyenangkan dia, tapi jangan sampai kehilangan diri sendiri.”
Jenna mengangguk pelan.
“Kedua, laki-laki seperti Shaka kelihatannya bukan tipe yang luluh karena kata-kata manis berlebihan. Dia lebih mungkin melihat tindakan kecil yang konsisten.”
“Tindakan kecil?”
“Iya. Misalnya menyiapkan kopi kalau kamu tahu dia suka kopi. Menanyakan sudah makan atau belum. Memberi ruang saat dia butuh diam, tapi tetap menunjukkan kamu ada. Jangan terlalu mengejar, tapi jangan juga terlalu menutup diri.”
Jenna mendengarkan dengan serius.
“Ketiga,” lanjut Syana, “buat dia merasa rumah itu tidak mengancam kebebasannya, tapi juga tidak kosong. Laki-laki dingin kadang takut dekat karena merasa dekat berarti kehilangan kendali. Jadi kamu harus sabar membangun rasa aman.”
Jenna menunduk. “Sulit, ya.”
“Pernikahan memang tidak mudah. Apalagi kalau awalnya seperti kalian.” Syana menatap Jenna lembut. “Tapi aku percaya kamu bisa. Yang penting, jangan menanggung semuanya sendiri. Kalau sakit, akui sakit. Kalau lelah, istirahat. Jangan semua kamu bungkus dengan kata sabar.”
Jenna terdiam.
Nasihat itu masuk terlalu dalam.
Syana mengambil gelasnya, lalu menambahkan dengan nada lebih ringan, “Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Cowok biasanya luluh kalau dimasakin.”
Jenna berkedip.
“Masak?”
“Iya. Cara klasik, tapi sering efektif.”
“Jenna bisa masak, tapi tidak terlalu ahli.”
“Belajar. Mas Shaka suka makan apa?”
Jenna terdiam.
Ia baru sadar, ia bahkan belum tahu makanan kesukaan suaminya.
Syana membaca wajahnya dan langsung menggeleng.
“Ya ampun, Jen. Kamu harus mulai riset.”
“Riset?”
“Iya. Tanya Mama Aruna, tanya pekerja rumah, atau perhatikan sendiri. Misalnya dia suka kopi hitam, suka makanan pedas atau tidak, suka sarapan apa. Hal-hal kecil seperti itu penting.”
Jenna mengangguk pelan.
Di dalam hatinya, sebuah keputusan mulai terbentuk.
Ia akan mencoba.
Bukan untuk merendahkan dirinya.
Bukan untuk mengejar Shaka sampai melupakan luka sendiri.
Tetapi untuk memberi rumah tangga mereka kesempatan.
Jika Shaka membangun batas karena takut terluka, maka Jenna akan mencoba membangun jalan kecil di samping batas itu.
Bukan mendobrak.
Hanya mengetuk pelan.
Sampai suatu hari, mungkin Shaka mau membuka pintu.
Syana menatap Jenna yang tampak berpikir dalam.
“Jen.”
“Iya?”
“Jangan lupa, mengambil hati seseorang itu baik. Tapi hatimu sendiri juga harus dijaga.”
Jenna tersenyum lembut dari balik cadarnya.
“Iya, Sya. Jenna paham.”
Namun dalam hati, Jenna tahu ia sudah menentukan langkah.
Mulai malam ini, ia tidak hanya akan menjadi istri yang menjaga jarak karena terluka.
Ia akan mencoba menjadi istri yang hadir.
Pelan-pelan.
Dengan doa.
Dengan sabar.
Dan dengan harapan kecil bahwa suatu hari, hati Shaka yang dingin bisa benar-benar luluh.