NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Bisikan yang Memecah Konsentrasi

Tepat ketika tubuh sukma Bintang terlempar bebas dan meluncur jatuh ke dalam jurang kegelapan Wates Ghaib, kondisi di dalam kamar belakang rumah Sekar mendadak bergeser ke titik paling kritis. Angka di jarum jam dinding bergetar hebat, tinggal menyisakan kurang dari lima menit sebelum dentang pertama tengah malam Sabtu Kliwon memutus seluruh garis takdir fana. Atmosfer di ruangan empat kali empat meter itu tidak lagi sekadar pengap; udara kini terasa sepekat jelaga bercampur minyak mayat yang mendidih.

Krrrrr... Brakk!

Anglo tanah liat tempat Mbah Sariti membakar Kemenyan Sungsang tiba-tiba retak vertikal di bagian tengah. Baranya yang menyala merah darah terbelah, memuntahkan sisa abu hitam yang langsung menguap menjadi asap kelabu berbau anyir besi berkarat. Di atas dipan, raga Sekar melengkung kaku seperti busur panah yang ditarik maksimal. Sentakan instan terjadi ketika sukmanya yang berhasil dilepaskan Bintang meluncur kembali ke dalam wadah fana. Namun, proses penyatuan itu tertahan di ambang batas raga karena ikatan batin Kalingga menolak melepaskan klaimnya begitu saja.

"Uhuk! Astaghfirullah..." Mbah Sariti terbatuk hebat.

Darah kental berwarna merah kehitaman menyembur dari mulut tua sang dukun sepuh, meluluri kain kembennya yang kusut. Sepasang matanya yang semula tajam kini dilapisi guratan merah pecah. Keris Tirto Menggolo yang tertancap di lantai bergetar gila, mengeluarkan suara berdenging nyaring seolah-olah bilahnya sedang dihantam oleh palu gada tak kasat mata dari bawah tanah.

Di hadapan Mbah Sariti, raga Bintang masih bersila sekeras batu karang. Namun, kondisinya jauh lebih mengerikan. Darah segar tidak lagi sekadar meleleh dari lubang hidungnya, melainkan merembes deras dari sela-sela kelopak matanya yang terpejam rapat serta kedua lubang telinganya. Kaos hitam yang dikenakannya basah kuyup oleh keringat dingin bercampur anyir darah. Pisau Sungsang Buwana yang melayang di atas dadanya berguncang hebat, pendaran emasnya mutlak padam, digantikan oleh selimut uap keunguan yang kental—indikasi bahwa sukma Bintang di bawah sana sedang dikepung dan dicabik oleh sisa racun batin Kalingga.

"Mbah! Bintang, Mbah! Tubuhnya dingin sekali, seperti mayat!" jerit Rahayu yang masih bersimpuh di lantai.

Kedua telapak tangannya yang memegang mangkuk tanah liat berisi air kembang telon sudah gemetar tak terkendali. Air di dalam mangkuk itu tidak lagi bening, melainkan bergolak keruh, memuntahkan uap berbau belerang panas yang perlahan membakar ujung jemarinya hingga melepuh kehitaman.

"Jangan lepas mangkuk itu, Rahayu! Bertahan!" bentak Mbah Sariti, suaranya parau, serak, dan bergetar menahan rasa sakit yang luar biasa di rongga dadanya. Dia memaksakan kedua tangannya yang keriput untuk tetap terangkat di atas dahi Bintang, mencoba menyalurkan sisa batin manusianya guna menahan gerbang raga agar tidak tertutup.

"Kalingga sedang mengamuk di bawah sana! Dia kehilangan sukma Sekar, dan sekarang dia mencoba menyeret sukma Bintang sebagai gantinya! Kalau kau goyah sedikit saja, lingkaran garam ini pecah, dan kita semua akan mati menjadi santapan siluman itu!"

Di sekeliling mereka, lingkaran garam kasar yang ditaburkan Mbah Sariti sebagai pagar pelindung mulai bereaksi aneh. Butiran-butiran garam itu tidak lagi memutih, melainkan menghitam legam seolah-olah menyerap jelaga ghaib yang merembes naik dari pori-pori tanah. Dari luar dinding tripleks kamar, terdengar suara ketukan-ketukan kuku yang tajam bercampur gesekan sisik berat yang mengitari rumah. Sreeet... tok... sreeet... tok... Seolah ada ribuan ular raksasa yang sedang mengepung bangunan lapuk itu, mencari retakan terkecil untuk masuk dan meremukkan tulang mereka.

Ketika kepanikan berada di titik tertinggi, hawa dingin yang luar biasa pekat mendadak berembus dari sudut kamar yang paling gelap. Angin ghaib itu tidak meniup pakaian, melainkan menusuk langsung ke dalam sumsum tulang belakang Rahayu. Suara derit dinding tripleks dan desisan ular di luar rumah tiba-tiba senyap secara tidak wajar, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

“Rahayu... Nduk...”

Sebuah bisikan lembut, berat, dan sarat akan nada kelelahan memecah keheningan murni tersebut. Suara itu tidak terdengar di udara ruangan, melainkan bergema langsung di dalam gendang telinga batin Rahayu.

Rahayu tertegun. Seluruh tubuhnya membeku seketika. Suara itu begitu akrab, begitu lekat di dalam ingatannya—suara yang sudah duapuluh tahun tidak pernah dia dengar lagi sejak kematian tragis mertuanya, kakek Sekar, yang mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di pohon kamboja belakang rumah setelah membuat perjanjian terkutuk dengan penguasa lereng Raung.

“Rahayu... tulung, Nduk... Bapak perih ing kene... Bapak disiksa...”

"B-Bapak...?" bisik Rahayu dengan pandangan mata yang mendadak kosong. Air matanya menetes deras, membasahi pipinya yang pucat. Sudut batin manusianya yang paling rapuh mendadak terbuka lebar oleh manipulasi psikologis yang teramat rapi.

"Rahayu! Jangan didengar! Itu bukan mertuamu! Itu tipu daya Kalingga!" teriak Mbah Sariti gila-gilaan, mencoba memecah trans ghaib yang mulai menguasai batin perempuan di sampingnya. Namun, konsentrasi Mbah Sariti sendiri terbagi penuh untuk menahan aliran darah di dada Bintang, membuatnya tidak mampu melepaskan pukulan batin untuk menyadarkan Rahayu.

Proyeksi suara itu kian menguat, membawa frekuensi getaran yang membuat dada Rahayu sesak. Di sudut kamar yang gelap, kabut hitam tipis mulai membentuk siluet sesosok orang tua bertubuh bungkuk dengan leher yang miring ke samping—persis seperti kondisi jenazah kakek Sekar saat diturunkan dari tali rami dua puluh tahun lalu. Wajah siluet itu samar, namun sepasang mata merah menyala kecil berkilat di balik kegelapan.

“Rahayu... ritual iki kudu dihentikan, Nduk... Kalingga duko banger. Yen kowe ora ngendhekake ritual iki saiki, ora mung Sekar sing ditarik, tapi kowe karo dukun tuwo kuwi bakal diseret menyang dasar sendang... kabeh keturunan kita bakal mati mengenaskan... tulung bapak, Nduk... buang banyu kuwi...”

"Bapak... kulo mboten kuat, Pak... Sekar menderita, Bapak nggih menderita..."Rahayu meratap histeris. Sanubarinya hancur total. Bayangan ketakutan selama dua puluh dua tahun digabung dengan rasa bersalah atas kematian mertuanya meledak menjadi satu pusaran emosi yang melumpuhkan akal sehatnya.

Jemari tangan Rahayu yang memegang mangkuk tanah liat mulai membuka perlahan. Cairan kembang telon di dalamnya bergetar hebat seiring dengan tubuhnya yang menggigil karena tangisan yang histeris. Proyeksi ghaib Kalingga berhasil menembus celah batinnya yang paling dalam, memanipulasi rasa takut seorang ibu dan rasa hormat seorang anak.

“Buang banyu iku, Rahayu... rusak bunderan uyah iku... ben Kalingga paring pangapura marang keluarga kita...” bisik suara itu lagi, kini bernada mendesak, bercampur desisan ular yang samar di ujung kalimatnya.

"Rahayu!!! Ssshhh! Astaghfirullahaladzim! Sadar, Rahayu! Kalau kau buang air itu, sukma Bintang mutlak hancur di bawah sana!" Mbah Sariti berteriak hingga suaranya pecah menjadi lengkingan parau. Dia mencoba menggerakkan kaki kanannya untuk menendang bahu Rahayu, namun gerakan itu justru membuat pelindung ghaib di dada Bintang meretak.

Krrraakkk!

Uap keunguan dari Wisa Sengkolo langsung merayap naik, melilit leher raga Bintang di dunia nyata. Bintang mendadak tersedak darah, tubuh manusianya bergetar hebat dalam posisi bersila seolah sedang disengat aliran listrik tegangan tinggi dari dalam tanah.

Rahayu tidak lagi mendengar teriakan Mbah Sariti. Di dalam matanya yang mulai meredup kelabu, dia hanya melihat bayangan mertuanya yang menangis darah, memohon belas kasihan. Dengan gerakan yang lambat namun pasti, Rahayu mulai memiringkan mangkuk tanah liat di tangannya. Tetesan pertama air kembang telon itu meluncur jatuh, mengarah tepat ke atas barisan lingkaran garam kasar yang berada di sela-sela kakinya. Satu tetes air itu cukup untuk melarutkan garam pelindung, membuka celah mutlak bagi balatentara siluman luar untuk merangsek masuk dan memutus seluruh ritual keselamatan.

Tesss...

Tetesan air kembang telon yang hangat bercampur racun batin itu menyentuh permukaan lingkaran garam kasar di lantai tanah. Seketika, terdengar suara desisan pekat seumpama air yang disiramkan ke atas besi membara—Chhhssss! Butiran-butiran garam yang telah menghitam itu melarut instan, menyisakan celah kosong selebar tiga jari di dalam lingkaran perlindungan yang dibuat oleh Mbah Sariti.

Hanya butuh celah sekecil itu bagi entitas purba lereng Raung untuk meruntuhkan seluruh sistem pertahanan.

BOOOOMMMM!!!

Dinding tripleks di bagian barat kamar mendadak jebol dihantam kekuatan ghaib yang luar biasa beringas. Angin hitam berbau busuk bangkai kenanga dan belerang menyembur masuk dengan kekuatan penuh, memadamkan sisa pendaran lampu minyak dalam satu hentakan mutlak. Kamar itu seketika jatuh ke dalam kegelapan yang pekat, hanya menyisakan kilatan cahaya merah darah dari sepasang mata proyeksi Kalingga di sudut ruangan.

"Hahaha... Manusia bodoh! Wadah fana ini tetap akan menjadi milikku...!" Gema suara Kalingga kini meledak di dalam kamar, tidak lagi berupa bisikan halus, melainkan raungan ganda yang meruntuhkan langit-langit tripleks rumah hingga berjatuhan.

Sreeeeet... Sssshhh...

Melalui celah garam yang larut, belasan bayangan hitam ghaib berwujud anak-anak ular berkepala manusia kerdil merangsek masuk ke dalam area dalam dipan. Mereka merayap cepat, mengincar raga Sekar dan Bintang yang kini tanpa perlindungan penuh. Beberapa di antara mereka langsung melilit pergelangan kaki Rahayu, menyuntikkan hawa dingin yang membuat perempuan itu menjerit histeris sebelum akhirnya jatuh pingsan di atas lantai tanah dengan mangkuk yang terlepas dari genggamannya.

Prraakkk!

Mangkuk tanah liat itu pecah berkeping-keping, menumpahkan seluruh sisa air kembang telon ke atas lantai, mutlak menghancurkan media penarikan batin yang dipertahankan sejak tadi.

Mbah Sariti terlempar ke belakang akibat hantaman energi angin hitam tersebut. Tubuh tuanya membentur tiang dipan bambu dengan keras, membuatnya mengerang kesakitan. Namun, dengan sisa-sisa kedigdayaan batinnya sebagai pengawal ghaib garis keturunan sepuh, Mbah Sariti menolak untuk menyerah pada cengkeraman siluman.

"Heh! Siluman jahanam! Jangan harap kau bisa berpesta di atas darah anak cucuku!"

Mbah Sariti merangkak maju di dalam kegelapan. Dengan sepasang tangan yang gemetar dan berlumur darah sendiri, dia mencabut Keris Tirto Menggolo yang masih tertancap di tanah. Dia tidak lagi memedulikan keselamatan dirinya sendiri; yang ada di pikirannya hanyalah sisa waktu dua menit sebelum tengah malam mutlak mengunci sukma Bintang di dalam jurang kegelapan.

Mbah Sariti memegang hulu keris kecil itu, lalu menusukkan ujung bilahnya tepat ke arah telapak tangan kirinya sendiri hingga tembus. Darah segar seorang sepuh ghaib yang mengalirkan energi murni mengucur deras, meluluri seluruh bilah pusaka Tirto Menggolo.

"Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti... Heh, Kalingga! Tarik sukmaku sebagai ganti, tapi biarkan anak-anak ini kembali ke raganya...!" lolong Mbah Sariti memecah kegelapan dengan mantra pengorbanan terlarang—Genteni Nyowo.

Bilah keris yang berlumur darah Mbah Sariti mendadak meledak, memancarkan lingkaran cahaya merah tua yang sangat masif, jauh lebih besar dari sebelumnya. Cahaya itu bertindak sebagai bom spiritual, menyapu bersih seluruh anak ular ghaib yang berada di dalam kamar dan memutus paksa proyeksi suara Kalingga yang berada di sudut ruangan. Hawa suci bercampur bau darah manusia kembali memenuhi ruangan, menahan gempuran angin hitam luar selama beberapa detik.

Namun, efek dari mantra Genteni Nyowo berwujud hantaman balik yang mematikan bagi raga fana Mbah Sariti. Jantung tua sang dukun sepuh bergetar tidak teratur, napasnya memburu pendek seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam dadanya telah diperas habis oleh bumi.

"Bintang... Le..." bisik Mbah Sariti dengan sisa kesadarannya yang kian menipis. Dia merangkak lambat, menempelkan telapak tangannya yang bersimbah darah tepat di atas dahi raga Bintang yang masih membeku kaku. "Iki sisa batin terakhirku... tebas jurang itu, Le... gowo Sekar mulih... Mbah wis ora kuat..."

Di dimensi bawah, di dalam kegelapan jurang Wates Ghaib, tubuh sukma Bintang yang sedang jatuh meluncur bebas tiba-tiba merasakan hantaman gelombang energi merah tua yang sangat hangat dari arah atas. Cahaya darah pengorbanan Mbah Sariti membungkus tubuh sukmanya seumpama kepompong pelindung, menghentikan laju jatuhnya tepat beberapa meter di atas rahang-rahang raksasa balatentara siluman yang siap mencabiknya.

Bersamaan dengan masuknya energi pengorbanan Mbah Sariti, Pisau Sungsang Buwana di tangan kiri Bintang mendadak menyala kembali dengan pendaran keemasan yang jauh lebih pekat dan beringas dari sebelumnya, menyerap esensi darah suci dunia atas untuk melakukan pertempuran babak akhir.

Kesadaran batin Bintang meledak penuh dengan amukan kemarahan manusia. Jarum jam dinding di dunia nyata bergetar kuat, melintasi garis tipis... TENG...!!! Dentang pertama tengah malam Sabtu Kliwon resmi berbunyi, memicu ledakan takdir di dua dimensi secara bersamaan.

1
Tina Martince
anak kandung loh 🤭,penasaran ikutin cerita ini ya...😍
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
ibu nya sekar aneh ...
jgn2 sekar anak pungut
atau sengaja di tumbalkan
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
wajah tampan kalingga terlalu mempesona yaa sekarr😂
Tina Martince: 🤭 ya terlalu mempesona
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
perjanjian apa ,
ibu nya sekar terlalu banyak diam
hubungan sekar dan ibu nya
tak harmonis ,
ada kisah rahasia apa disini
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
lahir nya sekar tibo weton wingit
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
harusnya ibu nya sekar lebih jujur
dgn keadaan sekar
mungkin ada perjanjian dgn dunia ghoib ,
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!