Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 21
Damian masih terpaku di lantai marmer, jemarinya mencengkeram lantai hingga buku-bukunya memutih. Suara pintu depan yang tertutup bukan sekadar menutup jalan keluar bagi Alysia, melainkan menutup pintu kesempatan baginya untuk memperbaiki kesalahan yang sudah berakar selama enam tahun.
Damian bangkit dengan langkah gontai menuju ruang tengah. Dia tidak mengejar Alysia, karena ia tahu wanita itu sudah berada di puncak kemarahan kepada dirinya. Dan memang Alysia pantas marah padanya. Jika dia mengejar sekarang, Alysia hanya akan semakin membencinya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang angkuh kembali terdengar. Bu Chintya muncul dari balik pilar besar, wajahnya masih memancarkan aura dingin yang sama.
"Sudah pergi?" tanya wanita itu tanpa empati, suaranya terdengar seperti sedang membicarakan karyawan yang baru saja dipecat.
Damian berbalik, matanya merah padam. Untuk pertama kalinya, kemarahan yang ia pendam terhadap ibunya meledak.
"Puas, Ibu? Sekarang Alysia memilih pergi. Perusahaan mungkin selamat, tapi rumah ini baru saja ma-ti?"
Bu Chintya mendengus sinis.
"Jangan bicara seolah-olah kamu yang tersakiti, Damian. Kamu yang membuat skenario ini sejak awal. Alysia hanya orang yang sudah habis masa berlakunya. Jika dia ingin pergi, biarkan saja. Banyak wanita yang lebih bergengsi ingin menggantikan posisinya. Salah satunya Berlian jauh lebih pantas. Menikah dengan dia akan banyak menguntungkan untuk perusahaan keluarga. Dan kita tak akan mengalami kesulitan karena Pak Kuncoro bukan hanya tetap menyimpan sahamnya namun mungkin akan memberikan proyek besar pada kita kan?"
"Itu masalahnya, Bu!" bentak Damian, membuat ibunya terperangah.
"Ibu tidak pernah mengerti. Selama ini aku buta karena mengira bahwa dengan menuruti semua aturan Ibu, aku akan bahagia. Aku mengorbankan Alysia, mengorbankan perasaan orang yang merawat cucu Ibu dengan tulus, hanya untuk menyenangkan ego Ibu!"
"Apa ibu fikir wanita seperti Berlian akan menyayangi Arka sepenuh hati? Apa ibu pikir wanita seperti Berlian yang ibu harap menjadi menantu dan bisa di banggakan dan membuat Arkhasa bahagia? ibu hanya egois soal perusahaan tapi ibu bahkan tak pernah menyayangi cucu ibu sendiri! apa pernah selama ini ibu mencoba untuk lebih dekat dengan Arkhasa? Tidak pernah! Selama ada Alysia Bahakan ibu seolah tak peduli kepada Arkhasa!"
"Lalu untuk apa ibu mempermasalahkan keturunan lagi dari Alysia. Kalau kepada Arkhasa saja ibu bersikap bodo amat? Ibu cuma menjadikannya alasan saja! cukup Bu! Jangan campuri urusan keluargaku mulai detik ini! Masalah perusahaan aku akan urus. Kalau memang ibu mau menggangi dan memecatku silahkan!"
Suasana di ruang tengah itu berubah menjadi arena pertempuran yang dingin. Bu Chintya terpaku, matanya menyipit tajam. Seumur hidupnya, dia tidak pernah dibentak oleh anak laki-lakinya sendiri. Dia terbiasa mengendalikan, terbiasa memanipulasi, dan terbiasa melihat Damian tunduk seperti pion yang siap digerakkan.
"Kamu berani padaku demi wanita itu?" desis Bu Chintya, suaranya kini bergetar karena murka yang tertahan.
"Kamu pikir perusahaan ini akan bertahan tanpa campur tanganku? Kamu hanyalah orang yang beruntung lahir sebagai pewaris, Damian. Tanpa aku, kamu bukan apa-apa!"
"Dan jangan salahkan ibu karena Wanita itu memilih pergi! Pernikahan dingin kalian bukan karena aku! Tapi karena kamu sendiri yang masih berkubang di masa lalu dengan wanita ja-lang itu! Jangan melimpahkan kesalahanmu padaku!" Emosi Bu Chintya dan pergi dari sana tak lama dia berbalik.
"Segera selesaikan maslaah perusahaan Dnegan Pak Kuncoro. Sebelum kamu memutuskan untuk mengundurkan diri!" tambahnya kemudian benar-benar pergi dari sana setelah melihat mobilnya datang menjemput.
Damian segera mengambil tas kerja dan juga Jas yang berada di sofa.
"Bi, saya berangkat dulu, kalau Ibu pulang dan menjemput Arkhasa tolong kabari saya!" Ujar Damian kepada Bibi.
"Baik Pak..."jawab Bibi dengan mata sendu.
Dia merasa kasihan kepada nyonya rumahnya yang begitu baik, tulus dan penuh cinta merawat Arkhasa dan Damian. Tapi dia merasa kasihan mendengar semuanya. Apalagi ucapan dari Bu Chintya. Terlalu menyakitkan.
Damian melangkah keluar dengan langkah lebar, kepalanya berdenyut hebat. Udaranya terasa menyesakkan, seolah oksigen di rumah itu telah habis diserap oleh ego ibunya yang angkuh.
Begitu mesin mobilnya menyala,dia tidak langsung menginjak gas untuk menuju kantor. Dia terdiam, mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih, mencoba meredam gemuruh di dadanya.
Jangan melimpahkan kesalahanmu padaku.
Kalimat itu terngiang seperti kutukan. Damian tahu, di balik kemarahan ibunya, ada kebenaran pahit yang memang coba disangkal selama enam tahun ini. Dia memang pengecut. Dia membiarkan Alysia terombang-ambing dalam pernikahan yang dingin, membiarkannya dipandang sebelah mata oleh Bu Chintya, hanya karena Damian sendiri terlalu takut untuk melepaskan bayang-bayang masa lalunya dan lebih takut lagi untuk melawan dominasi sang ibu.
"Bodoh," desisnya pada diri sendiri.
Dia meraih ponsel, jemarinya gemetar saat mencari nama Alysia. Lalu mengetik pesan, menghapusnya, lalu mengetiknya lagi. Akhirnya, dia hanya mengirim satu pesan singkat sebelum melempar ponselnya ke kursi penumpang.
'Aku akan meluruskan semuanya, Alysia. Apapun risikonya. Tolong, jangan matikan ponselmu,"
Damian memacu mobilnya menuju kantor. Dia memang harus menyelesaikan satu persatu masalah dalam hidupnya ini.
Namun, di tengah jalan, sebuah panggilan masuk di layar dasbor mobilnya.
Nama "Berlian" terpampang di sana, diikuti dengan notifikasi pesan dari sekretaris pribadinya,
'Pak, Pak Kuncoro menolak untuk melanjutkan pembicaraan terkait proyek jika bukan Bapak sendiri yang menemuinya di lokasi proyek sore ini,'
Damian tertawa getir. Skenario yang dibuat ibunya berjalan sempurna. Jika dia pergi mengejar Alysia, proyek itu gagal dan ibunya akan punya alasan untuk menggulingkannya dari kursi direktur.
Jika dia pergi menemui Pak Kuncoro, dia akan terlihat kembali menomorsatukan bisnis di atas istrinya. Apalagi dia tahu jika di dalamnya sudah di atur. Berlian. Dia tahu kalau alasan utama Pak Kuncoro menarik modalnya karena dia menolak bertemu dengan anaknya. Bahkan dia menolak untuk memiliki hubungan lebih dari sekedar rekan kerja dengan Berlian.
Damian mengambil keputusan dalam hitungan detik. Dia menepikan mobil, lalu melakukan panggilan.
"Halo, Berlian," suara Damian datar, dingin tanpa emosi.
"Damian? Kamu dengar, kan? Ayahku sudah tidak sabar. Kalau kamu ingin menyelamatkan posisimu, temui aku di hotel tempat kita bertemu kemarin. Kita akan bahas penyelesaiannya bersama. Dan aku pastikan ayahku tak akan menarik modalnya di perusahaan keluargamu!" suara Berlian terdengar manis, namun penuh kemenangan.
"Berlian," potong Damian tajam.
"Katakan pada ayahmu, aku tidak peduli kalau dia akan menarik modalnya dari perusahaan. Dan untuk kamu jangan pernah hubungi aku lagi, apalagi menggunakan nama perusahaan atau Pak Kuncoro dan juga ibuku. Aku sudah tahu siapa yang mendalangi semua ini di balik layar."
"Apa maksudmu?"
" Kamu dan ibuku, kalian salah besar jika mengira aku akan tetap diam dan membiarkan Alysia pergi demi keuntungan bisnis yang kotor."
Terdengar suara tawa di sebrang sana. Berlian mentertawakan ucapan Damian.
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat