Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
"ADA APA INI?" Seorang pengendara motor menghampiri remaja tersebut, kemudian menoleh pada Abimanyu dengan tatapan penuh selidik.
Anak remaja itu meringis, mengusap-usap lehernya. "Itu om saya dicekik, mau dihajar juga sama om itu. Padahal saya cuma negur, saat saya memergoki mereka sedang berbuat mesum."
Abimanyu tersentak, begitupun dengan Amara. Keduanya saling tatap kemudian beralih pada remaja itu. "Heh, kurang ajar! Kamu fitnah saya?" Abimanyu melepaskan Amara kemudian melangkah menghampiri remaja tersebut hendak memberinya pelajaran. Namun si pengendara motor yang berdiri tak jauh darinya pun tak tinggal diam, pria itu menjegal langkah Abimanyu.
"Kalau memang tidak merasa seperti itu, tidak usah tersinggung bung! Harusnya anda malu ditegur sama anak kecil."
Wajah Abimanyu memerah, tanpa ba bi bu bujang matang itu langsung melayangkan bogemnya pada si pengendara motor. Namun tak disangka si remaja tadi kembali berteriak meminta bantuan, hingga akhirnya beberapa orang yang kebetulan lewat mengerubungi Abimanyu dan menahan kedua tangannya.
"Sebaiknya kita arak saja pasangan ini!"
"Setan, lepasin! Gue bisa jelasin semuanya. Mara, bilang sama mereka kalau kit..."
BUGH.
"DIAM! SUDAH ME-SUM TIDAK MAU NGAKU PULA, MALAH MAIN KEKERASAN!"
"Dia ngelak padahal dia tengah pelukan, dasar bang-sat!"
"Wah ternyata dia seorang petinggi Bankk... Kita laporkan saja mereka biar tahu rasa."
"STOP! APA MAU KALIAN?" Sentak Abimanyu dengan tatapan yang nyalang. Ia memindai satu persatu orang-orang yang tengah memeganginya, terakhir ia menatap penuh amarah pada anak remaja yang tengah berdiri dengan sekilas senyum penuh kemenangan.
"O-om..." Panggil Amara dengan suara bergetar, kemudian gadis itu menatap para laki-laki yang meliriknya dengan sinis. "Tolong lepasin kami, kami tidak seperti yang bapak-bapak pikirkan. Dia mau jambret hp saya, dan saya di tolongin om Abi, om Abi ini masih kerabat mama saya..."
"Mana ada maling ngaku... Dia malah menyebar fitnah nuduh orang nge-jambret, dasar lon-te!"
"Sudah! Kita bawa saja mereka ke keluarganya biar dinikahkan, bahaya kalau dibiarin nanti malah banyak ditiru generasi yang lebih muda!"
.
Suasana rumah yang semula tenang mendadak berubah tegang, ketika sebuah mobil berhenti di depan halaman kediaman Sonia diikuti beberapa motor yang dikendarai oleh para pemuda. Seorang pekerja yang baru selesai memasangkan tenda tambahan untuk acara pengajian yang akan di gelar sampai tujuh hari ke depan, segera berbicara pada art yang tengah membawa nampan hendak masuk ke dalam rumah.
"Mbak, itu banyak orang di depan. Mungkin teman-teman almarhum bapak atau teman ibu yang mau melayat." Ucap laki-laki berusia 40 an tersebut.
Sang art mengerutkan kening, namun tak urung ikut menoleh ke arah yang ditunjukkan laki-laki di belakangnya itu. "Eh itu siapa, mas? masa iya teman-teman ibu atau teman almarhum bapak pakai motor semua."
"Lah saya mana tau, mbak."
"Kalau gitu saya bilang ibu saja, siapa tahu beneran teman-teman ibu." Ucap sang art, namun belum juga badannya berbalik pintu mobil terbuka menampakkan sosok Amara yang turun di kawal oleh dua orang laki-laki. Di pintu depannya yang sama-sama terbuka, Abimanyu muncul dengan wajah yang memerah menahan amarah.
"Non Mara..." Gumam art, kemudian ia tergesa masuk ke dalam rumah hendak memberi tahu majikannya.
Belum sempat kakinya melangkah, Sonia dari arah tangga muncul lebih dulu. "Ada apa mbak?"
Sang Art menghentikan langkahnya, "itu bu... Ada non Amara di depan."
Sonia mengerutkan kening, "Memangnya dia dari mana?" Tanya nya sembari mengayunkan langkah menuju pintu utama.
Sonia yang baru keluar rumah, seketika mengernyit bingung. Ia menatap Amara yang berdiri di hadapannya dengan wajah pucat, sementara di belakangnya Abimanyu berdiri tegak dengan kedua tangannya yang dipegangi oleh para pemuda dengan kuat-kuat. "Ini ada apa Mara? dan kamu Bi..." Ia menatap Amara penuh tanya kemudian beralih pada sahabatnya, Abimanyu. "Kenapa kamu sama Amara, dari mana? Terus kenapa kayak tahanan gitu?" Lanjutnya mencecar Abimanyu yang hanya mendelikkan mata penuh amarah.
"Sonia, tolongin gue! Kasih paham mereka, kalau gue ini sahabat kamu dan sudah menganggap anakmu seperti ponakan gue sendiri!" Ucap Abimanyu geram, membuat Sonia semakin kebingungan. Namun kebingungan itu berubah menjadi keterkejutan yang menghantam dadanya, saat salah satu laki-laki paling tua yang berdiri di belakang Amara maju dan bersuara menyampaikan maksud kedatangannya.
"Maaf sebelumnya bu, kami tidak bermaksud membuat ibu tidak nyaman." Ucap sang pria dewasa itu sopan. "Kami datang bukan untuk mempermalukan siapapun, tapi kami tadi memergoki putri ibu bersama laki-laki ini tengah berbuat me-sum di tempat umum."
"BOHONG! KAMU JANGAN PERCAYA DIA SON!" Sentak Abimanyu memotong ucapan pria di depannya. "MARA, KAMU BICARA! CERITAKAN YANG SEBENARNYA!"
Amara yang mendapat bentakan Abimanyu kian menunduk, jemarinya mengepal kuat disamping tubuhnya. Sedangkan Sonia seketika membeku, menatap tak percaya pada Amara dan Abimanyu bergantian lalu pada sang pria yang di duga tokoh masyarakat di daerah dekat tempat kejadian tersebut.
"Bu... Sedari tadi pun mereka seperti itu, tidak mau mengaku padahal sudah jelas-jelas ada warga yang memergoki mereka tengah berpelukan mesra." Lanjut sang pria, "kami sebagai warga yang peduli pada sesama, dan tidak menginginkan kejadian yang sama terulang terutama di wilayah kami, meminta ibu supaya menikahkan mereka demi menjaga nama baik keluarga ibu dan keluarga mas ini."
Runtuyan kalimat yang keluar dari pria di hadapannya itu, bagai petir yang bersahutan di siang bolong. Sonia mematung, wajahnya memucat dengan napas yang seketika tercekat, sementara matanya bergantian menatap putrinya dan Abimanyu. "Abi kamu..." Lirihnya seperti bisikan, ia menggelengkan kepala berharap apa yang baru di dengarnya hanyalah sebuah kesalahpahaman. Terlebih Abimanyu, ia mengenal pria itu bukan baru satu atau dua hari tapi belasan tahun.
Sonia kembali menggelengkan kepala, 'tidak mungkin' gumamnya. Namun seketika airmatanya meleleh teringat kejadian yang masih basah di memori nya. Seorang Reno suaminya saja, pria yang ia ketahui Sholeh, ia kenal hampir dua puluh tahun, tidak pernah berbicara keras, penyayang, dan tidak pernah kehilangan malam selain saat ada dinas kerja ternyata memiliki kehidupan lain. Menyembunyikan kebohongan hingga pada akhirnya waktu dan maut yang membuka semuanya.
Dunia Sonia seakan kembali runtuh dalam sekejap. Syok, kecewa, dan rasa tak percaya atas kenyataan yang kini berdiri tepat di hadapannya bercampur menjadi satu memenuhi dada. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menatap pada pria yang dianggapnya sebagai tokoh masyarakat tersebut.
"Saya tidak tahu harus gimana pak, tapi untuk kepeduliannya saya ucapkan beribu-ribu terimakasih..." Ucapnya terjeda, lalu menoleh pada Amara dan Abimanyu. "Mara... Abi, kalian masuk, nanti kita bicara di dalam." Titahnya tegas tak terkecuali pada Abimanyu yang notabene partner kerjanya di kantor.
"Bu, nikahkan mereka sekarang juga. Jangan sampai ibu bebaskan laki-laki itu dan nanti kejadian yang sama kembali terulang! Jujur, saya sebagai laki-laki yang menghormati perempuan dan kami semua merasa resah." Celetuk seorang laki-laki yang sedari tadi hanya berdiri menyaksikan.
Mendengar itu Sonia menarik napas panjang, "Mas tidak usah khawatir. Saya sebagai orang tuanya lebih memikirkan itu, sekali lagi terimakasih banyak buat bapak-bapak dan mas-mas semua." Sonia mengatupkan kedua tangannya di dada.
--
"Mama... Mereka semua enggak benar. Sumpah demi apapun, aku sama om Abi enggak seperti yang mereka katakan! hpku di jam-bret dan datang om Abi yang bahkan awalnya aku enggak tahu kalau yang datang itu om Abi." Amara bersimpuh memegangi kaki Sonia, ia menangis ketakutan melihat ekspresi Sonia yang kian dingin padanya.
"Mama, tolong bicara padaku ma! Jangan diam saja." Rintih Amara memohon, namun lagi-lagi Sonia masih membisu.
Melihat itu, Abimanyu yang sedari tadi diam memerhatikan reaksi sahabatnya seketika bersuara. "Sonia, jadi kamu lebih percaya sama mereka dibanding Amara anakmu, dan aku sahabatmu yang sudah kamu kenal belasan tahun?" Desisnya penuh emosi, kepala yang sebelumnya sudah mulai dingin sejak kepergian rombongan "pen-jilat" kini kembali mendidih melihat reaksi Sonia.
"Aku tidak mengatakan itu, Abi!" Sahut Sonia tak kalah tegas.
"Tapi diam mu itu, seolah kamu percaya bahwa aku dan Amara seperti yang mereka bicarakan!"
Sonia menatap Abimanyu dan Amara bergantian. "Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di luar sana, aku tidak melihat apa yang mereka lihat."
BRAK
Abimanyu menggebrak meja, seolah tidak sadar bahwa saat ini dirinya tengah berada di kediaman Sonia.
Amara terjengkit kaget sedangkan Sonia tetap tenang. "Jaga sikapmu Abi! Jangan mentang-mentang kita sahabatan dan aku akan mentolerir sikap dan kelakuan mu." Ucapnya dingin.
"Tapi kamu keterlaluan Sonia! Kamu bahkan tidak percaya sama aku dan anakmu, padahal kamu yang merawat dan membesarkannya!" Sentak Abimanyu, pria itu sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
Sonia tersenyum sinis bersamaan dengan air matanya yang mengalir. "Bagaimana aku bisa percaya kalian, bahkan ini..." Tangannya terangkat menunjuk dadanya sebelah kiri. "Di sini ada luka, bahkan masih sangat basah. Ini..." Tangannya yang tadi hanya menunjuk kini perlahan berubah menjadi pukulan. "Yang membuat luka di sini bukan orang lain. Tapi orang terdekatku, orang yang paling ku percaya, orang yang paling aku sayangi Abi!" Raung Sonia diakhiri dengan tangisnya yang pecah.