NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu / Tamat
Popularitas:848.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Danish memejamkan mata dalam-dalam mencoba mengusir rasa yang berdentum kuat memekak tubuh inti bawahnya. Namun semakin ia terpejam, wajah Hana yang tengah mengumpatinya bak tarian khas bali dengan lirikan tajamnya.

"Arghhh!!!! Nggak, nggak! Kelamaan berendam malah nggak bener ini jadinya." Danish sekuat tenaga mencoba bangkit sambil menahan nyeri di pusat hidupnya.

Dalam keadaan polos, pria itu berlalu menghidupkan air dingin demi meredakan hasrat gilanya sore itu. Sambil meredakan napasnya yang sejak tadi berdetak kuat, Ayah Keira akhirnya mampu meredakan semuanya yang bergejolak hebat.

10 menit membersihkan diri, Danish menyambar handuk lalu melilitkannya sebatas pinggang.

Dalam keadaan rambut basah serta siulan kecil yang menyamai, hal itu semakin membuat jiwa maskulin Danish terpancar. Apalagi wangi sabun yang membekas pada tubuhnya, semakin membuat para gadis menjerit kegirangan.

Pintu lemari terbuka. Danish membolakan mata lebar kala mendapati semua pakaian itu bukan miliknya. Tangan kekar itu menggapai sesuatu yang menyelip diantara tumpukan baju.

"Ini pasti miliknya Lukman!" tebak Danish ketika kedua tanganya merentangkan sebuah boxer dengan motif Spongebob tadi. "Tapi, masak Bik Inem sampai salah masukin? Atau... Jangan-jangan...."

Sementara di bawah, Hana yang sudah rapi, kini segera keluar berniat untuk memberikan Asi lagi pada Keira. Dan ternyata setelah di cari-cari, bayi 5 bulan itu tengah bermain bersama Bu Ana di ruang tengah.

Hana mendekat dengan sikap segannya. "Bu... Keira anteng, ya?"

Bu Ana menoleh. Ia masih duduk dilesehan karpet yang membentang luas di depan televisi. Dan disana sudah di putar acara Baby Bus, kartun kesukaan cucunya. "Iya, Han... Lihat, deh... Suka dia sama kartun bayi itu," gemasnya sambil menciumi pipi gembul Keira.

Mendengar suara Hana, Keira yang sedang berlatih duduk dikursi balonnya, sontak menoleh menunjukan kedua gusinya-tanpak menggemaskan.

Baru saja Hana ingin bergerak untuk melangkah, tiba-tiba dari arah tangga, Lukman turun tergesa sambil memekik, "Mah... Mamah....."

Bu Ana sudah lebih dulu menahan napas dalam. Sejak dulu pun, sebelum Lukman pergi dari rumah, pria itu pasti tak lepas dari beberapa pertanyaan mengenai keberadaan barang-barangnya. Sekalipun itu pakaian dalam miliknya sendiri.

"Mah-"

Bu Ana menatap dengan malas. "Kamu ini kenapa sih, Luk? Teriak-teriak kaya di hutan aja! Kenapa? Barang mana lagi yang hilang?!"

Wajah Lukman menekuk, tanganya menggaruk bagian kepala belakang, mencoba mengingat-ingat namun hasilnya tetap sama-nihil. "Mah... Mamah lihat nggak, boxer Lukman yang motifnya Spongebob?" bisiknya meskipun Hana cukup mendengar semua itu.

Dalam tertunduk, Hana menyembunyikan tawa lebarnya. Jadi, boxer yang sempat ia lihat tadi pagi, ternyata milik putra kedua Majikannya.

"Kamu taruh mana, Lukman? Emangnya tu boxer Mamah yang pakai?! Kebiasaan kalau cari barang nggak pernah bener!" cerca sang Mamah merasa geram.

Lukman kembali memajukan setengah badanya. Lalu berbisik, "Mah, malu di dengeri sama Hana!"

Sementara dari atas, terdengar suara hentakan kaki yang mulai menuruni tangga dengan begitu santainya. Dalam balutan kaos serta celana training biasa itu, Danish tetiba melemparkan sesuatu kearah adiknya.

Lukman terkejut. Namun setelah melebarkan benda tadi, senyumnya merekah.

"Astaga, Lukamnnnnnn!!!! Gimana mau menikah?!" pekik Bu Ana ketika melihat putra keduanya kegirangan mendapat boxernya.

Danish dengan santainya berkata, "Gimana bisa kolor Patrick itu sampai nyelip di dalam lemariku?"

Deg!

Hana membolakan mata, lalu tertunduk merutuki kesalahanya. "Duh, ternyata tadi pagi baju kedua pria itu ketuker. Gimana kalau Pak Danish tahu?" bisik Hana dalam hatinya.

"Ini Spongebob, Danish! Dimana Patricknya?" kesal Lukman. Meskipun sudah sebesar itu, kartun Spongebob akan menjadi salah satu kartun favoritnya.

Danish kembali berdesis, "Iya, Patricknya itu kamu!"

Tawa Bu Ana pecah. "Ih, mana ada anak ganteng Mamah ke Patrick yang melongo terus itu," belanya.

Sementara itu, Bik Inem datang dari arah dapur sambil membawakan segelas teh aroma untuk Bu Ana.

"Bu, ini tehnya," kata Bik Inem meletakan teh tadi.

Bu Ana dengan sisa tawanya menjawab, "Iya, makasih ya Bik!"

Baru saja Bik Inem akan berbalik, Danish menghadangnya dengan pertanyaan. "Bik, siapa yang taruh baju-baju, kok punya saya bisa ke tuker sama punya Lukman?"

Lukman tak kalah menyahut, "Iya, Bik... Untung Boxer kesayangan ini ketemu."

Bik Inem seketika menatap ke arah Hana, yang kini wanita cantik itu tengah tersenyum kikuk. "Maaf, tadi pagi saya yang taruh, Pak!" seru Hana hingga membuat semua orang menoleh.

Mendapat tatapan memicing dari Bosnya-Danish, Hana kembali melanjutkan. "Tadi pagi Keira nangis, dan... Saya tergesa menaruh baju-baju itu. Sekali lagi saya minta maaf," tatapan Hana beralih pada Lukman juga. "Maafin saya, Mas Lukman...."

"Nggak papa kok, Han... kamu gak usah minta maaf," sahutnya dengan senyum tulus.

Danish yang melihat seketika meradang. "Ya sudah, Bik Inem boleh kembali," tatapanya kembali kearah Hana. "Hana, ikut saya sebentar!" Langkah kaki itu membawanya menuju ruang samping tepatnya di tepi kolam.

Hana menatap Bu Ana sekilas. Sorot matanya gamang, namun ketika usapan hangat itu terulas dalam lenganya. Seketika senyumnya mengembang. "Saya permisi dulu, Bu."

Sementara itu Lukman hanya menatap Ibunya dengan sorot penuh tanya. Dan hendikan bahu acuh sebagai jawaban atas tidak ketidaktahuan Bu Ana.

*

*

"Ada apa lagi, Pak?" suara Hana merendah, kini sudah berdiri tertunduk di belakang Danish.

Pria tampan berusia 32 tahun itu bersedekap dada, menatap kedepan, wajahnya begitu santai. Namun, kali ini kalimatnya bak lemparan belati yang cukup menancap pada ulu hati Hana.

"Kamu itu gimana sih? Kalau kerja itu nggak pernah bisa profesional?! Saya itu menggaji kamu bukan untuk melihat keteledoran kamu, Hana!" cetusnya.

Hana sudah meradang di belakang tubuh tegap itu. Dadanya naik turun, hingga langkahnya maju dan berhenti tepat di samping Bosnya. "Heh, kek Pak Danish nggak pernah buat kesalahan aja sih?! Hidup Anda emangnya sudah senormal apa? Cuma karena baju ketuker aja sampai marah-marah nggak jelas," tandasnya.

Danish spontan menoleh. "Loh, kok malah jadi kamu yang mencerca saya?! Ingat, Hana...." telunjuk itu terangkat pas didepan wajah Hana. "Kamu itu saja gaji untuk melakukan tugas sebaik mungkin! Jadi, jangan pernah semena-mena karena Ibu saya sangat menyukai kamu! Dan satu lagi... Saya nggak suka kamar saya di masuki sembarang orang, termasuk kamu!"

Selepas itu, Danish berlalu begitu saja meninggalkan bekas luka dalam dada Hana. Mencoba mengenyahkan, namun Hana tetaplah wanita biasa yang kapan saja bisa menangis karena rasa sakit.

Dan kali ini, ucapan Danish sukses menghantam hatinya. Ia tersenyum getir, meskipun air matanya baru saja ia usap.

"Gini amat ya, jika apapun tolak ukurnya uang. Awas aja pria itu," gumam Hana merasakan sesak yang kian menyergap. Namun, ia tak ingin terus meratap. Sudah cukup tangisanya ia tumpahkan untuk Dzaki waktu lalu.

Ia usap, menarik napas dalam, lalu mengubah ekspresi wajahnya menjadi senyuman seolah tidak terjadi apa-apa.

1
Rina Anggraeni
bagus cerita nya ..ga byk drama yg berkepanjangan .yg penting happy ending semuanya ...visual ny cocok cantik n ganteng meaki lokal 🤭💕💕💕
guntur 1609
aneh. masa org gak bisa menolak lamaran orang
guntur 1609
jangan bilang adiknya lukman nanti suka sama madha🤭🤭
guntur 1609
dasar Tono gila. yg hamilin kan dia. seharusnya dia lah yg harus disalahkan
guntur 1609
mngkn jodoh sanas si lukman x
guntur 1609
kkwkwk🤣🤣🤣 kena pancing kau kan
Anonim
veritanya agak ngaco, banyak tokoh muncul tapi sosik ayah dari keduanya ga muncul2
guntur 1609
beghhh rupanya aprilia mamanya si anak yg jadi pebinor
guntur 1609
brti danish nya ja yg bodoh. Sioe ghianat pandu gak ada hak lagi sama kalian. semenjak dia selingkuh. jadi kno semua permintaanya kau turuti
guntur 1609
kkwkw🤣🤣🤣 ada yg mulai cemburu
guntur 1609
loh kok langsung putusan. seharusnya kan ada mediasi. dan yg lainya. maximal 3 kali pertemuan kalau gak salah
Lies Atikah
yang dicinta tetap mantan walau bertepuk sebelah tangan kasian si bodoh Danis gak jelas loh mash mepet2 sama mantan gliran si Hanna sama laki lain marah cemburu sakit sendiri dasar lemot berengsek lagi si hana juga bego kaya gak ada laki lain aja
guntur 1609
gak tahu ja kau nyet.. kesuksesan mu tu karna dia hana istrimu. bukan karna si lacur mona
guntur 1609
ia.... sih mona tu teman penghianat mu. dia selingkuh sm laki mu yg tingkahnya sprti binatang
Delia ATA
ya ampun, punya suami yang cuma lihat tampang auto stres perempuan. Astoge
Nasiati
🤣🤣🤣kepanasan kamu zaki
Andi Sofian
Mantap
Eomma azqi
dengerin hana tuh kata kk nya gk usah berharap sama laki² bejat kek dy lg
Eomma azqi
dasar laki pea klw manis di awal pacaran ama nikah doang giliran kelamaan malah banding²in bini nya ama orng laen pea klw udh gk suka jgn suka banding²in klw mau selengki selegki aja jgn nyari kesalahan bini yg baik
Nina Rochaeny
adat apaan sihhh...Hana juga ga bisa tegas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!