NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16. Siasat Ubay

“Ini bocah... kenapa panik bener denger kata puskesmas? Kalau cuma masuk angin mah orang biasanya malah senang diajak berobat gratis,” batin Ubay, kecurigaannya yang tadi sempat melintas kini justru semakin menguat dan mengakar di kepalanya.

Ubay mengembuskan napas panjang lewat hidung, mencoba meredam egonya sendiri. Ia berjalan kembali mendekati paviliun, lalu berhenti tepat di depan Nadia. Kali ini, ia tidak bersikap meledak-ledak seperti preman pasar.

"Kamu beneran cuma masuk angin?" tanya Ubay, suaranya merendah, menatap Nadia lurus-lurus dari jarak dekat.

Nadia menelan ludah dengan susah payah, mengangguk pelan sembari mengalihkan pandangannya ke arah ubin. "I-iya, Mas. Benar. Cuma masuk angin. Nanti saya minum teh hangat saja."

Ubay diam beberapa detik, memperhatikan garis wajah Nadia yang menyiratkan beban yang teramat berat untuk ukuran mahasiswi seumurannya. Ubay tahu, memaksa orang yang sedang ketakutan setengah mati hanya akan membuatnya semakin tertutup.

"Ya sudah, kalau nggak mau dipaksa," ucap Ubay akhirnya, melunakkan keputusannya. "Aku nggak bakal seret kamu ke motor. Tapi awas aja kalau sampai kamu pingsan di dapur rumah depan, langsung aku ceburin ke sumur belakang."

Mendengar ancaman khas Ubay yang agak nyeleneh itu, Nadia refleks menghembuskan napas lega, bahunya yang tegang perlahan mengendur. "Terima kasih, Mas Ubay... maaf sudah merepotkan."

"Hmm," gumam Ubay pendek. "Aku mau keluar sebentar. Kamu jangan aneh-aneh. Duduk aja di dalam, nggak usah sok rajin bersihin rumah depan dulu hari ini. Istirahat."

Ubay berbalik dan berjalan menuju motor RX-King-nya dengan pikiran yang dipenuhi sejuta tanya. Dia tahu Nadia sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar, dan jalanan telah mengajarkan Ubay untuk tahu kapan harus mendesak, dan kapan harus memberi ruang sampai waktu yang tepat tiba.

**

Ubay menendang standar motor RX-King-nya di depan deretan ruko pasar. Alih-alih langsung pergi ke pangkalan gerobak kopi, ia justru melangkah dengan gusar menuju gerobak bubur ayam yang asapnya masih mengepul wangi.

"Bang, bubur satu. Dibungkus, komplet pakai ayam sama kerupuknya dipisah," ujar Ubay dengan wajah lempeng andalannya.

Sembari menunggu bubur diaduk, Ubay melirik sebuah apotek waralaba berlogo hijau yang berada tepat tiga ruko dari tukang bubur. Pikirannya kembali berputar pada kepanikan Nadia tadi. Otak jalanannya yang encer mulai menghubungkan titik-titik kronologi. Gadis itu diusir mendadak oleh majikan kayanya. Sekarang wajahnya pucat, mual di pagi hari, dan langsung ketakutan setengah mati mendengar kata puskesmas.

“Kalau cuma masuk angin, ngapain takut diperiksa dokter? Kecuali... yang ada di dalam perutnya itu bukan sekadar angin,” batin Ubay, geram sendiri dengan analisisnya yang terasa sangat masuk akal.

Setelah menerima bungkusan bubur dan membeli dua sachet obat sirup masuk angin di toko kelontong, Ubay memantapkan langkahnya masuk ke dalam apotek. Atmosfer adem ber-AC di dalam apotek mendadak terasa gerah bagi cowok berambut gondrong itu.

Ubay berdiri di depan etalase kaca, menatap deretan kotak obat dengan pandangan canggung. Seorang apoteker wanita muda mendekatinya dengan senyum ramah, "Ada yang bisa dibantu, Mas?"

Ubay berdehem pelan, membetulkan posisi jaket jeans belelnya. Gengsi jalanannya mendadak dipertaruhkan di sini. "Mbak... beli test pack. Yang akurat."

"Oh, alat tes kehamilan ya, Mas? Mau yang model celup biasa atau yang digital?" tanya si apoteker dengan nada profesional.

"Yang biasa aja, Mbak. Dua biji," sahut Ubay ketus, mencoba memotong percakapan secepat mungkin sebelum ada kenalannya yang lewat dan mengira dia telah menghamili anak orang.

Setelah membayar, Ubay buru-buru memasukkan dua alat tes kehamilan itu ke dalam saku terdalam jaket jeansnya, menindihnya dengan dompet agar tidak terlihat sama sekali dari luar.

Dua puluh menit kemudian, suara motor RX-King Ubay kembali terdengar di samping rumah besar. Ia melangkah ke paviliun belakang tanpa membuat suara gaduh. Pintu paviliun masih sedikit terbuka. Ubay mengetuk kosen pintu dua kali, membuat Nadia yang sedang bersandar di ranjang langsung menoleh terkejut.

Ubay meletakkan sebungkus bubur hangat dan dua sachet obat masuk angin di atas meja kecil dekat pintu.

"Nih, makan selagi hangat. Habis itu minum obatnya, terus tidur," kata Ubay, nadanya sengaja dibuat ketus untuk menutupi rasa canggungnya.

Nadia menatap bungkusan itu dengan mata berkaca-kaca. "Mas Ubay... repot-repot bener. Terima kasih banyak ya, Mas."

"Nggak usah cengeng. Aku cuma nggak mau repot kalau kamu pingsan," sahut Ubay lempeng. "Aku jalan kerja dulu."

Ubay balik kanan dan melangkah pergi. Tangannya diam-diam meraba saku jaketnya, memastikan dua buah test pack di dalam sana masih aman. Ubay sengaja tidak langsung memberikan alat itu sekarang. Dia punya rencana sendiri.

“Gue lihat perkembangan lu sampai besok, Nadia,” batin Ubay sembari menghidupkan mesin motornya. “Kalau lu emang cuma masuk angin, siang atau sore nanti setelah makan bubur sama minum obat ini juga pasti lu udah segeran. Tapi kalau sampai besok pagi lu masih mual-mual begini... baru gue bakal kasih barang ini ke lu. Gue pengen lihat lu mau jujur atau nggak sama gue.”

Dengan raungan knalpot yang memecah keheningan gang, Ubay melesat pergi membelah jalanan kota, meninggalkan Nadia yang mulai menyendok bubur hangatnya dengan hati yang sedikit teriris oleh kebaikan sang berandalan.

**

Pagi hari tiba dengan udara yang sedikit berkabut tipis. Jam dinding di ruang tengah rumah besar baru menunjukkan pukul enam pagi. Ubay sudah terbangun, duduk di tepi ranjangnya dengan pandangan lurus menatap dua buah kotak test pack yang ia letakkan di atas meja kecil kamarnya.

Semalam, saat Ubay pulang larut malam. Namun ia mendapati bungkus bekas bubur ayam dan bungkus obat masuk angin ada di tempat sampah depan. Namun, kecurigaannya belum luntur. Hari ini adalah hari pembuktian dari eksperimen medis ala jalanannya.

“Kalau hari ini dia masih mual... berarti tebakan gue seratus persen akurat,” batin Ubay dingin.

Ia menyambar dua kotak kecil itu, menyelipkannya ke dalam saku celana pendeknya, lalu melangkah keluar kamar menuju area dapur bersih. Keadaan rumah masih sangat sunyi. Ubay sengaja tidak menyalakan lampu dapur agar tidak menimbulkan suara gaduh, ia hanya berdiri di dekat wastafel, menunggu dalam diam.

Tak lama kemudian, pintu paviliun belakang berderit pelan. Langkah kaki Nadia yang terseret terdengar mendekat menuju kamar mandi dapur rumah depan. Ubay menahan napas, menajamkan indra pendengarannya dari sudut yang remang.

Hanya selang beberapa detik setelah pintu kamar mandi tertutup, suara yang paling ditunggu Ubay akhirnya pecah.

"Hoekk... ughh... hoekk..."

Suara Nadia yang sedang berusaha memuntahkan isi lambungnya terdengar begitu tersiksa di dalam sana, berulang kali hingga terdengar suara batuk kecil karena tenggorokannya yang dipaksa menguras udara kosong.

Ubay memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas panjang lewat hidung. Tebakannya terbukti. Obat masuk angin dosis tinggi yang ia belikan kemarin sama sekali tidak mempan, karena apa yang ada di dalam sana bukanlah penyakit flu, melainkan sebuah kehidupan baru.

Klik.

Pintu kamar mandi terbuka. Nadia melangkah keluar dengan tubuh lemas, satu tangannya bertumpu pada dinding untuk menyangga badannya yang gemetar. Wajahnya pagi ini bahkan jauh lebih mengenaskan daripada kemarin. Pucat pasi dengan lingkaran hitam di bawah mata seolah ia tidak tidur semalaman karena didera ketakutan.

Namun, langkah Nadia seketika terkunci saat mendapati sosok Ubay sudah berdiri tegak di tengah dapur, bersedekap dada sembari menatapnya lurus-lurus tanpa ekspresi.

"M-Mas Ubay... sudah bangun?" bisik Nadia terbata-bata, buru-buru menegakkan tubuhnya, mencoba menyembunyikan sisa-sisa mualnya yang masih terasa di dada.

Ubay tidak menjawab sapaan itu. Ia melangkah mendekati meja makan kayu, lalu merogoh saku celananya. Dengan gerakan lambat namun penuh penekanan, Ubay meletakkan dua buah kotak test pack berlogo hijau itu tepat di atas meja makan, tepat di depan mata Nadia.

Nadia menunduk, melirik ke arah benda yang diletakkan Ubay. Begitu mengenali bentuk dan tulisan di kotak tersebut, pupil mata Nadia seketika melebar. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, darahnya seolah berhenti mengalir hingga tangannya yang memegang pinggiran baju bergetar hebat.

"Mas... Mas Ubay, ini..." suara Nadia tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar.

"Kemarin kamu bilang masuk angin," ucap Ubay, suaranya terdengar sangat berat, dalam, dan tanpa basa-basi lagi. "Aku udah beliin bubur hangat sama obat paling paten di pasar. Tapi pagi ini kamu masih mual-mual kayak gitu."

Ubay menunjuk dua kotak di atas meja dengan dagunya. "Bawa barang itu ke dalam kamar mandi. Tes sekarang. Aku nggak suka tebak-tebakan di rumahku sendiri, Nadia. Aku butuh kejujuranmu."

Nadia menatap kotak itu dengan air mata yang seketika merebak hebat di pelupuk matanya. Pertahanan yang ia bangun sebulan ini runtuh total dalam satu detik di depan ketegasan seorang Ubay.

***

1
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
orang kan cuma bisa menilai dari luar, mereka gak perlu tau kebenarannya,sudah nad jgn terlalu dipikirkan
Safitri Agus
jadi terharu kan nad,😊
Safitri Agus
gak apa-apa nad, jangan sungkan 😊
tati st🌼🌼
banyak yg tertipu dan berpikir buruk sama penampilan ubay,padahal dia baik
S.R ciplux
nadia. km jg jujur sama ubay kalo tadi km keceplosan. kasian ubay gk tau apa2
Anna Annawaliana
untung Nadia punya teman Keysha yang baik hati ,,biarin Nadira temanmu mau bilang apa tentang Ubay ,yang penting di kampus sudah aman nanti perutmu semakin beras ada mas Ubay ,
Afternoon Honey
ide ceritanya bagus ⭐
Afternoon Honey
the best Ubay ⭐💖👍
Enisensi klara
Ubay bertanggung jawab sama kamu Nadia ,jadi jgn sungkan ya 😇😇😇😇Ubay kasihan kamu sendirian 😇
Enisensi klara
Ikut aja Nadia dianterin mas ubay ke kampus sekalian sarapan bareng kasihan baby utunnya laper loh ,mas ubay mau jadi suami siaga 😍😍
Anna Annawaliana
mas Ubay lama" berubah cinta sama Nadia .
Enisensi klara
Makanya Ubay temanin Nadia dong saat ngidam kasihan dia sendirian😓
Enisensi klara
makasih up nya kk rie 😇
partini
dikit dikit lama" jadi something between two of them so sweet
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran/Heart/
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran
Rini Muharni
Makasih ya Mas Ubay, udah mau nurutin Drama Ngidam Tengah Malam Nadia.. 🤭
Safitri Agus
terimakasih mas Ubay 🙏🥰
Safitri Agus
wes kelamutan 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!