"Aku rela untuk menjadi yang ke - 3...yang pertama Tuhanmu, yang kedua Ibumu, yang ketiga Istrimu...Aku...asal jangan ada yang keempat diantara kita..."
Sebuah janji suci yang tidak seorangpun bisa menggoyahkannya.
Kisah perjuangan hidup seorang Lyvia dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga.
° Novel Adrian Maulana
Satu-satunya pria yang meluluhkan hatinya.
Namun apa jadinya jika kepercayaan cinta dikhianati.
Apakah Lyvia masih bisa menerima kembali ketulusan cinta Adrian ?
Akankah Adrian bisa meluluhkan hati Lyvia ?
Yuk ikuti kisah selengkapnya...😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzahra Nian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20. Jebakan untuk Maya
("Prima...kamu dimana...?")
Adrian menghubungi Prima ketika sampai di kantor.
("On the way Ndan...")
("Buruan, aku tunggu di ruanganku...")
("Siap Ndan...")
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Adrian segera menghubungi Lyvia. Hari ini dia tidak masuk kerja. Karena sedang kurang enak badan. Sejak kejadian itu, Adrian lebih banyak memperhatikan kekasihnya itu.
("Pagi sayang... sudah baikan...?")
("Pagi Mas...sudah mendingan, tapi masih agak pusing dan sedikit mual...")
("Istirahat yang cukup, jangan lupa makan ya...nanti sepulang kerja, aku mampir kerumah")
("Iya Mas...")
("Love you...")
("Love u too...")
Adrian senyum-senyum sendiri. Kalau sudah dua insan jatuh cinta, rasanya dunia hanya milik berdua.
*Tok... tok... tok...
"Masuk..."
"Siap Ndan, ada yang bisa saya bantu..."
"Duduk...kita ngobrol sebagai sahabat.."
'Ada apa nich... kelihatannya ada yang kurang beres' batin Prima. Dia menata posisi duduknya senyaman mungkin.
"Ada apa...? apa ada masalah...?" tanya Prima tidak sabar mendengarkan cerita Adrian.
"Aku tidak tau mesti mulai dari mana, yang jelas perempuan itu sudah membuat onar di keluargaku..."
"Maksud kamu Maya...?" tanya Prima menegaskan.
"Ya...dia hasut Mamaku, lalu dia bikin Lyvia down dan sekarang jatuh sakit."
Prima menghela nafas panjang.
"Lalu...apa rencanamu...?"
"Aku ingin kamu temani aku menemuinya"
"Kalau boleh aku sarankan, ajak Mama kamu...kita bikin dia senang dulu atas pertemuan kalian, baru setelah kita tegaskan apa maksud dan tujuanmu..."
"Kamu atur saja...jujur aku males ketemu lagi sama dia."
"Oke.... serahkan padaku..." katanya bersemangat.
Prima keluar dari ruangan Adrian, dia segera mencari cara bagaimana bisa bertemu dengan Maya. Kebetulan mereka sempat bertukar nomor HP ketika bertemu di acara promosi beberapa pekan yang lalu.
"Oya...Maya kan menginap di hotel 'Anggrek' coba aku ke cafe dekat hotel itu.."
gumamnya sendiri.
Sesampainya di cafe dia mencari tempat yang strategis dan memesan secangkir capuccino.
Selagi menunggu pesanannya datang, dia mencoba menghubungi Maya.
*Tuuutt...ttuuut....ttuuutt...
("Halloo....mas Prima, apa kabar...?")
("Alhamdulillah...baik") genit banget suaranya. Batin Prima berkomentar setelah mendengar suara yang ada di ponselnya.
("Ada apa mas...tumben menelfon...?")
("Tidak... kebetulan aku di Cafe dekat hotel kamu menginap, apa kamu masih disini...? ada yang akan aku sampaikan...")
("Oya.... baiklah, aku turun ya mas...")
Prima mematikan sambungan teleponnya. Kebetulan pesanannya sudah datang. Dia nikmati seruputan cappucino selagi menunggu Maya datang.
Maya yang mendapati keberadaan Prima, segera mendekatinya.
"Mas Prima...?"
"Hai... duduk, mau pesan apa..?" tanya Prima menawarkan.
"Oh tidak...aku baru selesai makan tadi, 1 orange juice saja." mintanya pada pelayan.
"Kamu masih lama di kota ini...?" Prima mengawali pembicaraan mereka.
"Tergantung mas...oya, tadi mas bilang ada yang mau disampaikan, apa...?"
"Terus terang aku sedang kesal sama Adrian, kalau bukan karena Mamanya aku males bertemu dengannya."
"Kenapa Mas....?" tanya Maya yang mulai penasaran.
"Biasalah...dari dulu aku selalu kalah bersaing dengannya, terutama soal wanita."
"Apa kalian ada masalah atau jangan-jangan kalian memperebutkan wanita yang sama...?" tanyanya menebak.
"Eeehhh... jujur, aku memang sudah dulu mengincar gadis itu, tapi aku kalah cepat dengan Adrian. Apalagi barusan Mama Adrian curhat banyak tentang anaknya, aku jadi tergerak untuk membantunya." cerita Prima yang sedikit dibumbui drama.
"Membantu apa Mas....?"
"Membantu mempertemukan kalian..."
"Apakah Mama Adrian bilang seperti itu...? apa kamu ada usul untukku...?"
"Iya...tapi itu terserah kamu saja, sebenarnya aku juga tidak mau ikut campur."
Melihat keputusasaan Prima, maya membuka suara.
"Mas.... bagaimana kalau kita bekerja sama...? Bantu aku mendapatkan Adrian, dan aku akan membujuk wanita itu untuk meninggalkan Adrian."
"Kalau masalah itu sich...gak usah kamu bantu juga saat ini Adrian dan Lyvia sedang tidak baik. Makanya Mama memintaku untuk mempertemukan kalian" jelasnya.
*Ahhahahahahahhaha....Maya tertawa. Prima hanya mengernyitkan dahinya.
"Memang ada yang lucu...?"
"Tidak mas... ternyata aku sudah maju satu langkah, tinggal kamu berusahalah mendekati wanita itu."
"Memangnya apa yang kamu lakukan, mereka kan memang sering berantem. Bentar lagi juga baikan, lagipula kalian kan juga tidak saling kenal" kata prima memancing omongan Maya.
"Kali ini beda...marahan mereka pasti bertahan lama, bahkan juga terancam putus"
"Eeehhhhhh....tapi ngomong-ngomong, apa benar yang dikatakan Mama Adrian kalau kamu sudah_?" belum sempat dia lanjutkan, Maya sudah membungkam mulut Prima.
"Ssssttttttt...enggak mas, ku cuma ingin mengambil hati Mamanya Adrian dan memisahkan wanita itu darinya, aku tahu kelemahan Adrian saat ini hanya pada Mama dan wanita itu."
Kena looo...batin Prima. Maya tidak sadar kalau prima merekam pembicaraan mereka.
"Lalu...kapan Mas akan mempertemukan kami...!" tanyanya antusias.
"Kalau malam ini, apa kamu ada waktu..?"
"Iya mas...tentu saja, jam berapa dan dimana...?"
"Nanti aku hubungi ya...biar aku sampaikan dulu ke Mama Adrian, oya satu lagi...ini tanpa sepengetahuan Adrian, jadi jangan menghubunginya."
"Oke...aku tunggu kabar baiknya."
Setelah mengutarakan maksudnya, Prima segera meninggalkan tempat itu.
"Mas Prima...?" Prima menoleh ketika Maya memanggilnya kembali.
"Makasih ya mas..." dia membalasnya dengan anggukan.
'ihhh... beneran genit ...' bisik nya dalam hati.
("Hallo Adrian...beres, nanti malam jam 8. Aku siapkan tempat untuk pertemuan kalian, oya habis magrib aku kerumah kamu, kita susun rencana...")
Itulah sekelumit pembicaraan mereka lewat sambungan telefon.
***
Sore itu sebelum pulang kerumah, Adrian mampir kerumah Lyvia. Dia ingin memastikan keadaan Lyvia. Sesampainya disana, ibu bilang kalau Lyvia masih berbaring di ranjang. Badannya sedikit demam, dia juga sempat muntah-muntah.
"Via... bagaikan keadaanmu...?"
Disentuhnya kening Lyvia, memang agak sedikit demam. Lyvia hanya menoleh memastikan sumber suara.
"Kita ke dokter ya...?"
Dia menjawabnya dengan gelengan kepala.
Melihat kondisinya yang lemah, Adrian langsung menggendong Lyvia ke dalam mobilnya.
"Ibu...ikut Adrian, Via harus di bawa ke Rumah Sakit." Ibunya menurut apa kata Adrian.
Sesampainya di rumah sakit, setelah mendapatkan pemeriksaan, Lyvia masih berbaring di kamar tindakan ditemani oleh ibunya. Sedangkan Adrian menunggu hasil lab keluar.
"Keluarga Ibu Lyvia..." Adrian segera pergi ke ruang dokter.
"Bagaimana keadaan Lyvia dok...?"
"Tidak apa-apa...tapi untuk sementara harus dirawat intensif, karena menurut hasil lab mengarah ke Typus..."
Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Adrian mengurus administrasi dan boking kamar rawat inap untuk Lyvia.
"Via...kamu istirahat dulu ya, aku pulang dulu. gerah masih pakai seragam dari pagi" sekali lagi Lyvia hanya mengangguk.
"Ibu...Adrian pamit dulu, tadi Adrian sudah telfon Kania untuk menyusul dan membawakan ganti untuk Ibu dan Via."
"Iya Nak.... terimakasih banyak atas bantuannya"
"Ibu jangan begitu...mulai saat ini dan seterusnya Lyvia akan jadi tanggung jawab saya." pintanya pada Ibu.
"Via, aku tinggal dulu ya...lekas sembuh karena aku akan segera melamarmu..." bisiknya pada Lyvia.
Lyvia hanya tersenyum mengantarkan kepergian Adrian
~ ------------------------------
~ ------------------------------
~ ------------------------------
Semua serb natural...😍😍😘
Lanjut ah...😗😗